14

5141 Kata
Arsa dapat melihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajah adik bungsunya. Dia memilih untuk tidak peduli sama sekali. Seberat apa pun pertentangan yang akan dikumandangkan adiknya itu nanti. Maka, tak ada yang berubah. Istilah mundur tidak akan pernah berlaku baginya. Di sisi lain, Sasmita masih berusaha mencerna baik-baik setiap kata sang kakak yang terdengar sebagai perintah tersebut. Deru napas Sasmita tampak tidak teratur akibat emosinya yang beberapa menit lalu sempat naik ke permukaan. Untuk kali ini saja ingin rasanya dia melayangkan satu pukulan di area wajah kakaknya. Sasmita tidak percaya ternyata dia memiliki seorang kakak yang sepertinya tak mempunyai hati nurani. “Permainan apa lagi yang harus aku ikuti?” tanya Sasmita dengan nada geram. Seringaian licik Arsa tercetak sempurna sesaat setelah pertanyaan tersebut meluncur dari mulut Sasmita. “Kakak tidak terlalu membutuhkan perananmu untuk rencana ini, Dik. Kakak tidak akan melibatmu, Sasmita. Kakak hanya ingin memberi tahu,” Arsa menanggapi dengan gaya arogannya yang sangat khas. Tatapan tajam Sasmita lantas mengarah pada Arsa. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana pola pikir kakak sulungnya itu. “Aku rasa rencana Kakak tidak akan berjalan mulus. Apa Kakak lupa Radika sudah berubah? Dia bukan orang lemah lagi yang bisa Kakak tindas seenaknya,” ujar Sasmita tanpa sungkan mengeluarkan kata-kata pedasnya. Kilatan amarah terlihat di mata Arsa. Rahang wajah pria itu semakin mengeras. Namun, sebisa mungkin dia menahan gejolak amarah dan tidak melayangkan tamparan di pipi adik kurang ajarnya itu. “Kita tidak perlu menghancurkan Radika dengan cepat, Dek. Apa kamu pernah mendengar istilah musuh dalam selimut?” Arsa dan Sasmita saling melemparkan tatapan mereka untuk satu sama lain. Seringaian licik belum ingin memudar di wajah Arsa. Dan hal tersebut menciptakan kemuakkan dalam diri Sasmita.                  “Kakak akan menyambut suamimu menjadi teman dan partner bisnis dengan tangan terbuka. Lalu mencari dan menggunakan kelemahannya sebagai penghancur!” “Kenapa Kakak masih sangat membenci Radika?” tanya Sasmita serius. Jika dulu alasan utamanya adalah tentang status sosial Radika. Sasmita ingin tahu apakah alasan tersebut juga berlaku saat ini atau ada faktor lain yang disembunyikan sang kakak darinya. Decakan sinis Arsa lantas terdengar. “Ckck. Kamu sudah tahu, Sasmi.” “Aku belum tahu alasannya,” tegas Sasmita. “Kakak rasa kamu tidak perlu tahu alasannya. Cukup jalani peranmu dengan baik dan benar agar kita bisa cepat menghancurkan bocah tengik itu.” Sorot mata penuh kemuakkan kini ditampakkan Sasmita. “Bagaimana jika aku berminat untuk membantu Radika?” Pertanyaan tersebut rupanya sukses menciptakan percikan-percikan amarah Arsa. Keputusan untuk menahan emosi dalam menghadapi adik bungsu kurang ajarnya itu terlihat tak akan berlangsung lama. “Ckck apa sekarang kalian berdua sudah ingin bertindak layaknya pahlawan dan saling melindungi? Ckck betapa terlihat romantisnya hubungan kalian,” komentar Arsa sinis. Sasmita tidak mengeluarkan balasan. Hal tersebut tentu membuat Arsa semakin merasa geram. Dia paling tidak suka dilawan. Apalagi, Sasmita memang sengaja berniat untuk menentang dirinya. “Apa aku tidak boleh melindunginya?” Sasmita tinggikan suara melontarkan pertanyaan yang juga masih mengesankan bahwa dirinya menantang. "Jangan pernah berani melakukan semua itu, Dik! Kamu pikir akan bisa melindungi bocah tengik? Kakak tidak akan pernah membiarkannya. Kamu harus membantu Kakak menghancurkan dia!" Sasmita menggeleng dengan cepat. "Nggak, Kak." "Aku nggak akan bisa terus menuruti ucapan dan perintah Kakak. Aku bosan! Aku tahu juga kalau niatan Kakak nggak baik! Aku nggak mau harus menanggung karma buruk dengan Kakak juga!" PLAK! PLAK! "Tutup mulutmu itu, Dik! Jangan pernah berani melawan Kakakmu! Tanpa Kakak yang berjuang, kamu tidak akan bisa hidup seperti sekarang!" ………………… Radika membalas senyuman tulus yang dipersembahkan sang ibu kepadanya. Langit sore yang cerah tak diselimuti awan mendung menjadi salah satu pemandangan favorit Radika, saat menikmati waktu santai di gazebo. Rasa lelahnya sehabis bekerja pun sedikit berkurang. “Tumben kamu tidak lembur, Nak.” Senyum di wajah Radika belum ingin memudar. Pandangan pria itu tertuju pada sosok sang ibu yang duduk di sebelah kanannya. “Semua laporan sudah aku selesaikan, Bu. Jadi, tidak perlu lembur untuk hari ini.” “Bilang saja kamu ingin menikmati lebih banyak waktu dengan menantu Ibu, Nak.” Ibu Sri berniat menggoda putranya itu.  Sudut-sudut bibir Radika semakin bergerak baik hingga menyebabkan senyuman pria itu semakin terlihat melebar. Radika sedikit kebingungan jika harus membalas ucapan sang ibu. Tak ada kata-kata yang ingin dia lontarkan. Namun, Radika bertanya-tanya dalam hati apakah perkataan ibunya itu memang benar adanya?  Radika tidak bisa mengelak bahwa sesungguhnya dia memang ingin menghabiskan banyak waktu di rumah selepas bekerja. Menikmati momen makan malam bersama keluarga. Tak lupa juga, ada dorongan dalam diri Radika untuk mengetahui kegiatan yang biasa dilakukan Sasmita sebelum beranjak tidur. Sekadar berbicara satu atau dua patah kata dengan Sasmita dalam percakapan canggung mereka. Jadi, Radika tidak menampik jika ucapan sang ibu memang ada benarnya juga. “Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, Nak. Ingat kamu sekarang sudah punya istri yang menunggu di rumah.” Anggukan kecil dilakukan Radika. “Sasmi sudah pulang, Bu?” Pasalnya tadi saat di dalam kamar Radika tidak mendapati keberadaan istrinya itu. “Belum. Coba kamu telepon Sasmi, Nak.” Radika melirik sejenak arloji yang melingkar di tangan kirinya. Angka lima pun tampak menjadi titik pemberhentian dari jarum pendek pada alrojinya. Sedangkan, jarum panjang jam berada di angka tiga. “Mungkin dia masih di jalan, Bu.” Radika kembali menyunggingkan senyuman kepada sang ibu. Mencoba menepis kekhawatiran yang mulai menyambanginya yakni tentang Sasmita yang belum tiba di rumah.  “Apa kamu sudah memberikannya pada Sasmita, Nak?” tanya Ibu Sri dengan nada serius kali ini. Radika paham betul benda apa yang sedang dibicarakan sang ibu. Dengan cepat dia melakukan gerakan menggeleng. “Nanti akan aku berikan, Bu.” “Kamu ingat ‘kan pesan dari Ayah Sasmita dan juga ibu kandung kamu, Dika?” Raut ekspresi serius kini juga tampak di wajah Ibu Sri. Dan tiba-tiba saja Radika merasa sulit untuk bernapas. Dadanya seperti terimpit bak ada yang mencengkram kuat. “Aku masih mengingatnya, Bu.” Tangan kanan Ibu Sri terulur menuju kepala Radika. Beliau membelai lembut helaian rambut putranya itu. “Ibu tahu di antara kalian terdapat masalah. Tapi, Ibu tidak ingin campur. Ibu percaya kalian berdua mampu mengatasi masalah tersebut.” “Kamu harus selalu mengingat pesan mereka, Nak. Jaga Sasmita dan rumah tangga kalian. Seberat apa pun masalah yang menghadang. Ibu percaya kalian pasti bisa. Terkadang untuk mempertahankan sesuatu kita memang butuh pengorbanan, Dika.” Beliau berpesan dengan serius. Radika menghela napas panjang. “Sampai sejauh apa lagi aku harus berkorban, Bu?” ....................... Pemandangan pertama yang sukses tertangkap oleh kedua mata Radika, saat baru saja memasuki area kamar adalah sosok Sasmita yang sedang tertidur pulas di sofa dengan posisi tubuh menyamping, kepala bersandar pada tangan sofa, dan kedua kaki yang sedikit ditekuk. Radika kemudian mengalihkan sebentar  perhatiannya pada setumpukan dokumen yang berserakan di atas meja, hanya beberapa detik saja. Sebab, Radika dengan segera mengembalikan titik fokusnya tepat ke wajah Sasmita yang tampak damai saat tidur seperti sekarang.  Sedangkan, kaki kanan dan kiri Radika saling bergantian melangkah menuju sofa yang berada kurang dari satu meter di depannya, tanpa memiliki niat melepas pandangannya dari sosok Sasmita. Seperti ada magnet yang menariknya untuk mendekat ke arah perempuan itu. Kali ini nalurilah yang berhasil memegang kendali diri Radika, melenyapkan logika yang senantiasa selalu berperan sebagai tameng pertahanan kokohnya. Mengubur sedalam mungkin atau bahkan hendak meniadakan perasaan yang sebenarnya masih bersemayam dengan sangat baik, jauh di relung hatinya untuk perempuan itu.  “Sasmi, kenapa kamu berkeringat kayak gini?” Radika seketika panik tatkala mendapati bulir-bulir keringat membanjiri wajah Sasmita. Radika lantas mengambil posisi berlutut di hadapan sofa yang ditempati istrinya. Tanpa menunggu lama, kini tangan kanan Radika bergerak maju, menyentuh wajah Sasmita. Lalu, menghapus perlahan keringat yang menempel di dahi perempuan itu. “Sasmita, bangunlah,” ujarnya dengan suara pelan.  Tatapan Radika terus terarah pada Sasmita yang masih setia memejamkan kedua matanya. Namun, sesekali ringisan kecil yang keluar dari mulut Sasmita terdengar jelas di indera pendengaran Radika. Dan hal tersebut membuatnya merasa semakin cemas. Pasalnya, Sasmita tidak pernah menunjukkan keadaan seperti ini sebelumnya. “Sasmita, kamu kenapa?”  Sebuah pertanyaan yang sarat akan kekhawatiran kembali diluncurkan Radika. Sebab ringisan kecil kian sering lolos dari mulut Sasmita. Begitu juga dengan peluh yang tiada henti membasahi wajah perempuan itu. Tangan kiri Radika beralih ke bahu istrinya mengguncang dengan pelan, bermaksud membangunkan. Tak butuh waktu lama, Sasmita akhirnya membuka kedua kelopak matanya. Perempuan itu tampak sedikit kaget saat mendapati Radika yang berada di hadapannya kini. Keterkejutan Sasmita semakin bertambah ketika menyadari sentuhan dan gerakan tangan kanan Radika di dahinya. Tetapi, rasa nyeri yang datang bersamaan dengan kesemutan pada bagian kaki kiri Sasmita akibat gangguan neuritis perifer, membuat ringisan perempuan itu terdengar kian tak tertahankan.  Namun, Sasmita berusaha keras untuk menutupinya dari Radika. Dia segera bangun dan duduk di sofa. Sedangkan, Radika masih bertahan pada posisinya yang tadi, dengan tatapan terus mengarah ke Sasmita.  “Aku tidak apa-apa,” ujar perempuan itu mencoba meyakinkan, tatkala berhasil menangkap sorot mata Radika yang menyiratkan kekhawatiran. Senyum tipis terbingkai di wajah Sasmita. “Kamu masih saja tidak pintar berbohong, Sasmi.”  Radika bisa menebak dengan mudah jika perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan hal tersebut tentu sangat tak disukai Radika, baik sekarang ataupun dulu. Setidaknya dia harus tahu apa yang tengah terjadi pada perempuan itu. Bagaimanapun juga, Sasmita adalah tanggung jawabnya. “Aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu cemas, Radika.” Sasmita tetap bersikeras. “Jangan berbohong.” Dua kata sebagai bentuk penegasan bahwa Radika tidak akan percaya begitu saja pada ucapan istrinya. Sasmita diam dan sedikit menundukkan kepala. Nada suara Radika yang terdengar lembut sama seperti delapan tahun lalu, seketika menciptakan gejolak perasaan aneh dalam d**a Sasmita saat ini juga.  Tanpa permisi dan izin terlebuh dahulu, potongan-potongan memori yang pernah terjadi di antara mereka, berputar bak rol film dengan apik di kepala Sasmita. Dan menyebabkan mengikisnya pertahanan perempuan itu secara perlahan namun pasti. “Aku akan mengantarmu ke dokter,” ujar Radika seraya bangkit dari posisinya, lalu berdiri di hadapan Sasmita. “Besok saja. Sekarang sudah malam. Kamu juga butuh istirahat, Radika.” Reaksi dalam upaya ingin menunjukkan penolakkan diucapkan Sasmita.  Tatapan Radika menajam saat mata mereka bersinggungan. Dan dengan jelas pula Radika dapat melihat wajah Sasmita yang memucat. Demi apa pun, dia tidak suka dengan k*******n kepala Sasmita yang ingin mencoba membohonginya. “Apa menurutmu aku bisa beristirahat dengan tenang sementara kamu sedang kesakitan, Sasmita?!” Suara Radika meninggi. Kesabarannya hampir saja habis. Sasmita tidak mampu membalikkan keadaan. Kepalanya seakan tak dapat merangkai kalimat demi kalimat untuk dipikirkan guna sekadar membalas perkataan Radika. Gejolak di dadanya semakin bergemuruh hebat. “Paling tidak aku harus menjalankan kewajiban dan tanggung jawabku sebagai suamimu,” lanjut Radika dengan nada suara yang belum diturunkan, sama seperti tadi.  Tatapan Radika terus mengarah pada Sasmita yang kembali menundukkan kepala.Keheningan pun mau tak mau tercipta di antara mereka berdua beberapa saat dan menimbulkan jeda yang hanya diisi oleh kebungkaman masing-masing. Radika menunggu balasan perempuan itu selanjutnya dengan lebih mengedepankan sabar. Dan mencoba mengesampingkan segala emosi yang tadi sempat timbul dengan spontan karena kekhawatirannya terhadap kondisi perempuan itu yang terlihat tidak baik-baik saja. Sasmita menyerah. Perkataan Radika seakan berhasil menyihir dirinya. Membuat benteng pertahanan Sasmita untuk malam ini pun runtuh. “Bisakah tolong kamu ambilkan obatku yang ada di dalam tas?” Sasmita meminta dengan nada sopan. Dia menunjuk sebuah tas yang tergeletak di atas meja, dekat tempat tidur mereka.  Tanpa ingin banyak membuang waktu lagi, Radika segera mengangguk dan lantas berjalan dengan langkah yang dipercepat menuju meja kaca. Mengambil benda yang terbuat dari kulit tersebut, merogoh isinya hingga beberapa detik karena di dalam tas berisi lumayan barang-barang milik perempuan itu. Tak lama kemudian, sebuah botol kecil berisi obat berupa kapsul-kapsul telah berada dalam genggaman tangan kanan Radika.  Botol tersebut tak asing baginya sebab dia pernah melihat benda itu sebelumnya, sekitar beberapa tahun lalu. Namun, Radika cepat-cepat keluar dari asumsi yang menyita waktunya. Dengan langkah kaki yang masih cepat seperti tadi, Radika berjalan kembali ke arah Sasmita. “Terima kasih,” ujar perempuan itu pelan seraya menerima botol obat yang diberikan Radika.  Tangan kanan Sasmita memutar tutup botol tersebut, lalu mengambil satu kapsul dan menelannya bersamaan dengan air minum yang ditenguk oleh Sasmita. Sementara Radika memerhatikan cukup detail setiap gerakan yang dilakukan istrinya. Rasa nyeri dan kesemutan semakin parah saja menghantam hampir di seluruh bagian kaki kirinya hingga mengakibatkan ringisan-ringisan kecil — yang sesungguhnya coba Sasmita redam — lolos keluar dari mulut perempuan itu. Dan dengan adanya obat tersebut, maka hanya dalam hitungan menit rasa nyeri dan kesemutan yang melanda akan lenyap seketika. “Obat apa yang kamu minum, Sasmi?” Sasmita langsung menoleh ke arah Radika ketika pertanyaan Radika mampu mengusik ketenangannya. Namun, tatapan yang diperlihatkan pria itu lagi-lagi sangat sukses membuatnya tak berkutik.  Sorot mata Radika yang seolah-olah menginginkan kejujuran terukir jelas. Dan tidak dapat dibantah jika pancaran manik Radika tersebut berhasil memenjarakan serta memerangkapkan Sasmita. “Hanya obat pereda nyeri.”  “Sakit apa?” Pertanyaan ambigu meluncur dari mulut Radika. Tatapan yang kian menyelidik turut menyertai. .................... Sasmita bungkam. Dia tahu betul maksud pertanyaan tersebut. Tetapi, perempuan itu tidak ingin mengatakan pada Radika mengenai apa terjadi.“Bukan penyakit yang terlalu serius.” Sasmita menunjukkan mimik wajah dan ekspresi yang setenang mungkin. “Aku sudah bilang kamu tidak pandai berbohong, Sasmita!” Suara Radika kembali meninggi. Dia benci mendengar kata-kata sarat kebohongan yang dilontarkan Sasmita hanya untuk menutupi sesuatu darinya. “Mengenai obat itu. Dulu aku pernah beberapa kali melihat kamu meminum obat itu, Sasmi! Kamu bilang obat itu hanya vitamin ‘kan? Kenapa berbeda dengan apa yang sekarang kamu katakan? Jangan berbohong padaku!” Kebungkaman yang masih diperlihatkan Sasmita tampaknya tidak akan mengubah apa pun. Terutama kecurigaan yang semakin kentara ditunjukkan Radika melalui sorot mata tajam mengarah pada Sasmita. Seakan tak ingin memberi celah untuk perempuan itu bisa berkelid. “Aku tidak apa-apa.”  Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sasmita kemudian mendongakkan kepala. Memberanikan diri membalas tatapan Radika yang terkesan sedang mencoba menginterogasinya. Ada denyutan aneh yang seketika menyeruak dalam d**a Sasmita. Sementara, helaan napas berat Radika lantas terdengar. Pancaran mata yang tadinya menajam kini mulai tampak sedikit melembut. Namun, rasa curiga masih menghantui Radika.  Terlebih ketika ucapan dan sorot manik Sasmita menunjukkan hal yang berkebalikan. Dan pada akhirnya, dia memilih untuk menyerah. Menerima jawaban sarat kebohongan yang dilontarkan Sasmita, tanpa ingin memaksa perempuan itu untuk berkata sejujurnya. “Sudah makan?” Sasmita memutuskan mengajukan pertanyaan sebagai peralihan topik pembicaraan.  Bukan jawaban berupa kata yang diperolehnya. Akan tetapi, decakan kecil bernadakan kegeramanlah yang Radika keluarkan. Sasmita kembali bungkam dan memfokuskan pandangan pada setumpukkan kertas dokumen yang tergeletak di atas meja. “Tidurlah. Tubuh kamu juga perlu istirahat, Sasmita.” Suara berat milik Radika meluncurkan sederetan kata yang terdengar sebagai perintah mutlak. Baru saja Sasmita hendak bersuara dan mengeluarkan bantahan. Tetapi, dengan segera Radika melanjutkan kata-katanya, “Setidaknya jangan membuatku khawatir. Istirahatlah, Sasmi.” Dan seketika detik itu juga tubuh Sasmita menegang. Debaran tak menentu mengganggu kinerja jantungnya. Suara lembut Radika yang sangat mirip seperti dulu, masih sukses menciptakan getaran tersendiri di dalam dirinya. …............. Pemandangan pertama yang berhasil menyita perhatian Radika setelah keluar dari kamar mandi yakni sosok Sasmita yang tengah tertidur pulas di tempat tidur dengan posisi menyamping.  Radika menatap wajah damai perempuan itu dari kejauhan. Tidak tampak lagi ringisan atau guratan menandakan kesakitan yang tadi sempat ditunjukkan oleh Sasmita, sekitar setengah jam lalu. Dengan rasa kantuk yang sekan-akan kian memintanya untuk ikut berbaring di samping perempuan itu, Radika pun melangkah menuju saklar tunggal yang terpasang di salah satu sudut dinding dekat pintu kamar mereka. Meniadakan penerangan dari lampu yang kemudian memberi efek pada gelapnya ruangan karena minim percahayaan. Walau begitu, Radika setidaknya masih dapat melihat siluet wajah damai Sasmita ketika terlelap dalam tidurnya. Radika kemudian melanjutkan langkah kakinya ke arah ranjang berukuran besar yang biasa dia dan Sasmita tempati bersama, sejak mereka menikah. Belum pernah terjadi kontak fisik yang berlebihan di antara mereka. Paling hanya kebiasaan diam-diam Radika yang kerap suka memerhatikan setiap inchi wajah Sasmita sebelum dirinya tertarik ke alam mimpi. Dan kegiatan tersebut juga tampaknya dilakukan Radika malam ini. Setelah berhasil merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di samping kanan Sasmita. Radika lantas mengambil posisi tidur menyamping, hingga dirinya dan Sasmita kini saling tidur berhadap-hadapan.  Radika memandang wajah istrinya dengan intens. Tak ada gerakan lain yang  dilakukan Radika. Walau sesungguhnya, naluri menuntun pria itu untuk mengulurkan tangan dan mengusap lembut helaian rambut Sasmita. Namun, logika Radika masih mampu bertahan.  “Belum tidur?” Pertanyaan yang meluncur tiba-tiba dari mulut Sasmita tak membuat Radika kaget begitu saja. Dia tetap tidak melepaskan tatapannya dari perempuan itu ketika mata mereka berdua sudah saling bertubrukan.  Radika lagi-lagi mengesampingkan harga dirinya, dia tidak takut tertangkap basah. Di sisi lainnya, secara tak kasatmata. Mnyelusup perasaan damai secara perlahan ke relung hatinya. Bahkan, tercipta getaran-getaran kecil yang semakin ingin menyerukan perasaan Radika sebenarnya.  “Belum.” Dan pada akhirnya, dia pun menyerah. Membiarkan saja semua mengalir sesuai dorongan naluri. Melupakan sejenak ambisi beserta dendam yang selama ini sukses melumpuhkan perasaannya kepada perempuan itu. Bayang-bayang ekspresi saat Sasmita tadi meringis dan kesakitan berputar kembali di kepala Radika. Menimbulkan rasa sesak di dadanya.  Dan Radika tampaknya menyadari bahwa sekeras apa pun dirinya untuk bersikap tak acuh. Akan tetapi, pada kenyataannya, dia tidak tega melihat perempuan itu menderita atau kesakitan. “Ada apa, Radika?” Sasmita meluncurkan satu lagi pertanyaan disela-sela perasaan tak asing yang muncul akibat aksi tatap-menatap antara dirinya dan Radika. Walau, pencahayaan di kamar mereka terbilang terbatas. Namun, Sasmita tetap dapat menikmati tatapan manik cokelat Radika.  Sorot mata dari pria itu —yang sudah lama dirindukannya— dengan seketika sangat ampuh  melemaskan otot-otot hingga persendian Sasmita. Detak jantungnya juga mulai berdegup melewati batas normal. “Masih sakit?” Kini giliran Radika  mengeluarkan sebuah pertanyaan. Mewakili rasa cemas yang tak kunjung pergi. Dari indera penglihatannya, samar-samar Sasmita melakukan gerakan menggeleng dengan pelan. Dan secara spontan juga tangan kanan Radika terulur, lalu mendarat halus di atas helaian-helaian rambut hitam Sasmita. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Radika masih dirundung rasa penasaran yang tinggi akan kondisi perempuan itu. Semacam ada hal penting yang sedang disembunyikan Sasmita darinya. Naluri sekali lagi sukses mendorong Radika untuk mengetahui perihal sesuatu yang tengah disembunyikan istrinya itu. “Tidak ada apa-apa.” Jika sudah begini, Radika tidak akan memaksa Sasmita lebih lanjut. Karena menurutnya percuma saja. Radika tampak menghela napas panjang, kemudian mengembuskan dengan cepat. Meski demikian, jalan napasnya masih terdengar teratur.  “Baiklah. Kalau kamu tidak mau menceritakannya padaku. Tidak apa-apa, Sasmi,” Radika berucap dengan nada lembut. Tak ada sorot mata tajam, walau intensitas tatapannya pada Sasmita tidak mengalami perubahan. Sementara, tangan Radika yang berada di kepala Sasmita. Perlahan melakukan gerakan kecil, mengusap helaian rambut perempuan itu secara refleks.  Dan tanpa Radika ketahui, tubuh Sasmita menegang akibat dari perlakuannya. Kinerja jantung Sasmita berdetak semakin cepat. Debaran tak menentu yang secara liar memasuki dirinya.  Sungguh, Sasmita ingin menumpahkan segala perasaan yang berkecambuk sekaligus rasa rindu teramat dalam pada sosok pria yang sudah sejak lama dia cintai itu. Tetapi, keberanian Sasmita seakan memudar. Dia terlalu takut untuk berharap lebih. “Tapi, kalau rasa nyeri pada kakimu kambuh lagi. Beri tahu aku,” Radika melanjutkan kata-kata berupa pesan tersebut. Sasmita masih bungkam. Dia belum bangun dari keterkejutannya akan sikap yang Radika perlihatkan. “Jangan membuatku khawatir seperti tadi.” Saat suara berat Radika sudah tidak terdengar, Sasmita baru menunjukkan reaksi dalam setitik air mata yang lolos dari kedua maniknya secara bersamaan. Gemuruh di d**a terus menghantam dan membawa Sasmita kembali menyelami masa lalu. “Terima kasih, Radika.” .................... Arsa mendengarkan dengan saksama pemberitahuan seseorang dari seberang telepon. Raut keseriusan begitu tampak di wajahnya. Salah satu ujung bibir Arsa bergerak naik, menciptakan senyum miring terkesan licik yang menjadi ciri khasnya. Genggam tangan pria itu pada handphone-nya juga mengencang. Seringaian licik terbentuk dengan sendirinya di wajah Arsa. Menandakan jika dia sangat puas mendengar jawaban yang diutarakan lawan bicaranya. Pembicaraan mereka memang ada sangkutpautnya dengan Radika. Setelah mengadakan pertemuan cukup sengit beberapa hari lalu. Rasa benci semakin gencar menggerogoti Arsa. Dia tidak akan membiarkan bocah tengik itu lolos atau menghancurkannya begitu saja. Harus ada konsekuensi yang diterima Radika karena telah berani menantang dirinya. “Lo jangan khawatir. Lakukan saja apa yang gue perintahkan. Lo masih tertarik buat bersama adik gue, ‘kan?” Jadi, jangan membantah perkataan gue,” peringat Arsa serius. Namun, nada bicaranya masih terdengar halus. Dia tidak suka jika ada pertentangan kecil dalam rencana yang telah dia susun. Tak langsung memutus sambungan telepon secara sepihak —seperti yang dia lakukan saat marah—. Arsa memberi sedikit waktu untuk seseorang di seberang sana berbicara. Dan kali ini, Sasmita menjadi topik utama dalamnya. Arsa mengembuskan napas malas. Salah satu hal yang membuatnya tidak nyaman adalah ketika harus membahas segala sesuatu berkaitan dengan adik bungsunya.  “Seperti perjanjian awal. Kalau lo berhasil bantu gue membalas kelakuan bocah tengik itu. Akan gue pastikan, Sasmita jadi milik lo. Lo bisa pegang omongan gue ini,” Arsa menambahkan.  ……………….. Adisti buru-buru meraih tangan Sasmita yang hendak membuka pintu kamar kakak mereka. Dia dan Sasmita tak sengaja mendengar percakapan antara Arsa dengan seseorang yang Adisti yakini adalah Danan. Kesadaran Sasmita belum sepenuhnya kembali. Sebagian besar ucapan-ucapan sang kakak dalam obrolan tersebut masih tergiang-giang di indera pendengaran Sasmita. Dan akhirnya dia menarik satu kesimpulan sendiri bahwa kakak sulungnya itu tengah mempersiapkan rencana aksi balas dendam pada Radika.  “Jangan masuk ke dalam, Sasmita. Kakak tidak ingin melihat kalian bertengkar,” pinta Adisti. Sorot penuh permohonan tampak di kedua matanya. Mendadak perasaan tak enak juga menyergap.  Tatapan kosong Sasmita hanya mengarah lurus ke depan, hingga dia tidak menyadari pancaran kekhawatiran yang diperlihatkan kakaknya. Ekspresi datar menghiasi wajah perempuan itu. Berbeda dengan peperangan yang terjadi di dalam pikiran serta gejolak-gejolak perasaan yang bercampur di dadanya. Sejumlah pertanyaan berputar-putar di kepala Sasmita tanpa henti, menimbulkan dugaan-dugaan negatif yang sangat dipengaruhi oleh prasangka buruknya terhadap Arsa memang telah mendominasi sejak lama. Rasa pening pun tidak dapat dihindarinya. “Kakak mohon, Sasmita,” pinta Adisti sekali lagi. Lalu menggenggam tangan sang adik yang berada di gagang pintu. Demi apa pun, rasa khawatir Adisti kian menjadi. Sebab, dia sudah hafal benar bagaimana perdebatan akan senantiasa tercipta di antara kedua saudaranya saat bertemu. Perbedaan pendapat dan tingkat emosional yang tinggi, sering menjadi penyebab utama perdebatan mereka. Terkadang Adisti tak bisa melakukan banyak hal untuk mencegah atau bahkan menghentikan pertikaian kakak dan adiknya. Sungguh Adisti tidak nyaman dan merasa bersalah. Terutama, ketika sang kakak mulai meluapkan segala emosinya kepada Sasmita karena masa lalu yang masih menyisakan bekas luka kesedihan mendalam. “Ada beberapa hal yang harus aku tanyakan pada Kak Arsa. Kakak jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa.” Sasmita mengarahkan pandangannya pada Adisti. Senyum tipis pun berhasil dibentuk oleh kedua sudut bibirnya. Adisti lantas mengangguk pelan. Berharap di dalam hati jika semua akan baik-baik saja. Meski, dia tak sepenuhnya dapat menjamin jika pertemuan sang kakak dan adik bungsunya akan terlepas dari bayang-bayang perdebatan atau pertengkaran.  ……………………. Arsa langsung memutus sambungan telepon lalu bangkit dari sofa, manakala sosok Sasmita tampak berjalan ke arahnya ditemani Adisti. Walau, hanya lewat ekspresi dan sorot mata yang Sasmita tunjukkan —tanpa mengatakan satu patah kata pun— Arsa sangat yakin adiknya itu telah mendengarkan obrolan pribadinya dari luar kamar. Baiklah jika praduganya memang benar. Tak masalah. Jadi, dia tidak perlu repot-repot terus menyembunyikan rencana balas dendam pada Radika dan janji yang telah dia buat dengan Danan. Toh, kelak pasti Sasmita akan mengetahui semuanya. Begitu pikir Arsa.  Sasmita menghentikan langkah kedua kakinya, lalu berdiri di hadapan sang kakak. Tekanan dan genggaman Sasmita pada tongkat penyangga yang berada di tangan kirinya terasa semakin menguat. Perempuan itu sedikit menengadahkan kepala guna menatap sang kakak yang memiliki tinggi melebihi dirinya. Mereka beradu pandang. Saling melayangkan tatapan yang cukup mencirikan bahwa ada persitegangan di antara mereka yang tak kunjung usai. “Bagaimana, Sasmita? Masih ada yang kurang jelas?” Arsa mengajukan pertanyaan yang mungkin dapat menimbulkan kesan ambigu. Akan tetapi, Arsa yakin Sasmita tidak sebodoh itu hingga tak mampu memahami maksud dari pertanyaannya.  “Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, Kak,” jawab Sasmita to the point. Nada suaranya yang tak bersahabat menambah  aura dingin melingkupi mereka bertiga. Adisti memilih diam sejenak. Berupaya mengenali situasi yang sedang terjadi. Rasa takut dan khawatir datang kembali secara bersamaan.  “Kakak rasa informasi yang kamu peroleh saat menguping sudah lengkap. Tidak ada hal lain lagi yang perlu ditanyakan.” Arsa menunjukkan kesinisan melalui nada bicaranya. Sementara, kata-kata yang dia luncurkan sarat akan sindiran.  “Kakak berniat melakukan balas dendam pada Radika dengan meminta bantuan Danan?” Arsa tak langsung menjawab pertanyaan Sasmita. Dia mendudukan diri di sofa tanpa melepas sorotan tajam yang dia arahkan kepada adik bungsunya. “Danan yang mengajukan diri ingin membantu Kakak. Bukan Kakak yang meminta,” balas Arsa santai. Namun, terdapat penekanan di setiap kata pria itu, meralat dan meluruskan tuduhan Sasmita yang sekiranya tidak benar secara keseluruhan. Khususnya mengenai Danan.  “Tentang balas dendam. Ya, Kakak berencana melakukan balas dendam pada bocah tengik itu.” Tersemat kebencian dalam nada suara Arsa tatkala dia harus mengingat bocah tengik bernama Radika itu. “Berikan satu alasan logis di balik rasa benci yang bertahun-tahun Kakak simpan pada Radika. Serta keinginan Kakak untuk membalaskan dendam padanya. Jelaskan padaku!”  Sasmita tak bisa menahan diri lebih lama lagi. Paling tidak dugaan-dugaan yang selama ini selalu bergelayut di kepalanya menemukan jawaban pasti. Sudah bertahun-tahun lamanya dia diam tanpa mengetahui alasan yang sesungguhnya. Sasmita sangat yakin, bukan hanya soal perkara status sosial Radika yang menjadi alasan Arsa membencinya. Namun, terdapat pemicu lain yang jauh lebih logis untuk dijadikan alasan. Tanpa sepengetahuan Sasmita. Adisti memberi kode kepada Arsa agar tidak sampai kelepasan, hingga mengungkapkan fakta sebenarnya —yang telah menjadi rahasia dan cukup hanya mereka berdua yang tahu—. “Kenapa, Dik? Apa alasan itu begitu penting untuk kamu ketahui?” Arsa balik bertanya. Sasmita menghela napas dalam-dalam guna menenangkan diri barang sejenak. Mengisi pasokan oksigen yang kian menipis di paru-parunya. Memang dibutuhkan kesabaran yang cukup ekstra dalam menanggapi ucapan sang kakak. Walau, Sasmita tak yakin kesabarannya dapat bertahan sampai mana. Akan tetapi, paling tidak dia sudah terus mencoba untuk mengontrol diri agar tidak lepas kendali dan mengakibatkan emosinya terpancing bahkan meluap ke permukaan. “Apakah setelah berhasil melakukan balas dendam pada Radika. Kakak akan merasa puas?” tanya Sasmita lirih. Pandangannya telah beralih ke arah lain.  Adisti bisa melihat sorot mata sang adik yang sayu dan kosong. Jauh berbeda dengan apa yang Sasmita tunjukkan pada kakak sulung mereka. Adisti dapat merasakannya, luka tak kasatmata yang terpancar dalam manik Sasmita. Dan semua ada hubungannya dengan Radika.  “Tentu. Kakak akan merasa sangat puas. Itulah akibat yang harus diterima si bocah tengik karena sudah berani menantang Kakak. Dia harus merasakan penderitaan,” jawab Arsa dibarengi oleh setumpukan emosi yang mulai tertarik ke permukaan. “Kakak pikir dengan dulu menghancurkan usaha milik orangtuanya akan memberi efek jera pada bocah tengik itu. Ternyata Kakak salah. Dia malah bangkit dan memiliki posisi penting di Putra Kencana. Tapi, hal itu tidak akan membuat Kakak takut atau menyerah. Kakak akan pastikan dia mendapatkan balasan setimpal karena sudah berani menantang dan meremehkan Kakak.”  Arsa membuka tabir di masa lalu yang pernah dilakukannya. Ada kilatan amarah terpancar dalam mata pria itu. Tangan Arsa yang menggengggam handphone pun mengepal. Sasmita segera memusatkan titik perhatiannya kembali pada sosok sang kakak. Dia masih tidak percaya dengan satu fakta yang baru saja diutarakan oleh kakaknya.  Sekelebat bayangan Ibu Sri yang menangis —tatkala menceritakan bagaimana masa-masa susah dan kesulitan ekonomi yang melanda keluarga mereka— seketika muncul di benak Sasmita. Menyebabkan kepalanya merasakan pening yang kian bertambah. Rasa nyeri dan sesak juga menghantam d**a Sasmita tanpa permisi. Untuk pertama kali, ingin sekali dia mengutuk perbuatan Arsa yang telah membuat keluarga Radika menderita, hanya demi menuruti keegoisan dan membalaskan rasa benci yang tak berkesudahan. “Bagaimana dengan karma yang akan Kakak peroleh setelah ini? Bukankah niat buruk hanya akan mendatangkan karma yang lebih menyakitkan bahkan menyengsarakan? Apakah rasa puas akan sebanding dengan penderitaan balik yang mungkin tidak dapat dihindari?”  Arsa langsung bangkit dari sofa dengan amarah memuncak. Dia berjalan ke depan sebanyak dua langkah. Tepat setelah berdiri di hadapan Sasmita. Tangan kanan Arsa yang tadi mengepal, kini terangkat ke udara. Mendaratkan satu tamparan keras di pipi kiri Sasmita. Plak! “Tahu apa kamu tentang penderitaan hah, Sasmita?! Tutup mulutmu!” teriak Arsa kemudian. Deru napasnya terlihat naik-turun karena emosinya yang keluar membludak. Sasmita berdiri dengan tubuh yang membeku. Rasa sakit dan perih akibat tamparan sang kakak di pipinya masih sangat membekas. Akan tetapi, lagi-lagi tak ada rasa rakut dalam sorot mata Sasmita. Dia sudah kebal menerima perlakuan yang sama dari kakaknya itu. “Kamu membicarakan tentang karma dan penderitaan? Baik kalau begitu,” ada jeda yang sejenak diberikan Arsa. Sebelum meluapkan segala emosinya dalam bentuk kata-kata, “apa kamu tahu penderitaan yang Ibu lalui cuma demi mempertahankan anak  cacat sepertimu? Ibu sampai harus meregang nyawa saat melahirkan kamu, Sasmita!” “Apa pernah kamu berpikir bagaimana menderitanya kami karena harus kehilangan sosok seorang Ibu di usia belia, hah?” Bertubi-tubi kalimat yang sarat akan kebencian dikeluarkan Arsa tanpa filter. Dia bahkan tidak peduli terhadap akibat yang ditimbulkan oleh perkataannya bagi sang adik. “Jangan berani membicarakan tentang penderitaan. Jika kamu belum sadar penuh bahwa kamulah yang sesungguhnya membawa penderitaan di dalam keluarga. Kehadiran anak cacat sepertimu merupakan wujud kesialan dan karma buruk yang harus kami terima!” Arsa belum merasa puas melontarkan kata-kata sarkasme yang dia tunjukkan khusus untuk adik bungsunya. Arsa bahkan telah lama memasukkan Sasmita ke dalam list orang-orang yang dibencinya. Arsa memang tipe pendendam, terlebih ketika dia sudah merasa tersakiti oleh kenyataan yang harus dengan terpaksa diterimanya. Terutama pukulan berat saat kehilangan ibu yang paling dia sayangi. “Cukup, Kak!” bentak Adisti dengan suara tinggi. Menghentikan aksi tak terkontrol yang Arsa perlihatkan di depan mereka. Tetesan demi tetesan air mata mengalir turun, membanjiri kedua pipi tirusnya. Tubuh Sasmita bergetar cukup hebat. Jika saja Adisti tidak memeluknya. Maka, dapat dipastikan Sasmita tak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri lagi. Terlebih rasa kesemutan pada kaki kirinya semakin menjadi saja, mengganggu keseimbangan tubuh Sasmita. Namun, luka sayatan yang menganga lebar di hatinya jauh terasa lebih menyakitkan. Setiap kata yang diluncurkan sang kakak sukses merobohkan pertahanan Sasmita. “Maafkan aku. Maaf sudah membuat kalian menderita karena kondisiku. Maaf. Sekali lagi maafkan aku,” ucap perempuan disela isakannya yang kian mengeras. Menangis dalam pelukan Adisti. “Kamu tidak salah, Sayang,” balas Adisti. Dia juga ikut terisak. Tak kuat melihat keadaan adiknya yang terpuruk. Arsa tetap tak ingin menunjukkan kepeduliannya. Air mata sang adik tidak memiliki arti apa pun untuknya. Rasa benci yang telah mengakar tidak akan mampu terhapuskan dengan cepat.  Dia kemudian melenggang pergi, keluar dari kamar. Menyisakan Adisti yang tengah berupaya menenangkan adik bungsunya. "Apa benar kalau dulu Ayah kita dan Ibu kandung Radika sempat berselingkuh? Tolong beri tahu aku, Kak!" desak Sasmita dikala rasa perih semakin menghimpit dadanya ketika mengetahui kenyataan yang ada. …………………..  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN