Identitas Baru

1274 Kata
Angela tak dapat terpejam malam ini, padahal ia sudah berniat untuk tidur lebih awal setelah bertemu dengan pengawal pribadinya yang jelas-jelas hasil pilihan sang ayah. Namun, hingga dua jam berlalu ia masih juga terjaga. Antara memikirkan bagaimana jadinya kehidupan Angela setelah kehadiran orang baru di rumahnya dan dalam kehidupannya—bukan sebagai suami, melainkan pengawal pribadi—sekaligus masih terganggu akan kejadian yang beberapa hari lalu menimpanya. Berkali hanya membolak-balik tubuhnya ke kanan dan kiri, berusaha memejamkan mata, tetapi ingatan tentang hal-hal yang dialami beberapa waktu terakhir selalu mengganggu. Ia merasa kesal dan lelah, sepertinya sekali lagi harus menenggak obat tidur untuk membuatnya lelap dengan cepat. Angela memutuskan untuk keluar dan mengambil air minum, tetapi sesampai di depan pintu, ia melihat sosok besar berdiri di sana. Sontak ia berteriak sekencangnya dan nyaris terjatuh karena saking panik dan ketakutan melihat sosok yang ia pikir makhluk halus. “Non ... Non Angela ... Ini saya, Gin ....” Lelaki itu berusaha menenangkan Angela yang terlanjur panik, tetapi Angela tak juga berhenti bersikap histeris. Akhirnya dengan terpaksa Gin menampar pipi gadis itu. PLAK! “AW! Gino! Kamu berani nampar aku!” protes Angela, yang mulai sadar dan menghentikan jeritan penuh ketakutan yang sejak tadi tak juga berhenti jika tidak pengawalnya itu tidak mengambil sikap—yang sebenarnya berbahaya juga bagi nasibnya sendiri. “Maaf, Non ... karena Non Angela tetap saja histeris, terpaksa saya menampar—“ Angela mengangkat tangan, isyarat agar Gin berhenti bicara. Dan benar saja, pria itu patuh dan membungkam kalimatnya sendiri. “Kamu ... Ngapain berdiri di depan kamarku?” tanya Angela, penasaran. Gin hanya melirik wajah Angela sekilas lalu menjawab tanpa menatapnya. “Saya sedang berjaga, Non. Memastikan Non Angela baik-baik saja.” Angela mengangguk paham, meski tidak benar-benar memahami jalan pikiran Gin. Karena ia tidak membutuhkan perlindungan 24 jam selama berada di rumah. Memangnya siapa yang akan menyakitinya jika berada di rumah? Di pintu gerbang depan, ada penjaga yang standby sepanjang hari, lalu kamera pengawas juga selalu menyala, dan jangan lupakan para ajudan yang selalu mengawal ayahnya. Jadi tak ada yang perlu dicemaskan. “Kamu boleh istirahat, karena kamu udah lihat, kan, kalau aku baik-baik aja?” ucap gadis itu. Namun, terlihat keraguan di wajah Gin, juga sepertinya ada kalimat yang menggantung di ujung lidahnya. Angela memberi isyarat pada Gin agar mengatakan apa yang ada dalam benaknya. “Saya akan tidur setelah Non Angela selesai dari dapur. Mari, Non, saya akan mengantar Non Angela.” Gin sudah memutar tubuh dan mempersilahkan Angela untuk berjalan lebih dahulu, tetapi gadis itu menolak. “Gino ... kamu tidur aja. Kamu gak harus berjaga dua puluh empat jam. Kamu Cuma harus jaga aku selama berada di luar rumah, oke? Nah, sekarang, kamu masuk kamar terus tidur. Besok, kita harus berangkat pagi banget karena ada kuliah jam tujuh dan aku gak mau terlambat.” Angela kemudian menuruni anak tangga, meninggalkan Gin yang akhirnya mengalah dan mematuhi perintahnya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar,, kemudian memutuskan untuk tidur. Sementara Angela, telah selesai menenggak obat tidur, lalu melakukan hal yang sama. Segera masuk ke dalam kamar, dan tenggelam dalam lautan mimpi. Gin, tak bisa terlelap, meski ia sudah berusaha. Kebetulan sekali, terdengar sebuah ketukan di pintu dan seseorang yang mengatakan kalau Michael memanggilnya ke ruang kerja pria itu. Ia bergegas menuju ke ruangan yang berada di lantai dasar kediaman Arbianto, mengetuknya tiga kali, kemudian membuka pintu saat Michael memberi instruksi agar ia segera masuk. “Apakah Bapak memanggil saya?” tanya Gin, pada lelaki paruh baya yang tengah duduk di kursi kebesarannya di sebuah ruangan yang tampak klasik, tetapi tak meninggalkan kesan yang dinamis dan berwibawa. Ada beberapa rak buku tertata rapi tak jauh dari meja kerja Michael. “Ya, Gin. Silakan duduk.” Lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu mengangguk patuh, lantas duduk tepat di seberang Michael yang masih menghadap tumpukan kertas di atas mejanya. Ia menanti sampai tuannya itu menyelesaikan pekerjaannya, sebelum memulai pembicaraan yang sepertinya begitu penting bagi keduanya. Michael akhirnya menyingkirkan lembaran penting itu, mulai memusatkan perhatian dan membicarakan hal yang jauh lebih penting ketimbang proyek triliunan sekali pun. Mengenai putrinya. Ia kemudian mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya, menyodorkan pada Gin sebuah map dan amplop coklat, yang tanpa menunggu perintah dari sang tuan, Gin segera membuka dan membaca apa saja yang tertulis di sana. “Mulai besok, kamu akan berkuliah, mungkin untuk ke sekian kalinya, jika saya tidak salah. Ini harus kamu lakukan agar bisa terus mengawasi dan menjaga Angela,” ucap Michael dan membiarkan pria muda itu membaca dan memeriksa apa saja yang ada dalam amplopnya. Sebuah kartu identitas mahasiswa, paspor, kartu tanda pengenal dan beberapa berkas penting lainnya yang akan mendukung penyamarannya. “Untuk sementara jangan gunakan identitas asli kamu, oke? Ini tidak hanya demi keamanan Angela, tetapi juga demi keamanan kamu. Orang tua kamu—“ “Saya mengerti, Pak. Saya akan berusaha menjalankan tugas yang Bapak berikan dengan baik dan menjaga sekaligus mencari tahu pelaku perbuatan iseng itu,” potong Gin, seolah tak ingin siapa pun mengungkit apa pun mengenai orang tuanya. “Bagus. Nanti kamu akan menjadi mahasiswa jurusan seni, dan saya sudah bicara dengan sahabat saya yang merupakan petinggi kampus, dia akan melindungi posisi kamu. Tapi, usahakan jangan sampai ada yang mengetahui ini, oke?” Gin mengangguk paham. Dengan segala aturan yang dibuat oleh Michael justru membuat gerak-geriknya jauh lebih mudah. “Saya boleh meminta satu hal, Pak?” tanya lelaki itu pada pria berwibawa yang duduk di hadapannya, masih dengan sikap rendah hati seperti yang ia ketahui sejak dulu. Michael tak pernah berubah meski waktu telah berlalu sekian lama. “Silakan, Gin. Apa pun itu, saya akan usahakan memenuhinya untuk kamu.” “Sebenarnya ini permintaan yang tidak terlalu penting, tapi saya harus katakan agar saya bisa tenang melakukan pekerjaan ini. Saya harap Pak Michael juga tidak mengatakan apa pun pada Non Angela mengenai identitas saya. Setidaknya sampai saya menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan.” Gin lantas terdiam, menelaah dan mengingat kembali apa tujuan keberadaannya di sini. Bukan hanya sekadar menjadi pengawal bagi putri tunggal Michael Arbianto, melainkan juga satu hal penting yang harus ia jalani pada akhirnya. Karena kejadian yang berhubungan dengan masa lalu Michael dan Gin. “Tapi ... pada akhirnya ia pasti akan tahu juga. Bukankah tak masalah jika ia mengetahui kenyataan itu dari sekarang? Karena sejak awal itu yang saya inginkan, mengakui kamu sebagai—“ “Saya mohon, Pak. Hanya itu yang saya minta dari Bapak. Saya tidak ingin mengecewakan siapa pun dan saya juga berharap Pak Michael melakukan hal yang sama,” jawab lelaki itu. Michael setuju dengan syarat yang diajukan oleh pria muda itu, meski ia tak begitu memahami alasan lelaki itu meminta agar dirinya merahasiakan hal yang tak mengapa jika diketahui oleh Angela atau rekannya sekali pun. Michael bahkan pada akhirnya meminta Gin untuk merahasiakan identitasnya sebagai pengawal, karena Gin tak ingin mengemban tugas ini sebagai identitas yang sebenarnya. Seperti yang dikatakannya, bahwa ia tak ingin mengecewakan siapa pun. Padahal Michael sama sekali tak kecewa ketika tahu yang sebenarnya mengenai Gin. “baiklah kalau begitu. Kamu boleh beristirahat agar tidak kesiangan untuk berangkat ke kampus, besok. Kamu tahu, kan, Angela itu sangat keras kepala dan sering ngambek kalau apa pun gak berjalan sesuai rencananya.” Michael mempersilakan Gin untuk keluar dan kembali ke kamarnya. Gin mengangguk, lalu bangkit dan berlalu dari ruangan Michael. Sementara di luar ruangan, ia kembali memandangi kartu identitas yang bertuliskan nama ‘Regin G’ sebagai identitasnya. Huruf G yang ia minta tak akan pernah dihilangkan dari marganya meski juga harus disembunyikan. Namun, sampai kapan pun nama belakang yang ia dapatkan dari sang kakak, tak akan pernah ia hilangkan dalam kondisi apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN