12

4514 Kata
Sasmita menghentikan sejenak kegiatannya memotong-motong sayuran untuk bahan sup, ketika mendengar pemberitahuan dari sang mertua perihal kepulangan Radika, suaminya. Lembaran demi lembaran memori acara pernikahan mereka sekitar satu bulan lalu berhasil mengganggu konsentrasinya. Mengakibatkan Sasmita larut dalam pikirannya sendiri. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Sasmita segera berhasil kembali mendapatkan kesadarannya yang tadi sempat teralihkan oleh sosok Radika dalam ingatan memorinya secara spontan. “Radi pulang hari ini?”  Dengan mempersembahkan senyuman yang cukup merekah kepada sang ibu mertua. Sasmita seolah-olah telah memberi isyarat bahwa dia pun merasa senang akan kepulangan suaminya dari luar kota. Walau, jauh di lubuk hatinya, Sasmita diburu oleh kekhawatiran yang nyata mengenai kehidupan pernikahan mereka.  Terutama, ketika dia harus mengenakan topeng di hadapan sang ibu mertua. Memerankan akting dengan apik sebagai istri yang baik untuk Radika. Dan juga memerlihatkan bahwa kehidupan rumah tangga yang dia bangun bersama pria itu memang didasari oleh cinta, bukan maksud lain di dalamnya. “Jadi, nanti kamu harus pulang cepat ya, Nak,” pesan Ibu Sri bersemangat. Senyum yang sarat akan ketulusan dan kasih sayang seorang ibu pun tanpa sungkan beliau tunjukkan. Sasmita mengangguk beberapa kali dengan gerakan cepat. “Iya, Bu.” “Kalau tidak Ibu paksa. Dia pasti betah di sana,” cerita Ibu Sri masih disertai semangat yang belum padam. Binaran bahagia pun terlihat jelas dalam kedua mata beliau pun turut menjadi pendukung. Sudut-sudut bibir Sasmita terus tertarik guna terbentuknya kuluman senyum. Tidak tampak ada kebohongan dalam ekspresi Sasmita itu. Paling tidak, segala sesuatu yang dilakukannya bukan tercipta karena dia mahir menggunakan topeng dan aktinya dengan benar. Melainkan, dorongan naluriah dari hati kecilnya yang mampu melahirkan semua itu.  “Mungkin di sana Radika masih punya pekerjaan, Bu.” Kini tawa kecil Ibu Sri yang lolos keluar dan melengkapi suasana hangat yang memang sudah begitu kental terasa. Sasmita tak menampik jika dia nyaman. Terlebih ketika dirinya memperoleh kasih sayang tulus seorang ibu yang belum pernah dicicipinya. “Kalau Dika tidak diingatkan. Dia enggak akan berhenti bekerja, Nak. Dan juga tidak memiliki waktu yang banyak untuk kumpul bersama keluarga.” “Mungkin Radi cuma ingin bersikap profesional, Bu. Bertanggung jawab sama pekerjaan.” Sasmita mengutarakan pendapatnya. Ibu Sri yang sedari tadi berdiri di depan kompor, melangkah perlahan menuju meja makan. Mendekat ke arah menantu kesayangannya yang sedang duduk di salah satu kursi kayu. “Dika sudah dua minggu di Surabaya.Memangnya kamu tidak kangen dengan putra Ibu, Nak?” Ibu Sri tanpa malu-malu menggoda sang menantu. Dan pertanyaan tersebut sukses menimbulkan cubitan dalam hati Sasmita. Tentu pertanyaan serupa juga ingin dia tanyakan pada dirinya sendiri.  Apakah dia merindukan Radika?  “Masa sama suami sendiri enggak kangen? Kalian ‘kan pengantin baru. Harusnya saling kangen.” Ibu Sri terus menggencarkan godaan pada menantunya itu. Sasmita terlihat kikuk. Namun, pada akhirnya dia memilih menganggukkan kepala. Walau, dengan gerakan yang sebenarnya kaku. “Nah, kalau gitu. Kamu harus bujuk Dika untuk liburan ya, Nak. Lagian, kalian belum bulan madu ‘kan?” Kedua bola Sasmita melebar selepas pertanyaan dari sang ibu mertua berhasil dicernanya dengan baik. Napas Sasmita seperti tertahan di d**a. Sementara, Ibu Sri menyadari perubahan ekspresi menantunya. Tawa kecil kembali diluncurkan beliau. “Ibu ingin segera menimang cucu. Biar rumah ramai juga.” ……………. Radika menyesap teh hangat yang kurang dari semenit disajikan oleh seorang pelayan restauran, di hotel tempatnya menginap selama tiga hari belakangan ini. Tangan kanan Radika masih memegang cangkir berisi teh. Sementara itu, tangan kirinya sibuk membolak-balikkan lembar demi lembar kertas dokumen yang sedang dibacanya dengan raut wajah serius seperti biasa. Meski waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, Radika sudah terlihat rapi dan gagah mengenakan kemeja lengan panjang non motif berwarna dark blue tanpa dasi, kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka begitu saja. Celana hitam panjang jenis Chino serta sebuah arloji ber-merk yang melingkar sempurna di tangan kirinya pun menjadi pilihan Radika untuk melengkapi penampilannya hari ini. “Jam berapa jadwal pertemuan dengan mereka?” tanya seorang pria secara tiba-tiba. Pria itu lantas mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Radika. “Dua jam lagi.” “Kalau tau gitu mending gue lanjutin tidur aja tadi,” tanggap pria itu setengah kesal. Sedangkan, kedua tangannya sibuk membenarkan letak dasinya yang sedikit tak beraturan. Radika terus memusatkan konsentrasinya pada lembaran-lembaran dokumen yang masih dipegangnya. Tinggal tersisa empat halaman lagi yang belum diperiksa secara mendetail guna memastikan tak ada kesalahan terjadi.  “Serius tiket buat balik udah lo pesan, Rad?” Pria itu berniat memastikan. Fokus Radika sejenak berhasil teralihkan oleh pertanyaan yang ditujukan padanya. Dia hanya mengganggukkan kepala sebagai bentuk balasan. Detik berikutnya, Radika telah kembali mendapatkan konsentrasinya dan melanjutkan memeriksa dengan jeli setiap data yang tersaji di salah satu halaman dokumen. Sedangkan, pria itu tampak tak suka akan jawaban mutlak yang diberikan oleh Radika. Pasalnya dia ingin menghabiskan waktu barang sehari saja tanpa ada embel-embel tender atau proyek di dalamnya. Tapi, keinginan kadang tak sejalan dengan tanggung jawab yang mesti dipikulnya. “Lo cancel jadwal kepulangan kita sampai besok. Malam ini pemilik Gita Grup ngundang kita buat party bareng.” “Sorry, gue nggak bisa ikut. Lo aja yang hadir ke pesta itu. Gue mesti balik hari ini juga,” tolak Radika dengan nada datar khas yang dia miliki.  “Buru-buru banget, lo. Oh iya, gue lupa sekarang lo udah punya istri yang nunggu di rumah. Jadi bawaannya pengen pulang terus ya, Rad?” Wira tak mampu menyembunyikan ekspresi di wajahnya yang seolah-olah menggambarkan rasa penasaran dengan tingkat lumayan tinggi tersebut. Ini merupakan salah satu yang kerap dia gunakan untuk melemparkan godaan pada Radika. “Nyokap terus nanya kapan gue bakal balik dari luar kota,” beri tahu Radika guna menjawab kecurigaan tak mendasar yang dilemparkan kepadanya. Namun, sorot mata yang Radika persembahkan untuk sang sahabat karib sekarang terlihat lebih tajam hanya karena pertanyaan pria itu yang sedikit membuatnya tak nyaman. Wira mengangguk paham seakan bisa menerima alasan Radika. Tetapi, seringaian nakal malah tercipta di wajahnya. Dia masih berniat menggoda Radika. “Gue kirain lo cepat-cepat pengin balik karena rindu Sasmita.” Radika malas membalas ucapan sang sahabat yang hanya akan memberikan efek pada perubahan emosinya secara signifikan. Dia tak ingin terpancing begitu saja.  “Lo masih pengin melanjutkan misi ini ‘kan, Rad?” Raut wajah Wira mendadak berubah menjadi serius dan membuat perhatian Radika seketika tertuju ke arahnya. “Keinginan gue untuk menghancurkan Arsa belum berubah.” “Dan terus mengingkari perasaan lo buat Sasmita?” Wira memancing dengan pertanyaan tersebut. Tatapan Radika menajam. Namun, tak keluar satu patah kata pun dari mulutnya sebagai tanda balasan. Ia enggan menjawab karena tahu hanya akan jadi bahan guyonan. Radika tahu niatan Wira. ………………… PLAK! Satu tamparan keras yang mendarat di pipi kiri Sasmita seakan-akan menjadi tolak ukur nyata dari kemarahan yang sedang bergelut dalam diri kakak sulungnya itu. Walau, bekas warna kemerahan akibat tamparan sang kakak masih tampak di pipinya, Sasmita tidak merasakan sakit yang terlalu berarti. Akan tetapi, di hatinya timbul sensasi rasa perih tak tertahankan. Begitu juga, dengan dadanya yang terasa semakin menyesak hingga membuat Sasmita cukup sulit untuk menghirup oksigen. Sasmita berbohong jika dia menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja setelah terlibat perdebatan sengit dengan kakak sulungnya, Arsa. Namun, semua hanya akan semakin memburuk jika Sasmita lepas kontrol atau hingga meneteskan air mata di hadapan sang kakak yang memang menaruh rasa benci teramat dalam padanya itu.  Jadi, Sasmita memilih untuk tetap bergeming dan memasang ekspresi datar ketika tatapan tajam penuh amarah yang ditujukan sang kakak untuknya. Sasmita mencoba bersikap tenang. Walau, tidak demikian dengan pergejolakan yang mulai menyandera dirinya. “Sekarang kamu sudah pintar melawan perintah Kakak!” Arsa memberikan tekanan pada setiap kata-katanya. Dia semakin terbakar oleh emosi dan amarah. Tak ada balasan dari Sasmita. Namun, perempuan itu juha tidak gentar ketika harus saling beradu pandang dengan Arsa. Rasa takut Sasmita pada sang kakak telah lama memudar atau bahkan lenyap seiring berjalannya waktu dan perdebatan sengit yang memang kerap kali mengguncang ikatan persaudaraan mereka.  Arsa tetap memelihara kebenciannya untuk Sasmita guna melampiaskan rasa kehilangan akan sosok sang ibu yang belum mampu dia ikhlaskan. Sementara, Sasmita kian merasa muak dengan tingkah kakaknya yang kasar. Mungkin dulu dia masih dapat mengendalikan diri dan memupuk kesabaran yang besar. Akan tetapi, Sasmita akhirnya sadar bahwa membiarkan sang kakak terus bersikap semena-mena tidak mengubah apa pun.  “Apa bocah tengik itu yang sudah berhasil memengaruhimu untuk berani melawan Kakak, Sasmita?” tanya Arsa dengan nada sinis. Tatapan sarat intimidasi dipertontonkannya. Sasmita meremas pinggiran sofa yang didudukinya. Dia masih mengatupkan bibir rapat-rapat. Duduk dengan posisi bahu sedikit menegang. Tetapi, kilatan-kilatan yang menandakan kemuakkan terlihat jelas pada sorot mata perempuan itu.  “Begitukah, Dik?” Arsa semakin mendesak dan akan terus melakukannya, sampai jawaban yang dia inginkan meluncur dari mulut Sasmita. “Semua tidak ada sangkut pautnya dengan Radika,” ucap perempuan itu menegaskan. Decakan tak suka dikumandangkan Arsa sedetik kemudian. “Ckck. Benarkah? Kakak tidak percaya.” “Setelah kalian terlibat dalam pernikahan palsu ini. Kakak rasa peluang untuk terulangnya kisah cinta monyet s****n kalian akan semakin terbuka lebar,” lanjut Arsa dibarengi oleh senyum sinis yang tercipta di salah satu sudut bibirnya. “Tidak akan semudah itu,” balas Sasmita dengan nada datar. Mereka masih melemparkan tatapan tajam untuk satu sama lain. “Ckck. Kalau begitu, bagaimana jika kamu membantu Kakak saja, Dik?” “Ah, tidak. Kamu harus membantu Kakak.” Dari kata-kata yang dia lontarkan. Jelas, Arsa menginginkan Sasmita untuk menuruti perintahnya secara paksa. “Kita buat bocah tengik itu jera,” bisik Arsa di telinga kiri sang adik.  Sementara, tubuh Sasmita seketika menegang karena ucapan kakak sulungnya. Kebencian dalam sorot mata sang kakak begitu nyata. Membuat Sasmita bergidik. Namun, berupaya keras untuk dirinya tak tunjukkan. Ia enggan memerlihatkan rasa takut. ………………….. Radika sedang merebahkan sejenak tubuh lelahnya di gazebo khas Bali yang terletak di pekarangan rumah. Baru sekitar satu jam lalu, dia tiba di kediaman orangtuanya ini. Dia dan Sasmita menetap di sini sejak mereka telah resmi menikah. Sesuai agenda yang telah disusun. Radika langsung mengambil jadwal penerbangan setelah pertemuan dengan klien selesai. Sedangkan, Wira sendiri masih berada di Surabaya guna menghadiri undangan rekan bisnis mereka.   Senyum tipis terbingkai di wajah Radika tatkala mendapati jari-jari tangan sang ibu mengusap lembut rambutnya. Perasaan hangat menyelinap masuk ke d**a Radika serta menciptakan kedamaian yang terkadang sulit untuk didefinisikan. “Istirahat di kamar. Jangan di sini, Nak.” Dengan mata yang masih terpejam. Radika merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Perasaan damai sangat ampuh mengusir sejenak beban serta gejolak-gejolak tak menentu yang membelenggu dirinya. “Aku tidak mengantuk, Bu.” Senyum simpul terlukis di wajah Bu Sri yang mulai mengiriput seiring bertambahnya usia. Jemari-jemari tangan beliau terus menyisir rambut Radika ke belakang dengan gerakan lembut. “Urusan kerja di Surabaya sudah selesai semua, Nak?”  Radika tampak mengangguk pelan dalam pangkuan Bu Sri. Dia begitu menikmati sentuhan sang ibu di kepalanya. Secara tak langsung juga berhasil mengurangi sedikit demi sedikit rasa lelah yang mendominasi. Ibu Sri memandang wajah Radika. Kedua alis dan bentuk mata putranya mengingatkan beliau pada seseorang di masa lalu. Ya, seseorang yang telah pergi meninggalkan dunia lebih dari sepuluh tahun. Menitipkan putranya yakni Radika Danindra, yang saat itu berusia sekitar 14 tahun untuk beliau jaga serta lindungi. Dan tanpa terasa mata Ibu Sri sedikit berkaca-kaca. Ada rasa nyeri yang terselip di d**a ketika memori-memori masa lalu yang cukup pahit  berputar kembali dengan indah di kepala beliau. “Sasmita mana, Bu?” Pertanyaan tersebut meluncur juga dari mulut Radika. Dia lantas membuka kedua kelopak matanya dan menatap sang ibu. Radika tak menyadari jika ada cairan bening yang sedikit menggenang di sana. Saat menginjakkan kaki tadi di depan pintu gapura rumah. Senyum tipis dan sorot mata Sasmita yang meredup saat mengantar kepergiannya ke Surabaya, tiba-tiba kembali terbayang dalam benak Radika. Selama seminggu berada di Surabaya. Saat pikirannyaa tidak dipenuhi oleh laporan-laporan pekerjaan. Maka, sosok Sasmita yang begitu cantik mengenakan gaun putih panjang saat resepsi pernikahan mereka, selalu terlintas di kepalanya. Manakala tidak menemukan keberadaan Sasmita di kamar mereka. Sejumlah pertanyaan pun bermunculan. Terlebih komunikasi di antara mereka belum terjalin bagus. Sebab, keduanya sama-sama enggan untuk memulai terlebih dahulu. “Tadi Sasmi pamit mau bertemu kakaknya. Biar Ibu tebak. Kamu pasti sangat merindukan istrimu itu ‘kan, Nak?” Nada dalam suara Ibu Sri begitu terdengar seperti ingin menggoda putranya. Otot-otot di kedua ujung bibir Radika bekerja, membentuk senyuman cukup lebar. Tak ada jawaban pasti melalui kata-kata yang dia pertunjukkan. Namun, jelas sekali Radika bisa merasakan bahwa kini di dalam dadanya, terbersit kekhawatiran yang nyata. Tentu berkaitan dengan perempuan itu. ………………………… Radika sedikit menggerakkan tangan kirinya guna melirik arloji yang ternyata telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Radika lantas berjalan ke depan sebanyak dua langkah. Meraih gagang dan mendorong pintu perlahan-lahan. Tiga detik berikutnya, benda berbentuk persegi panjang tersebut sudah terbuka sempurna. Pandangan Radika seketika terarah pada Sasmita yang tampak terlelap  di tempat tidur mereka sambil memeluk bantal guling. Tanpa mengalihkan tatapan dari sosok perempuan yang telah resmi berstatus sebagai istrinya sejak sebulan lalu, Radika menutup kembali pintu kamar. Lalu, melangkah pelan menuju kursi kayu yang ada di samping ranjang. Mendudukkan tubuh lelahnya di sana sembari memerhatikan wajah Sasmita yang terlihat sangat polos ketika tidur.  Tangan Radika mengepal secara refleks, tatkala manik cokelatnya menangkap sisa-sisa liquid bening yang menggenang di sekitar mata sang istri. Asumsi Radika tentang Sasmita yang menangis diam-diam pun semakin diperkuat dengan basahnya sarung bantal yang perempuan itu gunakan. Rahang wajah Radika mengeras. Kepalan tangan kanannya kian erat. Sorot mata Radika menajam dengan drastis. Pikiran-pikiran negatif berkeliaran di kepalanya Apa Arsa menyakitimu lagi, Sasmi? ............... Langkah kaki Radika terhenti tepat di depan pintu dapur. Keraguan untuk masuk ke dalam bermunculan, ketika sayup-sayup suara tawa lepas Sasmita dan sang adik terdengar oleh indera pendengarannya. Radika juga dapat melihat bagaimana keakraban tercipta di antara istri dan adiknya itu dari pintu dapur yang terbuat dari kaca transparan.  Bukan sebuah bentuk kecemburuan. Melainkan, ada ketakutan besar yang menghinggapi Radika. Terutama, mengenai tawa Sasmita yang bisa saja lenyap saat dia ikut bergabung ke dalam nantinya. Namun, jika pergi dengan tiba-tiba dan melewatkan sarapan bersama. Maka, hanya akan menciptakan kecurigaan lain di mata anggota-anggota keluarganya tentang hubungan mereka. Dia dan Sasmita. Akhirnya, Radika memutuskan kembali melanjutkan langkah kaki panjangnya melewati pintu dapur dan masuk ke dalam. Tak ada yang menyadari keberadaannya di sana. Radika lantas duduk di salah satu kursi kayu meja makan sembari memerhatikan interaksi Tama dan Sasmita yang membelakanginya. Mereka berdua tengah sibuk berkutat di depan kompor, memasak makanan untuk sarapan.  Radika menebak jika nasi goreng akan menjadi menu utama pagi ini. Sudah beberapa kali dia menikmati masakan buatan Sasmita yang tergolong memiliki citra rasa enak dan pas di lidah. Namun, hampir dua minggu lamanya dia absen. Karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan Radika untuk berlama-lama berada di luar kota. Meski, harus menggunakan tongkat penyangga Sasmita tidak tampak kesulitan. Dia terlihat begitu menikmati kegiatannya setiap pagi itu. Begitulah, kira-kira yang dipikirkan oleh Radika. Di matanya Sasmita tetaplah wanita yang kuat dan mandiri. Walau, terkadang kerapuhan yang terpancar di dalam sorot manik istrinya itu menyentak Radika.  “Buset! Gue kira siapa.” Raut keterkejutan begitu terlihat jelas di wajah Tama. Dia langsung mengelus-elus dadanya. Meredakan sedikit rasa kaget yang melanda pasca mendapati keberadaan Radika, sang kakak angkat. Begitu juga dengan Sasmita. Perempuan itu segera menghentikan aktivitasnya yang sedang mengaduk-aduk nasi goreng setelah mendengar seruan adik iparnya. Kemudian, menolehkan kepala sedikit ke belakang. Lalu, menangkap kehadiran sosok pria yang sudah dua minggu belakang ini tidak beradu pandang dengannya. Tatapan Sasmita dan Radika pun bersinggungan. Mereka berdua merasakan kebekuan pada tubuh masing-masing. Menatap satu sama lain dalam diam. Sibuk mengartikan sorot mata yang saling mereka tunjukkan, khususnya Radika. Dia berupaya keras menggali lebih dalam lagi guna menemukan jawaban yang setidaknya terselip di manik cokelat Sasmita.  “Ekhemmm!” Tama sangat sengaja mengeluarkan suara ‘deheman’ lantang. Dia tidak biasa dihadapkan pada situasi yang masuk ke dalam kategori intim dan romantis. Misalkan saja aksi tatap-menatap yang dipertontonkan kedua kakaknya saat ini. Sasmita lantas memutus sepihak kontak mata mereka. Dan, melanjutkan kegiatan memasaknya. Menstabilkan keseimbangan tubuh dan menggenggam cukup erat tongkat penyangga yang berada di tangan kirinya. Sedangkan, Radika tampak tak terpengaruh dengan apa yang dilakukan Sasmita.  Tatapan Radika masih tertuju pada perempuan itu. Kedua matanya tak bisa lepas dari sosok Sasmita yang mengenakan baju kaus putih lengan pendek, celana jeans selutut, dan style rambut kuncir kudanya. Radika seakan tersihir. Dia sesungguhnya tidak sadar jika rasa rindu pada sosok Sasmita tengah mengambil alih kesadarannya. “Kapan lo balik dari Surabaya, Kak?” tanya Tama santai sambil mengupas kulit mentimun. Sekadar memulai percakapan ringan. “Kemarin siang.”  “Ibu nggak ngasih tahu gue sih. Gue ‘kan bisa jemput lo di bandara, Kak,” ucap Tama pelan. Dia berjalan menuju wastafel. Kemudian menghidupkan kran air dan membersihan dua buah mentimun dengan cekatan.  Sesekali Tama juga berhasil menangkap basah Radika yang sedang memusatkan perhatian pada sosok Sasmita. “Gue bisa pulang sendiri,” jawab Radika dengan gaya cuek yang memang sudah lama melekat dalam dirinya. “Ibu sama Ayah sampai kapan di sana? Tadi malam Ibu cuma kirim pesan kalau lagi ada di Tabanan buat datang ke acara nikahan anak temannya.” “Ibu bilang nanti sore balik,” balas Radika tanpa menoleh ke arah Tama. Titik fokus perhatiannya masih tersita pada Sasmita.  Radika memerhatikan secara detail setiap aktivitas yang dilakukan perempuan itu, termasuk ketika Sasmita ingin membawa wadah yang berisi nasi goreng yang telah matangke meja makan. Dengan gerakan refleks, Radika bangkit dari kursi lalu melangkah cepat ke arah istrinya. Bermaksud membantu Sasmita karena Tama masih tampak sibuk dengan kegiatannya. “Lain kali kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan sarapan untuk kami, Sasmi,” ucap Radika pelan, dengan suara datar dan terkesan dingin. Dia segera mengambil alih mangkuk besar yang dipegang Sasmita. Mungkin kata-kata Radika itu akan terdengar sebagai penolakan di telinga Sasmita. Namun, untuk Radika sendiri. Tersimpan kekhawatiran yang kentara dalam ucapannya. Tapi, Sasmita tak bisa mengartikan dengan benar. ………………………. Wira melenggang masuk ke ruangan kerja Radika dengan langkah santai seolah tanpa ada beban. Sesampainya di dalam. Wira langsung mendudukkan dirinya di single sofa. Ekor mata pria itu melirik sejenak ke arah sang sahabat yang terlihat tak peduli akan kehadirannya. Kerutan di dahi Radika semakin bertambah saja. Kedua bahu lebarnya juga sedikit menegang. Rasa lelah dan pusing pun sering menghinggapi. Banyak faktor yang memengaruhi. Tentu, setumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan menjadi salah satu pemicunya. Wira terkadang tak menyukai sikap acuh tak acuh bawaan sang sahabat. Karena hal tersebut hanya akan membuat Radika seperti orang yang kaku dan dingin. Walau demikian, faktanya tidak jarang mitra bisnis mereka, khususnya kaum hawa cukup banyak yang mengagumi Radika. Entah dari segi fisik ataupun kecakapan sahabatnya itu dalam menangani proyek-proyek penting.  Sekelebat ide jahil tiba-tiba muncul di kepala Wira untuk menggoda Radika. Jika pun dicoba tak ada salahnya. “Gimana temu kangen lo sama Sasmita? Udah habis berapa ronde kemarin malam?” Seringaian nakal tercetak di wajah Wira. Radika belum merespon. Dia masih sibuk berkutat dengan sebuah dokumen yang harus berhasil dia kuasai sebelum rapat nanti siang. “Gila! Pantesan siang ini elo kelihatan kagak semangat, Rad. Tenaga lo pasti terkuras kemarin malam ya?” Pertanyaan bernada nakal terus melesat dengan cepat dari mulut Wira. Tetap tak ada tanggapan dari Radika. Tetapi, bukan Wira namanya jika dia tak bisa sedikit memancing emosi sang sahabat. “Jangan bilang lo kagak pernah nyentuh, Sasmita? Lo masih normal ‘kan?” “Lagian dalam perjanjian yang kita sepakati ‘kan nggak ada larangan. Ntar lo malah keduluan sama yang lain. Sayang aja gitu, Rad,” Wira kembali melanjutkan tanpa ragu. Kali ini rupanya dia berhasil.  Radika segera menutup dokumen. Lalu mengarahkan tatapan sangat tajam pada sahabatnya. Emosi Radika sukses terpancing. Namun, tak keluar kata-kata sebagai bentuk balasan atas ucapan Wira yang sebenarnya sudah sukses membakar daun telinga Radika.  Sementara, seringaian puas terukir dengan indah di wajah Wira. Dia berusaha keras untuk menahan tawanya agar tidak meledak di depan sang sahabat. Wira paham betul jika emosi Radika akan cepat teruji ketika membahas hal-hal yang berkaitan dengan Sasmita. “Gue mendaftarkan perusahaan untuk ikut tender proyek hotel. Di mana perusahaan Arsa juga akan turut serta.” Radika menyerahkan sebuah dokumen berisi informasi proyek pada Wira. Dia berupaya mengalihkan pembicaraan ke topik lain.  Wira menaikkan salah satu alisnya ketika membaca judul dokumen tersebut. Sungguh,dia tidak tertarik membahas yang ada sangkutpautnya dengan tender atau proyek. Dia kemudian meletakkan dokumen yang diberikan Radika di atas meja. “Menangkan tender. Kita beri pelajaran Arsa secara perlahan,” ucap Wira dengan mimik wajah serius dan tatapan misterius. ………………… Danan dapat melihat setiap mimik atau perubahan air muka Sasmita dengan cukup detail dan leluasa. Termasuk membaca ekspresi ketegangan yang kini tercetak jelas di wajah perempuan itu. Danan tak tahu pasti penyebab di baliknya. Namun, dia terus memerhatikan Sasmita yang duduk berseberangan dengannya, mereka hanya dipisahkan oleh sebuah meja kerja Sementara, fokus perempuan itu tetap terjaga dan tidak ingin teralihkan dari sebuah dokumen yang sedang dibacanya sejak 15 menit lalu. Sederet keganjilan pada lembaran-lembaran kertas dokumen tersebut menimbulkan kepeningan bagi Sasmita. “Bisakah kamu menjelaskan kenapa perusahaan sampai mengalami kerugian sebanyak 6% saat mengerjakan proyek ini, Danan?” Sasmita ingin mengonfirmasi sejumlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya. “Kak Arsa menggunakan dana yang kita siapkan untuk proyek itu ke proyek lain. Lebih tepatnya menutupi biaya proyek lain yang tidak mencukupi.” “Maksud kamu ada proyek lainnya yang dulu sempat bermasalah?” Sasmita mencoba menangkap maksud lain dalam jawaban yang Danan utarakan. Pria itu mengangguk. “Karena dana untuk menyelesaikan lima proyek villa tidak menutupi. Maka dari itu Kak Arsa meminjam sejumlah uang pada Perusahaan Putra Kencana.” Danan menjelaskan lebih lanjut. Memberi tahu Sasmita akan seluk-beluk masalah keuangan yang menimpa perusahaan. Bagaimana pun juga, Sasmita dulu pernah ikut mengelola perusahaan konstruksi tersebut. Ditambah dengan hak yang masih dimiliki perempuan itu di perusahaan. Jadi, Danan tak akan menyembunyikan semua dari Sasmita. Meski, Arsa telah melarang dirinya untuk terlalu buka suara. Pandangan Danan belum beranjak dari sosok Sasmita, hingga dia dapat merasakan kembali jika terjadi perubahan ekspresi di wajah Sasmita. Bahkan, jari-jari tangan perempuan itu tampak sedikit bergetar ketika hendak menaruh dokumen di atas meja. Semacam keterkejutan Sasmita akan kesulitan yang sekarang tengah menimpa perusahaannya belum juga berkesudahan. “Apa kamu tahu uang-uang proyek digunakan Kak Arsa untuk apa saja?” tanya Sasmita sembari menatap lurus ke arah Danan dengan sorot mata yang meredup.  Seperti kehilangan gairah hidup. Dan, tak ada binaran di dalamnya. Danan menggeleng. “Aku tidak tahu.” Tak ada tanggapan lebih lanjut dari Sasmita. Sehingga memunculkan keheningan di antara mereka beberapa saat. Sementara itu, pandangan Sasmita menerawang jauh. Walau, raganya tampak berada di dalam ruangan. “Are you okay, Sasmi?” Danan berupaya memastikan kondisi perempuan itu. “Menurutmu, apakah perusahaan ini masih bisa diselamatkan? Kita bahkan tidak tahu apa yang direncanakan Putra Kencana kedepannya?” Ada semacam kefrustrasian terdapat di suara lemah milik perempuan itu. Pikiran-pikiran negatif mulai berkeliaran. Setidaknya Sasmita sadar bahwa di balik perjanjian mengenai pernikahan bisnis yang telah disepakatinya dengan Radika dan juga Putra Kencana, ternyata terdapat maksud lain yang terselubung di dalamnya. “Tentu. Asal kita mau bekerja keras.” Danan berusaha meyakinkan. Memberi dorongan semangat. “Aku akan membantumu, Sasmi. Jangan terlalu cemas.” Sudut bibir kanan Sasmita sedikit terangkat naik. Membentuk senyuman tipis. Kata-kata berbau motivasi memang dapat menjadi s*****a tambahan dikala kenyataan menyambut kita untuk masuk ke dalam jurang kehancuran. Namun, percayalah tak ada yang tidak mungkin. Selama keyakinan dan tekad masih bersemayam. Maka, jangan pernah takut. Terus mencoba tanpa ada keraguan merupakan salah satu modal untuk membalikkan keadaan. Jangan pernah berhenti, jika keyakinanmu tidak menghendakinya. ………………….. Rahang wajah Radika terlihat mengeras manakala di layar handphone-nya tertera sebuah nama dari seseorang yang sangat dia benci dan terdaftar sebagai penelepon yang sekarang sedang melakukan panggilan masuk.  Benar, si penelepon tak lain adalah Arsa. Radika sebenarnya enggan untuk  terlibat pembicaraan dengan kakak kandung istrinya itu. Karena sudah dapat dipastikan akan tercipta komunikasi tidak menyenangkan di antara mereka. Namun, sekelumit pertanyaan seputar alasan mengapa Arsa menghubunginya bertengger di kepala Radika. Asumsi-asumsi negatif pun turut menganggunya. Radika tahu persis tipe seperti apa kakak iparnya itu. Bukan rahasia umum lagi bahwa mereka berdua memang memiliki riwayat hubungan yang buruk di masa lalu. Bahkan, terus berlangsung hingga sekarang. Ibu jari tangan kanan Radika menggeser sebuah gambar warna hijau dengan bentuk seperti telepon di layar touchscreen handphone-nya. Dia kemudian menempelkan benda tersebut di telinga kanannya. Tangan Radika yang memegang handphone terlihat sedikit bergetar karena menahan amarah, tatkala suara Arsa terdengar menyapa dengan suara sinis di seberang sana. “Ada perlu apa Anda menelepon, Kak?” tanya Radika langsung menanyai tujuan pria itu menghubunginya. “Santai, Bocah. Nggak usah terburu-buru.” Kata-kata berbau provokasi tersebut memang sengaja Arsa lontarkan. Terlebih, suara sinis yang selanjutnya dibarengi oleh nada bicara meremehkan, terbilang sukses mencuatkan emosi Radika ke permukaan. “Saya tidak punya terlalu banyak waktu untuk meladeni Anda, Kak Arsa,” tanggap Radika serius. Tak ada istilah main-main dalam dirinya jika hal tersebut berhubungan dengan Arsa. “Begitu? Padahal gue pengin ngobrol santai sama adik ipar gue yang satu ini.” Tangan kiri Radika mengepal sebagai bentuk penyaluran atas amarah dan emosi yang timbul akibat ulah Arsa. Sorot mata Radika juga terlihat menajam sekan-akan mereka berdua tengah saling berhadapan, walau sosok Arsa tak berada di ruangan kerjanya. Pria itu benar-benar sedang sangat berniat untuk menguji kesabarannya. “Saya masih punya banyak pekerjaan. Ada perlu apa Anda menghubungi saya?” Radika ingin segera memutus sambungan telepon sebelum emosinya semakin meluap. “Ckckck. Gue bilang santai, Bocah.” “Jika tidak ada hal penting yang ingin Anda katakan. Saya akan mengakhiri telepon ini.” Radika mengeluarkan sebuah peringatan serius. Dia sedang tidak berminat meladeni provokasi Arsa lebih lanjut lagi. “Lo punya waktu nanti sore? Temui gue di rumah.” Radika diam sejenak sembari mengingat-mengingat jadwalnya pada sore hari. Ternyata, ada sebuah rapat mingguan rutin bersama Wira yang harus dihadirinnya. “Saya tidak bisa.” “Oke. Biar gue besok datang ke kantor lo.” “Sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan?” Radika kembali bertanya dengan penekanan pada setiap kata-katanya. Rasa curiga sekaligus penasaran mendadak bermunculan, mengganggu ketenangan Radika. Mengingat Arsa bukan tipe yang mudah untuk ditebak. Bisa saja pria itu tengah menyiapkan rencana balasan, kira-kira begitulah pikir Radika. “Ckck. Nanti lo juga bakal tahu, Bocah. Gue ‘kan bilang buat santai saja.” Jeda tercipta cukup lama di antara mereka berdua. Hampir tiga menit. Radika memilih bungkam. Namun, tak memutus sambungan telepon. “Yang jelas lo nggak bakal dirugikan, Bocah.Gue jamin.” “Saya juga tidak akan membiarkan Anda merugikan saya, Kak,” balas Radika tak kalah sengit. Genggaman di handphone-nya semakin terlihat mengerat. Decakan yang memang disengaja oleh Arsa di ujung telepon, membuat Radika ingin menyudahi panggilan telepon yang sedang berlangsung. “Rupanya sekarang lo sudah pandai bernegoisasi ya, Bocah? Bagaimana kalau gue tawarkan bentuk kerja sama yang akan saling menguntungkan?” …………………………...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN