Tiga hari sudah kejadian yang menimpa Kenna. Kini Adrian dan Kenna sedang dalam perjalanan pulang menuju ke rumah orang tua Adrian. Aira yang menyuruh mereka tinggal di sana, ibunya itu kaget saat Adrian memberitahukan kalau Kenna terkena musibah itu.
“Mulai sekarang kita tinggal di rumah mama ya,” ujar Adrian sambil mengelus kepala Kenna dengan lembut.
Kenna hanya mengangguk. Sejak kejadian itu, Kenna lebih sering melamun.
“Mau makan?” tanya Adrian.
“Enggak lapar,” jawab Kenna sambil menggeleng.
Adrian menghela napas. “Ya udah makannya di rumah mama aja ya.”
Tiba di halaman rumah ibunya, Kenna langsung dipeluk oleh Aira dan tangis Kenna pecah lagi di sana.
“Sayang, kamu jangan nangis. Di sini udah ada mama, mulai sekarang kamu tinggal sama mama ya?”
Kenna mengangguk.
“Udah yuk, sekarang masuk. Kamu makan dan langsung istirahat ya,” ujar Aira sambil membawa Kenna ke dalam rumahnya.
***
“Kenna udah istirahat?” tanya Aira.
“Udah ma, baru aja tidur,” jawab Adrian.
“Yan, mama mohon ya sama kamu. Kamu harus jaga Kenna dengan baik, mama menyayangi Kenna. Sangat. Mama mohon, walapun pernikahan kamu dan Kenna ada karena perjodohan tetapi kamu harus menerima dia dan menyayangi dia. Dia adalah anak yang baik, apalagi kamu tahu kana pa yang dilakukan sama keluarganya,” ujar Aira sambil menasihati Adrian.
“Pasti ma, Adrian bakalan jagain Kenna dengan baik kok,”
Adrian masuk ke kamar untuk menyusul Kenna tidur. Ditatapnya wajah istrinya yang terlelap dengan tenang itu.
“Kamu harus baik-baik aja, aku yang akan selalu melindungi kamu. Jangan takut,” ucap Adrian sambil memberikan kecupan hangant di dahi istrinya.
“ARRRGGHHH…”
Baru saja Adrian hendak terlelap, suara teriakan Kenna terdengar.
“Tolooong, jangaaaan, jangaaan…” lirih Kenna dalam tidurnya.
Adrian langsung mengguncang tubuh Kenna. “Hey, Kenna… bangun..”
Perlahan Kenna membuka matanya. Ia langsung memeluk Adrian. Tangisnya kembali pecah.
“Aku takut, mimpi itu kayak nyata,” isak Kenna.
“Enggak, itu cuma mimpi. Kamu gak usah takut, ada aku jadi kamu gak usah takut,” ujar Adrian menenangkan.
“Aku gak bisa lupain mimpi itu, aku takut.”
“Iya aku tahu, tapi kamu harus melawan mimpi buruk itu. Kamu gak bisa stuck di sini karena lelaki sialan itu, kamu harus kuat ya?”
Kenna mengangguk.
“Ya udah sekarang kamu tidur lagi,” suruh Adrian sambil pelan-pelan membaringkan tubuh Kenna.
Kenna menurut lalu ia terlelap dalam dekapan Adrian.
***
Pukul lima pagi Kenna sudah terbangun, ia tidak membangunkan Adrian. Ia malah sibuk membalas chat yang masuk ke ponselnya.
“Lho, kamu udah bangun?” tanya Adrian.
“Udah dari tadi sih,” jawab Kenna.
“Pagi-pagi kamu udah main hp,” cibir Adrian.
“Ini aku lagi bales chat dari sahabat aku, katanya dia pengen ketemu aku. Boleh kan aku ajak ke rumah ini?”
“Ya bolehlah, cowok?”
“Cewek lah.”
“Emang udah lama gak ketemu ya?”
“Lumayan, semenjak lulus SMA dia milih kuliah di Yogya ikut sama ibunya.”
“Oh ya udah, nanti kamu bikin aja camilan biar dia betah bertamu,” gurau Adrian.
“Iya lah tenang aja.”
Setelah ditunggu berjam-jam akhirnya sahabat Kenna itu datang. Kenna langsung antusias menyambut sahabatnya itu. Dialah Reva, Revalissa Maurani.
“Ah, Re… kangen banget dong!” pekik Kenna senang sambil memeluk Reva.
“Iya, lama banget ya kita gak ketemu,” ujar Reva sambil membalas pelukan Kenna.
“Eh, tamunya udah datang. Kenna sayang, ajak masuk dong tamunya,” ujar Aira yang tiba-tiba datang dari belakang Kenna.
“Oh iya Re, kenalin ini mama mertua gue.”
Reva langsung menyalami Aira.
“Kenalin tante, aku Reva. Sahabatnya Kenna.”
“Yuk, masuk tante sama Kenna udah bikin banyak cemilan biar kamu betah main di sini,” ajak Aira.
Hampir tiga jam Kenna dan Reva bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing. Seperti biasa, jika sudah bertemu sahabat yang sudah lama tak bertemu maka akan lupa waktu apalagi jika membahas kenangan yang pernah dilalui di masa lampau.
“Aduh, gue gak nyangka sih elo udah nikah,” ujar Reva.
“Hahaha.. time flies so fast, right?”
Reva mengangguk.
“Ngomong-ngomong elo ke Jakarta sengaja main aja atau gimana?” tanya Kenna penasaran.
“Gue pindah tugas jadi di Jakarta, ya mau gak mau gue kudu ninggalin kota Yogya.”
“Udah di Jakarta aja, biar gue ada temen main. Siapa tahu elo nemu jodoh di Jakarta,” ujar Kenna becanda.
Reva mencebik. “Semua orang pada bahas jodoh mulu,” keluh Reva.
Tiba-tiba seseorang datang.
“Kenn, Adrian Kem—“ ucapan Revan terhenti kala ia melihat seseorang yang pernah mengisi hatinya.
“Kayak hantu lo, tiba-tiba datang!” cibir Kenna.
Reva pun sama membekunya di sana.
“Oh iya Re, kenalin ini Revan saudaranya suami gue,” ujar Kenna.
Reva tersadar dari lamunannya, ia berusaha baik-baik saja.
“Re-reva,” ucap Reva sambil mengulurkan tangannya.
“Revan,” ujar Revan datar sambil membalas jabatan tangan Reva.
“Adrian kemana, Kenn?” tanya Revan mengalihkan tatapannya dari Reva.
“Ya kerja lah, emang elo keluyuran mulu,” jawab Kenna sambil mencibir.
“Kirain udah balik. Tante Aira ada?”
“Gak ada, arisan.”
Revan duduk di sofa tepat di depan Reva. Membuat Reva tak nyaman ditatap seperti itu. Lalu taka da obrolan dari sana.
“Ini kenapa garing banget sih,” gerutu Kenna.
“Ehm, Kenn gue pulang dulu ya. Gue harus beresin apartemen tempat gue tinggal, soalnya besok udah mulai kerja di tempat baru,” ujar Reva.
“Lho, tadi perasaan santai-santai aja deh,” protes Kenna.
“Hahaha iya, soalnya gue juga udah lama di sini. Gak enak lama-lama namu di rumah orang.”
“Lo aneh.”
“Udah ya, gue pamit,” ujar Reva langsung memeluk tubuh Kenna dan cipika-cipiki dengan sahabatnya itu kemudian ia pergi dari sana.
“Aneh banget si Reva,” ujar Kenna heran.
“Lo kenal dia dari mana?” tanya Revan serius.
“Dia sahabat gue dari jaman SMA,” jawab Kenna.
“Oh..”
“Eh tunggu, kenapa pas elo datang Reva jadi pendiam gitu?” tanya Kenna kemudian.
Revan hanya mengangkat bahunya acuh.
“Serius, Revan!”
Revan tidak menggubris Kenna, dia malah asik memakan tempe goreng yang ada di meja.
“Jangan-jangan elo pernah ada apa-apa sama Reva ya?” tanya Kenna curiga.
“Emang, gue mantannya Reva,” jawab Revan acuh, lalu lelaki itu bangkit dan menuju ke kamar tempat ia tidur selama menumpang di rumah Aira. Membiarkan Kenna mematung dengan keterkejutannya.