Part 4

954 Kata
Sudah seminggu berjalan, usaha Kenna sudah lumayan menghasilkan. Kenna merasa sangat senang karena ia tak perlu jenuh di apartemen terus. Setiap hari ia akan pergi setelah Adrian berangkat dan pulang sebelum Adrian pulang. Setidaknya ia tetap harus menjalankan tugasnya sebagai istri. Seperti malam ini, Kenna sudah ada di apartemen dan baru saja menyelesaikan kegiatan memasaknya. Ia tinggal menunggu Adrian saja. Kenna terkejut kala Adrian datang dengan keadaan mabuk dan diantar oleh seorang perempuan yang sama mabuk tapi itu bukan pacarnya. Setelah mengantarkan Adrian tanpa pamit perempuan itu pergi bersama seorang lelaki. Adrian dengan sempoyongan berjalan menuju ke kamar mandi, lelaki itu muntah-muntah di sana. Kenna menunggu Adrian di depan pintu kamar mandi, Kenna cemas bukan main saat mendapati Adrian mabuk. Entah apa yang terjadi, tapi Kenna baru melihat Adrian seperti ini untuk pertama kalinya. Saat keluar dari kamar mandi, Adrian tiba jatuh ke pelukan Kenna. Istrinya itu bersusah payah memapah tubuh Adrian menuju ke kamar, sekuat tenaga Kenna menahan tubuh Adrian yang berat. “Kenapa elo kayak gini sih?” gumam Kenna sedih. Dengan telaten Kenna mengurus Adrian yang mabuk. Mulai dari membantunya berganti baju hingga memberikan penawar untuk alkohol yang suaminya itu minum. Keesokan paginya, Kenna menyiapkan sarapan untuk Adrian. Suaminya itu masih belum bangum. Beberapa kali Kenna mengecek ke kamar Adrian, dilihatnya suaminya itu masih tertidur lelap. Kenna bernapas lega setidaknya suaminya itu masih bernapas. “Gue pamit mau ke toko ya,” bisik Kenna tepat di telinga Adrian. Setelah itu ia menulis pesan singkat yang ia tempel di tudung saji meja makan. Saat Adrian bangun, apartemen sudah kosong. Ia bisa menebak kalau Kenna sudah berangkat ke tokonya, ia tahu persis bahwa istrinya itu sangat menyukai pekerjaannya sekarang. Adrian melangkah ke ruang makan dan melihat sebuah kertas tertempel di atasnya. Makanan udah pada jadi, elo tinggal makan. Gue berangkat ke toko sendiri aja, gak tega bangunin lo yang kayak kebo.                -Kenna Adrian tersenyum membaca kalimat yang ada di kertas tersebut. “Ada-ada aja.” Hari ini Adrian tidak berangkat ke kantor karena badannya terasa pegal-pegal dan kepalanya terasa pusing. Adrian memutuskan untuk diam saja di apartemen sembari menunggu istrinya pulang. Namun waktu sudah menunjukan pukul delapan malam tapi sang istri belum juga pulang. Ting..nong Suara bel berbunyi dan Adrian segera beranjak membuka untuk membuka pintu. Ia kira yang datang adalah Kenna. Namun ia salah yang datang adalah kekasihnya—Melati, orang yang membuat dirinya tadi malam mabuk berat. Melati langsung menubruk badan Adrian, perempuan itu memeluknya sambil menangis. “Maafin aku,” ujar Melati sedih. Adrian hanya diam. “Aku tahu aku salah sama kamu, harusnya aku enggak jalan sama Antoni,” ujar Melati menyesal. “Aku cemburu, Mel!” ujar Adrian. “Iya aku tahu, aku minta maaf. Aku gak akan ulangin lagi semua itu. Maafin aku ya,” mohon Melati dan Adrian tidak bisa tidak luluh kepada kekasihnya itu. Kemudian Adrian memeluk tubuh ramping Melati dengan erat dan beberapa kali mencium bahu kekasihnya yang terekspos itu. Kenna masuk ke apartemennya dengan wajah lelahnya. Ia bekerja hingga malam karena harus kejar target, banyak orderan online maupun offline yang masuk. Jadi dia bekerja keras dan memutuskan untuk pulang terlambat. Saat memasuki ruang tengah, ia kaget mendapati suaminya tengah berciuman dengan kekasihnya. Begitu intens dan dalam tak lupa jejak kemerahan yang ada di sekitaran leher kekasih Adrian itu serta empat kancing kemeja Melati yang sudah terbuka akibat tangan nakal Adrian. Adrian dan Melati buru-buru melepaskan ciuman mereka. Melati dengan sigap segera memasangkan kembali kancing kemejanya yang terbuka. Adrian berdehem canggung. Kenna hanya menatap keduanya dengan tatapan datar. Apakah tempat ini sering digunakan oleh Adrian dan Melati untuk melakukan hal menjijikan seperti itu? “Mungkin kalau gue enggak keburu datang, mereka udah guling-gulingan di atas ranjang kali ya,” gumam Kenna dalam hatinya. “Kapan sampe?” tanya Adrian basa-basi. Kenna menghela napas lelah. “Barusan,” jawabnya singkat. Adrian kembali diam dan menggenggam tangan Melati. “Kalau mau gituan mending sewa hotel, kalau di sini gak enak kan. Soalny ad ague yang bebas kapan aja masuk apartemen ini,” sindir Kenna tajam. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya. “Dia istri kamu itu?” tanya Melati. Adrian mengangguk. “Aku pernah ketemu dia di kantor kamu, abis ngapain dia?” “Nganterin berkas, kalau gak salah.” “Yuk anterin aku pulang, gak enak,” ujar Melati. Adrian langsung menurut dan bergegas mengambil kunci mobilnya. Di dalam kamar Kenna berjongkok di depan pintu sambil meremas dadanya yang terasa sesak dengan kuat. Ia merasa tidak dihargai sebagai istri, bagaimana bisa Adrian melakukan itu hal seperti itu di tempat yang ia huni bersama istrinya? Kenna tak habis pikir. Tok..tok..tok.. Suara pintu diketuk dan Kenna langsung bergegas membukanya. “Gue mau nganterin dulu Melati ya,” pamit Adrian. Kenna hanya mengangguk menanggapinya. Ia baru tahu jika nama kekasih Adrian itu adalah Melati. *** Waktu menunjukan pukul dua dini hari. Kenna belum bisa memejamkan matanya. Bayangan tadi ketika Adrian b******u mesra dengan kekasihnya ternyata begitu menusuk ke hatinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, namun sampai sekarang dadanya masih terasa sesak kala adegan tadi kembali terputar di pikirannya. Ditambah Adrian belum pulang membuat pikiran Kenna bercabang kemana-mana, ia memikirkan apa ucapannya tadi yang menyindir Adrian untuk menyewa hotel akan dilakukan? Lagi-lagi Adrian pulang dalam keadaan mabuk. Ia tak mengerti mengapa Adrian menyukai perempuan yang membawa pengaruh buruk? Kenna lelah dengan semuanya, ia membiarkan Adrian tergeletak di sofa ruang tamu. Kenna kembali ke kamar dan tangis yang sedari ia tahan akhirnya pecah juga akibat kelakuan suaminya itu. Hingga pagi datang menyapa Adrian masih terlelap di sofa ruang tamu. Kenna yang sudah siap akan berangkat ke toko hanya melewati Adrian, dia tak ingin berurusan dulu dengan Adrian. “Maaf Adrian, tapi gue bener-bener kecewa sama lo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN