"maaf Bu, saya telat" ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas dan kini berdiri di depan pintu itu.
Seluruh mata tertuju padanya, bahkan Bu Siska yang umurnya masih sekitaran dua puluh limaan itu saja menjadi tersipu malu saat melihat orang tersebut, apalagi para siswi yang lain, mereka sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari orang tersebut.
Begitupula dengan putri, dia sama seperti mereka, dia sama sekali tidak bisa mengendalikan matanya saat ini, "gila, cakep banget" puji putri dalam hatinya.
Tapi seperdetik kemudian dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya agar pemikiran itu segera hilang dari otaknya, karna dia takut jiwa halunya nanti akan muncul kembali jika terus menatap dan mengagumi orang tersebut. Dia tidak mau menghalukan manusia nyata seperti itu sebab menyukai manusia nyata yang bisa kita lihat secara langsung namun tidak bisa kita miliki itu jauh lebih terasa sakit daripada menyukai para idola yang sudah jelas-jelas tidak bisa mereka miliki, ahh jangankan memiliki bisa bertemu tatap di dunia nyata pun rasanya mustahil, apalagi untuk manusia yang kondisi ekonomi nya menengah ke bawah seperti putri. Kenapa? Karna saat kita menyukai manusia di dunia nyata kita akan secara otomatis akan menaruh harapan kepada mereka walaupun kecil, dan itulah yang akan menyiksa diri mereka sendiri sebab berharap itu sangatlah sakit, apalagi jika yang di harapkan sama sekali tidak sesuai kenyataan.
berbeda dengan menyukai para idola yang berbeda negara, kita menjadi lebih sadar diri dan sama sekali tidak menaruh harap bahwa suatu saat nanti akan bisa bersama, karna kita hanya sekedar mengidolakannya, bukan berambisi untuk memilikinya, tidak ada harapan lebih untuk bersama di dalamnya sehingga luka yang timbul pun tidak akan separah luka yang di sebabkan rasa sakit cinta bertepuk sebelah tangan di dunia nyata.
Dan putri tidak mau itu terjadi, dia telah lama berhenti dari hal semacam itu karna dia sadar diri, dan tidak mau menyakiti dirinya sendiri dengan ke haluan yang suka timbul dan pada akhirnya membuat dia terluka nantinya.
Dengan cepat dia menelungkup kan wajahnya ke atas meja sembari membayangkan wajah Kim taehyung alias pacar halu nya. Berharap dengan dia melakukan itu wajah orang yang sedang berdiri di depan pintu dengan pose yang biasa-biasa saja namun sangat terlihat keren itu bisa hilang dari dalam otaknya.
Tapi sayang itu sama sekali tidak berpengaruh, karna dari sekian banyak cogan di sekolah ini laki-laki itu adalah cogan terganteng yang pernah dia liat di dunia nyata, sehingga jantungnya otomatis langsung berdebar kencang.
Putri tidak kehabisan akal, dia langsung mengambil ponselnya dari dalam kantong kemudian melihat wallpaper nya yang menunjukkan wajah tampan pacar halunya itu. Dan seperti biasanya, hal itu selalu sukses untuk mengalihkan perasaannya yang berdebar dan mulai larut kepada ke haluan nya.
"Maaf ya Beby, tadi aku khilaf sebentar, tapi percaya sama aku, hanya kamu doang yang ada di hati aku" ujar putri sepekan mungkin sehingga hanya dia yang dapat mendengar itu kepada layar di hp nya, dia benar-benar terlihat seperti orang gila saat ini, untung saja dia sedang menelungkupkan wajah, coba kalau tidak seisi kelas mungkin akan menganggapnya stress. Ahh atau mungkin tidak? Karna perhatian mereka semua sedang tertuju kepada manusia tampan yang sedang berdiri di depan kelas itu.
"Bu?" Panggil orang itu sambil berjalan mendekat ke arah Bu Siska yang terbengong dan secara terang-terangan menatapnya sama seperti siswa wanita lainnya di kelas ini.
"Ibu?" Panggil orang itu lagi.
"Eh iya kenapa sayang?" Jawab Bu Siska secara reflek yang sukses membuat seisi kelas menahan tawa saat mendengarnya.
Orang tersebut hanya terdiam menanggapi jawaban Bu Siska dan reaksi penghuni kelas itu.
"Saya anak baru disini Bu, nama saya Leonardo Aprilio" terang orang tersebut memperkenalkan diri.
"Ahh, iya ibu sudah dengar tadi dari kepala sekolah kalo kamu hari ini pindah ke sekolah ini, oiya anak-anak perkenalkan dia adalah murid baru di sini dan akan sekelas bersama kalian selama satu tahun kedepan, Leo silahkan perkenalkan diri kamu", ujar Bu Siska dengan sedikit salah tingkah.
Orang tersebut langsung menghadap ke depan setelah mendengar perkataan Bu Siska tersebut untuk memperkenalkan dirinya.
"Kenalin, nama gue Leonardo Aprilio, tapi kalian cukup panggil gue Leo, gue yakin kalian semua udah tau siapa gue jadi gue ngga perlu jelasin lebih lanjut lagi tentang diri gue" terang Leo dengan wajah yang sedikit datar tanpa ekspresi, bahkan cara perkenalannya pun terkesan sedikit angkuh, tapi hal itulah yang semakin membuat para siswi meleleh saat ini, sepertinya dia sangat tau bagaimana caranya untuk terlihat cool di hadapan para wanita.
Tapi, walaupun cara bicaranya terkesan angkuh, dia tidak berbohong, faktanya mereka semua kecuali putri yang memang sama sekali tidak tau pembahasan manusia kalangan atas tentunya memang tau siapa dirinya.
Siapa coba yang ngga kenal sama Leonardo Aprilio? Seorang lelaki remaja berusia 18 tahun yang sangat tampan dengan tinggi dan tubuh yang juga sangat proposional, punya mata indah dengan alis dan bulu mata yang lentik, bibirnya berwarna pink natural seolah-olah saat ini dia sedang memakai lipstik disana, padahal siapapun tau kalau itu memanglah warna asli bibirnya. Dia terlihat sangat menawan dengan segala apapun yang dia pakai, bahkan mungkin jika dia hanya memakai baju kumuh dan robek ketampanannya akan mengubah baju tersebut menjadi fashion yang menawan, sebab rupa memang bisa memperbaiki segalanya jika hal itu dalam hal penampilan.
Keluarganya memang terkenal akan ke tampanan dan kecantikan nya sehingga orang-orang sudah tidak merasa heran lagi darimana Leo mendapatkan seluruh kesempurnaan fisik yang di atas rata-rata dan membuat banyak orang merasa iri itu.
Tapi, bukan hanya karna ketampanannya saja yang membuatnya menjadi terkenal, melainkan juga karna kekayaan keluarganya, karna dia adalah anak pemilik salah satu perusahaan ternama di dunia, bahkan sekolah ini pun adalah milik keluarganya dan kelak dia atau adiknya yang akan mewarisinya.
Jadi mustahil rasanya jika mereka yang dari kalangan atas itu tidak mengenalinya, makannya dia berkata seperti itu.
Mereka semua menunggu kalimat selanjutnya yang akan di katakan oleh Leo termasuk Bu Siska, tapi hanya hening yang mereka dapat.
"Ada lagi Leo yang mau kamu bicarakan? Seperti info pribadi gitu misalnya? Kayak udah punya pacar apa belum, tipe idealnya seperti apa dan lain-lain?", Tanya Bu Siska dengan genitnya sehingga membuat putri yang sedari tadi memilih untuk menelungkup kan wajah agar tidak melihat wajah tampan Leo itu menjadi ingin muntah dan merasa jijik mendengar perkataan gurunya itu.
Leo hanya menggeleng sebagai jawaban.
Bu Siska mengehela nafasnya sembari tersenyum Leo, "yaudah kalo gitu silahkan pilih kursi manapun yang kamu mau ya", ujar Bu Siska.
Semua wanita menjadi histeris disana, mereka berharap kalau Leo akan memilih duduk bersama mereka, bahkan ratu pun ikut mengharapkan nya, tapi sayang pilihan leo sangat membuat mereka ingin menangis darah dan memaki sebab Leo malah melangkahkan kakinya ke arah kursi yang sejak tadi telah menjadi incaran nya, bahkan dia telah mengincar kursi itu sebelum dia masuk ke kelas ini tadi.
Hanya putri yang merasa tidak perduli dengan hal itu, bahkan dia sangat berharap agar Leo jangan duduk di samping nya, ya walaupun dia sangat tau tanpa dia berdoa seperti itupun memang tidak akan ada yang mau duduk di sampingnya, jangankan Leo, laki-laki terjelek di sekolah ini saja pun tidak akan mau melakukan hal itu.
Seluruh kelas menjadi histeris saat Leo telah menetapkan pilihannya, bahkan Bu Siska pun sampai tidak bisa berkata-kata lagi melihatnya.
Putri masih saja sibuk memperhatikan foto Kim taehyung secara sembunyi, hingga tiba-tiba dia mendengar kursi di sampingnya bergeser sehingga dia langsung bangun untuk melihat siapa pelakunya,
"ASTAGFIRULLAH!!!", Kagetnya dengan mata terbelalak setelah melihat siapa pelaku tersebut, bahkan hp nya pun sampai terjatuh ke lantai karna dia benar-benar sangat merasa kaget saat ini.
Bagaimana tidak? Karna di hadapannya kini Leo sedang terduduk menatapnya dengan kening berkerut.