Misora POV Setelah keadaan tenang, aku baru ingat hal yang penting. Ini malam pernikahanku. Pesta yang kacau bukan berarti bisa jadi alasan untuk mengabaikannya. Aku duduk diam di sofa, gugup seperti orang bodoh saat Warren memasuki kamar. Dia baru kembali setelah berbicara sebentar dengan Paman Daran. Rumah ini selalu menjadi rumah kedua bagiku, tapi aku selalu punya kamar sendiri. Tidak berada di sini, di kamar Warren yang kini telah menjadi kamar kami. “Kenapa lampunya kamu matikan?” Tubuhku menegang seketika, semakin cemas ketika suara langkah kaki Warren terdengar makin mendekat. “Biarkan saja begitu,” jawabku. “Kenapa? Kau malu?” Warren kurang ajar! Sudah tahu, masih tanya. Aku ini tak pernah melihatnya sebagai laki-laki, walaupun terkadang terbawa suasana, tapi saat ini pi

