Part 7

1123 Kata
Adrian terdiam lama di ruangannya. Sebenarnya hatinya tidak sepenuhnya rela melepaskan Melati. Namun apa boleh buat, dia tidak boleh menjadi lelaki serakah. Ia harus belajar menghargai dan mencintai Kenna. Bukankah pepatah mengatakan ‘cinta datang karena terbiasa’? “Hallo, kenapa Ma?” tanya Adrian pada mamanya yang tiba-tiba menelponnya. “Adrian, bisa kamu ke bandara?” “Sekarang?” “Iyalah sekarang, masa nanti pas kamu punya anak.” “Ada apa emang?” “Revan sepupu kamu datang ke Jakarta. Jadi kamu tolong jemput dia di bandara ya.” “Iya ma, suruh Revannya hubungin aku aja.” “Oke sayang.” *** Pukul Sembilan malam, Kenna baru keluar dari tokonya.  Suaminya sudah bilang tidak bisa menjemputnya jadi dia berinisiatif untuk memesan transportasi online. Tapi saat ia berada di depan gerbang tokonya, ia merasa ada orang yang mengawasinya. Kenna jadi was-was, ia terus berdoa dalam hati semoga saja itu hanya perasaannya. Semakin ia melangkah, malah semakin terasa jika memang benar ada yang mengikutinya. Sontak Kenna menoleh ke belakang dan ternyata benar ada dua orang lelaki yang mengikutinya. “Mau apa kalian?” tanya Kenna berteriak. “Ssst.. jangan teriak, percuma gak akan ada yang menolong kamu,” ujar salah satu lelaki sambil menyeringai dan perlahan mendekati Kenna. “Tolooooong,” teriak Kenna meminta pertolongan. “Percuma lo minta tolong, gak akan ada yang nolongin lo. Apalagi jalanan ini sepi kalau udah lewat jam delapan malam.” Kenna pun berlari sekuat tenaga sambil menangis, namun kecepatan larinya tak sebanding dengan kecepatan lari kedua lelaki jahat itu. Hingga akhirnya ia berhasil tertangkap oleh dua lelaki itu. “Jangan sentuh gue!” teriak Kenna. “Gak usah berisik, nanti aja berisiknya kalau udah masuk.” Kenna semakin menangis kala tahu bahwa kedua lelaki ini berniat melakukan hal keji pada dirinya. “Please jangan lakuin apapun sama gue, lo boleh ambil barang-barang yang ada di tas gue, semuanya,” ujar Kenna memohon. “Sayangnya, kita bakalan dapat uang banyak kalau berhasil masukin lo.” Kemudian kedua lelaki itu menyeret Kenna ke sebuah bangunan yang sudah tidak terpakai. Sangat gelap dan menakutkan. Mereka menghempas tubuh Kenna ke tanah, yang satu memegangi tangan Kenna dan yang satunya lagi mencoba melepaskan baju Kenna dengan paksa. Kenna berusahan berontak namun tenaga kedua lelaki itu lebih besar. “Tuhan, ambil nyawaku jika itu terjadi,” lirih Kenna dalam hatinya. *** “b*****t,” umpat Adrian. “Kenapa, Yan? Tanya Revan yang ikut turun dari mobil Adrian. “Ini bannya kemps, mana gue enggak bawa ban cadangan lagi.” “Yah anjir, ini udah malem dong.” Jalanan tersebut sudah sangat sepi. Mana ada bengkel yang buka. “Toloooong…” Revan dan Adrian saling pandang, mereka mendengar suara wanita minta tolong. “Anjir, itu suara cewek. Mbak Kuin bukan?” gumam Revan sambil mengusap lehernya yang merinding. Adrian menajamkan pendengarannya, ia memberi isyarat pada Revan agar jangan berisik. Kemudian lelaki itu melangkah untuk mencari sumber suara. “Yan, elo diculik Mbak Kuin baru tahu rasa lho,” peringat Revan. “Ssst… jangan berisik, gue yakin itu bukan hantu.” Perlahan tapi pasti Adrian mendekat. Semakin dekat dengan bangunan tua itu, isak tangis dan permintaan tolong semakin jelas terdengar. Adrian sendiri juga sebenarnya was-was, tapi mau bagaimana lagi. Ia penasaran. “Woy b*****t!” teriak Revan kala melihat dua orang lelaki berusaha melakukan hal keji kepada seorang perempuan. Nyali Revan naik kembali kala mengetahui bahwa suara tangisan itu bukan berasal dari hantu. Kedua lelaki itu langsung menoleh dan bangkit berniat menghajar kedua lelaki yang baru saja datang. “Mau ngapain kalian ke sini?” tanya salah seorang penjahat itu. “Lo berdua yang ngapain? Beraninya sama cewek,” cibir Revan. Terpancing emosi, kedua lelaki itu menyerang Revan. Sedangkan Adrian menghampiri perempuan yang sudah tak berdaya itu. “Mbak, bangun Mbak,” panggil Adrian sambil menggoyangkan badan perempuan itu. Taka da respon, Adrian langsung membalikkan badan perempuan tersebut. Matanya terbelalak kaget saat mengetahui siapa perempuan yang hampir dinodai oleh dua orang lelaki tadi. “Kenna…” Seketika emosi Adrian memuncak. Ia meletakan tubuh Kenna dengan hati-hati. Lalu ia berbalik menerjang dua lelaki yang tengah berbaku hantam dengan Revan. Adrian benar-benar seperti kesetanan, melihat istrinya seperti itu Adrian tidak bisa lagi menahan emosinya. Bugh! Bugh! Bugh! “Lo berdua harus mati, b*****t!” ucap Adrian emosi. Saat kedua lelaki tersebut sudah tidak berdaya, Revan buru-buru menghentikan aksi Adrian tersebut. “Ya, udah! Mereka bisa mati!” cegah Revan. “b*****t kayak mereka pantas mati!” teriak Adrian. “Udah, gue bakalan telpon polisi buat nangkap mereka. Lo urus cewek yang jadi korbannya.” Seketika Adrian tersadar. Ia langsung menghampiri Kenna dan mengguncang badan istrinya itu agar istrinya bangun. “Kenn, bangun sayang..” “Buka mata kamu.” “Kasih tahu kalau kamu baik-baik aja, Kenn.” Adrian memberikan kecupan di puncak kepala Kenna berkali-kali. “Yan, polisi udah datang. Ambulance juga, mending lo bawa dia ke rumah sakit sekarang. Biar dua b*****t itu gue aja yang urus,” suruh Revan. Tanpa basa-basi Adrian langsung membopong tubuh Kenna dan membawanya menuju ke rumah sakit. *** Adrian duduk di samping brankar Kenna. Ia mengamati wajah istrinya yang memar di bagian pipi, pasti kedua lelaki biadab itu menyiksa istrinya. “Maafin aku telat datang, Kenn,” lirih Adrian. Lelaki itu terus saja menggenggam tangan Kenna. Berkali-kali ia mengecupnya sambil menggumamkan kata maaf. Ceklek. Pintu terbuka dan menampakkan Revan di sana. “Dia siapa?” tanya Revan. “Istri gue,” jawab Adrian. Revan hanya mengangguk. “Gue udah urus b*****t-b*****t itu, gue pastiin mereka mendekam di penjara.” “Kalau perlu hukum mati mereka,” ujar Adrian penuh emosi. “Mereka orang suruhan, tapi mereka enggak ngaku siapa yang udah nyuruh mereka buat berbuat kayak gitu ke istri lo,” beritahu Revan. “Siapapun yang nyuruhnya, kalau ketemu gak akan gue biarin hidup.” Perlahan mata Kenna terbuka. Perempuan itu langsung berteriak histeris. Adrian dengan sigap memeluknya. “Ssst, tenang Kenna. Kamu aman sama aku,” ujar Adrian menenangkan. “Pergi.. jangan sentuh gue, gue gak mau!” teriak Kenna berontak. “Kenn, sadar! Ini Adrian,” bentak Adrian sambil mengguncang tubuh Kenna. Kenna perlahan sadar dan menatap Adrian, lalu ia langusng menubrukan tubuhnya ke tubuh Adrian. “Gue takuuut, mereka nyentuh gue…” isak Kenna. “Jangan takut, ada aku di sini. Mereka sama sekali gak nyentuh kamu kok.” “Tapi mereka narik baju aku,” lirih Kenna. Tangan Adrian terkepal mendengar penuturan Kenna, demi Tuhan ia tidak akan memaafkan siapapun yang telah berbuat ini pada istrinya. “Kamu tenang, aku gak akan biarin siapapun yang udah nyentuh kamu hidup dengan tenang. Percaya sama aku kalau kamu bakalan baik-baik aja, ya?” Kenna mengangguk lalu memeluk kembali tubuh Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN