"Arghhhh!!!! Guru sialan!", Maki putri dengan frustasi di gerbang belakang sekolah, ini memanglah tempat favoritnya untuk sendirian sebab tidak akan ada yang mau datang kesini karna tempat ini adalah satu-satunya tempat kumuh di sekolah ini, jadi daripada memilih ke atap sekolah untuk bolos seperti siswa lainnya dia akan lebih memilih untuk tetap stay disini karna tempat ini sangat begitu terasa nyaman untuknya.
Dengan kasar dia menghempaskan diri ke atas sofa bekas yang entah kenapa bisa ada di sana dia pun tidak tau pasti karna sejak dia menemukan tempat ini sofa tersebut sudah ada disana jadi dia tidak terlalu memperdulikan nya. Lagipula dengan adanya sofa tersebut dia jadi punya tempat duduk yang nyaman walaupun sofa itu sudah terlihat sedikit usang. Hal pertama yang ada di benaknya saat melihat benda tersebut tergeletak disana adalah, "anak orang kaya memang gampang membuang barang".
Dia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan fikiran tapi di tengah tengah sofa terasa ada yang mengganjal baginya, seperti ada benda keras disana sehingga dengan rasa penasaran dia pun menekan nekan sofa bekas tersebut dan tanpa sengaja menemukan botol yang berisi kertas di dalam bagian dalam sofa kesayangannya itu.
Putri mengernyitkan dahi bingung, tapi bukan karna dia penasaran dengan apa isinya melainkan karna dia penasaran dengan orang yang meletakkannya, "orang kurang kerjaan mana yang naro botol ini di dalam tubuh sofa kesayangan gue?!!!!!", Teriaknya dengan marah walaupun dia tau hanya dia sendirilah yang akan mendengarkan kemarahannya tersebut sebab tidak ada orang lain disana.
Tapi, setelah putri mencoba memperhatikannya dengan seksama dia mulai merasa seperti mengenali botol tersebut.
"Ahhh... Ini adalah botol anak OSIS yang berisi tantangan yang harus di cari anak baru", gumamnya kemudian berniat membuang botol tersebut jauh-jauh dari sana dengan perasaan kesal.
Tapi pada saat dia ingin melemparkannya tiba-tiba saja ada seseorang yang menghentikan aksinya tersebut.
"Tunggu..., Jangan buang botolnya, kalo Lo ngga mau itu mendingan kasih ke gue aja", pinta orang tersebut.
Putri langsung menengok ke arah orang yang telah berani menghentikan nya itu, tapi tubuhnya tiba-tiba saja jadi membeku seketika untuk sesaat dan kehilangan kata-kata karna di hadapannya saat ini sedang berdiri seorang cogan yang sangat tampan, dan dia sangat lemah dengan hal semacam itu.
Orang tersebut menjadi bingung di buat nya saat melihat ekspresi dan reaksinya itu sehingga dia langsung berjalan mendekat ke arah putri untuk menyapanya sekali lagi.
"Hey...", Sapa orang tersebut lagi dengan nada lembut sambil mengibas-ibaskan tangannya di wajah putri.
"Hah?", Jantung putri tiba-tiba saja semakin berpacu dengan kencang saat ini, jiwanya benar-benar meleleh sekarang, dia benar-benar merasa kalau ini tidak nyata sehingga putri langsung menggeleng-gelengkan kepalanya berharap hal tersebut dapat mengembalikannya kepada kenyataan pahit yang ada.
Tapi sayang hasilnya nihil, tubuhnya menjadi lemas seketika, dia benar-benar merasa tidak kuat dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini, "ini gue bener-bener ngga lagi ngehalu kan kalo ada cowok tampan yang Dateng kesini dan wajahnya Deket banget sama muka gue", gumamnya tidak jelas dengan wajah blank yang membuat orang tersebut seketika menjadi tertawa karna dia merasa lucu saat melihat ekspresi putri tersebut.
Putri menatap ke arahnya yang sedang tertawa itu dan dengan seluruh tenaga yang dia miliki dia meneguk Saliva kemudian mencoba berbicara kembali, "tunggu! Plis jangan ketawa, gue bener-bener ngga bisa ngeliat cogan ketawa kayak gitu karna dengan muka diam Lo yang cakep itu aja udah sukses bikin gue meleleh jadi tolong wahai orang asing berwajah tampan, jangan siksa gue dengan pesona yang Lo punya", ujarnya dengan nada gelagapan, dia benar-benar tidak tau apa yang dia katakan saat ini karna memang begitulah dia, dia suka nge blank kalo sudah berurusan dengan cogan.
"Hah?", Orang tersebut benar-benar sangat tidak mengerti dengan apa yang putri bicarakan saat ini sehingga tawanya yang tadi muncul kini telah berganti dengan eskpresi bingung menatap ke arahnya.
Putri mengepalkan tangannya dengan kuat kemudian memalingkan wajahnya, "jangan liatin gue!", Bentaknya dan langsung melemparkan botol yang dia pegang sejak tadi ke arah orang tersebut.
"Sana pergi! Buruan sebelum gue berubah fikiran dan bikin Lo jadi ngga nyaman dengan tingkah gue yang menggelikan!", Bentaknya lagi mengusir orang itu, dia melakukan nya bukan karna tanpa alasan tapi karna dia hanya tidak mau mempermalukan dirinya sendiri lagi karna tidak pernah kuasa menang dalam berhadapan dengan para cogan, seolah-olah akal sehatnya akan hilang dan dia akan bertingkah seperti orang bodoh nantinya karna berharap tinggi kepada manusia sempurna yang tidak boleh dia gapai itu.
Orang tersebut semakin mengernyitkan dahinya, dia benar-benar sangat tidak mengerti dengan apa yang putri bicarakan walau dia telah mendengarnya dengan seksama sejak tadi, sehingga setelah dia memungut botol yang di lemparkan putri ke hadapannya tersebut dia mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya, "gue bener-bener ngga ngerti dengan apa yang Lo bicarain itu, sebenernya Lo ngomong apa?", Tanyanya dengan hati-hati.
Putri memejamkan matanya mencoba menenangkan jantungnya yang terus berdegup kencang, "tuhan tak bisakah makhluk berwajah di atas akal sehatmu itu pergi saja dari sini, ini terlalu Afgan ya tuhan untuk hamba yang punya mental lemah saat berurusan dengan para cogan yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa hamba miliki", ringis batinnya, dengan ekspresi wajah frustasi sambil terpejam sehingga membuat orang tersebut menjadi sedikit khawatir melihatnya.
"Lo ngga papa kan?", Tanyanya lagi, suaranya terdengar sangat dekat sehingga membuat jantung putri hampir melompat dari tempatnya karna membayangkan wajah dekat orang itu dengan suara sedekat ini, tapi dia tidak boleh membiarkan dirinya berlama-lama dalam keadaan semacam ini sehingga dengan satu tarikan nafas panjang dia mencoba mengusirnya kembali.
"PERGI....!!!!!", teriaknya lagi namun kali ini sedikit lebih kencang dari yang tadi sehingga membuat orang tersebut menjadi terkejut dan salah faham.
"Dia ngga sedang ngebenci gue kan saat ini? Tapi masa sih dia benci? Kita kan baru aja kenal dan bahkan tadi dia muji gue", batin orang tersebut sambil terus menatap putri yang masih saja terpejam dengan wajah yang menghadap ke samping.
Dia benar-benar sangat tidak mengerti dengan wanita yang ada di hadapannya ini, tapi menurutnya putri terlihat sangat lucu dengan ekspresinya saat ini serta reaksi yang dia keluarkan sejak tadi, itu sedikit menggemaskan baginya.
Putri masih saja diam dengan jantung yang hampir meledak itu begitu juga dengan orang tersebut yang masih saja terus memandanginya sambil menahan tawa.
Hingga akhirnya orang itu tersadar akan tujuan awalnya datang kesini, barulah dia menghentikan aksinya itu, "gue ngga tau siapa Lo tapi gue ngucapin terima kasih banyak karna udah kasih botol ini ke gue, dan oiya Lo bener-bener lucu", ujarnya dengan memelankan suaranya di akhir kalimat kemudian pergi dari sana dengan secepat mungkin.
Mata putri langsung terbuka dan terbelalak saat mendengarnya, otaknya semakin blank seketika sehingga dia dengan cepat langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, "oke Li, abis pulang kayaknya Lo harus periksa ke THT karna pendengaran Lo mulai bermasalah kayaknya", ujarnya kepada diri sendiri untuk mencoba tetap menyadarkannya kepada kenyataan pahit yang dia miliki.
Tapi setelah dia mengatakan hal tersebut dia langsung menghempaskan diri ke sofa dengan kencang, jantungnya masih saja terus berdebar saat ini sehingga putri langsung meletakkan tangannya ke d**a dan merasakan debaran itu, "tapi biarpun itu cuman salah denger gue udah bahagia kok", lanjutnya sambil tersenyum dan memejamkan mata, dia sudah sangat terbiasa seperti ini karna jantungnya memang selalu berdebar setiap melihat ada cowok ganteng dan seperti nya itu sudah menjadi kebiasaannya, jatuh cinta kemudian terluka sebab dirinya selalu falling in love with people she can't have selama ini. Tapi walau sudah sering terluka karena di sadarkan oleh kenyataan pahit hatinya tetap tidak mau jera sehingga dia dengan sekuat tenaga mencoba untuk tidak jatuh cinta lagi kepada manusia nyata dan dia hanya boleh mengaguminya, tapi percayalah ini sangat berat menjalankannya, dia benar-benar memang terlihat menyedihkan dalam hal tersebut.
Tapi, tanpa dia sadari sedari tadi ada orang yang memperhatikannya sejak awal dirinya mengobrol dengan pria tadi sampai sekarang.