Peruqiah tadi agak bingung, karena beliau sepertinya kurang konsentrasi karena banyaknya peserta ruqiah yang mulai menyemut. “Nanti pertemuan berikutnya kita ruqiah lagi ya, karena mba ini harus berkali-kali diruqiah” janji peruqiah itu. Lalu aku diberi sedikit amalan, agar nantinya bisa membantu mempermudah ruqiah berikutnya. Dengan sedikit kecewa aku melangkah keluar dari acara ruqiah massal itu. Harapanku agar bisa sembuh hari itu juga belum kesampaian. Aku tahu dan yakin kalau dalam diriku masih ada sesuatu yang ‘buruk’. Aku tetap husnudzon, mungkin ada rencana yang telah disiapkan Sang Khaliq untukku. Aku tetap berusaha dan ikhtiar terus.
Belum sampai aku menginjak pintu keluar, ada lagi suara yang memanggil namaku. Suara itu awalnya lirih tapi sedih. “Riris..Riris” beberapa kali suara itu memanggilku, kucari sekelilingku tidak ku temukan. Langkahku tetap ku lanjutkan. Sampai di parkiran, suara itu hilang dengan sendirinya. Temanku yang sedari tadi menemani tidak berani banyak tanya. Hanya sekali bertanya “kamu tidak apa apa kan Ris, semuanya baik?” “Entahlah…” jawabku sekenanya.
Akhirnya aku telah tiba dirumah. Temanku yang mengantar tadi tidak jadi mampir karena melihat diriku yang kelelahan. “Aku pulang ya Ris, ntar kalau ada info, ku WA ke ikam (kamu)” pamit temanku. “Ya Mir, terima kasih banyaklah…” Kubuka pintu rumah, sedikit tersentak “Astaghfirullah…lho kok sudah pulang mas” aku menegur suamiku yang melangkah menuju belakang. Dia tidak menjawab dan terus melangkah menuju belakang. Aku langsung mengunci pintu rumah. Ku coba susul suamiku ke belakang. “Lho mana suamiku tadi?” dalam hatiku.
Dengan sekejap kembali bulu badanku merinding. Kucari sambil memanggil manggil nama suamiku. Tidak ada sahutan sama sekali. “Wah benar benar ga beres nih,” dalam hatiku. Kembali aku ke ruang depan, ke kamar mandi, ke kamar tidur, tidak juga ku temukan. Tidak lama terdengar suara orang mengetuk pintu dan mengucap salam. “Assalammualaikum, de… ini Mas pulang”. Deg deg deg…jantungku rasanya berdebar dengan cepat. Rasanya aku mengenal suara itu, ya itu kan suara suamiku. Lantas…
Segera ku bukakan pintu. “Waalaikumsalam, Mas…maaf Mas lambat buka pintunya” sambil tersenyum agar tidak terlihat nervous ku. Suamiku memang biasa kalau siang pulang ke rumah istirahat. Tapi hari ini terasa beda. Dia datang tidak dengan wajah yang menyenangkan. Aku tak berani banyak bertanya. Malamnya baru ku berani cerita dengan suami. Itupun setelah dia yang mulai menanyakan hasil ruqiah tadi pagi. Aku ceritakan semua yang kualami dan semua hasilnya. Suamiku yang mendengar curhatan ku, langsung memberi semangat, “jangan putus asa, mungkin Allah masih mengujimu” kata suamiku.
Aku yang awalnya tidak semangat dalam cerita, langsung antusias mendengar support dari suamiku. “Tidak salah Allah mengirim dia,” dalam hatiku sambil tersenyum. Setelah itu aku ceritakan juga kejadian siang tadi sebelum dia pulang. Bekernyit dahi suamiku mendengar cerita tentang sosok yang kulihat mirip dia. Suamiku lalu bertanya apa aku sering melihat sosok yang mirip dia, aku jawab tidak, karena baru hari ini aku lihat sosok itu. Terlihat kecemasan di wajah suamiku. “Ya udah besok Mas tanyakan ke teman-teman Mas, orang yang bisa ruqiah ke rumah”. Aku hanya tersenyum melihat semangatnya suamiku.
Esok lusanya, aku dapat kabar dari teman. Dia ada kenalan ‘orang pintar’ yang bisa mengobati juga. Dengan antusiasnya aku iyakan tanpa banyak pertanyaan lagi. Kami berdua sepakat keesokan harinya pergi ke tempat orang pintar tersebut. Sampai di depan rumahnya, aku sudah mau kabur. Karena yang kulihat di lingkungan rumah itu terlihat spooky banget. Tapi temanku tetap meyakinkanku, karena menghargai teman, jadi tetap ku lanjutkan langkahku ke rumah itu.
Begitu sampai depan pintu rumah orang pintar itu, tiba tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Dan terlihat sesosok manusia dengan berambut panjang yang acak-acakan. Aku yang baru pertama kali ke rumah itu langsung shock. Tapi tidak dengan temanku. Mungkin karena dia sudah biasa. “Mba cari bapak kan? Sudah ditunggui tuh dari tadi” suara sosok itu. “Kok dia tahu kami mau kesini,” dalam hatiku. Ternyata sosok itu adalah anak dari orang pintar itu dan dia bisa tahu karena sebelumnya sudah di telpon oleh temanku, “asemm pantesan dia tahu” batinku. Sampai didalam rumah, hawa mistis semakin kental terasa, aroma dupa begitu menyengat. Tubuhku sudah mulai bereaksi, padahal belum diobati orang tersebut.
Diujung ruangan itu sudah ada seorang bapak yang tua sekali. Terlihat beliau sedang menikmati sepuntung rokok di tangannya. Di depan beliau sudah siap, beberapa kembang, tempat dupa, semangkuk air dan segelas air botol. “silahkan kemari nak” kata mbah Bejo. Aku memanggil dia mbah Bejo, karena temanku sebelumnya sudah memberitahu nama beliau. Setelah cukup basa basinya, prosesi penyembuhanku pun di mulai. Awalnya kedua mataku disuruh pejam.
Lalu tanpa ku duga yang terjadi diluar perkiraanku … Blurrrrrrr … Semua wajahku dan jilbabku serta sebagian bajuku basah. Rupanya si mbah main sembur aja, tanpa beritahu aku. Aku terkejut dan agak sedikit emosi, tapi berusaha kutahan emosi itu. Aku lalu melirik temanku, dengan pandangan sinis. Sementara si mbah masih membaca baca mantranya. Temanku yang melihat reaksiku hanya tersenyum, berusaha menahan tawanya. Baru ku kembalikan arah pandanganku ke depan, seketika itu juga kembali aku di sembur. Asemmm dah, kenapa apes banget nasibku hari ini, mimpi apa ya semalam gumamku kesal.
Setelah semburan ke 3, baru lah si mbah membuka matanya. “Nah sudah nak, akhirnya demit yang ada di badanmu sudah pergi semua,” kata si mbah dengan entengnya. Tanpa banyak tanya-tanya lagi, langsung ku ucapkan banyak terima kasih. Aku dan temanku langsung pamitan dan tak lupa memberi tali asih. Setelah agak jauh dari rumah si mbah, langsung ku maki-maki temanku. “Sudah penyakit ga sembuh, eh dapat bonus semburan lagi, mana baunya ampun-ampun dah” omelanku pada temanku.
Malamnya seperti biasa, ku ceritakan pada suamiku. Yang ada dia tertawa terbahak-bahak. Aku pun makin keki. Kutinggal saja dia sendiri diluar. Pergi ku ke dapur. Baru sampai dapur, tiba tiba langkahku terhenti. Ada sosok Kunti di dapurku. Dan juga ada anak-anak yang sedang bermain berlarian. Ah rasanya mau teriak, tapi aku sudah lelah seharian dikerjai mbah dukun. Kubatalkan niatku ke dapur. Langsung ku alihkan kembali langkahku ke kamar tidurku.
Beberapa hari kemudian giliran teman suamiku membawa kenalannya dari kampung sebelah. Nama beliau adalah Mas Erik. Sosok inilah yang nantinya merubah hidupku, menjadikan setiap langkahku penuh derita dengan Dunia Sebelah. Mas Erik ini adalah seorang yang memiliki kelebihan dalam mengobati orang, hanya saja itu sebatas pengakuan darinya. Beliaupun tidak mau disebut dukun. Mungkin lebih tepatnya paranormal. Aku sendiri tidak banyak tahu mengenai Mas Erik.