Part 6

1463 Kata
Paginya Kenna dan Adrian pamitan kepada orang tua Adrian. Namun Aira—ibunda Adrian masih khawatir terhadap kondisi Kenna. “Sayang, kamu istirahat dulu aja di sini. Jangan pulang dulu,” pinta Aira kepada menantunya itu. “Ma, Kenna baik-baik aja kok. Gak usah berlebihan gitu, lagian Kenna punya toko kue dan Kenna sendiri yang turun dalam proses produksinya. Mana bisa Kenna gak ke toko,” jelas Kenna. “Kamu punya toko?” Kenna mengangguk. “Mama boleh kapan-kapan ke sana?” “Boleh dong, Ma. Nanti Kenna kasih menu best seller, gratis deh buat mama.” “Ya udah kalau gitu, kalian hati-hati ya. Adrian kamu jangan ngebut.” “Siap, Ma.” Dalam perjalanan seperti biasa, tak ada obrolan antara Kenna dan Adrian. Keduanya fokus pada kegiatan masing-masing. Adrian fokus menyetir dan Kenna fokus pada ponselnya. “Kenn, gue ikut ke toko lo ya,” ujar Adrian tiba-tiba. “Elo kan harus ke kantor.” “Males, lagian gak ada meeting.” “Ya udah, terserah lo aja.” *** Tiba di toko Kenna langsung disambut hangat oleh beberapa pekerjanya. Terlihat kalau Kenna adalah orang baik, semua orang memperlakukannya dengan baik. “Lo duduk aja di sini, gue mau cek hasil produksi dulu. Kalau elo butuh apa-apa panggil karyawan gue aja,” ujar Kenna kepada Adrian. Adrian mengangguk. “Siap bos!” Dua jam berlalu dan Kenna tidak kunjung keluar dari ruangan produksi. Entah berapa banyak yang istrinya cek. Adrian tidak tahu jika akan se-membosankan ini. “Lho, sayang…” panggil seseorang kepada Adrian sambil tersenyum, siapa lagi jika bukan sang kekasih tercinta—Melati. “Hai, kamu ngapain?” tanya Adrian kepada Melati. “AKu mau beli kue di sini, oma yang nyuruh. Kue di sini favorit oma banget,” ujar Melati ceria. “Ya udah sana kamu pesen dulu kuenya,” ujar Adrian. “Tunggu, kamu ngapain di sini?” tanya Melati. “Nih, makan kue,” ujar Adrian sambil menunjukan Red Velvet Cake yang Kenna berikan untuknya tadi. “Ya udah, aku ke sana dulu ya.” Tak sampai sepuluh menit Melati sudah kembali ke tempat di mana Adrian berada. “Sayang, kamu mau tetep di sini atau ikut aku nganterin ini ke rumah oma?” tanya Melati sambil membawa kantong plastic berisi kue itu. “Ya ikut kamu dong, aku gak mungkin biarin kamu pulang sendirian walaupun ini masih siang,” ujar Adrian. Ia melupakan bahwa ia datang bersama Kenna tadi. “Yuk, sekarang aja. Nanti oma nunggu kelamaan bisa ngomel.” Adrian bangkit dan langsung menggandeng Melati pergi dari sana. *** Tanpa Adrian tahu, Kenna berusaha secepat mungkin melakukan pekerjaannya. Ia memikirkan Adrian yang pasti bosan menunggunya. Setelah pekerjaan selesai, Kenna bergegas akan menghampiri dan menemani suaminya itu. Namun saat ia menuju ke meja tempat Adrian tadi, ternyata meja itu sudaj kosong dan bersih. “Kakak, nyari temen kakak ya?” tanya seorang karyawannya yang bernama Acha. Kenna mengangguk. “Kayaknya dia udah pergi deh, soalnya tadi ada cewek yang beli kue di sini. Kalau aku denger sih manggil sayang-sayang gitu, mungkin pacarnya kali ya?” Kenna terdiam. Memang ia tak menyebutkan bahwa dirinya sudah menikah, jadi karyawannya jelas menyangka jika Adrian hanyalah temannya. “Oh dia udah pergi?” Acha mengangguk. “Ya udah sih, aku tinggal lanjutin aja kerjaan aku,” ujar Kenna dengan wajah yang baik-baik saja namun hatinya tidak. “Melati itu emang bisa bikin Adrian lupa segalanya ya,” gumam Kenna sedih. *** Kenna baru saja datang ke apartemen dan mendengar ada orang yang bersin-bersin. “Lho, Adrian. Lo kenapa?” tanya Kenna khawatir pasalnya ia melihat badan Adrian yang menggigil. “Gue meriang, tadi kehujanan,” ujar Adrian dengan lemah. “Kok bisa? Elo kan bawa mobil.” “Tadi gue nganter Melati ke rumah omanya, terus Melati pengen jalan-jalan tapi naik motor. Gue turutin permintaanya, tapi gue gak tahu kalau tadi itu bakalan hujan sedangkan gue cuma bawa jas hujan satu dan dipake sama Melati,” terang Adrian sambil menggosok hidungnya. “Dasar bucin,” cibir Kenna pelan. “Hah? Apaan Kenn? Micin?” “Elo kan bisa neduh!” marah Kenna mengalihkan pembicaraan. “Males.” “Ck! Ya udah lo ke kamar gih, gue bikini sup sama siapin obat buat lo,” suruh Kenna. “Gue lemes, bantuin,” pinta Adrian. Dengan wajah masam ia membantu Adrian memapah suaminya itu sampai ke kamar sambil menggerutu dalam hati. “Senang sama si Melati, susah baru gue yang urus.” Beberapa saat kemudian Kenna selesai membuatkan sup untuk Adrian. Ia masuk ke kamar Adrian berniat membangunkan suaminya itu. “Adrian, bangun dulu yuk. Ini supnya udah matang, elo makan dulu terus minum obat. Udah itu tidur lagi deh,” Ucap Kenna sambil menggoyangkan tubuh Adrian pelan. Adrian pun bangun sambil di bantu oleh Kenna. “Kenn, gue lemes banget.” “Terus?” “Suapin,” minta Adrian manja. “Manja!” cibir Kenna. “Biarin sama istri sendiri, kalau sama istri orang baru gak boleh.” “Lagi susah baru inget istri,” cibir Kenna ketus. Adrian terdiam mendengar ucapan Kenna barusan. “Kenn…” “Hmm..” “Gue minta maaf ya,” ucap Adrian lembut. “Buat apa?” “Gue mungkin nyakitin lo dengan hubungan gue sama Melati,” ujar Adrian. “Gak apa-apa. Udah biasa,” ujar Kenna berbohong. “Apa lo gak sakit hati saat gue lebih milih sama Melati daripada sama lo?” Tanya Adrian Serius. “Apa kalau gue sakit hati bakal merubah keadaan?” tanya balik Kenna. Adrian diam, ia tak bisa menjawab. “Udah lah gak penting. Lo mau ke dokter gak?” Kenna berusaha mengalihkan pembicaraan. “Gak usah, lo aja yang rawat gue,” ujar Adrian sambil tersenyum. Kenna hanya mengangguk dan kembali menyuapi Adrian sambil makanannya habis. “Gue ngerasa nyaman sama lo, Kenn. Apa keputusan gue benar kalau gue ngelepasin Melati dan belajar mencintai lo?” ujar Adrian dalam hati. *** Dua hari berlalu setelah Adrian sakit. Ada yang berbeda dari Adrian, ia lebih sering bersama Kenna sekarang. Kemana-mana pun Kenna harus ikut dengannya. Kenna senang karena ia merasa dihargai sebagai seorang istri. “Hai, lo udah bangun? Nih sarapan udah jadi,” ujar Kenna saat meilhat Adrian yang sudah rapih dengan setelan kerjanya. “Terimakasih, Kennaku,” ucap Adrian sambil mengelus pipi Kenna menggunakan jempolnya. Hal itu membuat pipi Kenna merah serta jantungnya berdegup kencang. “Hari ini lo kemana?” tanya Adrian. “Ya, kayak biasa. Ke toko,” jawab Kenna sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. “Mau bareng lagi berangkatnya?” kata Adrian menawarkan. “Boleh, lumayan hemat ongkos,” ujar Kenna. Setelah mengantarkan Kenna, Adrian pamit pergi ke kantornya. Namun, tujuan Adrian bukan ke kantor melainkan bertemu dengan Melati. Di sebuah kafe terdapat Melati dan Adrian yang sedang bertemu. “Ada apa sayang, tumben kamu ngajak ketemuan sepagi ini?” tanya Melati. “Sebelumnya aku mau minta maaf,” ujar Adrian sambil menunduk. “Minta maaf buat apa?” “Aku minta maaf karena aku gak bisa nerusin hubungan ini. Aku sadar aku salah, aku udah punya istri dan dia adalah tanggung jawab aku sekarang. “ “Jadi, kamu mau putus sama aku?” tanya Melati. Adrian mengangguk. “Setelah apa yang kita lewati selama ini?” tanya Melati lagi. “Maaf, tapi mungkin aku memang bukan jodoh kamu,” ujar Adrian. Melati terkekeh sambil mengusap air matanya kasar. “Harusnya aku jodoh kamu, tapi kamu malah menikah sama istri kamu itu. Yang harusnya kamu lepasin itu istri kamu, bukan aku! Karena dia yang jadi pengganggu di antara kita, dia yang tiba-tiba datang dan menikah sama kamu,” teriak Melati. “Aku ngaku salah, harusnya aku nolak. Tapi aku gak bisa,” ujar Adrian. “Apa alasan kamu gak bisa nolak? Apa karena orang tua kamu?” tanya Melati. “Iya salah satunya itu,” ujar Adrian. “Jadi ini alasan kamu beberapa hari ini enggak pernah menghubungi aku, jadi kemarin-kemarin kamu lagi berpikir tentang siapa yang kamu pilih?” Adrian mengangguk. “Harusnya yang dicampakan itu dia, bukan aku yan! Kamu pernah nyentuh aku, Yan! “Cuma ciuman dan gak lebih dari aku menyentuh Kenna,” ujar Adrian berbohong. “b***h!” umpat Melati. “Cukup, Mel. Intinya, aku tetep gak bisa lanjutin hubungan sama kamu. Aku sudah menikah dan pernikahan bagi aku gak main-main,” tegas Adrian. “Aku mau jadi istri kedua.” “Tapi aku cuma mau menikah sekali seumur hidup, meskipun itu hasil perjodohan. Keputusan aku udah bulat, aku melepaskan kamu. Cari kebahagiaan kamu sendiri, aku yakin masih banyak lelaki yang mau sama kamu,” Ujar Adrian dengan tegas lalu ia bangkit meninggalkan Melati yang mematung. “Gimana kalau kebahagiaan aku adalah kamu, Yan,” ujar Melati lirih sambil menatap punggung Adrian yang menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN