7

989 Kata
Putri terbangun dari tidurnya, saat tadi dia memejamkan mata dirinya memang tidak sengaja tertidur, dia memanglah golongan manusia yang kalo liat tempat nyaman dikit aja langsung ngantuk, apalagi tadi itu posisinya dia sedang mencoba menenangkan jantungnya yang tidak mau berhenti berdebar di tambah semilir angin yang tertabrak daun-daun pohon mangga yang ada di dekatnya membuat rasa kantuknya semakin menjadi. Dia menghela nafasnya panjang setelah kesadarannya sudah benar-benar pulih dengan mata yang terus saja mengerjap-erjap sambil menguap. Setelah itu dia terdiam sejenak kemudian langsung menengok ke arah jam tangannya. "Gila baru hari pertama gue udah bolos, mau manusia apa coba nanti gue", gumamnya sambil geleng-geleng kepala, tapi seperdetik kemudian dia langsung menunjukkan ekspresi tidak perduli akan hal tersebut karna sejak awal dia memang tidak ada niatan untuk bolos jadi dia menganggap kalo ini bukan salahnya melainkan salah wali kelas kurang ajarnya itu. Putri kembali menghempaskan diri ke sofa usang tersebut, "andai gue bisa bilang ke ibu sama ke ayahnya Ratu kalo gue pengen nya sekolah di sekolahan bang putra, pasti gue ngga bakalan ngalamin kenangan buruk masa SMA kayak gini buat di ingat di suatu hari nanti", gumamnya lagi. Dia memang sudah hampir sangat terbiasa dengan sikap para murid disini dan juga sebagian guru yang mendiskriminasinya, tapi baru kali ini dia menemukan guru yang modelannya seperti Bu Siska tadi dan hal tersebut sangat menganggu fikirannya. "Emangnya apa yang salah dari kemiskinan? Menjadi miskin juga bukan kemauan kita, kita juga pengen jadi kaya, tapi kenapa kasta itu jadi ada", racaunya saat mengingat kejadian tadi. Dan saat dia tengah serius akan pemikiran nya itu tiba-tiba saja perutnya berbunyi dan menganggu suasana, "ahh... Bu Siska sialan gara-gara dia gue jadi lupa makan kan ah!", Omelnya tiba-tiba kemudian langsung bangkit dari sana dan bergegas ke arah kelas untuk mengambil bekal makan siangnya. Ini memang sudah waktunya untuk istirahat sehingga artinya dia sudah bolos selama berjam-jam lamanya tadi. Tapi dia sukses di buat menghela nafas setelah sampai di dalam kelas mereka, kenapa? Karna di mejanya saat ini sudah di penuhi oleh cabe-cabean kelas atas. Dan saat dia beralih menatap ke arah meja ratu disana juga dia sedang di kerumuni oleh para cowok-cowok seperti biasanya. Dia menjadi bingung harus pergi kemana jadinya, pergi ke kursinya dan menghadapi para wanita itu atau pergi meminta sedikit makanan ratu dan berurusan dengan para lelaki tersebut, tidak ada pilihan yang mengenakkan baginya saat ini, sehingga dengan membulatkan tekad diapun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kursinya saja. Sesampainya di belakang mereka semua dia langsung menghirup nafas dalam-dalam mencoba mengumpulkan tenaga kemudian berteriak, "MISI!!! ORANG MISKIN MAU LEWAT BUAT AMBIL MAKAN!!! JADI KALO NGGA MAU KETULERAN VIRUS MISKIN DI MOHON AGAR KALIAN MINGGIR DULU DAN BERI ORANG MISKIN INI JALAN UNTUK MENGAMBIL BEKAL MAKAN SIANGNYA!!!!", teriaknya dengan suara cempreng 8 oktafnya sehingga suaranya tersebut jadi menggema di seluruh kelas dan kini dia menjadi pusat perhatian. Tidak ada satu orang pun yang tidak menatapnya saat ini termasuk Leo. Putri yang di tatap oleh semua orang seperti ini hanya menunjukkan senyum lebarnya, dia sudah terbiasa melakukan hal konyol semacam ini jadi dia sudah tidak memperdulikan nya. Suasana sedang hening, tapi tiba-tiba saja leo yang sedari tadi terdiam menunjukkan sikap cool nya di hadapan para gadis yang mengerubunginya itu terkekeh, sepertinya dia sudah sejak tadi menahan untuk tidak tertawa tapi akhirnya gagal. Dia tidak bisa benar-benar menahan dirinya untuk tidak tertawa karna melihat bagaimana tindakan putri tadi untuk membuat mereka semua memberinya jalan. Dan karna Leo terkekeh walaupun hanya sebentar pandangan mereka semua yang tadinya menatap putri kini beralih kepada dirinya, tapi dia yang di tatap masal seperti itu langsung berdehem kemudian bangkit dari duduknya dan langsung pergi entah kemana. Dia berjalan melewati putri hingga akhirnya tubuhnya benar-benar menghilang setelah melewati pintu kelas, putri sama sekali tidak memperdulikan nya, dia memang menyukai para cogan tapi bukan berarti dia mencintai mereka, dia hanya sekedar mengaguminya, mungkin dulu dia akan langsung jatuh cinta dan menjadi bodoh saat berurusan dengan cogan, tapi setelah dia berusaha dengan keras dan terus memandangi wajah abangnya setiap saat jika berada di rumah sampai-sampai membuat abangnya jadi bergidik ngeri akhirnya dia sedikit berhasil menahan perasaannya, perasaannya sudah tidak semurahan itu lagi yang mana akan jatuh cinta setiap melihat lelaki tampan, dia sudah berubah setelah mendapat latihan yang sangat menyiksa dirinya tersebut karna harus terus menatap dan memperhatikan abangnya yang kadang sangat Surjana itu setiap waktu. Dan inilah hasilnya dia berhasil untuk bersikap biasa saja di hadapan mereka walaupun kadang jantungnya masih berdebar hebat di buatnya. Hanya saja beda cerita lagi jika berurusan dengan cogan yang setara dengan Leo serta lelaki asing tadi dia temui di pintu pagar belakang sekolah, mereka memiliki ketampanan di atas rata-rata dan jantung serta mentalnya belum siap menghadapi cobaan semacam itu. Tapi menurutnya leo sudah di blacklist karna dia merasa lelaki itu hanya akan mendatangkan kesialan baginya jadi dia berencana untuk menjauhinya walaupun jujur dia masih belum bisa menghindari pesona yang di tunjukkan oleh leo, tapi sekali lagi putri tegas kan, dia hanya sekedar terpesona akan ketampanan tersebut dan sama sekali tidak lebih dari itu. perasan tersebut sama dengan perasaan ketika dia mengagumi wajah para oppa Korea atau para visual anime yang dia tonton. Karna seperti yang selalu dia tegaskan kepada diri sendiri kalau dia sudah membunuh hatinya sejak lama agar tidak pernah jatuh cinta atau menyukai seseorang di dunia nyata karna dia tidak mau terluka kembali seperti biasanya. Putri kembali menghela nafasnya setelah kepergian leo tersebut kemudian tersenyum kepada mereka para gadis yang di tinggalkan Leo di hadapannya ini, "makasih karna udah kasih gue jalan buat lewat", ujarnya kepada mereka semua sembari pergi berjalan ke arah kursinya dan mengambil kotak makan siangnya di dalam tas. Untuk sejenak dia menatap ke arah ratu untuk mengajak sahabatnya itu untuk makan bersama tapi sepertinya dia harus mengurungkan niatnya tersebut karna teman-teman ratu yang lain sudah lebih dulu menghampiri sahabat nya tersebut sehingga dia langsung pergi keluar dari sana untuk menikmati bekal makan siang yang sudah di buat kan oleh ibunya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN