5

1021 Kata
Putri benar-benar merasa kaget saat ini, dia benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang di lihatnya, bahkan bukan cuman dia saja yang merasakan hal seperti itu melainkan seluruh penghuni kelas itupun merasakan hal yang sama seperti dirinya termasuk Bu Siska, mereka juga benar-benar tidak bisa mempercayai pilihan Leo tersebut. "Le...Leo, ka... Kamu ngga salah pilih kursi kan? Ibu kan udah bilang kalo kamu bebas mau pilih kursi yang mana aja disini, jadi kamu ngga perlu duduk di kursi kosong itu", ujar Bu Siska dengan terbata-bata. Leo menatap gurunya itu dengan datar karna tatapan mata yang dia tunjukkan sehari-hari ke orang-orang memanglah tatapan semacam itu. "Hanya karna saya anak pemilik sekolahan bukan berarti saya harus di anak emaskan Bu, jadi daripada ngusir orang dari kursi mereka lebih baik saya pilih kursi kosong yang tersedia", jawabnya. "I... Ibu bukannya ingin meng anak emaskan kamu, teman sebangkunya yang tadi duduk sebelum kamu juga ibu perlakukan sama, ibu hanya tidak mau kamu akan merasa tidak nyaman nanti karna duduk di samping anak itu", sahut gurunya yang masih sedikit terbata, karna entah kenapa dia merasa sulit rasanya berbicara normal saat melihat wajah mempesona Leo itu. Mendengar jawaban Bu Siska tersebut jujur saja sangat membuat hati putri terluka, bahkan air mata sialannya itu kini memaksa untuk menerobos keluar dari sarangnya saat mendengar perkataan Bu Siska yang menurutnya sangat tidak pantas sekali untuk di sebut sebagai seorang guru. Dia berulang kali menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya untuk menenangkan dirinya. "Gue saranin mending Lo cari kursi lain deh seperti saran Bu Siska tadi!", ujarnya kepada Leo, matanya sedang terlihat hampir berkaca-kaca saat ini namun hanya Leo yang dapat melihat hal itu. Leo mencoba mengabaikan apa yang dia lihat itu kemudian menaikkan sebelah alisnya, "apa hak Lo ngatur-ngatur gue? Terserah gue dong mau duduk dimana", jawab Leo yang lagi-lagi bernada datar. Putri kehilangan kata-kata mendengar jawaban Leo tersebut, karna dia merasa perkataan Leo itu benar, dia sama sekali tidak punya hak mengaturnya. Sehingga langsung menghela nafasnya kemudian memaksakan senyum ke arah Bu Siska yang sudah sangat di bencinya di hari pertama sekolah ini. "Ibu denger sendiri kan bu, dia ngga mau pindah, jadi mohon untuk jangan membuat perspektif seolah-olah saya benar-benar adalah sebuah hama dan virus yang harus sangat di hindari oleh semua orang kayak tadi, oh atau kalo ngga gini aja, biar mulut tajam ibu itu bisa berhenti mengeluarkan nyinyiran gimana kalo ibu taro kursi satu lagi buat saya di sudut bagian paling belakang kelas ini dan jauh dari mereka semua biar ibu merasa tenang, dan saya tidak mendengar kicauan ibu yang sangat membuat saya semakin tidak menghormati ibu sebagai guru saya, saya sama sekali tidak masalah dengan hal itu asal ibu tetap mau menaikkan kelas saya saat kenaikan kelas nanti tiba", ujar putri kepada Bu Siska dengan nada sesopan mungkin sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan semua emosinya. "Kurang ajar ya kamu, saya ngga pernah nyuruh kamu untuk bicara jadi kamu sebaiknya diam saja!", Delik Bu Siska lagi kepadanya. "Waahhhhh....!", Putri mengipas-ipas kan tangan nya di depan wajah sambil melenguh kencang, dia benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, karna jika dia masih menahan perasaan marah itu bisa-bisa dia akan menangis nantinya dan dia sama sekali tidak mau jika hal itu sampai terjadi. "Ibu bener-bener manusia terburuk yang pernah saya temui di hidup saya selama 18 tahun saya hidup, saya bener-bener ngga bisa mempercayai apa yang saya liat ini, ibu benar-benar menghancurkan defenisi seorang guru di mata saya, saya rasa ibu sama sekali sangat tidak pantas untuk menjadi seorang guru! Ibu tadi nyuruh saya diam karna saya tidak sedang di ajak bicara? Lantas ibu gimana kalo ada di posisi saya? Apa ibu bakalan bisa diem aja kalo di maki-maki sama orang walaupun dengan bahasa yang sehalus mungkin? Saya juga punya mulut Bu, sama seperti ibu, dan satu-satunya orang yang berhak untuk mengatur mulut saya ya saya sendiri! Ibu sama sekali tidak punya hak atas itu sekalipun ibu adalah guru dan wali kelas saya!", Putri balas mendelik. Bu Siska mengepalkan tangannya, "kamu benar-benar kurang ajar! Ngga bermoral! Liat aja kamu bakalan ibu hukum!", Deliknya lagi. "SAYA SAMA SEKALI NGGA TAKUT BU!!! KALO PERLU SILAHKAN IBU KELUARIN SAYA DARI SEKOLAH INI!!! KARNA SAYA LEBIH SUDI BELAJAR DARI PENGALAMAN DAN SECARA OTODIDAK DARIPADA HARUS DI AJAR OLEH MANUSIA MENYEDIHKAN YANG PUNYA OTAK SEMPIT KAYAK IBU INI!!!", Teriak putri yang langsung berdiri dari kursinya dan menjawab ancaman Bu Siska tersebut, dia juga benar-benar sudah merasa sangat marah saat ini sehingga dia sudah tidak perduli lagi dengan semua hal yang akan terjadi nanti. "Awas Lo gue mau lewat!", Ketusnya kepada Leo yang sedari tadi diam menyaksikan mereka berdua berdebat bersama dengan yang lainnya, mereka semua terlihat sangat menikmati perdebatan antara putri dan Bu Siska itu. Leo hanya diam tidak menjawab dan juga tidak bergerak dari kursinya seolah-olah tidak menghiraukan perkataan putri itu. Putri yang masih di kuasai oleh amarah langsung menerobos keluar dari depan Leo, dia sudah tidak perduli lagi mau Leo adalah cogan atau tidak, dia sudah tidak punya rasa segan-segan lagi akan hal itu, dan ini adalah untuk pertama kalinya dia berani melakukan hal tersebut karna biasanya dia akan selalu grogi dan salah tingkah jika sedang berada di dekat cogan. Lutut putri yang kuat pun menyenggol lutut Leo dengan kencang agar dia bisa keluar dari kursinya dan hal itu membuat lutut Leo menjadi terasa sedikit sakit, padahal yang menabrak lututnya hanyalah sebuah lutut dari seorang cewek tapi kenapa rasanya seperti lututnya sedang di tabrak oleh sebuah batu, batin Leo. Dia bahkan sedikit menggigit bibir bagian dalamnya agar tidak mengeluarkan suara ringisan. "Saya sama sekali ngga takut sama hukuman yang akan ibu kasih nanti!", Lanjut putri lagi dengan suara sinisnya seolah-olah dia sedang menantang Bu siska setelah dia telah berhasil keluar dari kursinya. Dan setelah mengatakan hal tersebut dia langsung pergi keluar meninggalkan kelas dan juga meninggalkan Bu Siska yang sangat merasa dongkol serta teman-teman kelasnya yang sama sekali tidak merasa perduli kepadanya, mereka malah menganggap ini sebagai hiburan, ironi memang, tapi memang begitulah penghuni di kelas putri dan dia sudah merasa biasa dengan hal itu selama setahun belakangan ini jadi dia sama sekali sudah tidak memperdulikan sifat mereka yang seperti itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN