Perempuan itu tak bisa menahan laju air matanya saat melihat sosok Radika yang berdiri beberapa meter di depannya. Rasa sesak seketika menghantam d**a Sasmita tatkala ucapan-ucapan sang kakak ketika mereka terlibat pertengkaran kembali tergiang-giang. Bukan hanya rasa sesak yang berhasil menggerogotinya. Bahkan, perasaan bersalah atas apa sudah diperbuat oleh kakaknya pada Radika juga turut serta hadir melengkapi. Mengganggu ketenangan batin Sasmita. Dan ketika mereka saling memandang satu sama lain. Air mata perempuan itu tidak mampu berhenti mengaliri pipinya. Isakan tangis yang semakin bertambah pun menimbulkan getaran pada tubuh Sasmita. Perempuan itu mulai kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. “Kenapa kamu menangis, Sasmi?” tanya Radika sarat akan kekhawatiran. Dia mengamb

