Asap rokok Arsa membumbung di udara. Pria itu tampak kembali memasukkan ujung rokok ke mulutnya lalu mengisap benda tersebut dengan nikmat sambil memainkan jari-jari tangan di layar touchscreen handphone-nya.
Sesekali Arsa melirik jam tangannya guna menghitung menit demi menit waktu yang sudah dihabiskannya untuk menunggu kedatangan si bocah tengik yang kemarin menelepon dan meminta bertemu pagi ini di kafe yang pernah menjadi saksi pertemuan sengit mereka sebelumnya.
Arsa pun menyanggupi permintaan tersebut. Dia ingin tahu pembicaraan apa lagi yang mau diutarakan si bocah tengik sombong padanya. Arsa juga belum merasa puas dengan pertemuan mereka beberapa tempo hari yang lalu.
Adisti tidak ikut menemaninya. Wanita itu tengah disibukkan oleh kegiatan penting di luar kota yang tidak bisa di-cancel ataupun ditinggalkan.
“Kapan kamu bertemu bocah tengik itu, Dek?” tanya Arsa setelah mengembuskan asap rokok kembali ke udara kemudian melayangkan tatapan menyelidik pada sang adik yang tengah duduk berhadapan dengannya.
Mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya tersebut. Sasmita lantas mengangkat wajah dan memandang ke arah Arsa dengan ekspresi datar. “Tiga hari yang lalu,” jawabnyato the point.
Arsa tampak mengubah posisi duduknya. Kaki kanan dia angkat dan bertumpu di atas kaki kiri. Sedangkan tangan kiri pria itu terulur guna mengambil gelas berukuran sedang yang berisi bir lalu menenggak minuman tersebut hingga habis.
Namun Arsa tak pernah melepas tatapan tajam dan penuh selidik pada sosok sang adik. Suasana di antara mereka berdua pun kaku. “Apa saja yang kalian bicarakan?” tanyanya ingin tahu.
Sama halnya dengan Arsa, Sasmita masih memandang tepat ke mata kakaknya tanpa menunjukkan ketakutan. “Masalah pernikahan bisnis dan memperkenalkanku kepada orangtuanya,” jawab perempuan itu jujur.
Alis kanan Arsa terangkat naik begitu juga dengan sudut-sudut bibirnya yang menampakkan senyum sinis. Bocah tengik bernama Radika rupanya sulit untuk dia tebak. Seperti tersimpan misteri lain di balik pernikahan ini dan ditutup rapat oleh bocah tengik itu. Tapi Arsa yakin bahwa suatu saat nanti dia pasti akan membongkar semua rahasia yang disembunyikan Radika.
Sebenarnya timbul sedikit ketidakrelaan dalam hati Arsa melihat adik kandungnya akan menikah dengan seorang pria yang paling tidak dia sukai itu apalagi menganggap Radika sebagai adik iparnya kelak.
Namun apa daya hutang yang menumpuk serta kegagalannya mencapai kesepakatan dengan pengusaha lain yang memiliki ketertarikan terhadap Sasmita tidak membuahkan hasil apapun. Alhasil dia harus mempertaruhkan harga diri demi lunasnya setumpukkan hutang sekaligus bunga yang sudah membengkak. Tapi Arsa bertekad, suatu hari nanti dia pasti akan menemukan cara untuk menghancurkan bocah tengik itu.
Arsa terlihat menyalakan sebatang rokok lagi lalu kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Sasmita. “Jalankan peranmu dalam pernikahan tersebut sebagaimana mestinya. Kakak tidak ingin merugi hanya karena kamu membuat kesalahan,” terdengar ada semacam peringatan dan ancaman yang tersirat dalam ucapannya.
Dada Sasmita tiba-tiba terasa sesak. Selain karena dia memang alergi bau asap rokok yang kini memenuhi udara di sekitarnya. Rasa sesak yang kian menghantam juga diakibatkan oleh perkataan sang kakak kepadanya.
“Jika aku berhasil menjalani pernikahan ini dengan sangat baik. Keuntungan apa yang bisa aku dapatkan?” tanya Sasmita dengan nada sinis. Sorot matanya tak kalah tajam.
Rahang wajah Arsa pun mengeras karena pertanyaan yang dilontarkan Sasmita. Tangan kanannya bahkan sudah mengepal cukup kuat. “Keuntungan? Kamu berharap mendapat untung? Begitu Sasmita?!” tanya pria itu seakan-akan membentak.
Sasmita tampak tidak gentar dengan respon yang ditunjukkan sang kakak kepadanya. Dia masih mempertahankan ekspresi datar dan tatapan tajamnya ke arah Arsa. Mereka terlibat percakapan yang cukup sengit.
“Bukankah setiap orang pasti berniat memperoleh keuntungan dari sesuatu yang dia lakukan?” Pertanyaan yang diluncurkan Sasmita dengan nada sinis tersebut semakin sukses menyebabkan emosi sang kakak semakin meluap ke permukaan.
Tak lama kemudian. Arsa sudah mengukir senyum sinis. “Apa kamu tahu, Sasmita? Kerugian apa saja yang kakak dapatkan karena merawat adik cacat sepertimu selama ini?” tanya pria itu dengan nada geram.
Ada denyutan aneh yang menjalar hingga ke sudut-sudut terkecil yang ada di dadanya dan membuat Sasmita seolah-olah sukar untuk sekadar menarik oksigen guna membantu menghilangkan rasa sesak yang dia rasakan.
“Kerugian merupakan salah satu efek yang harus kita tanggung dan terima untuk sebuah tindakan atau keputusan yang sudah berani kita ambil. Jika tidak ingin merugi maka janganlah mencoba sesuatu yang tidak kita yakini dengan penuh, Kak.”
“Jadi kakak sekarang menyesal karena telah merawat adik cacat sepertiku?” lanjut Sasmita mengonfirmasi kembali perkataan sang kakak.
Tangan Arsa mengepal kuat. Ingin sekali rasanya dia menampar pipi adik kurang ajarnya itu. Namun mengingat suasana kafe yang lumayan ramai. Arsa mengurungkan keinginannya demi menjaga reputasi di muka umum. Dia tidal mau nama baik dirinya dan keluarga tercoreng begitu saja.
“Kalau bukan menghargai dan menjalankan pesan dari Ayah dan Ibu. Mungkin Kakak dengan senang hati akan menaruhmu di panti asuhan daripada harus bersusah payah membesarkan adik cacat sepertimu.”
Arsa tampak menghisap kembali rokok yang dia nyalakan tadi kemudian membumbungkan asapnya ke udara dengan bebas. “Tapi selama kamu bisa memberi manfaat dan keuntungan untuk Kakak. Maka Kakak tidak akan terlalu menyesalinya. Anggap saja apa yang kamu lakukan ini merupakan timbal balik atas uang dan waktu yang Kakak banyak habiskan untuk membesarkanmu, Sasmita,” imbuh pria itu dengan setiap penekanan pada kata-kata yang dia lontarkan.
Sasmita berusaha mati-matian menyamarkan rasa sesak dan perih yang tetap bergelayut di dadanya dengan memasang topeng sedingin mungkin agar kerapuhannya tidak terlihat atau dapat diobrak-abrik lebih parah lagi.
“Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya,” jawab perempuan itu pelan namun terdengar tegas.
……….
Ketika menapakkan kaki di anak tangga teratas kafe. Radika segera mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan outdoor di lantai dua tersebut untuk mencari keberadaan perempuan yang kemarin malam sempat terlibat percakapan dengannya lewat telepon.
Tepat pada detik ke sepuluh, akhirnya indera penglihatan Radika menangkap sesosok perempuan mengenakan t-shirt warna biru muda, celana jeans hitam, style rambut kuncir kuda serta polesan make up tipis tapi senantiasa bisa smenyita perhatiannya terlihat tengah berbicara empat mata dengan seorang pria yang dia yakini adalah Arsa.
Selalu sama, ya Radika selalu merasakan hal yang sama saat menatap dua manik Sasmita. Ada luka tak kasatmata di dalamnya, Radika sadar dan tahu betul. Terlebih praduganya semakin menguat tatkala mendengar suara Sasmita kemarin malam yang sepertinya habis menangis.
Dan Radika terlalu takut untuk menambah luka yang akan dirasakan perempuan itu nantinya. Tapi di sisi lain dia juga tidak bisa mundur dan mengenyahkan rasa penasarannya akan penyebab di balik luka yang terpancar secara nyata dalam sorot manik cokelat Sasmita.
Setelah memikirkan semalaman penuh. Radika memutuskan untuk tetap pada keputusan yang dia buat dan melangsungkan pernikahannya dengan perempuan itu. Radika sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa risiko apapun yang kelak akan terjadi, dia siap menanggungnya.
Dengan langkah tegap, Radika berjalan mendekat ke meja yang ditempati perempuan itu dan Arsa. Dua manik Radika terus mengarah pada sosok Sasmita.
“Maaf, saya datang terlambat,” ucapnya tepat setelah menginjakkan kaki di hadapan kakak-adik itu.
Sasmita menyambut kehadiran Radika dengan ekspresi datar sedangkan Arsa menunjukkan tatapan mata yang sarat akan ketidaksukaan dan juga menantang.
Radika mencoba untuk mengontrol emosi serta melenyapkan sejenak masa lalu kelam yang pernah terjadi. Tujuannya hari ini bertemu Arsa bukan untuk berdebat atau menantang seperti pertemuan sebelumnya namun guna membahas pernikahan. Ya layaknya seorang pria yang ingin membicarakan rencana upacara pernikahan dengan keluarga calon mempelai wanita.
Bagaimanapun juga dia membutuhkan peranan Arsa atau Adisti untuk menyiapkan sarana upacara dari pihak mempelai wanita dan memberitahu keluarga besar Sasmita tentang pernikahan mereka ini.
Radika menarik kursi kosong di sebelah Sasmita kemudian mengambil posisi duduk tegap dan membalas tatapan tajam yang dilayangkan Arsa padanya. Radika belum sempat beradu pandang dengan Sasmita karena entah mengapa muncul sedikit ketakutan saat dia menelisik jauh ke manik cokelat perempuan itu.
Ya, Radika takut dia akan lepas kendali dan tidak bisa menahan diri untuk membawa Sasmita ke dalam pelukannya, sama seperti keinginannya saat bertemu perempuan itu tiga hari yang lalu.
“Mau ngomong apa lo, Bocah?” tanya Arsa menunjukkan sikap arogansinya yang kental. Dia malas berbasa-basi atau bertatap muka lebih lama lagi dengan si bocah tengik.
Radika berusaha menahan emosinya dan tidak tersulut dengan umpan berupa kata-kata yang sebenarnya cukup mampu menimbulkan percikan-percikan api amarah dalam dirinya tersebut.
“Saya ingin membicarakan upacara pernikahan.”
Senyum sinis mengembang di wajah Arsa. Pria itu menuangkan bir ke dalam gelas kemudian meneguknya hingga tidak tersisa sedikitpun. “Pernikahan? Oh pernikahan palsu di antara kalian? Memangnya ada hal yang bisa gue bantu?” tanyanya dengan nada meremehkan.
Rahang wajah Radika mulai mengeras dan kedua tangan yang dia letakkan di atas paha mengepal. “Saya membutuhkan peran Anda dalam menyiapkan sarana yang diperlukan dalam upacara pernikahan.”
“Masalah menentukan Dewasa Ayu (hari baik) untuk melangsungkan pernikahan, saya akan diskusikan bersama orangtua dan keluarga besar saya. Jika Dewasa Ayu sudah ditentukan, saya akan menghubungi Anda kembali,” tambah Radika bersikap formal. Dia juga tidak ingin terlalu lama berbasa-basi dengan Arsa karena hal tersebut hanya akan menipiskan kadar kesabarannya.
Arsa mengangguk seolah-olah memahami ucapan Radika. Padahal sedari tadi ketika Radika berbicara, Arsa memutar bola matanya ke kiri dan kanan sebab dia malas mendengar pemberitahuan Radika yang sama sekali tidak menarik baginya tersebut.
“Hanya itu? Tidak masalah. Gue akan mendukung secara penuh semua rencana lo supaya pernikahan ini bisa terlaksana dengan baik. Biar urusan gue cepet kelar juga.” Nada meremehkan terus ditunjukkan Arsa lewat kata-kata yang diluncurkannya.
Giliran Radika yang mengangkat kedua sudut bibirnya guna membentuk senyuman sinis. “Maka dari itu kita harus dapat bekerja sama dengan baik agar semua berjalan lancar. Simbiosis mutualisme? Bukankah begitu, Kak Arsa?” Radika menajamkan kedua sorot matanya.
“Ckckck. Lo sekarang kayaknya sudah pintar bernegoisasi ya, Bocah?” Arsa membalas dengan tak kalah sinis. Suasana tegang dan penuh kesinisan tercipta di antara mereka.
Sedangkan Sasmita hanya diam namun tetap menyiagakan dua telinganya untuk menampung sejumlah percakapan yang dilakukan dua pria yang ada di hadapannya.
“Keadaan yang menuntut saya untuk belajar bernegoisasi. Apalagi dengan mitra bisnis seperti Anda, Kak Arsa,” sahut Radika kian memperlihatkan senyum sinisnya secara gamblang.
“Benarkah? Lo bisa ngajarin gue cara bernegoisasi yang baik dan benar?” Arsa kembali memancing melalui pertanyaan-pertanyaannya.
Terdengar decakan keluar dari mulut Radika. Dia kemudian melipat kedua tangan di depan d**a. “Negoisasi dengan tujuan apa? Menjatuhkan lawan atau bagaimana? Ah tapi dalam dunia bisnis setahu saya, seorang pembisnis pasti ingin menjatuhkan lawannya agar posisi mereka aman dan tidak tersingkirkan oleh musuh atau pesaingnya,” tanggap Radika seolah-olah ingin menunjukkan sisi keangkuhannya pada sang lawan bicara yang sebentar lagi bahkan akan menjadi kakak iparnya.
Arsa pun meremas gelas yang dipegangnya kuat-kuat. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Radika. “Benarkah? Menjatuhkan lawan tidaklah mudah. Setiap orang juga pasti akan memiliki strategi tersendiri dan menyerang balik segelintir pihak yang ingin menjatuhkannya. Bukankah begitu, Radika Danindra?”
“Anda benar. Namun ingatlah, setiap orang mempunyai tujuan masing-masing. Mereka akan mengerahkan segala cara serta kekuatan untuk mencapai tujuannya. Dan terkadang melupakan akal sehat dan aturan yang ada. Kita hanya bisa menunggu serta melihat siapakah yang akan menjadi pemenang nantinya,” balas Radika sengit.
Arsa pun semakin terpancing emosinya. Akan tetapi lagi-lagi dia mencoba untuk menahan diri agar tidak melayangkan hantaman seperti tujuh tahun yang lalu karena mengingat keadaan dan suasana yang tidak mendukung. Maka dari itu Arsa harus pintar-pintar mengatur emosi dan amarahnya supaya tidak meledak seketika.
“Oh jadi seperti itu? Kita kembali ke topik pernikahan palsu kalian. Ehm…menyiapkan sarana untuk upacara pernikahan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan gue rasa lo paham akan maksud perkataan gue ini, Bocah.”
Arsa lantas memandang ke arah Radika sembari memainkan alis sebelah kiri dan juga mengetuk-ngetukkan jari-jari tangan kanannya selepas menaruh gelas di atas meja.
“Berapa yang Anda butuhkan?” tanya Radika to the point. Dia tahu kemana arah pembicaraan Arsa.
Pria itu tampak memikirkan sejenak nominal angka yang ingin dia minta. “Ehmm bagaimana dengan seratus juta? Gue rasa duit segitu nggak ada artinya buat pembisnis kayak lo, Bocah.” Arsa menantang secara tidak langsung.
Sasmita langsung melebarkan pupil matanya. Nominal uang yang disebutkan sang kakak menurutnya terlalu besar untuk sekadar menyiapkan sarana atau keperluan upacara pernikahan. Sasmita ingin sekali mencegah tapi dia tidak memiliki cukup keberanian dan memilih mengeluarkan sikap acuh tak acuh.
Apalagi kini ada Radika yang duduk di sampingnya. Bagi Sasmita melawan sang kakak di hadapan orang lain bukan tindakan yang terpuji. Pasalnya dia masih menghormati dan menghargai posisi Arsa sebagai kakaknya.
“Akan segera saya transfer ke rekening Anda,” beri tahu Radika tanpa pikir panjang. Yang ada di benaknya hanyalah melaksanakan pernikahan antara dirinya dan Sasmita secepat mungkin.
Arsa tersenyum puas. “Baiklah. Gue tunggu transfer-an lo, Bocah. Gue bakal pastikan kalau pernikahan kalian berjalan lancar asal lo bisa gue ajak kompromi,” sahutnya kemudian.
“Dan saya tidak akan pernah membiarkan Anda atau siapa pun merusak pernikahan ini!” peringat Radika secara langsung seraya melayangkan tatapan cukup mematikan.
Arsa bangun dari tempat duduknya. Tatapan tajam dan senyum sinis dia persembahkan untuk Radika. “Tenang lo, Bocah. Untuk apa gue mengacaukan hal-hal yang malah mendatangkan keuntungan untuk gue?”
Pria itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang adik yang hanya memandang lurus ke depan. Pikiran Sasmita melayang jauh. “Dek, Kakak rasa kamu tidak akan menyesal menjalankan pernikahan palsu dengan Radika. Setidaknya sekarang Kakak bisa bernapas lega jika bocah yang dulu bagi Kakak tidak ada apa-apanya sudah menjelma menjadi seorang pembisnis handal,” Arsa melanjutkan kata-katanya dengan nada sinis.
Sasmita membalas tatapan sang kakak tak kalah tajam. Meskipun ekspresi datar menghiasi wajahnya. “Kakak tidak perlu mencemaskan keadaanku terlalu berlebihan karena aku sudah cukup dewasa dalam menentukan apa yang baik atau tidak untukku.” Sasmita sudah tidak bisa mencegah sederetan kalimat-kalimat tersebut keluar dari bibirnya.
Arsa tak membalas ucapan adik bungsunya sebab sudah dapat dipastikan jika dia tetap menanggapi perkataan Sasmika maka acara adu mulut pun akan berlangsung terus-menerus sedangkan tenaga dan pikirannya sudah lumayan terkuras menghadapi si bocah tengik.
Sementara itu Radika menoleh sekilas ke arah Sasmita. Entah mengapa dalam ucapan perempuan itu tersirat sebuah ‘ketidakyakinan’ mengenai pernikahan yang akan mereka lakoni ini.
“Gue rasa pertemuan kita cukup sampai di sini. Gue ada janji lain. Gue pergi dulu,” ucap Arsa dengan nada bicaranya yang arogan dan terkesan sombong.
Sebelum benar-benar melangkahkan kaki meninggalkan kafe. Arsa pun menyiapkan kata-kata yang menurutnya akan ampuh untuk menyentakkan kesadaran dua bocah yang ada di hadapannya.
“Kayaknya usaha gue yang dulu lakukan dalam memisahkan kalian hanya sia-sia belaka. Dan sepertinya kalian memang ditakdirkan bertemu kembali dan terlibat pernikahan palsu. Semoga saja tidak ada alasan lain yang cukup bisa memisahkan kalian lagi untuk kedua kalinya nanti,” ucapnya. Arsa menyunggingkan senyum sinis yang sangat sukses membuat rahang wajah Radika mengeras kembali. Bahkan gemeretak giginya terdengar. Tak hanya itu, tangan kanan Radika pun mengepal kuat.
……..
Lima menit pasca kepergian Arsa dari hadapan Sasmita dan Radika. Dua manusia berbeda gender tersebut tampak sibuk dan hanyut dalam pikiran masing-masing walau mereka duduk berdampingan.
Ada beberapa hal yang masih mengganjal di hati Sasmita, terutama ketika tadi Radika menyanggupi sejumlah uang yang diminta oleh kakaknya.
Entahlah, Sasmita merasa dirinya seperti dijual bak barang dagangan. Akan tetapi di sini dia bukanlah barang dengan tampilan menarik dan berharga yang diminati oleh kebanyakan orang seperti emas atau berlian.
Tanpa sadar Sasmita menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Kelopak mata perempuan itu tertutup rapat secara sempurna. Rasa pening dan sesak yang menghantam belum juga berkurang.
“Sasmita…,” panggil Radika pelan. Dia mengubah posisi duduknya menghadap perempuan itu.
Sasmita yang sadar jika namanya disebut oleh seseorang dengan suara berat tersebut langsung membuka kembali wajah yang tadi ditutupinya menggunakan kedua telapak tangan. Sasmita kemudian memutar kepalanya ke sebelah kanan, di mana sosok Radika tengah berada.
Deg!
Mereka berdua seakan-akan larut dalam tatapan yang dipersembahkan masing-masing saat mata mereka saling bersitatap satu sama lain.
Namun semua hanya berlangsung dalam waktu sekejap saja sebab Radika dengan segera memalingkan wajahnya ke arah lain agar dia tidak perlu berlama-lama merasakan luka yang dipancarkan kedua manik cokelat perempuan itu.
“Ada apa, Radi?” suara lembut milik Sasmita seolah-olah memaksa Radika untuk kembali beradu pandang dengan perempuan itu.
“Aku ingin mengingatkan besok kita akan tetap bertemu dengan orangtuaku,” beri tahu Radika. Nada suaranya terdengar dingin nan datar.
Sasmita mengangguk kecil tanpa memasang senyuman sedikitpun di wajahnya. “Aku mengerti,” balas perempuan itu singkat, padat dan jelas.
Setelah mendapat jawaban dari Sasmita. Radika pun mengganti posisi duduknya yang kini menghadap ke depan. Begitu juga dengan pandangannya yang Radika fokuskan ke sembarang arah agar tidak bertubrukan dengan dua manik cokelat Sasmita yang senantiasa mengoyahkan perasaan dan logikanya.
“Walau pernikahan ini didasarkan bisnis. Aku harap kamu bisa menjaga sikap di hadapan orangtuaku, Sasmi. Cukup cuma kita yang tahu mengenai tujuan pernikahan ini, jangan sampai ada pihak luar yang kita libatkan,” ingat Radika dengan suaranya yang semakin terdengar dingin.
Sudut bibir sebelah kiri Sasmita sedikit terangkat. Sedangkan kedua bola matanya menatap nanar ke arah meja yang ada di depannya. Sasmita berupaya keras agar rasa sesak yang menyerang tidak akan menciptakan bulir-bulir air mata.
“Tentu. Lagipula aku sudah pernah bertemu dengan orangtuamu dulu. Aku akan berusaha bersikap senatural mungkin.”
Radika tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Akhirnya dia menoleh dan memfokuskan pandangannya pada sosok Sasmita. Sedangkan tangan kanan Radika mengepal. Dia merasa tidak suka melihat kepasrahan yang dipertontonkan secara nyata oleh perempuan itu.
“Seandainya nanti orangtuaku bertanya tentang hubungan kita. Bilang saja kita berdua sudah sekitar 4 bulan belakangan ini kembali berpacaran supaya orangtuaku tidak curiga dan terus menanyakan alasan kenapa aku menikahimu,” jelas Radika. Dia masih menunggu perempuan itu membalas ucapan beserta tatapannya.
“Aku mengerti,” sahut Sasmita singkat nan padat sama seperti sebelumnya dan enggan melepaskan fokus matanya dari meja yang dia pandang sedari tadi. Sasmita bahkan tidak sadar jika Radika tengah menatap ke arahnya.
Drrttt….drrtt…
Getaran dan alunan lagu Coldplay-Paradise dari handphone Sasmiita terdengar yang menandakan ada panggilan masuk. Dengan gerakan cepat, Sasmita lantas mengambil benda tersebut dari dalam tasnya.
Bagas.
Sasmita langsung mengangkat telepon dari Bagas dan tidak ‘ngeh’ dengan ekspresi janggal yang mulai ditunjukkan Radika.
“.......”
“Hallo, Gas.”
“........”
“Toko bunga tutup. Aku lagi ada acara di luar sebentar. Mungkin nanti siang baru buka toko. Kamu mau pesan bunga apa?” tanya Sasmita.
Senyum tipis mengembang di wajah perempuan itu, menambah raut ketidaksukaan yang diperlihatkan Radika sejak Sasmita menerima telepon dari seseorang yang dia yakini adalah pria yang waktu ini bersama Sasmita di kafe.
“.............”
“Stok bunga mawar masih ada. Nanti kamu bisa ambil pesanannya kira-kira pukul tiga sore ya, Gas,” sahut Sasmita dengan suara lembutnya. Berbeda jauh dengan nada bicara yang dia ditunjukkan pada Radika tadi saat mereka bercakap-cakap.
“.........”
“Buat siapa? Dwi? Dia kan cowok kenapa kamu ngasih hadiahnya bunga?”
“.........”
Sasmita tak kuasa menahan tawanya akibat mendengar celotehan Bagas di ujung telepon sana. “Haha. Ada-ada aja ya ide kamu sama Dion.”
“.............”
Namun detik berikutnya tawa Sasmita terhenti karena secara tidak sengaja dia beradu pandang dengan Radika. Saat menatap ke dalam mata pria itu. Sasmita bisa merasakan sorot luka dan amarah yang bercampur jadi satu.
Namun ketika pancaran mata Radika semakin menajam nan menusuk. Sasmita pun terlonjak dari lamunannya dan segera membuang muka ke arah lain.
“..........”
“Iya? Aku masih di sini, Bagas,” ucap Sasmita pelan dan belum menemukan kesadarannya secara penuh.
“.........”
“Sip. Aku akan menunggumu di toko, Gas.”
Tanpa menunggu percakapan antara Sasmita dan seseorang di seberang sana selesai. Radika bangkit dari kursi yang dia duduki lalu menoleh ke arah Sasmita sejenak. “Aku pergi dulu. Besok aku akan menjemputmu,” ucap Radika dengan suara dinginnya yang tak tersentuh. Dia kemudian melangkah pergi begitu saja.
…………