bc

Mengejar Cinta CEO Arsya.

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
friends to lovers
city
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Bagai pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang sedang dirasakan oleh Nesya Sukma. Setelah kejadian one night stand dengan seseorang yang tidak ia ketahui di Jakarta, ia harus menanggung malu dengan. calon bayi yang sekarang telah ada di dalam rahimnya.

"Tolong jangan bunuh diri,"

"Nggak, aku harus melakukan ini. Ak malu dengan keadaan seperti ini."

"Aku akan jadi Ayah untuk calon anakmu, hanya sebatas ayah."

chap-preview
Pratinjau gratis
Diusir.
Happy reading. "Keluar dari sini! Kamu itu aib bagi warga kita," teriak salah satu warga. Mereka begitu murka dengan Nesya saat ini, setelah mereka tahu bahwa Nesya sedang hamil tanpa seorang suami. "Tapi, saya hanya korban dari pria yang jahat sama saya." "Kami semua nggak peduli, kamu tetap harus pergi dari sini." Nesya Sukma 25 tahun, harus pergi meninggalkan kontrakannya ya g baru berjalan enam bulan. Padahal, ia sudah membayar biaya kontrakan selama satu tahun lamanya. Namun, karena kesalahannya beberapa bulan lalu yang mengakibatkan ia hamil. Nesya harus pasrah untuk pergi meninggalkan kontrakannya. "Aku harus kemana lagi, uang di dompet sudah menipis." Nesya berjalan dengan langkah gontai, sambil menahan perutnya yang terasa sakit. Ia tidak tahu akan kemana setelah diusir oleh warga di sekitar rumah kontrakannya. "Apa aku pulang kampung saja? Disana masih ada rumah ibu yang masih bisa aku tempati, tapi apa warga kampung menerima aku seperti dulu?" Hanya membawa tas yang berisi pakaian seadanya dan uang beberapa lembar. Nesya kini berada di atas jembatan penyeberangan yang di bawahnya mengalir sungai yang sangat deras. Jalan pintasnya muncul, seketika itu ide untuk mengakhiri hidupnya datang begitu saja. "Apa aku terjun ke sungai saja, aku nggak mau hidup lagi." "Woi, Lo mau bunuh diri." Baru saja Nesya ingin menaiki besi penyangga ada suara seseorang dari jarak yang cukup dekat, pria itu berdiri tegap dengan setelan baju khas karyawan sebuah perusahaan. "Woi, Lo mau bunuh? Kalau iya, jangan di sini. Di laut aja sana," teriak Arsya lagi. "Bukan urusan kamu, aku mau bunuh diri sekarang juga ini semua jadi urusanku." "Ini juga jadi urusan gue, karena Lo mau bunuh diri tepat dihadapan gue." "Ck, mau bunuh diri aja kenapa serepot ini sih?" Arsya perlahan berjalan menuju Nesya, mau tidak mau ia harus membantu wanita yang sepertinya sedang mengalami banyak masalah. Arsya seketika itu mengingat adik perempuannya yang hilang ketika masih berusia balita. "Berisik, aku mau mati. Pergi sana!" "Ternyata ada suaranya, kirain cewek ini bisu." Ketika kaki Nisa sudah berada di atas penyangga jembatan, Arsya dengan cepat memeluk tubuh Nesya ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli setelah ini wanita yang ia selamatkan akan menggigitnya. "Hap, kena juga kan."batin Arsya "Lepasin! Aku mau mati dari aja. Daripada menanggung malu dengan keadaan aku sekarang." "Mati hanya buat Lo masuk neraka, jadi lebih baik hidup bukan." Tiba-tiba perut Nesya bergejolak, ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Bahkan jas yang baru saja Arsya beli, kotor akibat muntahan Nesya. "Oh, tidak. Jas gue, kenapa harus Lo muntahin?" "Maaf, perut aku mual." "Lo kenapa sakit?" tanya Arsya meneliti seluruh wajah Nesya yang pucat. Belum sempat Nesya menjawab pertanyaan dari Arsya, tubuhnya tumbang di dalam pelukan Arsya. Benar-benar definisi sudah jatuh tertimpa tangga, dan Arsya mau tidak mau membawa wanita yang sudah membuat jas mahalnya kotor menuju rumah sakit miliknya sendiri. "Menyusahkan sekali wanita ini," gumam Arsya. Menghela nafas panjang, pagi ini seharusnya ia datang ke sebuah peresmian rumah sakit yang baru saja selesai dibangun. Namun takdir berkata lain, Arsya mendapatkan rezeki yang tak terduga dari seorang wanita yang ingin bunuh diri. "Pingsan apa tidur sih? Kenapa nyenyak banget." *** Arsya keluar dari mobilnya membopong tubuh Nesya kembali menuju ruang UGD rumah sakit miliknya yang berada tidak jauh dari tempat lokasi. Dengan cepat Arsya memanggil salah satu perawat yang sedang bertugas di dalam UGD rumah sakit miliknya. "Tolong wanita ini," kata Arsya kepada salah satu perawat yang berjaga. "Baik Pak Arsya, kami akan menolong wanita ini." Menunggu beberapa menit di depan ruang IGD rumah sakit miliknya, Arsya masih setia berada di depan pintu IGD. Beberapa kali panggilan telepon dari sekertarisnya ia abaikan, Arsya tidak tahu mengapa namun satu hal yang pasti bahwa saat ini ia peduli dengan wanita yang telah membuat jas mahalnya kotor. Satu setengah jam berlalu, akhirnya dokter yang menangani Nesya keluar dari uang IGD. Arsya lalu bertanya apa yang terjadi dengan wanita itu, ia benar-benar ingin tahu sebab wanita itu pingsan. "Selamat, Pak Arsya. Istri anda sedang hamil, dan calon anak kalian kembar." "Apa? Anak kembar?" "Benar, di dalam rahim istri anda ada dua anak kembar. Dan, keduanya dalam keadaan sehat." "Astaga! Jadi, wanita itu sedang hamil. Anak kembar pula, kenapa jadi serumit ini?" "Eugh, perutku." "Akhirnya, bangun juga Lo." "Kamu masih di sini?" Arsya menatap wajah Nesya geram, ingin sekali ia memukul kepala wanita itu agar kembali normal. Akan tetapi, ia masih memikirkan anak yang berada di dalam kandungan wanita itu. "Iya, gue masih di sini. Karena Lo pingsan pekerjaan gue terbengkalai dan gue rugi banyak." "Aku nggak butuh bantuan kamu, seharusnya kamu membiarkan aku jatuh di sungai tadi. Dan, mungkin sekarang aku sudah mati." "Memangnya dengan mati masalah Lo selesai begitu aja, big no." "Kalau begitu pergi sana! Aku juga nggak butuh kamu. "Wanita ini," geram Arsya. Mengepalkan kedua tangannya kesal, akan tetapi ia masih bisa menahan amarahnya setelah ia mengetahui bahwa wanita itu sedang hamil anak kembar. "Kamu bunuh diri karena sedang hamil?" tanya Arsya pelan. Degh. Nesya menatap wajah Arsya, ia tidak menyangka jika kabar kehamilannya dengan cepat diketahui oleh pria yang telah membantunya dari percobaan bunuh diri. padahal sejak tadi iya hanya diam tanpa memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya. "Maaf, setelah ini aku akan pergi jauh. Dan, kamu nggak perlu menolongku lagi." "Aku mau jadi ayah dari anakmu, hanya sebagai ayah." Nesya menggeleng cepat, masalahnya sudah sangat banyak. Ia tidak mungkin menyeret pria yang baru saja ia temui menanggung masalahnya, bagi Nesya ini adalah tanggung jawabnya sendiri. Dan, tidak ada yang harus membantunya. "Terima kasih, aku nggak mau merepotkan kamu. Jadi, sebaiknya kamu dan aku nggak saling mengenal." "Mulai sekarang anak yang ada di dalam kandunganmu adalah anakku, dan sebentar lagi kita akan menikah." *** "Tega Lo Bos, gue tunggu dari pagi tadi kenapa baru datang sekarang?" "Sorry tadi ada sedikit masalah, jadi gue harus menyelesaikan masalah itu dengan sikap gentlemen." "Masalah apa bos? Sampai bawa-bawa sikap gentleman. Bukankah selama ini Lo itu udah menjadi sosok pria gentlemen bagi semua kalangan wanita Gen z." "Kepo, ini masalah gue. Lo nggak pasti tahu," kata Arsya pelan. Reno Aldi Braga sahabat sekaligus sekretaris Arsya hanya bisa mengalah nafas panjang, kelakuan atasannya itu memang di luar nalar pemikiran seorang pria. walaupun seperti itu ia sangat mengagumi Arsya sebagai seorang pria yang berdedikasi tinggi mengenai perusahaan. "Bos, ada pesan masuk dari Nyonya besar. Katanya, malam ini bos harus balik ke Jakarta untuk kencan buta."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook