Setelah berkeluarga, aku memuutuskan hijrah. Aku memakai hijab. Bukan karena lagi trend tapi memang sudah menjadi kewajibanku sebagai umat Sang Messenger Baginda Rasulullah SAW. Semua hal-hal buruk di masa lalu aku tinggalkan. Aku mantapkan diri hijrah di jalan Allah SWT. Namun apa yang ku cita-citakan tidak semudah yang ku bayangkan. Halangan ku semakin berat. Aku masih belum menyadari bahwa mimpiku itu mempengaruhi jalan hidupku. Setiap aku mau jalankan perintah-Nya selalu saja timbul rasa malas dan aku tak mampu melawan rasa itu. Berusaha melawan, ku coba membaca Yasin setiap malam jumat, tetap aku diuji dengan rasa kantuk yang berat.
Aku menyadari dengan semua dosa yang telah kulakukan. Ditambah dengan kewajibanku yang lain yang tak mampu aku kerjakan. Hingga akhirnya ku putuskan untuk curhat semua masalahku kepada suamiku. Ekspektasi ku begitu besar terhadap suamiku, tapi harapan hanyalah tinggal harapan. Jawaban suamiku tidak seperti yang kuharapkan. Aku sedih. Disaat aku ingin di dengar oleh orang yang ku sayangi, yang terjadi malah sebaliknya.Aku merasa ada yang salah dengan diriku, termasuk mimpiku. Sudah ku ceritakan semua, dan suamiku hanya berkata “perbanyak saja ibadahnya”.
Kemudian diam-diam aku putuskan tuk mengobati diriku sendiri. Kuputuskan aku mau ruqiah. Bersama adikku, pergilah aku ke sebuah acara ruqiah massal. Lepas dari ruqiah massal tersebut, hasil yang kudapat tidak berubah dari yang sebelumnya. Mimpi-mimpi itu masih tetap hadir. Begitu juga sosok wanita dan anak kecil yang terus menghantui ku. Aku tak putus asa. Tetap ku ikhtiar.
Pernah suatu hari ketika suami kebetulan ada dirumah, tanpa sengaja ketika ku tertidur siang, kembali aku bermimpi. Disinilah perlahan suamiku mulai percaya apa yang kualami. Suamiku berusaha membangunkan aku, tapi aku tak juga sadar-sadar, malah senyum-senyum bahagia, seperti sedang menikmati sesuatu. Sampai suamiku menamparku, tetap saja ku tertidur. Cukup lama aku tertidur sekitar 3 jam kata suamiku. Ketika sadar akupun tak tahu menahu dengan suamiku. Kucoba lagi acara ruqiah massal, kali ini dengan ijin suamiku, tapi dia tidak ikut. Aku hanya ditemani adikku. Tetap tidak ada perubahan.
Hingga pada suatu hari entah darimana datangnya, aku merasa ada sesuatu yang beda pada diriku. Aku sering bermimpi hal-hal yang aneh. Dan itu selalu berulang ulang. Kadang aku malah ditampakkan sosok mereka. Padahal aku sudah lama tidak melihat mereka lagi. Karena terakhir aku meminta dengan Habib yang sudah kuanggap sebagai Guru sekaligus Orang Tua angkatku untuk menutup mata batinku. Aku sudah lelah berhubungan dengan alam sebelah. Apalagi harus bertemu mereka.
Tiba-tiba badanku terasa berat dan ngantuk sekali. Padahal hari itu masih jam 10 pagi menjelang siang dan aku berencana mau keluar ke tempat saudara ku yang sudah lama tidak aku kunjungi. Jadi hari itu terpaksa ku pending acaraku. Ku telpon adikku, kalau aku tidak jadi ke rumahnya. Setelah menelpon aku pun terlelap. Ya Allah … lagi lagi aku bermimpi bertemu dengan sosok pria tampan, tapi sayang dia bukan suamiku. Dan aku merasa seperti sudah lama mengenal dengan sosok itu. Dia hanya tersenyum tidak mengucap sepatah katapun. Hingga akupun tersadar dari tidurku.
Kemudian waktu dzuhur telah tiba, segera ku ambil air wudhu dan melaksanakan kewajibanku. Selesai solat mendadak aku merasa merinding, aku merasa sepertinya dibelakang tadi ada seseorang yang mengikuti aku sholat. Aku merasa dia sosok itu seorang Putri yang cantik yang menggunakan pakaian kebesaran kraton Banjar. “Ah mungkin hanya halusinasiku,” dalam batinku. Sepulang kerja suamiku, aku sempatkan cerita dengannya. Responnya hanya biasa. Mungkin karena dia lagi kelelahan sepulang kerja atau memang lagi ada masalah di kerjaannya. Aku hanya bisa memaklumi.
Keesokan harinya, setelah suamiku pergi bekerja, kembali aku merasa seperti diawasi, tengkukku serasa hangat, dan merinding semua bulu badanku. Hawa dingin mulai menyelimuti sekitar tubuhku. Dadaku terasa berdebar-debar. “Kok perasaanku selalu begini ya?” dalam batinku. Hari-hari berikutnya kejadian demi kejadian horror terus menghantuiku. Aku merasa seperti ada yang tidak beres dari dalam diriku. hanya saja aku bingung, kemana lagi aku curhat dan berobat.
Jika saja habib atau bapak angkatku masih disini, atau aku tidak kehilangan kontak beliau, mungkin yang kualami bisa beliau bantu. Aku coba lagi cari sendiri, tanpa sepengetahuan suamiku, agar tidak mengganggu kerjanya. Kucari informasi dimana tempat ruqiah yang syar’I. Sempat dapat info ada ruqiah massal di sebuah Masjid Besar, ada sedikit trauma, tapi tetep ku coba karena aku mau sembuh. Akhirnya aku dapat jadwal ruqiahnya. Beruntung jadwalnya pagi, jadi aku tak perlu pulang malam.
Dengan ijin suami aku bersama kawanku pergi ke acara ruqiah itu. Tiba di masjid, banyak ku lihat pesertanya. Dari segala umur ada, mulai dari anak-anak dan orang tua. Para praktisi ruqiahnya pun lumayan lengkap karena ada peruqiah wanitanya juga. Aku sudah siap apapun yang terjadi nantinya saat aku diruqiah. Di sebuah ruangan itu para peserta sudah ada beberapa yang bereaksi, ada yang menjerit-jerit, ada yang menangis seperti anak kecil, ada juga yang meraung-raung. Hawa dalam ruangan itu memang sudah berbeda rasanya saat ku masuk.
Dan akhirnya tibalah giliranku diruqiah. Setelah ku ceritakan permasalahanku dengan peruqiah nya, maka dimulailah proses ruqiahnya. Kebetulan praktisi ruqiah yang ku hadapi adalah seorang wanita yang usianya sekitar 20an tahun. Sebut saja namanya Mba Iyah. Aku duduk bersila membelakangi mba Iyah. Lalu dengan sekejap mba iyah menyentuh badanku di belakang. Aku disuruh berkonsentrasi sambil istighfar. Terdengar bacaan-bacaan quran dari mulut mba iyah. Sekian waktu tidak ada reaksi dari tubuhku, yang ada malah aku hanya tertawa kecil tapi aku tidak dalam keadaan sadar. Mba Iyah yang melihatku hanya tertawa kemudian heran, kenapa dengan diriku. Mba Iyah kemudian memanggil rekannya, untuk berkonsultasi mengenaiku.
Tak lama Mba Iyah tadi diganti dengan temannya, seorang pria yang sepertinya terlihat lebih pengalaman. Sempat terdengar mereka berbisik-bisik. Rupanya Mba Iyah masih fresh graduate dalam hal peruqiahan. Dia baru beberapa kali mengikuti ruqiah dan mengobati orang. “Asem lho aku ternyata dibuat kelinci percobaan. Pantes aja tadi tangan mba iyah agak gemetaran ketika menyentuh badanku dalam hatiku.
Setelah itu Mba Iyah tadi diganti dengan peruqiah pria, yah klo dilihat peruqiah kali ini lumayan handsome lah, wah kumat lagi ganjenku. Tapi aku hanya bisa mengagumi tidak lebih, karena walau bagaimanapun tetap yang di rumah My True Love. Peruqiah pria tadi langsung mengambi air botol kemasan tanggung yang masih bersegel, lalu dia membacakan beberapa kalimat dalam Quran. Aku disuruh meminum air tersebut. Sempat ada sedikit keraguan timbul dalam diriku. Tapi karena ku memang niat dan ku lihat peruqiahnya juga meyakinkan, maka langsung ku minum air itu seteguk, lalu seteguk lagi, dan masih ada tersisa air dalam botol tersebut. Lalu aku kembali disuruh konsentrasi. Selang beberapa menit, aku di tanya si pria peruqiah. “Apa yang mba rasakan, dibadan gimana?” tanya peruqiah itu. Aku hanya menjawab “tidak ada apa apa mas, biasa saja”.