Tersesat
Hari ini adalah hari pertama Nesa tinggal di salah satu desa yang letaknya sangat jauh dari rumah sebelumnya, pemandangan yang terlihat sangat asli tentu membuat dirinya merasa kagum.
"Indahnya Desa ini, Aku baru saja melihat keindahan saat berada di tempat ini," ucap Nesa merasa kagum.
Berjalan mengelilingi sebuah desa membuat Nesa semakin bahagia, apalagi saat dia melihat ada kelinci yang sangat lucu.
"Kelinci," ucap Nesa sambil berlari menghampiri kelinci mungil itu.
Namun tanpa disadari kelinci itu terus berlari menuju ke dalam hutan, karena merasa sangat penasaran Nesa tetap mengikuti kemana perginya kelinci itu.
Tiba-tiba suara petir menggelegar, langit menjadi gelap, hujan tiba-tiba turun sangat deras, Nesa berdiam diri sambil menatap ke arah sekelilingnya.
"Aku di mana?"
Nesa benar-benar tidak tahu jika dirinya berada di hutan, hanya ada air mata yang menetes di pipinya karena sangat takut.
"Aku ingin pulang," ucap Nesa.
Saat itu juga dia benar-benar merasa sangat putus asa, air matanya terasa sangat mengalir deras.
" Ya Tuhan, biarkan aku kembali ke dunia," ucap Nesa penuh dengan rasa berharap.
Tiba-tiba terdengar suara petir yang mulai menyambar pepohonan yang ada di sekelilingnya, di dalam pikiran Nesa hari itu benar-benar akan mengalami ajalnya.
"Aku tidak mau jika sampai mati dengan percuma, aku masih mau hidup," teriak Nesa sambil menangis.
Air mata yang mengalir begitu deras, melihat sekelilingnya terlihat semakin gelap.
"Aku harus mencari tempat untuk bisa berteduh," ucap Nesa sambil berjalan menuju ke salah satu gubuk yang ada di dalam hutan.
"Aku akan mencoba untuk bertanya kepada orang yang tinggal di rumah itu?"
Langkah kakinya mengantarkan dia menuju ke salah satu gubuk yang tak jauh dari tempatnya berhenti, namun kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.
"Aku akan mencoba berteduh di tempat itu."
"Ayolah kenapa aku sangat ragu sekali," ucap Nesa mencoba memberanikan dirinya.
Saat dia berjalan ke sana tiba-tiba ada bayangan di belakangnya, sontak Nesa sangat terkejut sekali.
"Bayangan Apa itu?"
Mencoba untuk mencari tahu dari mana arah bayangan tersebut, namun dia merasa sangat ketakutan.
"Aku tidak jahat, Aku tidak mau jika harus berada di tempat ini," ucap Nesa dengan penuh rasa ketakutan.
Meskipun rasa penyesalan itu tiba saat ini, namun tidak membuatnya mendapatkan pertolongan dari seseorang, hanya ada rasa takut yang bisa dirasakan saat ini.
"Aku takut sekali, Papa tolong aku."
Nesa berteriak mencoba untuk meminta tolong kepada Papa, namun tiba-tiba ada suara petir menggelegar menyambar pohon yang ada di atasnya.
"Ada apa sebenarnya ini, Aku sangat takut ketika harus berada di tempat ini."
Rasa takut terasa sangat begitu besar di dalam pemikirannya, namun tanpa disadari hal itu terasa sangat percuma karena tidak membawa dirinya keluar dari masalah.
"Ke mana aku harus melangkahkan kakiku."
Menatap sekelilingnya terlihat sangat menakutkan, saat itu juga kakinya sangat berat untuk melangkah, Dia hanya bisa merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Aku masih mau hidup, Aku tidak mau jika harus mati dengan percuma."
Nesa mulai memikirkan bahwasanya dia akan meninggal di tempat itu, kejadian yang terlihat sangat mengerikan tentu bisa membuatnya semakin syok.
Apalagi ditambah dengan suara auman dari serigala yang letaknya tidak jauh dari tempatnya terdiam.
"Kenapa suara itu terdengar sangat dekat sekali, Aku sangat takut jika sampai termangsa oleh serigala," ucap Nesa sambil segera duduk, saat itu dia hanya bisa menunjukkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Aku tidak akan mau membuka mataku sebelum aku berada di tempat yang nyaman."
Tiba-tiba pandangannya benar-benar menjadi kabur, tubuhnya terjatuh pingsan.
"Wanita ini sudah melanggar peraturan yang pernah dibuat oleh bangsa kita, Aku tidak akan membiarkan Jika dia hidup," ucap salah seorang manusia serigala yang sedang mendekati Nesa saat itu.
"Tunggu jangan kamu cabik tubuhnya, Aku tidak mau jika sampai kamu melakukan kesalahan," ucap pengawal Raja Hutan bernama Joni.
"Aku sangat tidak suka jika ada bau manusia di sini, ingatlah manusia yang hampir pernah membuat kehidupan kita menjadi rusak," tegas Nomo.
Mereka berdua terlihat sangat marah ketika memiliki perbedaan pendapat, Joni sebagai pengawal Raja hutan tentu sangat tidak suka ketika melihat ada sosok werewolf yang mencoba untuk membantah ucapannya.
Auman terdengar sangat keras saat mereka akan berdebat, mengundang beberapa kaum werewolf yang lainnya untuk berdatangan.
"Aku tidak akan membiarkanmu memangsa manusia yang tidak berdaya ini," ucap Joni.
Nomo merasa sangat kesal karena dirinya tidak bisa memangsa Nesa yang sedang pingsan di dekatnya, hal itu benar-benar menjadi salah satu penghinaan yang sangat menyedihkan baginya.
"Biarkan aku saja yang memangsanya, Jika kamu tidak mau kamu tidak perlu datang melihatnya."
Nomo terus berusaha untuk bisa mendapatkan Nesa dari tangan Joni, suara auman kemarahan terdengar sangat nyaring, sebagai tanda bahwasanya dia akan memulai pertempuran.
"Kamu tidak perlu bersikap seperti itu, ingatlah manusia ini terlihat sangat lemah," ucap Joni meredam kemarahan Nomo.
"Tidak perlu kamu banyak berbicara, kamu hanya membuang waktu saja."
Mereka bertarung dengan terlihat sangat ganas, bahkan Nomo sudah kehilangan kendali.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyembunyikan perempuan itu, ingatlah kita memiliki dendam yang cukup besar dengan kaum manusia."
Nomo sama sekali tidak mau memaafkan manusia yang sudah masuk ke dalam hutan, namun Joni Mencoba untuk bisa melindungi Nesa agar tidak terjadi sesuatu.
''Aku akan terus melindunginya, aku yakin pasti dia tidak akan membuat masalah di hutan ini," ucap Joni terus berusaha melindungi Nesa.
Joni bahkan melupakan satu hal yang pernah menjadi peraturan di tempat tinggalnya, dia sama sekali tidak mau jika sampai Nesa mengalami hal yang buruk.
"Kamu sama sekali tidak mengerti apa resikonya Jika kamu mempertahankan manusia ini?"
Nomo mencoba mengingatkan kepada Joni agar tidak salah mengambil langkah, namun Joni tidak mau mendengar ucapan yang dikatakan oleh Nomo.
"Apapun Yang terjadi, Aku akan terus berusaha untuk melindungi wanita ini, Aku tidak mau jika sampai dia mati dengan percuma."
Nomo mengaung sangat marah ketika mendengar jawaban dari sahabatnya, dia sama sekali tidak bisa menasehati sahabatnya untuk tidak melanggar peraturan yang sudah dilaksanakan.
"Kamu benar-benar sangat bodoh, tindakanmu ini akan membuatmu tidak bisa mendapatkan perlakuan buruk dari Alpha king."
Nomo mencoba mengingatkan kembali sahabatnya, Namun karena memiliki watak yang sangat keras kepala, Joni sama sekali tidak bisa mendapatkan nasehat dari sahabatnya.
"Aku sama sekali tidak takut, jika sampai Alpha king mengetahui masalah ini."
Tatapan Nomo dipenuhi dengan rasa kekesalan, dia sangat tidak suka mendengar ucapan yang dikatakan oleh Joni.