11

5784 Kata
Sasmita merogoh handphone yang ada di dalam tasnya setelah sebuah nada notifikasi pesan masuk terdengar oleh gendang telinga perempuan itu. Radika Masalah acara besok bertemu orangtuaku. Kita tunda. Aku ada meeting dadakan. Kedua mata Sasmita dengan serius membaca sederetan kata yang terpampang di layar handphone-nya. Ekspresi Sasmita pun berubah menjadi datar sedangkan jari-jarinya bergerak dan mengetik tidak lebih dari empat kata dalam pesan yang akan dia kirimkan sebagai bentuk balasan balik. Nada notifikasi pesan masuk kembali terdengar. Tanpa menunggu lama, Sasmita segera memfokuskan titik bacanya pada kalimat yang tersusun di layar handphone-nya dan membuat dahi perempuan itu sedikit berkerut. Radika Bagaimanapun juga orangtuaku sudah tahu kita berpacaran. Aku harap kamu bisa menjaga sikap. Aku tidak ingin ada pihak lain yang mengganggu rencana pernikahan kita. Menjaga sikap? Pihak lain? Apa maksudnya? Perlu seperkian menit bagi Sasmita untuk betul-betul memahami dan mengerti makna tersirat dalam pesan yang kirimkan padanya itu. Apakah pihak lain yang dimaksud Radika adalah Bagas? Jika memang benar. Kenapa bisa dia berpikiran Bagas akan menjadi pihak yang mengganggu rencana pernikahan bisnis mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah cukup mampu menguras pikiran Sasmita. Sedangkan jawaban tak menentu semakin menyita benaknya. Tadi saat bertemu dan bercengkrama di toko bakery, Sasmita sadar jika Radika kerap kali memperlihatkan tatapan yang tajam nan mengintimadi ke arahnya. Akan tetapi Sasmita memilih mengabaikan sikap yang ditunjukkan Radika agar tidak menimbulkan kecurigaan. Terlebih mereka pura-pura baru saling bertemu satu sama lain hari ini. Namun ketika Radika memintanya menjaga sikap. Bukankah dia juga harus melakukan hal yang sama? Sasmita bisa menilai jika hubungan yang terjalin di antara Radika dan Yuni terbilang akrab. Terbukti dari interaksi yang mereka tampakkan. Ya Sasmita tentu tahu Radika dan Yuni pernah memiliki kisah asmara. Apalagi sekarang mantan adik kelasnya itu bekerja di tempat yang sama dengan Radika. Jadi dapat dipastikan mereka berdua akan semakin dekat. Logika Sasmita kembali berjalan. Untuk apa dirinya memperdulikan hubungan Radika dan Yuni? Yang harus dia lakukan bukankah hanya menjalani pernikahan bisnis bersama Radika dengan sebaik-baiknya sampai waktu yang telah ditentukan? Sentuhan di lengan kanan berhasil mengagetkan Sasmita. Perempuan itu lantas memutar kepala ke arah pria yang sempat dia lupakan keberadaannya. "Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bagas saat membaca perubahan ekspresi di wajah lawan bicaranya. Mereka tengah terjebak kemacetan yang sedikit tak terduga malam ini. "Tidak," jawab Sasmita singkat. Perempuan itu memaksa mengembangkan senyuman demi meyakinkan bahwa tak ada hal penting yang tengah mengganggunya. Bagas tentu tidak percaya begitu saja dengan mudah. Pancaran mata Sasmita menunjukkan hal yang berbeda. "Yakin?" tanyanya berniat memastikan sekali lagi. Perempuan itu mengangguk pelan dan terus mematri senyumannya. Tangan Bagas memegang cukup erat lengan kanan Sasmita. Tatapan mereka berdua masih bersinggungan. "Kalau ada masalah kamu cerita aja, Sasmi. Memang sih kalau cerita gak akan menjamin dapet solusi terbaik tapi minimal beban yang kamu rasain bakal sedikit berkurang. Itu sih berdasarkan pengalamanku," ujar Bagas mencoba meyakinkan Sasmita agar mau terbuka dengannya. Mereka juga telah saling mengenal cukup lama. Setidaknya Sasmita bisa mempercayainya kan? Benar, ada sebersit keinginan dalam diri Bagas agar perempuan itu mau lebih mempercayainya. Sasmita tampak hanyut dan larut akan sorot kedua manik Bagas yang tengah berusaha meyakinkannya. Ada dorongan yang membuat Sasmita ingin bercerita tapi tidak mungkin rasanya untuk masalah ini. Di sisi lain, kecurigaan Bagas semakin bertambah. Tapi dia tak ingin memaksa Sasmita untuk bercerita supaya perempuan itu tidak merasa risih jika dia terus-terusan bertanya. "Kalau kamu enggak mau ceri—" "Aku akan menikah, Gas," tanpa diduga-duga Sasmita akhirnya buka suara. Tak butuh waktu lama bagi Bagas untuk menunjukkan reaksi atas pemberitahuan yang sangat mengejutkan baginya tersebut. Bola mata Bagas melebar dengan sempurna. Dia bahkan melepas pegangan tangannya secara refleks. "Me...menikah? Vio?" Nama pria itulah yang seketika muncul di kepala Bagas. Yang benar saja! Menikah? Tapi setahunya, Sasmita tidak memiliki hubungan khusus dengan pria lain. Ah, apa dia yang terlalu menutup mata sehingga tak menyadari jika sebenarnya Sasmita telah mempunyai seorang kekasih? Bagas mulai merasakan perubahan pada dadanya, sesak. Hei, siapa yang tidak akan bereaksi demikian saat mengetahui bahwa perempuan yang sedang mereka sukai akan menikah secara tiba-tiba? Namun Bagas berupaya mengambil sikap tenang dan tidak menunjukkan kegundahan yang entah mengapa menyusup ke rongga-rongga dadanya tanpa bisa dia cegah. Patah hati? Mungkin saja. Siapa yang tahu isi hati seseorang. "Bukan. Vio hanya sahabatku," jawab Sasmita dengan menyunggingkan senyum tipisnya, tidak selebar tadi. "Lalu?" Rasa penasaran yang teramat besar melanda