10

4184 Kata
Bagas dan Sasmita berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah rumah yang didiami oleh Dwi serta Bagas. Dulu sebelum menikah, Dion juga ikut tinggal di rumah itu. Namun kini hanya mereka berdua yang masih menetap di ‘markas’ tersebut. Sasmita melangkahkan kaki dan tongkatnya dengan hati-hati karena lantai yang terasa sedikit licin, jadi dia harus pintar-pintar menjaga keseimbangan tubuh agar tidak mudah tergelincir nantinya. Meski terlihat mengambil sikap yang biasa-biasa saja, akan tetapi dua mata Bagas selalu siaga memperhatikan setiap gerakan atau cara berjalan Sasmita.  Kekhwatiran kerap melanda Bagas karena bagaimanapun juga menurutnya Sasmita butuh diperhatikan secara khusus mengingat kondisi fisik perempuan itu berbeda dari kebanyakan orang. Namun sebisa mungkin Bagas tidak menunjukkan kecemasannya langsung di depan Sasmita sebab dia tahu bahwa perempuan itu bukanlah tipe yang suka dikhawatirkan atau diperhatikan terlalu berlebihan.  Dan bagi Bagas, Sasmita tetaplah sosok yang istimewa di matanya. Terlepas dari kekurangan yang ada pada diri perempuan itu. Di hatinya sudah terukir dengan jelas nama Sasmita sebagai kandidat utama wanita yang ingin dia jadikan pendamping hidup kelak. Bukan sekadar angan-angan belaka tapi dia akan mencoba untuk memperjuangkan perasaannya. “Maaf ya Sasmi keadaan rumah agak berantakan. Maklum kita males buat bersih-bersih,” ucap Bagas sedikit malu saat mereka telah memasuki area ruang tamu. “Gak apa-apa kok.” Sasmita lantas mengedarkan pandangannya hampir seluruh sudut ruangan yang ada di kediaman Bagas dan Dwi. Di atas meja memang tampak tersebar beberapa bungkus snack dan botol air mineral. Meski tidak terlalu luas yakni hanya ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, ruang tamu dan juga sebuah dapur. Namun suasana tenang dan nyaman disajikan rumah ini.  Bagas mengisyaratkan Sasmita untuk duduk di sofa. Sedangkan dia sendiri hendak berjalan ke arah dapur guna menaruh bucket bunga mawar serta kue tart yang dibeli oleh Sasmita untuk Dwi yang hari ini berulang tahun. “Mau minum apa, Sasmi? Eh di sini cuma ada kopi, teh sama minuman bersoda sih. Kalau kamu minta Greentea Latte ya gak ada,” celoteh Bagas disertai cengirannya. Dia memandang Sasmita yang sudah memposisikan diri duduk di atas sofa. Perempuan itu lantas menyunggingkan senyum khasnya. “Aku mau air putih aja,” jawab Sasmita dengan suara dan tatapan lembut hingga menyebabkan Bagas merasakan desiran serta degup jantung yang berpacu lebih cepat. “Siap. Aku ambilin dulu di dapur. Kamu tunggu di sini saja dengan santai. Kamu harus rileks. Jangan tegang sepertiku, ya. Hehe." Bagas mengukir senyuman juga di wajahnya. Dia mulai melangkahkan kaki menuju ke arah dapur yang hanya berjarak beberapa meter saja dari ruang tamu. Jadi dia masih bisa curi-curi pandang dan melirik Sasmita yang tengah duduk anteng di sofa ruang tamu.  Perempuan itu mengikuti kemana kaki Bagas melangkah melalui gerakan bola matanya. “Oh ya, Gas. Dwi mana?” tanya Sasmita penasaran karena dia tak melihat sosok pria itu sejak menginjakkan kaki di rumah ini beberapa menit yang lalu. “Palingan dia tidur di kamar. Dwi kan raja kebo kalau udah urusan tidur,” balas Bagas sembari meletakkan bucket bunga dan kue tart di meja makan yang ada di areal dapur. Sasmita menganggukkan kepala pelan. Dia masih mengarahkankan pandangannya pada Bagas yang tengah menuangkan air dingin ke dalam gelas. Tanpa perempuan itu sadari, kini Dwi sudah duduk di sampingnya dan menepuk pundak Sasmita. Dan membuat perempuan itu sontak terkaget. “ “Hai!” sapa Dwi ramah dan menunjukkan cengiran. Sasmita memutar posisi duduknya agar menghadap sang lawan bicara kemudian senyum ramah terpotret di wajahnya guna membalas sapaan Dwi. Tak lama kemudian Bagas sudah membaur di antara mereka berdua. Dia memberikan segelas air dingin pada Sasmita dan menarik Dwi agar menyingkir. “Apaan sih lo, Gas!” jiwa sang sahabat yang suka mendramatisir keadaan pun kambuh. Bagas terus menarik tangan Dwi hingga menyebabkan sahabatnya itu bangkit dari sofa. Dia lantas menyeret Dwi untuk duduk di single sofa. “Kursi kebesaran lo kan di sini, Wi. Gak usah nomaden segala nyari tempat yang bagus,” sindir Bagas sarat akan kecemburuan yang menyerang. Dwi pun tergelak tanpa memperdulikan Sasmita yang tengah menatap Bagas dan dirinya dengan heran. “Wkwk bilang aja lo takut mangsa lo bakal gue embat, Gas,” celetuk Dwi tanpa dosa. Bagas yang sudah mengambil posisi duduk anteng di sebelah Sasmita langsung melayangkan delikan mautnya pada sang sahabat. “Nah itu lo tau, Wi. Nggak usah nanya lagi napa,” balas Bagas memberi penekanan di setiap kata-katanya. Sasmita masih bingung dengan topik yang  diperdebatkan oleh dua orang sahabat yang sulit untuk dipahaminya. “Mangsa? Kalian ngomongin apa?” tanya perempuan itu dengan tatapan polosnya yang mampu mengundang kembali gelak tawa Dwi. “Wkwkwk Bagas punya mangsa, Sasmita. Tapi mangsa dia belum kena jeratan juga sampai sekarang. Padahal udah kenal cukup lama. Umpannya si Bagas kurang mantep kayaknya nih,” jawab Dwi dengan gaya ceplas-ceplosnya. Sasmita memutar kedua bola mata. Dia belum memahami maksud kata-kata yang diucapkan Dwi. “Mangsa gimana? Maaf, aku tidak mengerti,” tanggap perempuan itu kemudian. Dwi belum bisa menghentikan tawanya. Sedangkan delikan Bagas semakin terlihat tak bersahabat. Namun Dwi bersikap cuek dan memilih mengabaikan isyarat untuk berhenti yang ditunjukkan sang sahabat lewat tatapan mata. “Udah! Kagak perlu dimengerti, Sasmita. Tapi yang penting dirasakan. Bener kagak, Gas?” Dwi dengan penuh kesengajaan melempar pertanyaan tersebut pada sahabatnya. Bagas mengembuskan napas panjang dan jengah. Ingin sekali dia menyumpal mulut Dwi menggunakan tissu yang tebal agar sang sahabat berhenti mengocehkan kata-kata yang dapat mempermalukan dirinya di hadapan Sasmita. “Jomblo lumutan kayak lo gak perlu bahas hal-hal yang berbau perasaan. Ntar makin baper lo, Wi. Emang belum cukup baper ditolak cewek mulu?” Bagas balik menyerang. Setidaknya rasa kesal yang mendera bisa tersalurkan. Dwi diam sejenak guna memikirkan kata-kata yang pas sebagai balasan. “Biar pun jomblo lumutan yang penting gue bahagia. Dari pada lo punya mangsa tapi kagak berani bertindak ya sama aja boong.” Dwi memainkan alis sebelah kanannya sambil menatap jahil sang sahabat. “Ya gue kan butuh waktu. Semua gak bisa cepet-cepet kali,” elak Bagas. Tawa Sasmita kali ini terdengar. Namun dengan secepatnya perempuan itu mencoba untuk meredam tawa dengan cara  membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan.  Aksi yang dilakukan Sasmita pun tak luput dari penglihatan Bagas. Dia merasa senang bisa menyaksikan tawa Sasmita. Dia bahkan melengkungan bibirnya guna membentuk senyuman. Dwi kembali memikirkan sederetan kalimat-kalimat yang bagus untuk mengerjai sahabatnya. “Dih bilang aja lo takut ditolak sama doi. Payah! Nyali lo ciut amat dah, Gas!” ejek Dwi kemudian.  Bagas seketika melayangkan delikan mautnya. Namun dia tidak melakukan balasan apapun dan hanya menghela napas agar kesabarannya tak cepat menipis akibat ceplosan sang sahabat. Dwi lantas bangun dari single sofa yang didudukinya dan mengambil tempat di sisi kanan Sasmita lalu menepuk pelan pundak perempuan itu. “Tapi ucapanku benar 'kan, Sasmita? Misal kalau Bagas suka sama seseorang. Dia kudu bilang perasaannya yang sebenarnya ke cewek itu. Ya 'kan, Sasmita?” tanya Dwi seolah-olah meminta pembenaran dan juga persetujuan atas perkataannya. Sasmita mengangguk dan menoleh ke arah Bagas yang memang sedari tadi anteng memperhatikannya. Mata mereka saling bertemu. Bagas merasakan detak jantungnya semakin tidak karuan ketika perempuan itu mematri senyuman dan tatapan lembut. “Sebenarnya aku gak terlalu paham mengenai urusan yang berkaitan dengan hati. Tapi enggak ada salahnya kalau kamu nyoba buat bilang perasaan kamu ke cewek itu,” ucap Sasmita memberi saran.  Bagas tidak bisa melepas pandangannya dari sosok Sasmita begitu saja dan masih asyik menatap perempuan itu dengan intens. “Kalau dia nggak punya perasaan apapun selain sebagai teman gimana? Terus misalnya dia punya perasaan sama laki-laki lain gimana?” tanya Bagas dengan raut wajah serius. Laki-laki yang dimaksudnya adalah Vio. Dwi berusaha sangat keras menahan tawa agar tidak meledak saat melihat ekspresi serius yang ditunjukkan sang sahabat. Pasalnya Dwi belum pernah menyaksikan Bagas seperti ini sebelumnya. “Ayo, Sasmita. Coba kasih pendapat kamu kalau misalkan kamu ada di posisi cewek yang disukai Bagas,” celetuk Dwi lagi dan lagi. Sasmita tampak berpikir dan menanggapi serius celotehan Dwi. Beberapa detik kemudian perempuan itu kembali menoleh ke arah Bagas yang tengah menunggu jawaban darinya. “Menurutku kamu ungkapin dulu perasaan kamu ke dia. Dan kalaupun dia suka sama cowok lain ya pilihan kamu ada dua yakni mundur atau tetap melangkah maju.” Sasmita sedikit mengutip perkataan Vio yang masih diingatnya dengan jelas. “Maksudku kalau kamu memilih mundur, berarti kamu mesti ngelupain perasaan kamu ke dia. Tapi kalau kamu ingin tetap melangkah maju, kamu harus berani memperjuangkan perasaanmu meski terasa sulit sekalipun karena mungkin cewek itu suka sama laki-laki lain. Nothing impossible kalau kamu mau berusaha menurutku.” “Aku harus memperjuangkan dia?” tanya Bagas spontan. Sedangkan Sasmita sama sekali tidak tahu bahkan peka jika perempuan yang tengah mereka bicarakan adalah dirinya. Sasmita mengulas senyum. “Cuma kamu yang bisa menentukannya sendiri, Gas,” balas perempuan itu tak memberikan jawaban yang pasti. Namun Bagas bertekad bahwa dia akan mengungkapkan perasaannya pada Sasmita nanti. Cukup sudah beberapa bulan belakangan ini dia memendam semua seorang diri. “I will,” ucap Bagas tanpa ada keraguan sedikitpun. Dia menatap dalam Sasmita. Tepuk tangan Dwi menggema. Senyum jahil dipamerkannya. “Nah gitu dong, Gas! Semoga lo berhasil ya. Gue doain. Kalau diterima inget traktir gue. Terus jangan diajakin pacaran tapi langsung nikah sekalian,” katanya sembari mengarahkan bola mata pada sosok Sasmita. Perempuan itu tertawa kecil mendengar penuturan Dwi. “Menikah? Hahaha kamu ada aja bahan candaannya.” Dwi lantas memasang cengiran kuda dan tampang tidak berdosa. “Ya kan biar kagak keduluan sama pria lain gitu si Bagas,” ucapnya melakukan pembelaan. “Yang pengen cepet nikah lo, Wi. Tapi sayang aja nggak ada yang mau diajak. Jomblo lumutan sih lo!” seru Bagas dengan nada mengejek. “s****n lo, Gas! Jomblo teriak jomblo!” balas Dwi sembari melempar bantal ke arah Bagas.  Dan yang Sasmita lakukan hanyalah tertawa karena tingkah lucu Bagas serta Dwi yang sedikit ‘abnormal’ itu. ………….. Setelah acara kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Dwi selesai. Bagas pun mengantar Sasmita pulang. Namun terlebih dahulu mereka akan singgah ke Cake Shop langganan Sasmita. Perempuan itu hendak mentraktir Bagas sebagai ungkapan terima kasih karena sudah membuatkan sebuah website untuk toko bunganya. Dan sepertinya traktiran tersebut mungkin tidak ada sebanding dengan harga jual yang biasa Bagas standarkan untuk satu web. Ketika Sasmita ingin membayar biaya pembuatan website yang dia pesan, Bagas malah menolak.  Katanya ‘pembayaran’ bisa dilakukan dengan cara yang lain dan berbeda. Sasmita sempat bingung tapi akhirnya dia menyetujui permintaan Bagas. “Enggak apa-apa pulang malem, Sasmi? Udah jam tujuh. Emang toko itu masih buka?”  Sasmita tersenyum lalu menolehkan kepalanya ke arah Bagas yang juga sedang menatap dirinya. “Gak apa-apa kok. Lagian toko bakery-nya tutup jam sembilan,” jawab perempuan itu. Bagas manggut-manggut kemudian memfokuskan pandangannya ke depan guna menghalui rasa gugup yang senantiasa melanda setiap berhadapan dengan Sasmita.  Suasana jalanan malam ini juga tampak ramai dan sedikit macet, mungkin karena besok hari Minggu maka kebanyakan orang keluar serta menikmati Saturday Night mereka bersama kekasih ataupun keluarga. “Sekalian ngerayain malam minggu, Sasmi?” tanya Bagas iseng guna memulai topik pembicaraan. Sasmita kembali menoleh ke arah lawan bicaranya sambil memasang ekspresi keheranan. “Ngerayain malam minggu?” dia mengulang kalimat yang dilontarkan sang lawan bicara. Suara cekikikan Bagas terdengar. “Ya ngerayain malam minggu kayak anak ABG gitu. Eh atau kayak orang-orang yang punya pacar,” jawabnya asal-asalan. Sasmita pun tergelak mendengar kata-kata yang menurutnya konyol tersebut. “Hahaha ingat umur, Gas. Kita bukan anak ABG lagi,” balas perempuan itu sembari berusaha meredam tawanya. “Bukan masalah umur, Sasmi. Melainkan status sama pasangan yang buat diajak malam mingguan kagak ada,” celoteh Bagas kembali dengan asal-asalan. Namun sukses mengurungkan niat Sasmita untuk menghentikan tawanya. Bagas senantiasa suka curi-curi pandang ke arah perempuan itu. Dia merasa senang melihat tawa Sasmita yang semakin mengembang karena perbincangan ‘absurd’ mereka. “Hahaha kata Dwi, kalian kan jomblo ya?”  Giliran Bagas yang terkekeh pelan akibat pertanyaan yang diluncurkan Sasmita. “Kita bertiga sejak kuliah emang kagak antusias sama malam mingguan, Sasmi. Lebih enak nongkrong di depan laptop sampai malam. Ya kalau ga nge-game pasti nyoba-nyoba coding,” beri tahu Bagas. Sasmita mengangguk-anggukan kepalanya. Dia sudah bisa meredam tawa dan menggantinya dengan sebuah senyuman yang selalu bisa membuat hati Bagas bergetar.  “Kamu bisa hacking?” tanya Sasmita dengan raut wajah penasaran. Mata mereka pun saling bersinggungan. Bagas tak dapat mengalihkan perhatiannya dari sosok Sasmita. “Lumayan. Tapi yang paling jago hacking sih si Dwi. Yang suka jadi sasaran atau kelinci percobaan itu akun media sosialku.”  “Kalau Dion jago di bagian programming web. Dia paling pinter di antara kita bertiga, Sasmi,” lanjut Bagas menerangkan. Lengkungan di kedua sudut bibir Sasmita semakin terangkat naik. Mereka berdua masih saling melempar tatapan untuk satu sama lain. “Terus kamu jagonya di bidang apa, Gas?” tanya perempuan itu ingin tahu. Bagas langsung menjawab, “Aku paling cuma bisa cracking hati seorang cewek doank, Sasmi.” Seketika tawa Sasmita kembali pecah dibuatnya. “Kamu ada-ada aja ya candaannya, Gas,” komentar perempuan itu. Bagas pun cekikikan tatkala mengingat kata-katanya yang dia lontarkan barusan. …………………………. Fokus Radika tertuju dan tersita oleh pemandangan ‘mesra’ yang tersaji di balik jendela kaca sebuah toko bakery, di mana dua sosok berbeda gender yang lebih terlihat sebagai sepasang ‘kekasih’  Si pria tampak berdiri di samping pintu mobil dan memperhatikan si wanita yang tengah membenahi posisi berdirinya pasca turun dari mobil. Si wanita kemudian tersenyum dan mengatakan sesuatu pada si pria. Sayangnya Radika tidak dapat menebak apa yang dibicarakan si wanita. Tak berapa lama dua sosok beda gender itu terlihat berjalan beriringan masuk ke toko bakery yang juga Radika kunjungi. Si wanita sepertinya tidak sadar bahwa dirinya sedang diamati sedari tadi. Radika masih setia menitikberatkan fokusnya dan terus memperhatikan setiap gerak-gerik, mimik serta senyuman hangat yang dipertontonkan si wanita. Dan hal tersebut sukses menyulutkan rasa panas di d**a Radika. “Kak Sasmita!” seru sebuah suara cempreng seorang gadis bernama Yuni yang kini sedang duduk di depan Radika. Sasmita langsung memutar kepalanya guna mencari keberadaan si pemilik suara yang tadi memanggil namanya. Tak butuh waktu lama karena beberapa detik kemudian, manik cokelat Sasmita telah bertemu dengan mata Radika yang juga menatap ke arahnya dengan sorot tajam.  Tubuh Sasmita pun tiba-tiba saja menegang di tempatnya berpijak. Pancaran mata yang Radika tunjukkan membuat dirinya enggan untuk berkutik.  Entah mengapa kali ini Sasmita merasa jika tatapan Radika tak hanya terasa dingin dan menusuk melainkan juga memancarkan luka yang meski terlihat samar-samar namun bisa dirasakan oleh perempuan itu dengan cukup jelas.  Bagas yang menyadari keanehan Sasmita lantas menyentuh bahu perempuan yang tengah berdiri membelakanginya itu. Tapi di sisi lain Bagas malah tidak sadar jika sepasang mata elang milik Radika yang juga mengarah padanya. “Kamu kenapa, Sasmi?” tanya Bagas pelan namun menimbulkan kekagetan untuk Sasmita. Perempuan itu kemudian memutus kontak matanya dengan Radika dan memutar tubuh menghadap Bagas. “Gak apa-apa kok,” jawab Sasmita sambil memaksa mengukir senyuman di wajahnya. Bagas tampak tak percaya begitu saja dengan ucapan Sasmita. “Yakin? Wajah kamu kenapa pucat begini, Sasmi?” tanya Bagas sedikit cemas.  Mereka berdua masih berdiri beberapa meter dari pintu utama toko bakery dan belum mencari tempat untuk duduk. Suasana di toko terlihat lenggang, hanya terdapat beberapa kursi saja yang ditempati oleh pengunjung. Termasuk di antaranya adalah Radika dan Yuni. Sasmita mengangguk pelan lalu membalas pertanyaan Bagas, “Yakin. Aku gak apa-apa kok, Gas. Gak sakit.”  Perempuan itu mengulum senyum tapi dengan segera dia memalingkan wajah ke arah lain. Rasa takut akan sorot mata Bagas yang menyerupai Radika kembali menghantuinya. “Ya udah. Kalau gitu kita mau duduk di mana, Sasmi?” tanya Bagas mengganti topik pembicaraan. Karena jika terus bertanya mengenai hal yang sama maka jawaban yang dia terima pun tidak akan berbeda. Baru saja Sasmita hendak mengedarkan pandangannya mencari meja kosong yang nyaman untuk ditempati, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang memegang lengan kanannya. Tubuh Sasmita pun sontak menegang. “Kak Sasmita?” Suara cempreng namun terkesan lembut kembali menyapa gendang telinga Sasmita.  Perempuan itu memutar kepala dan menggerakkan kaki serta tongkatnya menghadap si pemilik suara yang tak lain adalah Yuni, mantan pacar Radika sebelum dirinya. Sasmita membalas senyuman hangat nan bersahabat yang Yuni tunjukkan. “Hai, Yuni. Lama gak jumpa,” sapanya ramah. Yuni langsung menghambur ke dalam pelukan sang kakak kelas yang dulu lumayan akrab dengannya sewaktu SMA karena mereka berada dalam satu kegiatan ekstrakulikuler yang sama. Radika juga ikut menjadi bagian dalam klub tersebut. Awalnya Yuni bergabung di sana untuk mencoba dan berusaha kembali meluluhkan hati Radika yang sempat dia kecewakan saat mereka masih berpacaran.  Tapi ketika mengetahui Radika sudah menjalin hubungan dengan Sasmita. Yuni mengubur harapannya karena dia tidak ingin merusak hubungan orang lain.  Terlebih ketika dia tahu jika Radika benar-benar menaruh perasaan yang serius pada Sasmita. Begitu juga sebaliknya.  Akan tetapi saat lulus SMA, Yuni mendengar kabar bahwa Radika dan Sasmita telah mengakhiri hubungan mereka berdua di saat perasaannya pada Radika sudah hilang.  Yuni sedikit menyayangkan hubungan tersebut berakhir. Pasalnya hanya dengan melihat sorot mata Radika saat bercerita mengenai kandasnya hubungan dia dan Sasmita, Yuni bisa tahu serta merasakan jika Radika masih menyimpan perasaan yang dalam untuk Sasmita. Meski Radika tak menjelaskan alasan mereka berpisah secara gamblang. “Kakak apa kabar? Lost contact banget ya kita, Kak,” ujar Yuni sembari melepas pelukannya. Sasmita tersenyum. “Baik. Kamu sendiri gimana, Dik? Masih suka beli cake di sini juga?” perempuan itu mengajukan pertanyaaan sekaligus. Dulu saat SMA mereka dan anggota klub lainnya sering menghabiskan waktu sehabis pulang sekolah di toko bakery sekadar berkumpul atau menggali ide untuk projek mereka di klub. Yuni menganggukkan kepala. “Aku sehat, Kak. Iya aku masih suka beli cake di sini. Hari ini datang sama kak Dika,” balasnya kemudian menunjuk-nunjuk Radika yang tengah duduk sembari memandang ke arah mereka. “Kak kita duduk bareng yuk sama Kak Dika di sana. Ngobrol-ngobrol sebentar. Oh ya Kak Sasmita udah pernah ketemu sama kak Dika habis lulus?” tanya Yuni penasaran. Sasmita menggeleng. “Belum pernah, Dik,” dusta perempuan itu berbohong. “Kalau gitu kita bertiga sekalian reunian di sini berarti, Kak. Ehm pacar Kakak gak keberatan kan kalau gabung sama aku dan Kak Dika?” ucap Yuni berhati-hati.  Bagas yang sedari tadi diam kini melebarkan kedua bola matanya. “Hah? Pacar?” ulangnya dengan tampang b**o yang seketika membuat Sasmita terkekeh. “Jangan dipikirin, Gas. Kamu mau gabung kan sama teman-teman SMA-ku?” perempuan itu meminta persetujuan terlebih dahulu. Bagas manggut-manggut. “Gak masalah, Sasmi,” jawabnya sambil menyunggigkan senyuman serta tatapan hangat pada Sasmita. Sedangkan dari kejauhan Radika terus memperhatikan interaksi tiga orang tersebut dengan sorot matanya yang tajam. Tangan kanan pria itu mengepal. Dia sangat tidak menyukai kemesraan yang ditunjukkan Sasmita dan si pria.  ………………………… Sasmita menatap nanar sebuah kartu undangan pernikahan di dashboard mobil Bagas yang cukup berhasil menyita perhatiannya sejak beberapa menit lalu. Benda itu membawa dan mengingatkan kembali Sasmita pada kenyataan yang sebentar lagi akan dihadapinya, kurang dari sebulan yakni pernikahan bisnis antara ia dan Radika. Awalnya tak ada hal penting yang membuat Sasmita ragu ataupun bimbang akan perjanjian yang telah dia sepakati untuk membantu sang kakak. Tapi kehadiran Yuni bersama Radika di toko bakery menimbulkan persepsi lain dan Sasmita sedikit terusik karenanya. Keraguan yang tidak pernah timbul sebelumnya kini malah menguar ke permukaan tanpa dia rencanakan dan tentunya mengganggu pikiran Sasmita. Tanpa sadar perempuan itu meraih kartu undangan pernikahan di mana cover depannya menampakkan dua sejoli yang berpose lumayan mesra dan melempar senyuman untuk satu sama lain. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat berbahagia. Sebuah pertanyaan tiba-tiba saja tergiang di benak Sasmita. Bisakah dia dan Radika berpura-pura sampai sejauh itu? Setidaknya menampakkan kebahagiaan palsu di depan orang lain? Lamunan Sasmita buyar manakala tangan milik Bagas menyentuh bahu kanannya. Perempuan itu langsung menoleh ke arah pria yang sedari tadi fokus menyetir. Karena lampu merah sedang bertengger di depan sana, Bagas lantas mengalihkan pandanga pada sosok Sasmita yang tampak diam membisu dan tatapan perempuan itu mengarah ke kartu undangan pernikahan yang dipegangnya. Bagas pun penasaran dengan apa yang tengah Sasmita pikirkan. "Kamu kenapa, Sasmi?" tanya Bagas dengan nada penasaran. Dia menatap perempuan itu sedikit khawatir. Sasmita terlihat menggelengkan kepala lalu menyunggingkan senyuman tipis. "Kartu undangannya bagus," bohong perempuan itu tidak ingin mengatakan apa yang ia rasakan atau sesuatu yang kini sedang mengganggu pikirannya. Lampu merah telah berganti dengan warna hijau. Mau tak mau Bagas harus kembali memfokuskan diri dalam mengemudi dan menunda beberapa patah kata yang ingin dia keluarkan sebagai balasan. Sasmita menaruh kartu tersebut di tempat semula, kemudian memandang ke depan. Suasana jalanan malam ini sedikit lenggang, tidak terlalu macet seperti biasanya. Mungkin ada kaitannya dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Lampu penerang yang menghiasi sisi kanan-kiri jalan utama menjadi salah satu hal yang disukai Sasmita ketika melintasi jalan raya. "Makasih traktiranya untuk hari ini," ucap Bagas tulus seraya memutar kepalanya sekilas ke arah Sasmita. Kemudian kembali fokus pada pedal gas, rem dan juga kemudinya. "Sama-sama. Lain kali aku akan mentraktir kamu lagi sampai biaya pembuatan website lunas," jawab Sasmita dengan nada lembut sambil menoleh Bagas. Pria itu menarik sudut kiri bibirnya dan membalas tatapan Sasmita. "Aku tunggu traktiran dari kamu, Sasmi," tanggapnya santai. Senyuman kian mengembang di wajah Sasmita. Ia lantas memutus kontak mata di antara mereka berdua dan mengalihkan pandangan keluar jendela mobil. "Yang menikah itu mantan pacarku saat SMA. Terus calon suaminya adalah sainganku dulu," beri tahu Bagas. Ah lebih tepatnya membongkar kisah cinta di masa lalu. "Saat kami masih berpacaran, tanpa aku ketahui dia juga dekat dengan laki-laki itu. Mereka pernah pacaran sebelumnya. Tapi saat kami berpacaran, mereka malah deket lagi," lanjutnya bercerita dengan santai. Perhatian Sasmita pun akhirnya tersita oleh pembicaraan yang cukup menjurus ke hal pribadi tersebut. "Ya mungkin bisa dibilang mereka berselingkuh di belakangku." Memanfaatkan momen lampu merah yang sedang menyala hingga beberapa detik kedepan. Bagas menoleh ke arah Sasmita yang tampak tertarik dengan bahasannya. Sorot mata perempuan itu menunjukkan keinginan untuk mengetahui penjelasan lebih lanjut. Senyum tipis dipamerkan Bagas ketika mata mereka bertubrukkan. "Aku kecewa banget, Sasmi. Merasa dikhianati tapi mau gimana lagi. Dia lebih milih laki-laki itu. Aku gak bisa maksa dia kan?" Refleks Sasmita menganggukkan kepalanya tanpa sadar ia hanyut dalam cerita Bagas. "Aku mutusin lepasin dia, Sasmi. Saat kami putus dia bilang jujur tentang suatu hal," kata Bagas masih menyematkan nada santai andalannya di setiap kata. Namun berbanding terbalik dengan pacuan jantungnya yang mulai tak terkendali saat dirinya menatap ke dalam manik Sasmita. "Apa itu?" perempuan itu bertanya. Rasa penasaran masih menghantui akan kelanjutan kisah cinta pria yang tengah duduk di sampingnya. "Dia hanya menjadikanku pelarian, Sasmi. Padahal aku benar-benar menyukainya saat itu." Bagas memperlihatkan senyum kecutnya. Dengan segera pria itu menginjak pedal gas tatkala suara klakson mobil lain di belakang terdengar menuntut agar dia cepat-cepat melajukan kendaraannya karena lampu hijau telah terpampang di depan sana. Di satu sisi, Sasmita teringat bagaimana ia pernah menganggap Bagas mirip dengan Radika baik dari sikap, perkataan bahkan tatapan mereka. Tapi setiap orang pasti tidak ingin dibandingkan satu sama lain kan? Sasmita berjanji bahwa dia akan berusaha tak lagi melihat Bagas sebagai bayangan Radika karena mereka jelas dua orang yang berbeda dan tidak bisa disamakan. "Terus apa kamu masih punya perasaan sama dia?" Sebuah pertanyaan dilayangkan Sasmita untuk sekadar memberi tanggapan. Bagas menggeleng dengan mantap. "Kalau perasaan khusus sih masih gak ada. Paling hanya sebagai teman. Udah hilang karena berjalannya waktu dan kenyataan. Lagian kalau masih ada aku enggak bakal cerita ke orang lain," jawab pria itu kemudian masih dengan nada santai andalan yang dia miliki. Sasmita menganggukkan kepala seraya memasang senyuman yang membingkai wajah tirusnya. "Aku juga sudah menyukai perempuan lain," lanjut Bagas. Secara tak langsung dia menyelipkan kode dalam ucapannya. "Yang tadi sore kita bicarakan bersama Dwi?" Sasmita mengonfirmasi. Tatapan mereka masih bertemu. Bagas lantas manggut-manggut mengiyakan dan melebarkan sunggingan senyuman di kedua sudut bibirnya. Dia tak tahu harus mengeluarkan kata-kata seperti apa sebagai lanjutan balasan karena yang mendominasi hanya degup jantungnya. "Kamu tetap akan datang ke pesta pernikahan mantan kamu kan, Gas?" tanya Sasmita lagi mencari topik pembicaraan agar terus mengalir. "Pasti. Walau hubungan kami sempat memburuk dulu tapi ya semua cuma masa lalu. Punya musuh juga gak enak soalnya. Lagian kalau nanti aku menikah. Aku juga akan mengundang mereka. " "Aku ke sana bersama Dion dan Dwi. Kamu mau ikut juga, Sasmi?" tawar Bagas sembari melirik sejenak ke arah perempuan itu padahal baru beberapa detik kontak mata mereka terputus. Namun seakan ada magnet yang menarik Bagas untuk senantiasa membagi fokus selain mengemudi tentunya. Kali ini Sasmita menggeleng tanda menolak ajakan Bagas. "Aku kayaknya hari itu ada acara, Gas. Maaf." Sasmita merasa tak enak. Hal tersebut terlihat dari nada suara dan ekspresi wajahnya. Bagas mengulas senyum terbaik yang dia punya. Kemudian tangan pria itu terangkat naik guna mengusap helaian rambut Sasmita yang digerai. "Santai, Sasmi. By the way, makasih udah dengar cerita masamku tadi," ucap Bagas dengan tulus. Perempuan yang duduk di sebelahnya pun memamerkan senyuman sebagai tanda balasan tanpa mengucap satu patah kata pun. Akan tetapi senyuman yang menghias wajah Sasmita sudah cukup mampu mendatangkan getaran tersendiri di hati Bagas. ...........    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN