“Aku mau kamu pura-pura jadi mahasiswa baru dan gak nunjukin kalau kamu kenal sama aku. Dan, ehm ... jangan panggil aku non Angela, jangan bersikap terlalu kaku, dan terlalu hormat sama aku Apa kamu ngerti, Gino?” tutur Angela, panjang lebar.
Gin hanya mengangguk. Michael sudah menjelaskan padanya mengenai hal itu, bahwa dirinya akan menjadi teman sekelas Angela, tetapi bagaimana pun, kenyamanan Angela adalah nomor satu bagi Gin. Karenanya, jika gadis itu memberi syarat, apa pun itu akan ia patuhi.
“Baik, Non. Saya mengerti. Kalau begitu saya akan ganti pakaian dulu.”
Gin masuk ke dalam kamarnya, kemudian dalam waktu sepuluh menit ia sudah keluar dan membuat bola mata Angela nyaris mencelus dari kelopaknya.
Penampilannya sangat kuno dan tak bisa dikatakan bagus. Angela berani jamin, orang-orang pasti akan langsung tahu kalau Gin adalah seorang pengawal pribadi.
“Ini apaan sih, Gino?” tanya gadis itu. Wajar saja, di hadapannya kini berdiri seorang lelaki dengan pakaian formal serba hitam. Persis seperti bodyguard sungguhan.
Meski ia memang seorang bodyguard, tetapi Angela sudah menjelaskan panjang lebar, kan, kalau gafis itu tidak ingin Gin berpenampilan layaknya pengawal pribadi yang ada dalam film-film.
Bukankah Gin memang pengawal pribadinya? Memang ... tapi, tidak harus berpakaian seformal itu, kan? Terlebih status Gin nanti adalah mahasiswa juga.
Memakai jasa pengawal pribadi mungkin bukanlah ide yang buruk. Namun, jika yang semodel Gin, tentu saja Angela tak berani banyak berkomentar. Ia hanya bisa geleng kepala keheranan karena tingkah polah bodyguard-nya itu.
“Gino, are you kidding me? Baju kamu itu mirip kayak orang mau kondangan, tau! Entar mereka malah tahu kalau aku pake jasa pengawal pribadi. Ganti baju!”
“T-tapi, Non—“
“GINO! Lakuin perintah aku, sekarang!” Angela memijat kepalanya yang terasa pening. Baru satu hari saja pengawalnya ini sudah membuatnya naik darah.
Sayangnya, ia sudah terlanjur setuju dengan permintaan sang ayah yang merupakan pemegang otoritas tertinggi dalam keluarganya. Meski sejujurnya Angela tak pernah setuju dengan ide ini, dengan janji manis sang ayah semalam, ia merasa tak ada salahnya untuk mencoba.
Namun, ia tidak menyangka juga kalau jadinya bakalan seruwet ini ketika berurusan dengan lelaki asing itu.
Lelaki itu kemudian kembali ke kamarnya, dan tak berapa lama keluar dengan pakaian berbeda.
Kaos oblong yang dipadukan dengan jeans belel dan outer kemeja flanel. Rambut yang semula klimis, ia rapikan dengan model yang lebih mengesankan anak muda, padahal usianya jauh lebih tua dibanding Angela.
Sementara Gin merapikan pakaian yang ia kenakan, berdiri di hadapan Angela seolah meminta pendapat gadis itu. Tentu saja, Angela setuju dengan penampilan Gin kali ini. Bahkan ia mengagumi tampilan lelaki yang tampak lebih segar dan ... menawan.
“Nah, kayak gini kan bagus. Sekarang, kamu berangkat pakai mobil yang udah disiapkan papa buat kamu, aku akan berangkat bareng Jason.”
Gin membulatkan maniknya kala mendengar perkataan Angela. Siapa lagi Jason itu? Mengapa tak sesuai permintaan Michael? Bagaimana jika pria itu kecewa dengan kinerjanya karena tak bisa menjaga Angela, lantas memecatnya?
Terlebih Michael tak membahas masalah Jason atau semacamnya. Bukankah itu artinya Angela harus terus berada di dekatnya, bukannya malah berangkat dengan lelaki yang tidak jelas asal-usulnya?
Tidak jelas bagi Gin, tentu saja.
Bukankah siapa pun bisa jadi pelaku kejahatan? Tak peduli itu orang terdekat sekali pun.
“A-apa? Jadi kita tidak berangkat bersama, Non? Siapa Jason itu?”
Angela menghela napas, sudah berapa menit terbuang karena percakapan antara dirinya dan Gin. Namun, lelaki ini memang harus mendapat penjelasan agar ia tidak berpikir yang tidak-tidak mengenai Jason.
“Dia sahabat aku, Gino, tenang aja. Ayo sekarang kita berangkat. Ingat pesanku, kamu ngawasi aku dari jauh aja, oke?”
Gin mengangguk patuh, meski ia tak bisa begitu saja percaya dan mempercayakan Angela pada lelaki yang tidak ia kenali. Ia hanya perlu mengawasi dari kejauhan, seperti apa yang diminta oleh Angela.
Gin kemudian mempersilakan Angela untuk jalan lebih dulu, sementara dirinya mengikuti dari belakang. Ia melajukan tunggangannya keluar dari kediaman Arbianto, tetapi menghentikan mobil di pinggir jalan tak jauh dari rumah Angela.
Ia tetap akan menjalankan tugas dengan baik meski Angela memintanya untuk tidak mengawasi selama gadis itu bersama Jason.
Dan ... lelaki bernama Jason itu, tetap saja akan menjadi salah satu dari beberapa orang yang nantinya harus mendapat perhatian lebih darinya. Entah mengapa instingnya mengatakan bahwa pelaku tindakan iseng yang menimpa Angela bukan dilakukan oleh orang lain melainkan orang terdekat.
Gin turut melajukan kendaraan roda empatnya, kala melihat mobil sport di depannya sudah melaju meninggalkan perumahan tempat tinggal Angela. Ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang mengharuskannya menyelinap, memyamar, atau bersembunyi. Karena itu, tak sulit baginya beradaptasi dengan kondisi apa pun yang diminta oleh Angela.
Kecuali kondisi kelas, tentunya.
Gin kini berdiri, berada di sebuah ruangan yang terasa asing baginya. Terlebih aroma debu, kayu, dan aroma lain yang ia kenali sebagai aroma bahan-bahan pertukangan.
Ia kini bertanya-tanya, ininjurusan seni, ataukah jurusan arsitektur?
"Bu Anita gak masuk hari ini. Tapi beliau kasih tugas, kita diminta untuk membuat bentuk patung dari bahan-bahan limbah, dengan tema seperti yang sudah aku tulis di papan," icap salah satu mahasiswa yang merupakan ketua kelas.
Gin celingukan. Ia belum menemukan kehadiran Angela di ruangan itu. Hanya meja kosong yang bertuliskan nama gadia itu di atasnya.
Namun, tak berapa lama, yang dinantikan oleh Gin datang juga. Angela memasuki kelas, kemudian mulai membaca barisan tulisan di papan, lalu mempersiapkan peralatan yang seharusnya ia gunakan untuk mengerjakan tugas seperti perintah sang dosen.
“Non, maaf saya tidak tahu harus berbuat apa dengan tugas itu. Apa yang harus saya persiapkan?” tanya Gin, setengah berbisik agar tidak didengar teman lainnya.
Angela menoleh ke belakang, kemudian memeriksa tas yang dibawa lelaki itu.
"Wah ... kamu punya peralatan pahat lengkap, Gino! Keren banget! Tinggal dipake aja peralatannya, kalau patungnya pake metode butsir, ya kamu pake alat ini." Amgela menunjukkan satu set peralatan yang terdiri dari pisau pahay dan ia ambil salah satunya yang berbentuk seperti pengeruk buah.
"Ini dia."
“Lalu, yang jadi tugas itu? Patung dari limbah?” tanya Gin, yang rasanya ingin berendam air hangat saja karena kepala dan tubuhnya yang mulai terasa penat, padahal baru beberapa menit ia berada di ruangan itu.
Keduanya berbincang dan seperti mengadakan sesi tanya jawab sementara lainnya tengah berkonsentrasi mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Hal itu menyebabkan beberapa dari teman sekelas Angela merasa terganggu.
"Berisik banget! Siapa sih, yang ngobrol sendiri dari tadi? Kerjain, tuh, tugasnya! Jangan malah berisik!" sergah salah seorang mahasiswa berambut panjang dengan dandanan menor.
Angela memperkecil volume suaranya, kemudian mengeluarkan benda-benda yang telah ia kumpulkan dan telah ada di mejanya sejak tadi.
Ia telah mengumpulkan beberapa benda yang dianggap sampah dari rumahnya, kemudian membawanya ke kampus. Kini ia berikan beberapa pada Gin, yang justru bingung harus berbuat apa dengan kotak s**u yang baru saja diberikan oleh nya.
"Bentar, aku pinjemin cutter di cowok itu." Angela bangkit dari kursinya dan menuju ke salah satu bangku. Ada papan kecil bertuliskan nama 'Ramandaka'.
"Halo, Rama. Aku Angela, boleh pinjem cutternya sebentar?" tanya gadis itu, yang hanya direspon dengan lirikan sekilas tanpa jawaban yang berarti.
"Ehm ... aku pinjem cutter-nya," ulangnya.
"Lagi aku pake," jawab lelaki bernama Rama, singkat. "Lagian, anak seni seharusnya punya peralatan sendiri, kan?"
"Bukan buat aku, tapi buat itu."
Rama menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Angela, kemudian pada Angela, bergantian. Ada yang aneh di wajah Angela, yang tampak di mata lelaki itu.
"Kamu lagi sakit, ya?" tanya Rama.
"Apa?" Angela balik bertanya, tak megerti. Dan di detik berikutnya, ia tak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Rama, karena tubuhnya telah limbung dan terjatuh di lantai.