Singkat cerita hari pertama mas Erik tiba dirumah kami. Dia melakukan observasi tiap sudut rumah kami. Dengan sedikit mantra-mantra yang dibacanya dan juga air kembang yang sudah disiapkan beliau. Lalu air kembang tadi turut disiramkan juga. Setelah selesai, beliau memberitahukan kepada kami, kalau rumahku sedang mendapat ‘kiriman’ dari seseorang yang iri pada karir suamiku. Selain rumah, ada juga efek negatif terhadap istri, yaitu aku. Mas Erik menjabarkan segala macam gangguan itu. Termasuk asal usul demit itu. Aku dan suami yang awan mengenai dunia mistis, hanya bisa menganggukkan kepala.
Setelah itu mulailah episode derita ku dimulai. Mas Erik mulai mempersiapkan perlengkapan ruqiahnya. Ada botol kosong, ada sapu lidi, minyak dalam botol kecil dan air yang sudah disiapkan Mas Erik dari rumahnya. Dalam sekejap semua sudah siap dan terhampar dihadapannya. Mas Erik lalu meminta suamiku untuk mematikan lampu di ruangan itu, tapi ruangan lain tidak, jadi masih terlihat sebagian cahaya. Kepo ku kumat, langsung ku tanya “kenapa kok lampunya dimatikan??”. “Supaya lebih khusyuk dan demitnya bisa di tangkap,” kata Mas Erik. Suamiku langsung menegur aku, agar jangan terlalu banyak tanya. Aku pun terdiam. Tetap aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sementara ku pendam dulu penasaran itu. Aku coba turuti perintah suamiku.
Begitu lampu dimatikan, Mas Erik memulai prosesinya, terdengar suara Mas Erik komat kamit, tapi tidak begitu jelas. Aku hanya disuruh berkonsentrasi. Sambil memejamkan mataku. Dalam hati ku mengucap istighfar, terus menerus ku ucapkan. Tiba-tiba suasana hening. Aroma di ruangan itu ikut berubah juga, yang tadinya wangi berubah menjadi bau busuk. Hawa dalam ruangan yang tadinya dingin, tiba-tiba ikut berubah menjadi panas, padahal kipas anginnya ada 2.
Entah kenapa aku tidak lagi mendengar suara Mas Erik komat kamit. Yang ku dengar hanya suara raungan. Suara itu seperti terdengar dari kejauhan tapi lama kelamaan makin mendekat dan jelas sekali. Ku coba membuka mataku perlahan tuk pastikan suara apa itu. Tapi kok terasa berat, serasa kedua mata ini di lem. Mulut ini tak berhenti mengucap istighfar. Badanku terasa lebih berat dan agak panas terutama dekat bagian leher. Pundakku tiba-tiba terasa ada yang memukul.
Berapa lama aku seperti mendengar suara suamiku memanggil. Mataku akhirnya mau terbuka, dan kulihat suamiku memegang tanganku. Sementara Mas Erik sibuk menebah sapu lidi di sekelilingku. Entah apa gunanya, aku tidak berani bertanya lagi. Langsung ku raih lengan suamiku. “Kenapa aku Mas?” tanyaku ketika mulai sadar. Suamiku menjelaskan tadi aku seperti kesurupan, kurang lebih 10 menit tidak sadarkan diri, meraung raung dan senyum-senyum sendiri.
Entah apa yang dikatakan suamiku apa benar atau tidak, tapi Mas Erik menimpali kalau itu demit yang coba melawan dengan Mas Erik. Tapi akhirnya bisa keluar dengan ilmu yang dimiliki Mas Erik. Aku hanya mengangguk berusaha tuk memahaminya. Semua badanku rasanya remuk, seperti habis kerja 24 jam. Kurang lebih 1 jam-an prosesi pengobatan yang ku jalani bersama Mas Erik. Akhirnya tepat pukul 10 malam, Mas Erik pamit pulang. Mas Erik sempat berpesan pada suamiku, bila terjadi sesuatu yang urgent, tolong segera hubungi dia.
Setelah Mas Erik pergi, aku dan suamipun bercerita sebentar sebelum tidur. Aku bercerita apa saja yang ku rasakan, dan terakhir ku katakan pada suamiku bahwa aku sepertinya belum sembuh. Namun karena suamiku sepertinya sudah tersugesti oleh Mas Erik, maka omonganku hanya dianggap angin lalu. Malah suamiku ngorok duluan. Bisa jadi karena ia kelelahan. Ku coba memejamkan mata juga, ternyata sulit. Masih terbayang dengan apa yang dilakukan Mas Erik tadi dan juga sosok yang meraung tadi. Tak lama tiba-tiba ada lagi gangguan.
Aku pikir setelah pengobatan tadi, aku tidak akan bertemu mereka lagi. Wah ternyata malah lebih dahsyat. “Riris … Riris… Riris …” suara itu darimana gumamku dalam hati. Kulihat tidurnya suamiku, kupikir dia mau mengerjaiku. Masih tertidur ternyata. Lalu siapa yang memanggil namaku. “Riris aku disini…” sekujur tubuhku langsung merinding. Arah suara itu semakin jelas. Sepertinya dari dalam lemari pakaianku. Karena rasa penasaranku yang menggebu-gebu, ku coba dekati suara itu. Semakin dekat arah suara itu. kubuka cepat-cepat lemarinya. Ya Allah … seorang wanita tua dengan mata hitam semua, berpakaian serba putih dengan rambut terurai, dengan mulutnya yang berlumuran dengan darah yang segar. Aku langsung roboh tak sadarkan diri.
Ketika paginya aku tersadar sudah berada di atas ranjang. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Astaghfirullah, aku telat bangun, suami ku belum ku siapkan sarapan dan pakaian kerjanya. Langsung ku beranjak dari tempat tidurku. “Maaf Mas aku kesiangan” kataku. “He he ngapain kamu semalam tidur di lantai? Kecapekan ya…” tanya suamiku. Aku tak berani berkata jujur, hanya ku jawab dengan senyum. Setelah sarapan suamiku langsung berpamitan turun kerja. Aku pun langsung mengerjakan tugasku sebagai ibu rumah tangga.
Beberapa hari kemudian, ketika suami kebetulan lagi libur kerja, kami buat acara masak bersama. Hari itu bangun pagi kami berdua langsung bersiap mau ke pasar. Singkat cerita sepulang dari pasar, aku menyiapkan semua bahan-bahan untuk memasak. Belum sempat aku memulai memasak, serasa kepalaku pusing dan tiba-tiba aku terjatuh di dapur. Suami ku yang mendengar suara ribut didapur langsung mendatangi aku. Ketika ku tersadar, aku sudah berada diatas ranjang tempat tidurku. Dan ada suamiku dengan Mas Erik. “Kenapa aku Mas?” tanyaku bingung. “Kamu dari pagi tidak sadarkan diri, seperti orang kesurupan, makanya ku telpon Mas Erik supaya ke rumah” kata suamiku. Ku lihat jam dinding sudah pukul 11 malam. Aku tak berani ajak bicara mas rik.
Ketika dia keluar dari kamarku, baru aku berani bicara sesuatu kepada suamiku. Bahwa selama ini aku belum sembuh, dan ketika aku tidak sadar, aku melihat semua yang dilakukan Mas Erik terhadap aku dan suamiku serta rumahku. Suamiku agak terkejut, terdiam sejenak. Entah apa yang dipikirkannya. Akhirnya suamiku menyuruhku istirahat aja, biar dia yang menemani Mas Erik di luar. Jadi hari itu semalaman Mas Erik, berjaga-jaga dirumahku sambil menyiram air sekeliling rumah. Sampai subuh baru beliau pulang dari rumahku. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Karena sejak Mas Erik pulang, tak ada lagi gangguan dari makhluk astral. Sedikit banyak aku mulai memahami penyebab penyakit ku ini, mungkin karena doa-doaku telah dijawab oleh-Nya. Sehingga ditunjukkan satu persatu masalahku. Suamiku pun perlahan mulai terbuka pikirannya.
Keesokan hari dan hari-hari berikutnya aku dan suami kembali mencari peruqiah yang bener-bener syar’I. Sejak saat itu aku dan suami tidak lagi mau memakai jasa Mas Erik. Namun orang itu tetap berusaha dengan cara menghubungi kami hampir tiap hari menanyakan tentang keadaanku. Aku dan suami berusaha menolak secara halus, mungkin Mas Erik mulai merasa. Entahlah.