Bagas. "Pria yang tadi di toko bakery. Radika," jawab perempuan itu singkat tapi sarat akan penjelasan. Sekali lagi bola mata Bagas melebar karena tidak percaya. Pasalnya menurut Bagas baik Sasmita maupun Radika tidak menunjukkan kedekatan layaknya sepasang kekasih. Bahkan cenderung seperti tak saling mengenal. "Kalian pacaran?" tanya Bagas kian diliputi keingintahuan. Gelengan lemah diperlihatkan Sasmita. Mata mereka sudah tidak bersitatap. Perempuan itu memfokuskan pandangannya ke depan, menerawang jauh. "Karena suatu hal. Maaf aku tidak bisa menceritakan lebih detail. Maaf," Sasmita lantas menjawab dengan suara pelan. Alis kanan Bagas terangkat naik. Demi apapun, dia begitu penasaran dengan 'suatu hal' yang dimaksudkan oleh Sasmita. Tapi lagi-lagi Bagas berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut karena dia tak memiliki hak untuk mengetahui secara keseluruhan. "Tidak apa-apa. Kalau kamu perlu teman untuk berbagi cerita atau masalah. Kamu boleh meneleponku kapan saja. Terus kalau perlu kita nongkrong di kafe sambil minum kopi. Aku bakal siap siaga denger curhatan kamu, Sasmi. Tapi ada syaratnya." Bagas mencari cara untuk mencairkan suasana yang tadi terasa kaku di antara mereka. "Syarat?" tanya Sasmita dengan tatapan tak paham. Bagas pun tak kuasa menahan tawanya. Dia tergelak pelan sebelum menjawab pertanyaan ambigu perempuan itu. "Yap, syarat karena udah dengerin curhatan kamu, Sasmi. Kamu wajib mentraktirku segelas kopi atau cokelat hangat," balasnya sambil menepuk bahu Sasmita. "Kamu jangan sungkan buat cerita, Sasmi. Kayak yang tadi aku bilang. Beban yang kamu rasain bisa sedikit berkurang meski enggak menjamin bakal dapet solusi terbaik. Tapi itulah kadang gunanya teman dan sahabat, mereka menjadi tempatmu singgah untuk berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan," lanjut Bagas disertai tatapan yang berupaya meyakini Sasmita. Sebuah senyuman terlihat mengembang di wajah perempuan itu. "Iya. Makasih banyak, Gas," Namun sebuah kenyataan menghantam Bagas. Ya dia harus siap-siap mengubur perasaannya pada Sasmita, tanpa memiliki kesempatan untuk mengungkapkan semua. ......................... Wira memandang takjub Radika yang tengah menenggak segelas vodka hingga tak bersisa sebab Radika bukan tipe orang yang kuat minum. Bahkan sahabatnya itu hanya mengonsumsi beer setiap kali mereka ada acara minum bersama. Namun malam ini Radika malah memesan vodka. Wira menduga jika sang sahabat tengah dilanda permasalahan yang cukup rumit sehingga sahabatnya itu mencari peralihan melalui minuman beralkohol untuk menenangkan diri sejenak. Radika sudah menghabiskan empat gelas berukuran sedang yang berisi vodka dalam waktu kurang lebih selama 30 menit sejak dia dan tiba di bar ini. Pikirannya benar-benar suntuk serta dipenuhi bayang-bayang momen kebersamaan Sasmita dan si pria yang baru Radika ketahui bernama Bagas. Masih jelas terekam dalam kepalanya bagaimana pria itu menunjukkan perhatian pada Sasmita secara nyata saat mereka berada di toko bakery. Dan dengan 'tangan terbuka' Sasmita malah menerima perlakuan serta perhatian Bagas tersebut. Sedangkan Sasmita selalu mencoba menghindari kontak mata yang coba Radika lakukan di antara mereka. Radika muak sendiri menyaksikan adegan lumayan 'mesra' di hadapannya tadi. Sebagai seorang pria tentu Radika tahu persis arti tatapan yang selalu dilemparkan Bagas pada Sasmita.  Rasa muak dan amarah yang dirasakan oleh Radika semakin bertambah tatkala Sasmita mengaku di depan dia dan juga Yuni bahwa Bagas hanyalah sahabat bukan pacarnya saat Yuni menanyakan perihal hubungan yang terjalin antara Bagas dan Sasmita. Di sisi lain Radika bisa membaca raut tidak suka di wajah pria itu ketika Sasmita menyematkan status 'persahabatan' dalam hubungan mereka. "Gue nginep di rumah lo malam ini, Wir," beri tahu Radika sambil menuangkan vodka ke dalam gelas lagi. "Tumben," komentar Wira singkat. Radika lantas mendekatkan permukaan gelas ke bibirnya dan menenggak vodka untuk gelas yang ke-5. Rasa pening pun menghinggapi kepalanya, begitu juga dengan rasa mual yang kian menjalar dan membuat Radika ingin memuntahkan isi perutnya. "Gue gak mungkin pulang dalam kondisi mabuk. Orangtua gue pasti bakal marah besar," sahut Radika dengan tingkat kesadaran yang mulai turun. Wira masih memandang sang sahabat dengan tatapan heran. "Udah tau gitu lo tetep aja pengen nyoba minum," dia kembali berkomentar. "Pikiran gue lagi suntuk," jawab Radika. Nada bicara serta ekspresinya tetap datar tak menampakkan emosi apapun. Radika menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kemudian menutup kedua kelopak matanya barang beberapa detik guna menetralkan gejolak perasaan dan pikirannya yang semakin kacau saja. "Lo kenapa, Rad? Ada masalah?" tanya Wira. Radika bungkam seolah-olah tak mendengar pertanyaan yang ditujukan sang sahabat. Lagi-lagi Wira merasa menyesal karena membiarkan mulutnya meluncurkan pertanyaan yang tidak mungkin akan dijawab oleh sahabatnya itu yang memang suka tertutup jika sudah menyangkut masalah pribadi. Radika menghela napas cukup panjang lalu mengembuskan secara perlahan-lahan. Dia juga mengusap wajahnya yang kini terlihat kusut. "Gue tadi ketemu Sasmita," beritahunya dengan nada pelan. "Terus?" Kelopak mata terbuka lebar dan segera menoleh ke arah sang sahabat yang tengah menunggu jawaban darinya. "Sasmita jalan bareng sama laki-laki lain, namanya Bagas. Gue tahu Bagas ini punya perasaan khusus ke Sasmi." Radika menuangkan vodka kembali ke dalam gelas lalu menenggaknya. "Dua hari yang lalu gue juga liat Sasmi pelukan dengan Vio. Dia saingan gue waktu SMA," lanjut Radika. Sepertinya efek dari vodka yang dia minum, membuat Radika sedikit terbuka dan menceritakan masalah yang sedang dia hadapi pada sang sahabat. "Terus lo cemburu?" Pertanyaan Wira berhasil mengakibatkan tatapan tajam Radika muncul dalam waktu sekejap dan dipersembahkan untuknya. "Sorry, gue gak maksu—" "Gue cuma ragu sama pernikahan yang bakal gue jalani dengan Sasmita." Radika berbohong meski tidak sepenuhnya dia berdusta. Rasa cemburu itu memang benar adanya. Tapi lagi-lagi keraguan yang teramat sangat berhasil merobohkan keyakinannya yang dia bangun perlahan-lahan. "Gue takut cuma bakal nyakitin Sasmi dan merusak kebahagian dia," sambung Radika belum menghentikan sesi curhatannya. Wira menyilangkan kedua tangan di depan d**a sambil memandang heran ke arah sahabatnya. "Ck, kalau ragu dan takut nyakitin Sasmita. Lo seharusnya gak ambil bagian dalam pernikahan ini." Radika pun tersinggung dengan kata-kata berbau sinis yang diucapkan Wira. "Gue juga gak bakalan biarin orang lain nyakitin dia," peringat Radika, masih melayangkan tatapan tajamnya. Wira mengangkat naik salah satu sudut bibirnya. "Lo gak bakal ngebiarin orang lain nyakitin Sasmita. Tapi kenapa lo malah ragu sama diri lo sendiri? Bukankah seharusnya lo punya cara atau kontrol tersendiri supaya enggak nyakitin Sasmita?" Pertanyaan tersebut sukses menohok d**a Radika. Dia diam sejenak, larut dalam pikirannya dan hanya memandang lurus ke depan. "Gimana gue gak bakal nyakitin Sasmi? Sementara gue punya tujuan buat menghancurkan kakaknya?" tanya Radika dengan nada pelan. Entah dia peruntukan untuk siapa. …………. Sedari kemarin malam Dipta merasakan badannya kurang fit. Radang tenggorokan pun ikut menyerang dan menyebabkan dia tidak bisa melakukan pengawasan ke lokasi proyek villa yang ada di daerah Canggu. Dipta merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedutan di kepala masih sangat terasa. Jam dinding sendiri telah menunjukkan pukul tiga sore dan Dipta melewatkan jam makan siangnya. Alhasil dia belum minum obat juga. Kegiatan yang sedari tadi Dipta kerjakan hanyalah memainkan jari-jari tangannya di layar touchscreen handphone guna mengetikkan sejumlah kata yang dia tujukan pada seseorang sebagai bentuk balasan atas chatting yang mereka tengah lakukan. Senyuman Dipta mendadak merekah manakala di layar ponselnya terpampang nama dan foto seorang perempuan. Dipta segera menggeser sebuah icon tombol di layar tersebut agar tercipta sambungan telepon di antara mereka. Tutt....tutt...tutt.... Dipta langsung mengubah posisinya menjadi duduk bersila saat di seberang sana terdengar suara lembut milik Sasmita menyapa gendang telinganya. "Lagi sakit, nggak dijengukin?" Canda Dipta. "Udah makan sama minum obat?" Sasmita malah melayangkan pertanyaan balik, bukannya memberi jawaban. Angin segar seakan merasuk ke dalam tubuh Dipta hingga membuat pria itu merasa sedikit lebih membaik hanya karena mendengar suara perempuan yang dia cintai. Terkesan berlebihan memang, tapi bukankah kekuatan cinta sulit untuk ditebak bahkan dilogikan? Lengkungan di bibir Dipta kian terukir manis meski wajahnya tampak pucat. "Belum, Sasi," Dipta lantas menjawab. "Kebiasaan," tanggap perempuan itu dari ujung telepon dengan nada kesal. "Makanya jengukin, Sasi." Helaan napas Sasmita terdengar. "Iya dua jam lagi aku ke sana. Masih ada pesanan bunga," beri tahunya. Senyum Dipta merekah. Sejak beberapa hari yang lalu. Tepatnya pada pertemuan mereka setelah acara resepsi pernikahan sang kakak sepupu, Dipta merasa bahwa Sasmita mencoba untuk menghindari serta menjauhi diriya. Terbukti dengan jarangnya perempuan itu membalas pesan yang dia kirimkan atau tidak mengangkat telepon pada jam-jam tertentu dengan alasan sibuk. Hari ini Dipta akan mengonfirmasi dan menanyakan secara langsung kepada Sasmita tentang aksi menjauh yang perempuan itu lakukan karena dia sama sekali tak suka melihat sikap Sasmita tersebut. Paling tidak harus ada alasan masuk akal yang melatarbelakanginya. "Aku tunggu. Jangan terlambat datang. Awas kalau telat," ucap Dipta seakan-akan mengancam. Dengusan Sasmita kali ini tertangkap oleh indera pendengarannya. Dipta pun terkekeh senang. "Aku gak akan datang, Dipta." "Kalau gitu aku yang bakal ke rumah kamu, Sasi. Jangan terus mengindariku. Kalau ada masalah bicarakan. Aku tidak suka kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas," ungkap Dipta kemudian. Raut wajah dan nada bicaranya tetap menunjukkan ketenangan serta berupaya menekan emosinya. Kebisuan menyelimuti mereka berdua namun sambungan telepon di antara mereka masih terhubung. Dipta bungkam tak mengeluarkan kata-katanya walau ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan dan memilih menunggu jawaban perempuan itu. "Aku akan ke rumahmu dua jam lagi," jawab Sasmita setelah beberapa saat diam. "Aku tutup dulu teleponnya. Jangan lupa banyak beristirahat. Aku tidak akan membalas pesanmu. Sekarang kamu sebaiknya tidur. Aku juga tidak suka melihatmu sakit seperti sekarang. Mengerti Dipta Aryasatya?" Sisi kecerewetan perempuan itu muncul seketika. Amarah Dipta berhasil teredam begitu saja karena sebentuk perhatian kecil yang ditunjukkan Sasmita kepadanya. Walau sebatas sebagai seorang sahabat. Namun rasa bahagia memuncah di dadanya. "Cepatlah datang, Sasi," kata Dipta spontan, mengungkapkan kerinduannya. "I'll be there soon." Senyum kembali di wajah Dipta yang tadi sempat lenyap oleh percakapan mereka ketika mendengar balasan dari Sasmita yang semakin memperkuat perasaannya pada perempuan itu. "I will wait you here," balas Dipta. ............ Sasmita tampak keluar dari dalam taksi sambil menenteng satu kantong plastik warna putih yang berisi bubur untuk Dipta. Tadi dia membelinya di sebuah kedai makanan dekat toko bunga. Dan seperti biasa tangan kiri Sasmita memegang tongkat dengan cukup erat sedangkan kakinya bergerak secara perlahan-lahan dan berjalan mendekati pintu gerbang rumah sang sahabat. Perempuan itu terperanjat kaget manakala mendapati Dipta yang sudah berdiri dengan gagah di hadapannya ketika baru saja ia memberhentikan langkah tepat di depan gerbang. Hal pertama yang Sasmita saksikan saat mereka saling bersitatap adalah senyum tulus yang diperlihatkan sang sahabat dengan wajah pucatnya. Sorot mata Dipta tak mengalami perubahan, tetap sama dan kian membuat Sasmita takut. "Lambat 23 menit," ucap sahabatnya itu lalu membukakan pintu gerbang. Alhasil Sasmita pun tertawa kecil melihat tingkah Dipta yang kadang sulit untuk diprediksi. "Tadi aku beli bubur dulu," balas Sasmita sembari mengayunkan kantong plastik yang ia bawa dan menyunggingkan senyumannya. Dipta berdiri dengan jarak kurang dari satu meter di depan Sasmita. Rasa rindu kembali menyeruak dan menyergap Dipta ketika dia memandang setiap inchi wajah polos perempuan itu. Di mata Dipta, sosok Sasmita selalu mampu menghadirkan pesona yang bahkan menimbulkan sensasi sendiri atau gelenyar aneh yang suka menghinggapi dirinya sejak beberapa tahun silam. "Kalau suka terlambat. Mesti dikasih hukuman," kata Dipta seraya berkacak pinggang dan pura-pura mengeluarkan akting marahnya. "Hukuman apa, Dipta?" tanya perempuan itu masih memamerkan senyum terbaik yang bisa diulas saat ini. Kaki Dipta maju satu langkah ke depan. Mempersempit jarak di antara mereka. Tak lama kemudian Sasmita merasakan sentilan tangan sang sahabat di dahinya. Perempuan itu mengaduh pelan namun detik berikutnya senyum sudah kembali di wajahnya dengan indah dan mengakibatkan jantung Dipta berpacu lebih cepat. "Kalau masih suka telat lagi dari janji yang dibuat, hukuman buat kamu akan aku tingkatin, Sasi," ancam Dipta tapi nada bicaranya terdengar bercanda. "Mau disentil berapa kali?" tanggap Sasmita. "Hukumannya lebih dari sentilan," jawab Dipta sambil mendekatkan wajahnya hingga perempuan itu dapat merasakan embusan napas sang sahabat. Namun dengan segera Sasmita menunjukkan reaksinya atas kelakuan Dipta yang tiba-tiba. Dia lantas memundurkan wajahnya tanpa melepas senyuman yang sedari tadi diukirnya. "Kamu belum makan kan, Dipta?" tanya Sasmita berusaha menepis rasa canggung yang entah mendadak hadir di antara mereka. Terlebih ketika wajah sang sahabat menunjukkan raut keseriusan. Dipta hanya menggelengkan kepala sebagai bentuk balasan atas pertanyaan Sasmita. Ada yang tidak biasa pada pertemuannya dengan perempuan itu hari ini. Membentang batasan yang secara tak kasatmata diberikan Sasmita untuknya. "Sasi ap—" "Kalau gitu kita masuk ke dalam. Terus kamu makan bubur yang aku beli," potong perempuan itu. Dipta menghela napas. Dia selalu dapat menebak cara yang digunakan Sasmita guna membelokkan topik pembicaraan. Dipta akhirnya mengalah. Dia menunda pertanyaan yang hendak diajukannya dan mempersilakan Sasmita untuk masuk ke dalam rumahnya. "Kalau bubur yang kamu beli gak enak. Aku enggak akan makan," celoteh Dipta berupaya mengembalikan keadaan. Perempuan itu mengulas senyuman. "Kalau gak makan kamu akan tetep sakit," balasnya terkesan cuek. Kekehan Dipta terdengar. "Dan kalau aku gak sembuh-sembuh, berarti aku enggak bisa kerja sama cari bekal tambahan buat pernikahan kita nanti." "Aish! Menghayal aja terus," dengus Sasmita sedikit kesal. Kali ini Dipta tak menjawab. Dia mengubah posisi yakni berdiri di samping kanan Sasmita. Kemudian membimbing perempuan itu masuk ke dalam rumahnya. ......... Perhatian Sasmita tengah tertuju pada sang sahabat yang tengah duduk di sebelahnya sambil menyantap bubur yang tadi dia belikan dengan lahap. Entahlah, Sasmita selalu menyukai gaya dan ekspresi khas yang ditunjukkan sang sahabat ketika sedang makan. Sebenarnya bisa saja dia menganggap Dipta lebih dari sekadar sahabat. Ya melihat pria itu sebagai seseorang yang mencintainya dengan tulus atau bahkan membalas perasaan Dipta. Namun saat mengingat janjinya pada Tante Rika, keberanian Sasmita sirna sudah. Digantikan dengan setumpuk keraguan dan juga kekhawatiran terutama menyangkut efek yang akan diterima sang sahabat. "Begong lagi?" kentara Dipta. Sasmita seketika terkejut. Apalagi saat telapak tangan pria itu menyentuh pipi kanannya. "Enggak kok," kilah Sasmita sembari memaksa menyunggingkan sebuah senyuman sebagai bukti. Dipta kemudian menghentikan kegiatan makannya. Nafsu makan hilang begitu saja saat melihat pancaran mata Sasmita yang seakan meredup. Dipta yakin ada sesuatu hal yang tengah disembunyikan darinya. Sasmita berusaha tetap menunjukkan sikap tenang agar sang sahabat tak semakin menaruh kecurigaan. "Abisin bubur kamu," ucapnya memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat. "Udah kenyang," jawab Dipta. Tak tampak senyuman di wajah pria itu. Dan hal tersebut semakin membuat Sasmita takut. "Sekarang minum obat kamu. Terus istirahat. Jam 5 aku mesti pulang." Terdengar helaan napas Dipta tepat setelah Sasmita mengeluarkan kata-katanya. Hanya dua manik milik Dipta yang tetap setia menatap dalam mata perempuan itu seolah-olah ingin menemukan keganjilan yang sengaja disembunyikan Sasmita. "Aku akan anterin kamu pulang nanti, Sasi," balas Dipta dengan nada datar yang sebenarnya sangat jarang dia perlihatkan. Paling hanya disaat tertentu saja, misalkan ketika marah atau unmood. Tampak Sasmita menggelengkan kepalanya tanda menolak tawaran sang sahabat. Suasana canggung pun masih terasa di antara mereka berdua. "Aku bisa pulang sendiri, numpang taksi. Badan kamu masih anget. Cepet minum obat trus istirahat. Jangan cari angin." Tangan kanan Sasmita terulur ke depan lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Dipta guna mengecek suhu tubuh sahabatnya itu. Dipta pun hanyut dengan sikap hangat yang Sasmita pertontonkan dan lagi-lagi dia luluh. Senyum di wajah Sasmita tetap mengembang indah dan terlihat lebih natural karena mulai bisa rileks berhadapan dengan Dipta. "Ya udah kalau gak mau dianter pulang, kamu nginep di sini. Rawat sahabat kamu yang lagi sakit ini, Sasi." Guyonan Dipta sukses menciptakan tawa Sasmita. "Haha pengen banget kamu dirawat ya, Dipta? Harusnya kamu minta sama suster bukan aku," tanggap perempuan itu disela tawanya. "Haha. Tapi aku mau kamu yang ngerawat, Sasi," kekeh Dipta. Mereka tengah saling bersitatap satu sama lain. "Aku bukan perawat." Kedua tangan Dipta kini sudah berada masing-masing di bahu kanan dan kiri Sasmita. Tatapan mata Dipta mengarah jauh ke dalam manik cokelat perempuan itu berupaya menelisik atau sekadar tahu bagaimana perasaan Sasmita. "Kalau gak mau jadi perawat. Gimana jadi istri Dipta Aryasatya aja, Sasi?" tawar Dipta sarat akan keseriusan. Baik melalui nada bicara maupun sorot matanya. Tubuh Sasmita sedikit menegang. Dia melepas kontak mata yang terjadi di antara mereka beberapa detik guna menetralkan perasaan yang mulai berkecambuk dengan liarnya hanya karena ucapan sang sahabat. "Aku paha—" Perkataan Sasmita tiba-tiba saja terpotong karena Dipta sudah menarik pinggangnya dan menempelkan bibir mereka berdua. Bola mata perempuan itu melebar dengan sempurna karena kaget bukan main akibat tindakan sang sahabat yang tidak pernah dia duga atau pikirkan. Sasmita hanya bisa diam mematung. Sementara itu Dipta memejamkan kedua mata. Detak jantungnya seolah-olah berpacu lebih cepat. Entah bagaimana awalnya hingga dia menarik pinggang dan tengkuk Sasmita lalu menyatukan bibir mereka. Setelah 10 detik berada dalam suasana yang lumayan intim. Akhirnya Dipta melepas ciuman antara ia dan Sasmita. Kemudian dia membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Mendekap Sasmita begitu erat, menyalurkan perasaan yang sudah lama bersarang di hatinya. "Aku mencintaimu, Sasi. Jangan terus menjauhiku seperti ini. Aku tersiksa," ucap Dipta lirih. Dia semakin mengencangkan pelukannya. Sasmita masih mematung dan menerima perlakuan sang sahabat begitu saja. Rasa sesak mulai menyerang. Sasmita bingung dan tak tahu harus menghentikan perasaan sahabatnya yang kian membuat ia bimbang. Dia takut menyakiti Dipta. Lagi-lagi hening dan kebisuan tercipta di antara mereka untuk beberapa menit dan larut dalam pikiran serta perasaan masing-masing. Dipta pun diam namun terus mendekap Sasmita erat seakan-akan tidak berniat sedikitpun jauh atau melepaskan dari perempuan itu. "Aku akan menikah dengan Radika, Dipta," beri tahu Sasmita. Cara inilah yang menurutnya paling ampuh untuk digunakan sekarang. Dipta sontak melepas pelukannya dan mencengkram kedua bahu perempuan itu. Ekspresi keterkejutan tampak jelas Dipta tunjukkan, baik lewat raut wajah maupun sorot matanya. Dan hal tersebut kian menumbuhkan rasa bersalah dalam diri Sasmita. "Me..menikah? Radika?" ulang Dipta tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Iya. Aku akan menikah dengan Radika sebulan lagi," Sasmita mengimbuhkan dua kata untuk menekankan kalimat yang menunjukkan pernyataan tersebut. Rahang wajah Dipta tiba-tiba saja mengetat. Tatapannya yang tadi teduh pun berubah. Ada kilatan amarah di dalam manik Dipta kini. Apalagi saat nama seseorang yang sejak dulu memang tidak memiliki hubungan baik dengannya disebutkan oleh Sasmita. "Lelucon macam apa ini, Sasi?! Menikah dengan Radika?!" Nada sinis menyertai kata demi kata yang dilontarkan Dipta. Amarahnya kian terlihat menyeruak. "Kami sudah berpacaran 4 bulan belakangan ini. Dia melamarku. Kami memutuskan untuk segera meresmikan hubungan kami ke jenjang pernikahan." Sasmita sengaja mengeluarkan sandiwara untuk membuat sang sahabat percaya. Ekspresi datar seakan tak bersalah juga dipertontonkan Sasmita. Berbeda jauh dengan apa yang tengah bergejolak dan berkecambuk dengan liar di dadanya. "s**t!" umpat Dipta dikuasai kemarahan. Kedua tangan pria itu mengepal kuat. Sedangkan Sasmita masih memasang raut wajah tanpa ekspresinya ketika tatapan tajam sang sahabat yang mengarah padanya. Sasmita lihai menutupi perasaan dia yang sesungguhnya. "Kenapa kamu berbohong, Sasi? Kenapa kamu menyembunyikan hubungan kalian? Apa kamu sengaja?" Bertubi-tubi pertanyaan dilayangkan Dipta. "Radika yang memintaku merahasiakan hubungan kami sementara waktu karena suatu alasan," Sasmita terus melanjutkan aksi yang sarat akan kebohongan tersebut. "s**t!" umpat Dipta untuk kedua kalinya. Amarah pria itu kian tak terkendali. Rasa panas menjalar dengan cepat di rongga dadanya saat mengetahui kebenaran yang diutarakan Sasmita. Hening menyelimuti mereka kembali. Saling diam namun tetap memandang satu sama lain. Kali ini Dipta enggan memahami sorot mata Sasmita, dia hanya terfokus untuk melayangkan tatapan tajamnya yang penuh selidik dan memancarkan kemarahan. Tapi Sasmita bisa merasakan ada kekecewaan yang mendalam di manik sang sahabat. "Ckck alasan?" decak Dipta tidak suka. Sasmita bungkam tak segera menjawab. Kontak mata mereka lantas diputus oleh Dipta. Pria itu bangkit dari sofa lalu mengambil posisi berdiri. Kedua tangannya masih setia mengepal. "Kenapa, Sasi? Kenapa kamu harus berbohong selama ini?! Kenapa kamu malah membuatku terus berharap?" Dipta menghela napas kasar sebelum melanjutkan kata-katanya. "Apa kamu sengaja? Bukankah aku terlihat seperti pria bodoh yang terus menggharapkan cinta pada seorang wanita yang bahkan akan segera menikah dengan pria lain?" nada sinis tersirat dalam setiap untaian kata yang melesat dari mulut Dipta. Tatapan nanar pria itu mengarah lurus ke depan. Tak ada niatan untuk beradu pandang dengan perempuan yang sudah sangat berhasil meremukkan hatinya. Di tempat yang sama. Sasmita terus berusaha mengendalikan diri agar benteng pertahanan yang dia telah bangun jauh-jauh hari roboh begitu saja di hadapan sang sahabat. Sasmita menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa untuk mengisi atau paling tidak mengurangi rasa sesak dan bersalah yang saling mendominasi dadanya. Tak ada jawaban yang ingin Sasmita keluarkan sebagai bentuk penjelasan maupun pembelaan. Lidah Sasmita terasa kaku dan bibirnya terkatup rapat. Kebisuan mengisi atmosfer yang mulai tak enak dan canggung di antara mereka berdua. Membicarakan serta membahas mengenai sebuah perasaan terkadang memang rumit dan agak sensitif. Begitu juga yang tengah melanda dua sosok berbeda gender yang sudah cukup lama saling mengena bahkan menjadi sahabat. Dipta masih berdiri dengan posisi tegap. Kedua tangannya mengepal. Deru napas pria itu terdengar naik-turun, tidak stabil akibat mencoba meredam amarah sekaligus rasa sakit yang menghantam secara bersamaan. Namun kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Sasmita benar-benar mampu menimbulkan panas seketika di dadanya. Terlalu mendadak, tapi kenyataan yang ada memang harus dia ketahui. Seberapapun Dipta ingin mendengar fakta tersebut. "Maafkan aku." Suara lembut milik Sasmita menyapa gendang telinga Dipta. Dan langsung memberi rasa sakit yang tidak bisa dia gambarkan. "Maaf atas kebohonganku selama ini. Ak..aku salah, Dipta. Maafkan aku. Maaf." Dipta tahu di dalam nada suara perempuan itu terdapat penyesalan yang teramat besar. Detik berikutnya hal tersebut berhasil membuat pertahanan Dipta goyah. Akan tetapi mengingat kekecewaan yang masih hangat terhadap kebohongan yang dilakukan perempuan itu mencegahnya. Di satu sisi, Sasmita yang merasa tidak memperoleh respon apapun dari sang sahabat kemudian memilih diam. Namun sesekali dia mendongakkan kepala guna memandang Dipta yang berdiri di sampingnya dengan tubuh tegap. "Kamu gak salah, Sasi. Tapi akulah yang terlalu berharap lebih. Seharusnya aku sadar kalau perasaan kamu tetap ada untuk Radika. Kamu cuma menganggapku sebagai seorang sahabat kan? Bukan seorang pria? Selain Radika?" Pertanyaan bernadakan miris dan juga sinis yang diajukan sang sahabat kini semakin mengguncang dinding pertahanan yang dibuat oleh Sasmita. "Persahabatan yang nanti berubah menjadi cinta tidak bisa kembali seperti sedia kala. Akan ada yang berbeda di antara kita Dan kalau menganggap dirimu hanya sebagai seorang sahabat dapat membuatmu tetap berada di sisiku dan tidak berubah. Maka aku akan mengambil prinsip itu tanpa sedikitpun keraguan." Sasmita sadar sederetan kalimat-kalimat yang keluar sebagai wujud penjelasan tak dapat membantu banyak untuk memberi pemahaman kepada sahabatnya itu. "Omong kosong, Sasi!" Kali ini Dipta membalikkan badan ke kiri dan mengarahkan pandangan matanya tepat ke dalam manik cokelat Sasmita. Alhasil tatapan mereka berdua bertabrakan. Perasaan aneh pun sukses menciptakan sensasi menyesakkan dan berkecambuk di d**a masing-masing. "Apa kamu tahu, Sasi? Kalau aku cuma menganggapmu sebagai sahabat, aku tidak bisa memilikimu," ucap Dipta dengan nada pelan namun mampu menimbulkan tusukan tajam di hati Sasmita tatkala mendengarnya. "Cinta tak harus memiliki, Dipta," sahut perempuan itu cepat. Suara Sasmita lembut namun terkesan dingin. Saat saling menatap seperti sekarang. Sorot mata Dipta tidak dapat menampakkan kebohongan secuil pun. Sasmita sadar jika perkataannya barusan menambah luka yang dipancarkan Dipta secara nyata ketika mereka berdua bersitatap. "Ckck. Kamu benar, Sasi. Cinta memang tidak harus memiliki. Apalagi perempuan yang aku dicintai masih mencintai pria lain. Aku juga tidak bisa memaksa dia untuk balik mencintaiku." "Ya setidaknya aku akan belajarbmenerima kalau dia gak akan pernah memberi balasan perasaan yang sama. Tapi saat tahu dia berbohong. Aku sangat kecewa. Kalau dia memang menganggapku sebagai salah satu seseorang yang berarti untuknya. Bukankah dia harus jujur? Tidak menyembunyi—" "Cukup, Dipta!" seru Sasmita tak tahan lagi. Dia segera menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Namun apa daya benteng kokoh yang sedari tadi dia coba pertahannkan dalam sekejap hancur oleh ucapan bernada getir yang diluncurkan sahabatnya itu. Apa yang dikatakan Dipta, benar adanya. Sasmita memang menyembunyikan beberapa hal penting yang masuk ke dalam zona privasi. Dia tidak ingin Dipta mengetahui atau membongkar fakta-fakta yang sengaja dia samarkan lewat kebohongan berlapis, termasuk perjanjiannya dengan Radika serta janji yang dia buat bersama Ibu Rika. Tangis Sasmita pecah. Air mata mulai membasahi kedua pipi perempuan itu. Sasmita tidak menyukai cairan bening tersebut keluar tanpa permisi dari matanya. Rasa sesak yang mendera mengalahkan dan melunturkan keberanian untuk melawan kerapuhan yang terus-menerus Sasmita tanamkan dalam hatinya. Tubuh Dipta menegang ketika melihat bahu Sasmita bergetar. Tetesan demi tetesan air mata yang tampak mengalir turun dari tangan perempuan itu seketika mengakibatkan perasaan bersalah mendominasi dadanya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Dipta mendudukkan diri di sebelah Sasmita. Kemudian menarik perempuan itu ke dalam dekapan hangatnya, memeluk erat. Tak ada perlawanan yang ditunjukkan Sasmita, tangis perempuan itu malah kian mengeras. Tangan kanan Dipta terangat guna membelai rambut Sasmita menyalurkan afeksinya sebagai seorang sahabat. Sedangkan kepala Sasmita terbenam di bahunya Air mata perempuan itu masih mengalir dan berefek pada bajunya yang terasa basah. "Menangislah," ujar Dipta pelan. Hanya ada kelembutan di dalamnya. Jauh berbeda dari yang tadi dia lontarkan. "Ma...maafkan aku. Ma...maafkan aku, Dipta." ucap Sasmia disela isakannya. Yang dia peroleh bukan jawaban namun dekapan sang sahabat yang kian erat. Dipta memejamkan sejenak matanya. Melupakan perasaan cinta yang sudah bertahun-tahun terjaga di hatinya tidaklah mudah seperti dia bayangkan sendiri. Akan tetapi Dipta tak ingin bersikap egois dan menyalahkan atau menyudutkan Sasmita semata-mata karena perasaannya. Rasa sakit memang salah satu konsekuensi yang harus dia tanggung karena memilih menaruh perasaan pada perempuan yang bahkan menganggapnya tidak lebih dari sekadar sahabat. Kepala Dipta mulai berdenyut. Bahkan sekadar menukar karbondioksida dengan oksigen pun terasa cukup berat. Dia menutup kelopak matanya rapat-rapat barang sejenak. Hanya isakkan Sasmita yang terdengar dan mengisi suasana sunyi nan senyap yang melanda mereka. "Kamu tidak salah, Sasi." Dipta lantas membuka kedua matanya. "Lupakan masalah ini. Kamu tidak salah, Sasi. Dan hal apapun yang dapat membuatmu bahagia, maka aku akan turut serta bahagia." .............. Sebuah pelukan hangat dari Ibu Sri menyambut kedatangan Sasmita di kediaman orangtua Radika. Perempuan itu tanpa ragu membalas dekapan yang berhasil menyebarkan rasa hangat di dadanya tersebut. Sudah lama sekali rasanya dia tidak memperoleh pelukan seperti ini. Terbesit kerinduan yang kini menyergap dirinya. Benar, Sasmita merindukan kehadiran seorang ibu. Dia ingin tahu dan merasakan bagaimana kasih sayang, perhatian dan ketulusan dari ibu kandungnya sendiri. Namun hal tersebut hanya angan-angan belaka bagi Sasmita karena dia tidak akan pernah dapat merasakan semua di dunia nyata. Beberapa jam pasca melahirkan anak cacat seperti dirinya, ibu Sasmita mengembuskan napas terakhir akibat pendarahan yang mengakibatkan beliau kritis dan dirawat intensif di ruang ICU. Sejak saat itulah Sasmita tumbuh tanpa adanya kehadiran seorang ibu. Hampir seluruh anggota keluarga diselimuti kehilangan yang mendalam, terlebih Arsa. Dan sebagai ganti atas rasa luka karena kehilangan sosok ibu yang begitu dia sayangi. Arsa mulai menyalahi dan membenci sang adik hingga sekarang. "Apa kabar, Nak?"suara lembut milik Bu Sri membawa kesadaran Sasmita kembali dari lamunan masa lalunya. Mereka berdua plus Radika—minus ayah dan adik bungsu Radika—sedang duduk lesehan di gazebo khas Bali yang ada di pekarangan rumah tersebut. Tangan kanan Ibu Sri terulur guna mengelus helaian rambut calon menantunya dengan kasih sayang. "Sehat, Tante," jawab Sasmita sambil menyunggingkan senyum terbaik yang bisa ia perlihatkan. "Tante? Dulu kan manggilnya Ibu, Nak," ingat beliau. Ketika masih menjalin hubungan dengan Radika dan berkunjung ke rumahnya. Ibu Sri selalu meminta pada Sasmita untuk memanggil beliau dengan sebutan ibu. Apalagi saat beliau mengetahui bahwa kedua orangtua Sasmita telah meninggal dunia. Bu Sri pun tak sungkan lagi dan bahkan sudah menganggap pacar dari sang anak seperti putri kandungnya sendiri. Rasa bahagia seketika menghampiri Bu Sri saat sang anak memberi tahu bahwa akan menikahi seorang gadis yang pernah merajut kasih dengan putranya itu semasa SMA. "Maaf Ibu, aku lupa," kilah Sasmita kemudian. Dia sebenarnya tidak lupa melainkan cukup canggung bertemu Bu Sri setelah sekian tahun. Rasa takut akan perubahan sikap yang ditunjukkan beliau tiba-tiba menghantui dirinya. Tapi ternyata semua tetap sama, kasih sayang dan ketulusan Bu Sri yang apa adanya masih bisa dirasakan Sasmita dengan segenap kekosongan yang senantiasa melingkupi hatinya. "Tidak apa-apa, Nak. Ibu mengerti." Kini tangan Ibu Sri berpindah ke pipi Sasmita, menangkup kedua pipi tirus gadis yang tampak kesepian, terluka dan rapuh di mata beliau itu. Naluri dan perasaan sebagai seorang ibu yang dirasakan Bu sri tak dapat dibohongi meski Sasmita memamerkan senyum selebar-lebarnya untuk menyiasati bahkan menutupi perasaan dia yang sesungguhnya. "Ibu senang dapat berjumpa lagi denganmu, Nak. Ibu sudah tahu perihal rencana pernikahan kalian. Jadilah menantu Ibu," minta beliau dengan nada yang terdengar tulus di telinga Sasmita. Perempuan itu menganggukkan kepalanya pelan dan mematri sebuah senyuman hangat untuk calon ibu mertuanya. Namun sesuatu yang berbeda dan berlawanan malah mulai menggerogoti d**a Sasmita. Rasa sesak pun melebur bersama dengan rasa bersalah menggelayuti hati perempuan itu. Seandainya saja Ibu Sri mengetahui alasan utama di balik pernikahan yang mereka dilakukan semata-mata karena hutang dan bisnis. Apakah masih tersimpan kehangatan dari Ibu Sri yang bisa dirasakannya kelak jika semua terbongkar? ................... Radika hanya memilih diam serta menyaksikan bagaimana interaksi sang ibu dengan Sasmita yang tampak natural, sama seperti beberapa tahun yang lalu. Perasaan damai sukses tercipta dan memenuhi hampir seluruh rongga-rongga di d**a Radika, bahkan hingga lubang terkecil sekalipun. Bahkan tak sadar, lengkungan tipis tercetak di kedua sudut bibir Radika karena tenggelam dalam senyum yang disajikan dua orang wanita di depannya. Barang sejenak Radika dapat melupakan masalah yang tengah dipikulnya dan juga rencana pernikahan bisnis yang masih suka memunculkan keraguannya. "Iya, Bu." Jawaban Sasmita tersebut seketika menimbulkan rasa tak enak bagi Radika. Walau senyuman tulus terpotret di wajah perempuan itu namun pancaran mata Sasmita menyiratkan hal yang berlawanan. Tapi bodohnya Radika tak dapat menebak dan mengartikan makna yang terpendam dalam sorot mata yang dipertunjukkan Sasmita kali ini. Pandangan Ibu Sri kini terarah ke putra sulungnya. Dengan spontan Radika pun mengeluarkan senyuman hangat pada sang ibu. Dan tanpa sengaja matanya dan manik cokelat Sasmita saling bertubrukan. Sensasi aneh mulai menjalar ke seluruh tubuh pria itu. "Ayo, kapan kalian mau menikah? Ada Dewasa Ayu (hari baik) untuk melangsungkan pernikahan dua minggu lagi. " Bu Sri tampak bersemangat. Radika menggeser posisi duduknya mendekati sang ibu sedangkan kontak mata yang tadi sempat terjadi sudah terputus, lebih tepatnya Sasmita yang sengaja mengalihkan pandangan ke sudut lain. "Aku rasa Ibu dan Bapak lebih tahu. Tapi jika ada Dewasa Ayu yang mendekati rencana awal yang aku buat. Kita laksanakan saja pernikahan ini, Bu," Radika memberi tanggapan. Senyum bahagia menghiasi wajah Bu Sri setelah mendengar jawaban sang putra. Sedangkan tanpa ada yang menyadari tubuh Sasmita membeku di tempat. "Bagaimana, Nak? Apakah siap?" tanya Bu Sri pada calon menantunya. Belum sempat Sasmita menjawab, tiba-tiba saja perempuan itu sudah dikagetkan oleh sentuhan tangan kanan Radika di punggung tangan tangannya. Alhasil mata mereka berdua saling bersinggungan kembali. "Kamu siap dan bersedia menikah denganku dua minggu lagi, Sasmi?" Giliran Radika yang melayangkan pertanyaan serupa akan tetapi nada bicaranya berbeda dari yang biasa dia tunjukkan. Tatapan tajam pria itu juga lenyap dan digantikan sorot yang memancarkan keteduhan sekaligus kelembutan secara bersamaan. Momen ini pun membawa serta menyeret Sasmita ke masa lalu. Namun dengan segera ditepisnya memori-memori tersebut. Sasmita terlihat menghirup oksigen sebanyak mungkin guna menetralkan perasaan yang mulai berkecambuk di dadanya. "Iya, aku siap Radi," balas perempuan itu beberapa detik kemudian. Lengkungan yang sedikit melebar tercetak di ujung-ujung bibir Radika sambil menatap lekat kedua manik Sasmita dan tanpa sadar dia menggenggam tangan perempuan itu. "Terima kasih," ucap Radika dengan segenap ketulusannya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN