13

3510 Kata
Radika langsung menghentikan kegiatannya yakni memeriksa sejumlah dokumen, saat sosok Arsa berdiri angkuh di ambang pintu ruangan kerjanya. Pancaran mata bak seorang musuh yang ditunjukkan pria itu menciptakan suasana cukup mencekam di dalam ruangan. “Elo sibuk, Bocah?” Tanpa dipersilakan, Arsa kini sudah mengambil tempat di salah satu single sofa. Duduk dengan kaki kanan yang menyilang ke kaki kiri. Seringaian tipis juga ditampakkan Arsa untuk menambah genderang perang yang sengaja dia perlihatkan secara nyata pada adik iparnya itu. Tak ingin terpancing begitu saja oleh sikap Arsa. Radika mengambil sikap tidak acuh dan menunjukkan ekspresi wajah datar. Walau, sesungguhnya dengan hanya melihat wajah Arsa saja sudah berhasil mengguncang kestabilan emosinya.   Jadi, sebisa mungkin dia berusaha mengontrol diri dan menghadapi Arsa dengan kepala dingin. Radika terlihat menutup sebuah dokumen, kemudian dia mendorong kursi kerjanya ke belakang  menggunakan kedua kaki. Dia segera bangkit dari kursi tersebut  dan berjalan menuju lemari es kecil yang ada di dalam ruangan untuk mengambil dua kaleng bir.  Setelah itu, Rangkab melangkah perlahan mendekat ke arah Arsa. Menempatkan diri di sofa panjang yang berada tepat di sebelah kanan kakak iparnya itu. Kemudian, meletakkan satu kaleng bir dingin yang diperuntukan untuk Arsa di atas meja. Mereka sama-sama enggan untuk membuka percakapan. Keduanya masih memilih bungkam. Sedangkan, suasana yang menyelimuti Radika dan Arsa semakin terasa memanas saja. Meski, mereka berdua belum mengeluarkan satu patah kata pun. Terutama, tentang tujuan Arsa yang masih tidak dapat dibaca oleh Radika. “Hal penting apa yang ingin Anda bicarakan, Kak?”  Radika akhirnya buka suara. Dia tak mau waktunya habis terlalu banyak untuk meladeni Arsa. Sementara, masih ada setumpukan pekerjaan kantor belum terselesaikan. Jika saja Arsa tidak mendadak memberi tahu perihal ajakan bertemu secara pribadi dengannya. Maka, Radika tak akan memilih kantor sebagai tempat utama pertemuan mereka.  “Santai, Bocah.” Arsa berdecak pelan. Dia tak suka dengan gaya bicara adik iparnya itu, dimana mengundang aura kebencian semakin menyeruak dan tampak jelas pada masing-masing diri mereka. Sepertinya, Radika yang sekarang sulit untuk diajak main-main. “Jangan terlalu formal. Lagian lo sama gue juga udah jadi keluarga,” balas Arsa dengan penekanan yang disengaja pada satu kata di akhir kalimat. Dia kembali menabuh genderang perang secara terang-terangan. Arsa yakin bahwa Radika sangat peka akan aksinya itu. Tak ada balasan berupa kata yang keluar dari mulut Radika. Namun, remasan cukup kuat di kaleng bir yang dipegangnya dapat menjadi bukti, jika sikap provokasi Arsa mulai berhasil menggoyahkan kontrol diri yang dibangun Radika. “Gue tadi mampir ke ruangan Wira. Tapi, dia kagak ada. Lo tahu Wira dimana?” “Dia sedang keluar bertemu klien,” jawab Radika dingin tanpa berniat sedikitpun memandang ke arah kakak iparnya. Arsa lantas mengangguk pelan. Seringaian licik juga kian terpatri sempurna di wajahnya. Sedangkan, beberapa ide di kepala Arsa sudah menunggu untuk segera saja direalisasikan. Arsa sangat penasaran reaksi seperti apa yang akan Radika tunjukkan. “Gue dengar perusahaan Wira juga ikut tender proyek Hotel Sky,” ucap Arsa dan terkesan ingin menciptakan keambiguan. Kali ini perkataan Arsa sukses mengundang tatapan tajam Radika padanya. “Benar. Saya yang bertanggung jawab penuh dalam tender proyek itu,” balas Radika seakan mengerti jawaban yang dikehendaki Arsa. “Begitu? Nilai penawaran yang lo rencanakan berapa persen turun dari harga proyek? Lebih dari 20% ‘kah?” “Menurut gue, kalau perusahaan Putra Kencana sampai berani menurunkan harga penawaran hingga 30%, profit yang didapat gue rasa nggak akan seberapa. Malah rugi. Perusahaan gue cuma berani turun 15%. Lo jangan gegabah nanti, Bocah.” Tatapan Radika semakin menajam. Rahang wajahnya seketika mengeras. Secara tidak langsung, Arsa tengah berusaha menyindir dirinya. “Saya rasa berapa persen pun penawaran yang kami ingin turunkan bukanlah urusan Anda, Kak,” balas Radika dengan nada suara yang ditekankan dan tetap terdengar dingin. “Lakukan saja yang terbaik untuk perusahaan Anda agar sesuai dengan prosedur tender.” Mendengar perkataan Radika tersebut. Senyum sinis Arsa semakin mengembang. “Gue cuma pengin sharing pengalaman sama lo, Radika. Secara lo adik ipar gue.” “Ya, walau hanya untuk satu tahun saja. Tapi, gue kira waktu segitu cukup lumayan panjang buat kalian berdua untuk membangun kembali cinta monyet s****n kalian itu. Benar ‘kan?” Kata-kata berbau sindiran dengan sengaja dikeluarkan Arsa. Radika tak menyahut. Namun, sorot mata tajamnya mengarah tepat pada sosok kakak iparnya itu. Sifat Arsa tak pernah berubah. “Bagaimana kabar kehidupan pernikahan palsu kalian? Apa adik gue bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan benar? Dia tidak mengecewakan lo ‘kan, Radika?” Kali ini giliran pertanyaan-pertanyaan sarat akan sindiran dilayangkan Arsa. Seringaian licik dan angkuh tidak segan-segan diperlihatkannya. Gemeretak gigi Radika terdengar di dalam mulutnya yang terkatup rapat. Tangan kiri yang dia letakkan di atas sofa mengepal erat. Dan untuk menetralisir amarah yang mencuat ke permukaan. Radika menghirup oksigen sebanyak yang bisa tertampung di dalam paru-parunya. Dia juga mengatur deru napasnya agar stabil kembali. Mengenyahkan dorongan iblis yang menyuruhnya untuk menghantamkan satu pukulan telak ke wajah Arsa. “Jika tidak ada lagi hal penting lain yang ingin Anda katakan. Saya rasa pertemuan kita bisa saya akhiri sampai di sini,” ucap Radika dengan gaya bicara yang masih terdengar sopan dan formal. Namun, dari sikap dan gestur tubuh yang dia tampakkan. Jelas sekali itu adalah bentuk pengusiran mutlak agar Arsa segera meninggalkan ruangan kerjanya. “Baiklah. Gue rasa lo terlalu sibuk untuk sekadar punya waktu luang ngobrol santai sama gue.” Arsa pun sangat paham. Dia lantas bangkit dari sofa dan melangkahkan kaki menuju pintu. Belum benar-benar pergi. Arsa menyempatkan menyusun sejumlah kata-kata di kepalanya. Seringaian licik tak sedikit pun memudar di wajah pria itu. “Semoga sukses buat tender Hotel Sky. Gue pengin lihat hasil kerja keras lo nanti,” Arsa menambahkan. Dia segera bangkit dan mengambil ancang-ancang untuk pergi. Namun, sekali lagi dia menyempatkan diri untuk melayangkan tatapan sengit ke arah Radika. “Setidaknya lo bisa berkaca pada masa lalu. Tentang bagaimana tindakan-tindakan yang sudah dilakukan Ibu lo, Radika. Jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti Ibu lo. Agar tidak menimbulkan penyesalan yang lainnya,” ujar Arsa sarkasme. Aura kebencian begitu mendominasi benaknya. Tubuh Radika menegang di tempat. Tangan kanannya yang memegang botol bir tampak sedikit bergetar. Bayangan-bayangan masa lalu berputar bak rol film di kepalanya dengan begitu cepat. Menghantarkan Radika pada memori-memori yang tidak ingin diingatnya. Masa lalu yang berawal dari pemahaman berbeda. Kemudian menimbulkan kesalahpahaman yang menciptakan luka-luka baru dan dendam tak berujung. Saling melemparkan kesalahan demi mencari sekelumit pembenaran dari sudut pandang berlawanan. ……………. Entah bagaimana awalnya hingga sampai pada akhirnya Ibu Sri bisa mencurahkan hal-hal yang mengganjal dalam hatinya kepada sang menantu. Percakapan yang semula ringan dengan cepat digantikan oleh cerita sarat akan luka di masa lalu. Dan yang bisa Sasmita lakukan adalah tertegun mendengar penuturan Ibu Sri mengenai perjuangan Radika saat kuliah di Jakarta. Selain menempuh pendidikan. Radika juga ternyata bekerja di sana. Menggunakan hasil jerih payahnya untuk membayar keperluan dan biaya kuliah. “Ibu merasa tidak becus sebagai orangtua. Kami seharusnya dapat memberikan pendidikan yang layak untuk Radika. Tapi, kami tidak bisa melakukannya, Nak.” Tetesan demi tetesan air mata kesedihan tumpah dan membanjiri pipi Bu Sri. Sakit serta perih rasanya hati beliau jika harus mengenang memori-memori masa lalu yang ada kaitannya dengan Radika. Karena kesulitan ekonomi yang sempat menimpa keluarga. Ibu Sri dan Pak Nyoman tak bisa berbuat banyak.  Mereka tidak dapat memiliki dana yang cukup untuk menanggung dana pendidikan Radika ke jenjang berikutnya, selepas lulus SMA. Apalagi saat itu biaya kuliah terbilang mahal. Di sisi lain, Radika juga tidak mau memberatkan atau menuntut kedua orangtua angkatnya hanya karena ingin melanjutkan pendidikan. “Ibu merasa sangat bersalah pada Radika, Nak. Ibu tahu dia pasti telah banyak melewati hari-hari yang berat selama hidup di Jakarta. Yang bisa Ibu lakukan di sini hanyalah terus berdoa tanpa berbuat apa-apa.” Sasmita menggeser posisi duduknya, mendekati Ibu Sri. Dengan refleks memeluk mertuanya. Tanpa terasa bulir-bulir liquid bening sudah menggenang di pelupuk matanya. “Jangan terus menyalahi diri Ibu sendiri.” Dalam satu tarikan napas, Sasmita berupaya mengatur laju air matanya agar tidak jatuh semakin deras.  “Ibu harus bangga memiliki putra hebat sepert Radika,” ucap Sasmita pelan. Rasa nyeri seakan menghimpit dadanya. Luka lama tujuh tahun lalu yang sudah coba dikubur Sasmita sedalam mungkin, harus dibuka kembali. Menciptakan sedikit goresan luka baru yang terasa kian menyakitkan saja. Hanya karena kenangan-kenangan yang pernah tercipta di antara dirinya dan Radika terputar dengan indah. ………………... Gemericik suara air hujan saling bersahutan di luar sana. Sesekali kilatan petir juga menyertai dan tampak jelas dari jendela-jendela dapur yang tidak tertutupi oleh gorden. Embusan angin yang juga turut hadir, berhasil menggiring udara dingin masuk melalui celah-celah ukiran kayu khas Bali yang menghiasi kaca jendela-jendela dapur. Sasmita menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya guna menghantarkan rasa hangat. Namun, tetap saja udara dingin yang melingkupi tidak akan pergi dengan begitu mudahnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa kegiatan yang dilakukan Sasmita tidak terlalu memberikan dampak yang berarti. Bahkan, kini tubuh perempuan itu tampak sedikit bergetar karena kedinginan. Maklum, dia hanya mengenakan kaus putih lengan pendek dengan bahan yang tidak terlalu tebal dan celana kain selutut. Sasmita juga lupa menggunakan alas kaki. Alhasil, udara dingin pun semakin menusuk kulit dan membawa efek kaku pada jari-jari kakinya. Letak bangunan dapur dan kamar yang berbeda, apalagi ditambah dengan hujan yang turun semakin deras di luar sana. Sasmita pun mengurungkan niatannya untuk mengambil baju hangat, memilih tetap duduk di salah satu kursi dari enam buah kursi yang melingkari meja makan. Sudah hampir dua jam lamanya Sasmita berdiam diri di dapur. Pandangannya terus tertuju ke luar jendela, tepat ke arah pintu gapura rumah. Suasana sepi dan sunyi kental terasa di sekeliling Sasmita.  Malam ini hanya ada dia seorang di rumah. Kedua mertua beserta adik iparnya sedang menghadiri sebuah acara pernikahan di kampung halaman yang berlokasi sekitar tiga jam Kota Denpasar.  Walau harus berada sendirian di rumah, Sasmita tidak merasa takut. Melainkan, rasa cemaslah yang dominan menghinggapi dirinya sedari tadi. Susunan empat angka yang tertera di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.  Namun, tanda-tanda kedatangan seseorang di pintu gapura tidak tampak jua. Sasmita tengah menunggu kepulangan Radika dari kantor. Sejak mendengar cerita ibu mertuanya. Kepedulian Sasmita terhadap Radika yang sempat berhasil dikesampingkannya karena latar belakang perjanjian di antara mereka, rupanya tidak mampu bertahan lama.  Sekeras apa pun Sasmita berusaha untuk menampik semua itu. Namun, nama serta sosok Radika ternyat masih terus menempati posisi penting, baik di hati dan pikirannya. Seakan hendak menggoyahkan misi awal yang hendak dituntaskan Sasmita tanpa harus melibatkan perasaan.  ………... Keheningan seakan menjadi sahabat baru bagi Sasmita dan Radika, ketika mereka  harus terperangkap dalam satu tempat.Suasana canggung yang hadir di antara mereka pun turut melengkapi. Membuat pasangan suami-istri itu lebih cenderung mengutamakan dan menuruti ego mereka masing-masing. Tanpa memiliki inisiatif untuk memperbaiki semuanya. Membiarkan sisa-sisa luka di masa lalu semakin menggerogoti dan menentang segala sesuatu yang berperan menjadi penghalang atas obat untuk luka-luka tersebut. Termasuk memendam perasaan mereka yang sebenarnya sedikit pun belum memudar. Seperti malam ini saja misalkan, Sudah hampir 20 menit lamanya Radika dan Sasmita menghabiskan waktu mereka di dapur. Duduk berseberangan dengan meja makan — berbentuk persegi panjang — yang berfungsi sebagai sekat pemisah di antara mereka berdua.  Derasnya suara hujan yang turun di luar sana, seolah-olah ikut serta menambah ketidaknyamanan yang timbul dan berhasil memenjarakan mereka dalam suasana hening tak berujung. “Kamu sudah makan?” Sasmita memulai percakapan. Dia tampak enggan menciptakan lebih banyak lagi kesunyian. Radika menggeleng lemah. Tatapan pria itu tertuju jelas pada sosok perempuan yang juga memandang ke arahnya dengan sorot yang tak asing lagi baginya. Karena dulu Radika sering memperoleh pancaran mata tersebut dari Sasmita. “Belum.” “Aku akan menghangatkan sup.” Sasmita langsung berdiri lalu meraih tongkat penyangganya. Mengakibatkan titik perhatian Radika terus saja terfokus pada perempuan itu. Kontak mata sempat terjadi.  Namun, dengan begitu cepat Sasmita menyudahinya. Dia merasa tak sanggup jika harus menyelam jauh ke dalam manik cokelat Radika, sebab bayang-bayang cerita mertuanya akan turut campur  memengaruhi perasaannya. Dan tentu saja siap merobohkan pertahanan Sasmita saat ini juga, jika dia tidak mengontrolnya dengan sangat baik. “Biar aku saja.”  Radika segera beranjak dari kursi. Tepat saat Sasmita hendak menggerakan tongkat dan melangkahkan kakinya. Alhasil, Sasmita hanya dapat menurut dan kembali menempatkan diri pada kursi yang tadi dia duduki.  “Mau sup juga, Sasmi?” Suara berat bernadakan sedikit dingin mengiringi tawaran Radika tersebut. “Tidak. Aku sudah makan.” Perempuan itu lantas melemparkan pandangan tepat ke arah Radika yang sedang memunggunginya. Tak lama kemudian, mata mereka lagi-lagi harus bersinggungan. Kali ini, Sasmita tidak ingin menghindar. Dia membalas tatapan Radika. “Kenapa kamu enggak ikut?” Tadi siang, ibunya menelepon dan memberi tahu jika akan mengajak Sasmita untuk turut serta dalam menghadiri pesta pernikahan kerabat jauh keluarga mereka di kampung halaman. Radika menyangka bahwa Sasmita tidak ada di rumah dan ikut bersama kedua orangtuanya. “Ibu bilang akan menginap di sana malam ini, jadi aku tidak bisa ikut. Karena besok pagi aku ada pertemuan dengan klien.” Sasmita sudah menjelaskan kepada sang mertua secara halus tentang alasannya tidak dapat ikut serta. Untung, Ibu Sri dapat memaklumi. Sebenarnya dia juga ingin menghadiri acara pernikahan, tetapi apa daya janji bertemu dengan klien tidak bisa dibatalkan begitu saja. Radika dan Sasmita masih saling menatap satu sama lain. Enggan memutus kontak mata yang terjadi sejak beberapa menit lalu. Dan pada akhirnya, Radika kembali buka suara.  “Sasmita?” panggilnya setengah ragu. Tetapi, tidak terlalu tampak. Sebab Radika begitu pandai menyembunyikan semua dalam suara dan ekspresinya yang dingin. “Ada apa?” Sasmita balik bertanya. “Kamu tidak perlu repot-repot lagi memasakkan makanan untukku, Sasmi.” “Lain kali, kamu juga tidak usah menungguku pulang apalagi hingga larut malam,” lanjut Radika dengan setiap penekanan pada kata-katanya. Sasmita segera membuang pandangan ke arah lain, ketika tatapan tajam Radika dipusatkan kepada dirinya. Karena hal tersebut membuat Sasmita sama sekali tak nyaman. Belum lagi, ucapan dalam bentuk penolakan Radika yang baru saja didengarnya. Menambah buruk suasana hati perempuan itu. “Aku hanya mencoba menjalankan tugasku sebagai seorang istri sebagaimana mestinya,” jawab Sasmita terkesan acuh tak acuh. Kali ini, pandangan mereka bertemu kembali. Radika menghela napas sejenak. “Aku tahu. Tapi, aku tidak ingin membebanimu dengan tugas-tugas itu, Sasmi.” “Setidaknya kamu bisa mengabaikan tugasmu sebagai istriku, ketika Ayah dan Ibu tidak ada,” imbuh Radika menegaskan. …………………….. Pemandangan rutin selama kurang lebih selama tiga hari belakangan  yang diperoleh Radika ketika membuka mata pada dini hari, yakni ketidakberadaan Sasmita di dalam kamar. Sisi kiri tempat tidur king size mereka yang biasa di tempati Sasmita pun kosong. Dan, tampaknya hal tersebut juga terjadi saat ini. Radika tak mendapati perempuan itu tidur di sampingnya, tatkala terbangun secara tidak sengaja.  Padahal baru sekitar dua jam yang lalu, Radika mengistirahatkan tubuh lelahnya setelah menyelesaikan dua laporan penting yang harus diserahkan besok pagi pada Wira. masih tergiang bahkan berputar dengan rapi di dalam pikiran Radika, tentang bagaimana rekaman wajah Sasmita saat tertidur yang berhasil tertangkap dan menyita perhatian Radika sebelum sepenuhnya terlelap dua jam lalu. Mengabaikan rasa kantuk yang terus saja menyerang, Radika segera bangun dan turun dari tempat tidur. Dia melirik sebentar ke arah jam digital di atas meja yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Radika lantas melanjutkan langkah kakinya dengan gerakan sedikit dipercepat menuju pintu kamar, bermaksud keluar dari ruangan tersebut. Dia tahu persis di mana Sasmita tengah berada saat ini. Sebersit rasa khawatir melanda Radika. Guyuran hujan dengan intensitas sedang belum juga mereda sedari tadi. Ditambah pula adanya suara petir yang sesekali terdengar mengiringi dan hawa dingin yang kian terasa menusuk kulit, semakin mendorong Radika untuk segera mengetahui keadaan istrinya itu. Terlebih, selama ini yang diketahui oleh Radika bahwa Sasmita akan kerap mengalami kram pada kedua kakinya saat udara dingin mulai tak bersahabat. Karena sudah hampir delapan tahun lamanya tidak pernah bertemu, jadi Radika tak tahu dengan pasti apakah Sasmita masih sering mengalami kram. Walau demikian, tidak dapat dipungkiri rasa cemas akan keadaan perempuan itu terus menghantuinya. ……………… Sasmita sedikit terkesiap mendapati sosok Radika yang sedang berdiri dengan tegap di ambang pintu ruangan. Tanpa ragu, Sasmita membalas tatapan Radika yang memang mengarah padanya. Namun, saat mata mereka berdua beradu pandang, Sasmita tetap tak mampu mengartikan sorot mata suaminya. “Ada apa?” Sasmita memilih buka suara lebih dulu. Bermaksud mengonfirmasi kedatangan Radika yang menurutnya sedikit aneh. Sasmita sudah tak heran jika pancaran manik Radika memang selalu tampak tajam, tetapi tersirat sesuatu yang lain di baliknya. Dan lagi-lagi, Sasmita tidak bisa dengan cepat menerjemahkan arti tatapan pria itu. Setidaknya, dulu dia seperti pernah memperoleh sorot mata yang sama dari Radika. Sebenarnya muncul rasa penasaran dalam benak Sasmita. Tetapi, dia segera menepisnya. Logikanya tidak memberikan izin lebih lanjut untuk memproses semua yang terjadi. “Ada apa, Radi? Apa kamu ingin membicarakan sesuatu denganku?” tanya Sasmita lagi. Radika tak menjawab. Dia mengambil langkah memasuki ruangan dengan cat berwarna biru dan bergaya minimalis. Hanya satu set sofa beserta sebuah meja kerja, di atasnya terdapat printer dan dokumen-dokumen tentang bisnis tour travel milik Radika. Ruangan tersebut juga biasa dia, Rama, dan Sasmita gunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah. Dan dapat dipastikan pula keberadaan Sasmita di dalam ruangan tersebut pada waktu dini hari, tidak terlepas dari setumpukan dokumen untuk keperluan tender yang belum diselesaikannya. “Radika? Ada apa?” Tatapan Radika tetap tersita pada sosok Sasmita, sesaat setelah mengambil posisi duduk di salah sofa, letaknya berseberangan dengan sofa yang ditempati perempuan itu dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja. Mereka berdua saling memandang dan melemparkan tatapan untuk satu sama lain dengan makna berbeda. Apalagi pada saat jam-jam seperti sekarang ini yang masih tergolong dini hari. Kebanyakan orang pasti akan memilih berbaring dan terlelap di tempat tidur mereka masing-masing. Mengistirahatkan tubuh setelah seharian melakukan aktivitas yang cukup menguras pikiran serta emosi. Hal tersebut tentu berlaku juga untuk Radika. Terlebih Sasmita tahu, pria itu baru akan menghentikan seluruh rangkaian kegiatannya dan pergi tidur tengah malam ketika pekerjaan kantor tidak terlalu membebaninya lagi. “Apa yang kamu lakukan di sini, Sasmi?” Radika balik bertanya dengan suara khasnya yang terdengar datar nan dingin. Mengabaikan pertanyaan yang seharusnya dia jawab. Sejujurnya, Radika sudah menemukan alasan tentang keberadaan Sasmita di ruangan ini. Tetapi, dia ingin mendengar jawaban tersebut meluncur sendiri dari mulut istrinya. Sehingga Radika dapat menyimpulkan apakah perempuan itu melontarkan kebohonhan atau tidak. “Menyelesaikan beberapa dokumen untuk tender nanti.” Sasmita langsung mengeluarkan sederetan kata tanpa ingin membuat Radika menunggu jawabannya lebih lama lagi. Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki urusan tersendiri atau pekerjaan belum terselesaikan. Maka, mereka akan merelakan waktu istirahat dan tidur mereka. Termasuk Sasmita di dalamnya. Meski, rasa kantuk yang menyerang tak bisa diajak berkompromi dengan pekerjaannya begitu saja. “Apa kamu mengerjakan semua ini sendirian?” Radika memutus sejenak kontak mata yang tercipta di antara mereka. Dia lantas mengalihkan perhatian pada laptop dan setumpukan kertas yang berada di atas meja. “Tidak. Danan membantuku.” Radika kembali melayangkan tatapannya kepada Sasmita. Sorot mata pria itu terlihat lebih menajam kali ini. Tanpa dia inginkan atau bahkan rencanakan, mendadak rasa panas menghampiri dadanya hanya karena Sasmita menyebut nama seseorang yang tidak memiliki hubungan baik dengannya. Keheningan pun kembali menjadi sebuah pelengkap bagi mereka, seperti sebelum-sebelumnya ketika harus saling berinteraksi dan berhadapan dari face to face. Masih senantiasa menguapkan kecanggungan, mencegah tumbuhnya rasa nyaman yang dulu pernah sama-sama menjadi salah satu alasan penting bagi mereka berdua untuk tetap bersama sebagai sepasang kekasih. “Kamu tidak tidur?” Giliran Sasmita yang meloloskan satu pertanyaan setelah keheningan cukup lama hadir di tengah-tengah mereka. Lagi-lagi, Radika tak langsung menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Tatapan lekat Radika juga tak kunjung terlepas dari sosok istrinya. Seperti terdapat magnet pada mata Sasmita yang sukses menariknya semakin dalam, menyelam jauh ke manik cokelat perempuan itu. “Radi?” Setelah mendengar gumaman Sasmita yang menyebutkan namanya, Radika pun seketika tersadar dari lamunannya. Lalu, kembali ke realita yang ada di hadapan. Terutama sorot mata penuh tanya Sasmita. “Apa ada yang ingin kamu katakan?” Satu lagi pertanyaan lolos keluar dari mulut perempuan itu — sebagai penambah rasa penasarannya atas kehadiran Radika di ruangan ini yang tak jua memperoleh jawaban —. “Ibu kemarin siang berpesan padaku untuk mengingatkanmu agar tidak begadang lagi. Ibu khawatir kamu akan jatuh sakit jika terus mengorbankan waktu tidurmu untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, Sasmi.” Ya, begitulah kira-kira isi percakapan telepon antara Radika dan Ibu Sri, ketika membahas perihal kebiasaan Sasmita selama empat hari belakangan yang selalu bangun pada dini hari untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Sebenarnya, Ibu Sri memarahi Radika yang terkesan membiarkan begitu saja istrinya terus bergelut dengan urusan pekerjaan dan mengabaikan waktu untuk beristirahat. Ibu Sri terlalu khawatir akan kondisi menantunya itu. “Jadi, aku harap kamu bisa menuruti nasihat dari Ibu. Bagaimanapun juga beliau mencemaskan keadaanmu, Sasmita. Ibu tidak ingin melihatmu sakit,” Radika menambahkan. Meski, nada bicaranya terkesan datar saat melontarkan kalimat-kalimat tersebut. Sesungguhnya, terselip juga kekhawatiran dalam suara Radika yang berhasil dia sembunyikan, tak kentara oleh Sasmita. “Aku mengerti.” Begitulah respon yang diberikan perempuan itu. Kedua sudut bibir Sasmita sedikit terangkat. Membentuk senyuman tipis yang mengekspresikan perasaan bahagia atas perhatian ibu mertuanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN