Part 5

999 Kata
Kenna yang sedari tadi sudah ada di tokonya hanya  melamun saja. Ia memikirkan Adrian yang semakin hari semakin kacau. Pertama kali suaminya itu mabuk, ia masih memaklumi mungkin memang suaminya lelah karena kerjaan yang banyak. Namun, tadi malam suaminya mabuk setelah pergi bersama dengan kekasihnya. Bisa ia simpulkan jika kekasih suaminya itu membawa pengaruh buruk. Pukul Sembilan malam Kenna baru tiba di apartemennya. saat membuka pintu ia melihat sudah ada Adrian yang duduk di ruang tamu sambil menatapnya tajam, tapi Kenna tak peduli. “Dari mana aja, sayang? Kenapa baru pulang?” tanya Adrian. Kata ‘sayang’ yang terlontar bukanlah makna sebenarnya. Kenna tidak menjawab. Ia hanya menatap Adrian dengan tatapan datarnya. “Jawab gue! Lo dari mana?” bentak Adrian. “Perlu ya gue jawab pertanyaan lo yang gak bermutu itu?” Baru saja Kenna akan melangkah, Adrian lebih dulu mencekal pergelangan tangannya dengan kencang hingga Kenna terlihat meringis kesakitan. “Lo mau kemana? Gue belum selesai ngomong sama lo!” ucap Adrian tajam. “Lepasin!” teriak Kenna. Ia berusaha melepaskan cengkraman Adrian namun tenaganya kalah. “Lo ada masalah apa? Tiba-tiba elo menghindari gue.” “Gak penting, gue males ngomong sama lo.” “Ternyata lo tuh emang nyebelin ya, nyusahin juga,” cibir Adrian. Deg! “Pantes aja keluarga lo ngejodohin lo sama gue, ah bukan ngejodohin. Lebih tepatnye ngebuang lo dan gue harus kena sialnya karena nampung lo.” Kenna terdiam mendengarnya. Hatinya sakit. Siapa yang memilih hidup sepertinya? Ia juga tidak ingin. “Kalau lo merasa gue nyusahin dan lo menyesal nikah sama gue, lo bisa talak gue sekarang juga. Sebelum ke depannya lebih kacau lagi,” ujar Kenna lalu perempuan itu segera masuk ke kamarnya. Adrian mematung mendengar Kenna mengucapkan kata itu. Apakah ia keterlaluan? *** Hari-hari berlalu dan perang dingin antara Kenna dan Adrian masih saja terjadi. Walaupun hubungan Kenna dan Adrian sedang dalam mode panas dingin, Kenna masih melakukan perannya sebagai istri. Ia tidak mengabaikan Adrian sama sekali, meski seringkali suaminya itu seperti tak menganggapnya. “Hallo Ma, kenapa?” ujar Adrian kepada mamanya yang menelpon. “….” “Iya, ma.” Setelah Adrian menutup telponnya dia akhirnya membuka suaranya kepada Kenna. “Mama telpon, katanya hari ini pesta ulang tahun ayah lo dan kita harus datang,” beritahu Adrian kepada Kenna. Kenna hanya menganggukan kepalanya. Ia malas datang, tapi apa boleh buat. Ia mana bisa menolak. Malam ini Kenna sudah bersiap dengan dress selutut berwarna biru soft yang dipadukan dengan heels berwarna putih serta make up yang tidak terlalu tebal. Terkesan natural, namun kadar kecantikan di wajah Kenna tidak berkurang malah semakin meningkat.  Adrian juga tak kalah menawan, ia memakai jas dengan warna senada dengan dress yang dipakai Kenna. Orang-orang pasti akan memuji mereka sebagai pasangan yang serasi. Sesampainya di tempat ternyata acara sudah dimulai, Kenna menggandeng lengan Adrian menuju ke dalam. Di sana sudah banyak orang yang datang. Rata-rata berasal dari rekan bisnis ayahnya.  Kenna memberi hadiah dan ucapan selamat kepada sang ayah, namun hanya direspon dengan anggukan kepala dan ucapan terimakasih. Tidak seperti Keyra, kakaknya itu mendapat pelukan hangat serta kecupan di keningnya. Kenna tidak terlalu memedulikannya, ia cukup tahu jika ayahnya berlaku tidak adil antara dirinya dan Keyra. “Sekarang, coba Pak Andar perkenalkan keluarga ke publik terutama anak. Selama ini bapak hanya menggandeng istri saja tanpa membawa anak,” ujar seorang MC. Andar tersenyum kepada semua orang. “Baik, saya akan memperkenalkan anak saya.” Kenna tersenyum, ia tak sabar menunggu sang ayah memperkenalkan dirinya. “Sekarang saya akan mengenalkan Keyra, dia anak saya satu-satunya yang paling saya cintai dan banggakan,” ujar Andar dengan bangga. Kenna mengepalkan tangannya erat. Hatinya sakit kala mendengar bahwa sang ayah hanya menyebut Keyra sebagai anaknya. Bagaimana dengan dirinya? Apakah dirinya bukanlah anak ayahnya? Tapi saat ijab Kabul penghulu menyebutkan nama ayahnya. Detik itu juga Kenna langsung berlari meninggalkan kediaman ayahnya. Keluarga Adrian pun tak kalah kaget dengan ucapan besannya tersebut. Adrian segera berlari keluar untuk menyusul istrinya itu. Namun matanya tak menemukan Kenna di sekitaran sana. “Pak, mau tanya. Lihat perempuan lari keluar gak? “ tanya Adrian pada satpam yang berjaga di pos. “Lihat Mas, tadi lari ke arah jalan sana,” tunjuk si satpam tersebut. “Kalau gitu, terimakasih ya Pak,” ucap Adrian sopan. Adrian segera berlari menuju ke jalan. Pandangannya menyapu sekitar guna mencari keberadaan sang istri. Saat matanya melihat seorang yang sedang duduk di pinggir jalan dengan tangan menutupi mukanya, Adrian perlahan mendekat. “Kenn, gue ngerti gimana suasana hati lo sekarang. Maafin gue soal kejadian kemarin, dan nangis aja sepuasnya. Keluarin semua beban yang ada di hati lo, jangan ditahan,” pinta Adrian sambil memeluk Kenna dan memberikan usapan lembut di punggung wanita itu. Setelah dirasa tenang, Kenna melepaskan pelukan Adrian dan mengusap kasar air mata di pipinya. “Sekarang kita pulang aja yuk, gue capek,” ajak Kenna dengan suara yang lesu. “Ayo, gak usah sedih. Geu bakalan selalu ada sama lo,” ujar Adrian lembut. Selanjutnya Adrian menuntun tangan Kenna sambil berjalan menuju ke parkiran di mana mobilnya berada. *** Di perjalanan pulang Kenna hanya melamun, ia tak bicara sepatah katapun. Jika kemarin-kemarin ia memahami sikap ayahnya yang pilih kasih itu wajar, karena setiap orang tua pasti memiliki anak emasnya. Namun, tak diakui itu sangat menyakitkan. Untuk apa dia dilahirkan jika dia tidak diakui? Apa ayahnya malu punya anak seperti dirinya? “Sayang, kamu jangan sedih. Kamu masih punya mama, papa dan Adrian yang pasti akan selalu menyayangi kamu,” ujar Aira—ibu mertuanya sambil mengelus lembut rambut Kenna. Namun, menantunya itu tak memberi respon apapun. “Adrian, lebih baik kalian nginep aja di rumah mama ya. Seenggaknya kalau kamu kerja besok Kenna ada temannya,” pinta Aira. Ia khawatir jika Kenna dibiarkan sendiri maka hal yang tak diinginkan terjadi, apalagi Kenna sedang dalam keadaan yang kacau. “Iya ma, Adrian setuju,” ujar Adrian. Akhirnya mereka menginap di rumah orang tua Adrian dan untuk pertama kalinya mereka tidur dalam satu ranjang yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN