SANTET adalah proses mencelakakan, merugikan dan bertindak jahat yang dilakukan seseorang (dukun) dengan menggunakan ilmu hitam, bisa dilakukan jarak dekat dan jarak jauh.
Namun kebanyakan jarak jauh dengan berbagai media. Nama lain daripada santet adalah tenung, teluh, dll.
Sejak zaman Nabi, santet/ilmu hitam sudah ada. Bahkan zaman Android seperti sekarangpun, Santet tetap eksis.
Terkadang di kalangan masyarakat kita, hal-hal mengenai Santet masih ada sebagian yang tidak percaya, selalu timbul pro dan kontra.
Karena apa? Karena hal hal mengenai santet sangat sulit dibuktikan secara ilmiah, tidak masuk ke dalam logika kita.
Namaku Lisa, sebut aja begitu. Bukan namaku yang sebenarnya.
Aku adalah seorang wanita single parent yang super dengan memiliki buah hati yang hebat juga.
Aku memiliki keluarga besar, saudara kandungku semua ada 12 orang, cowok ada 6 orang dan cewek 6 orang.
Ku akui semua penderitaan yang ku ceritakan disini adalah kesalahanku. Mungkin jika dulu ku menurut kata orang tua, bisa jadi nasibku tidak seperti sekarang.
Tapi sudahlah semua sudah takdir Illahi, tak patut ku sesali, karena pasti ini yang terbaik bagiku dan sang jagoanku.
Semua bermula ketika masa-masa ku sekolah di SMA. Sewaktu ku duduk kelas 3.
Masa-masa itulah kata orang masa anak-anak mencari jati diri, lebih mengutamakan egonya, apalagi aku seorang gadis yang pendiam, dan kuakui sedari kecil aku kurang mendapat perhatian seorang ayah.
Maka ketika ada seorang cowok yang mendekati, yang memberi atensi lebih ke aku, maka disitu juga aku terbuai.
Cowok itu begitu baik dan getol mendekati aku, hingga akhirnya kamipun pacaran.
Sebut aja cowok itu si Rudy, juga bukan nama sebenarnya. Karena melihat kedekatan aku dengan cowok itu, keluargaku ada yang pro dan kontra, terutama ibuku.
Mungkin naluri seorang ibu begitu peka, yang tau akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa anaknya nantinya.
Aku yang masih labil, tetap pada pendirianku, tidak menghiraukan larangan ibuku.
Akhirnya yang ditakutkan ibuku benar benar terjadi. Aku pun mengandung.
Ya inilah hasil dari hubunganku dengan cowokku. Nasi telah menjadi bubur.
Ibuku yang mengetahui hal ini hanya bisa berurai air mata. Aku hanya bisa meratapi nasibku.
Ibuku lalu berunding dengan keluarga. Dan akhirnya diputuskan. Setelah lulus nanti langsung dinikahkan.
Namun masih ada beberapa saudaraku yang tidak terima dengan kejadian ini. Abang-abang ku merasa tersinggung dengan cowokku, karena telah menodai adiknya, dan itu berarti telah merusak masa depan adiknya.
Keputusan sudah bulat, abang abangku terpaksa harus menuruti hasil tersebut. Dari pihak keluarga cowok pun sudah bertemu dengan keluarga besarku.
Dan akhirnya memang harus segera dinikahkan. Kebetulan hari kelulusanku tinggal 2 pekan lagi.
Jadi waktu ku tidak banyak untuk menyiapkan keperluan menikah.
Hingga waktu tersisa 7 hari lagi, disekolah aku hari itu aku tak melihat batang hidung cowokku.
Hp nya pun tidak aktif. Seharian ku menanti tetap tak ada dia.
Ku coba tanyakan dengan teman teman akrabnya. Sungguh jawaban yang kudapat dari teman-temannya diluar dugaanku.
Si Rudy ternyata telah berangkat meninggalkan kota kelahiranku. Tanpa pikir panjang lagi, segera ku pergi menuju rumah cowokku.
Ketika ku datang ke rumah cowokku, semua keluarganya hanya terdiam, dan tak ada yang bisa memberi jawaban yang memuaskan.
Aku tak mampu lagi membendung air mataku. Sambil menangis, ku caci maki semua keluarga cowokku.
Tak ada lagi akal ku bermain. Begitu meletup-letupnya amarahku. Setelah semua perkataan kotor ku telah habis keluar dari mulutku, akupun berlari pulang.
Tanpa kusadari dengan ucapan itu, disitulah awal penderitaanku yang lebih besar yang akan kualami kelak bersama anakku.
Keluarga besarku yang mengetahui kejadian itu, lalu mendatangi pihak keluarga cowokku.
Terjadilah ketegangan antara keluargaku dan keluarga cowokku. Abang-abangku yang sedari tadi menahan diri akhirnya tak mampu lagi bersabar, maka terjadilah pemukulan terhadap salah satu keluarga cowokku.
Tidak sempat berlarut perkelahian tersebut karena dipisahkan oleh masing-masing pihak keluarga.
Hingga akhirnya keluarlah kata-kata yang mengancam keluargaku. Salah satu pihak keluarga cowokku mengatakan “aku bersumpah akan membalas semua perbuatan kalian, akan kubuat keluargamu menderita, ingat itu!!!”.
Ibuku terkejut mendengar hal itu, tapi tidak dengan abang-abangku. “silahkan aja, kami tunggu!!” tantang abangku.
Sebulan pasca kejadian itu, akupun telah dinyatakan lulus sekolah dengan nilai pas-pasan.
Bagiku tak masalah karena memang aku ga ada rencana tuk melanjutkan sekolahku. Tanpa terasa perutku pun semakin bertambah besar.
Bulan itu juga kejadian-kejadian buruk dan menyeramkan mulai kualami.
Suatu malam aku bermimpi, dalam mimpi itu cowokku mendatangiku. Wajah yang terlihat memang wajah cowokku tapi ada yang berbeda.
Pada wajahnya terlihat hitam gosong, matanya hitam semua.
Terlihat wajah cowokku itu begitu marah besar. Di mimpi itu cowokku memarahiku, memaki maki aku, aku tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa menangis, berusaha teriak memanggil manggil ibuku dan saudara-saudaraku yang lain, tapi tak ada suarapun yang keluar dari mulutku.
Tak ada seorangpun yang membantuku di mimpi itu. Aku tak mampu berbuat apa apa, serasa freeze semua anggota tubuhku, hanya air mata saja yang beruraian.
Pandanganku hanya tertuju pada sosok cowokku itu. Tak berapa lama, dalam mimpi itu muncul lagi beberapa sosok yang aneh-aneh dan mengerikan.
Sosok-sosok itu sama dengan yang sering ku lihat di film-film horror. Aku kira selama ini sosok itu hanya dongeng saja, ternyata memang ada.
Disisi kiri dan kanan cowokku itu sudah berdiri macam-macam demit, ada si kunti yang tertawanya begitu melengking, ada si gondrong (genduruwo) dengan erangannya yang menggetarkan, serta sosok beberapa perempuan yang wajahnya tidak karuan bentuknya.
Semua mata mereka tertuju padaku. Mereka semua berusaha mendekati, aku pasrah dan berusaha membaca ayat-ayat pendek yang kuingat.
Seketika itu juga aku berhasil menggerakkan badanku, seketika itu juga aku berusaha lari, tapi ada yang menahan kakiku.
Kali ini sosok hitam pekat yang memegang erat kakiku. Tangisan ku makin menjadi, “lepaskan aku…” teriakku.
Tiba-tiba cowokku mendekat, sambil memegang perutku yang besar, “rasakan balasanku…hehehehe” kata cowokku.
Kemudian sayup-sayup kudengar suara adzan, seketika itu juga aku tersadar dari mimpiku, dan perlahan ku mendengar suara ibuku “Alhamdulillah, akhirnya sadar juga…kamu tidak apa-apa nak”, aku langsung memeluk ibuku.
Ku ceritakan semua yang kualami dalam mimpi tadi kepada ibuku dan keluarga ku yang lain.
Ibuku berusaha menghiburku, jika mimpiku itu hanya bunga tidur. Tetep saja aku merasa tidak tenang karena ku merasa itu begitu nyata.
Ibuku juga bilang bahwa aku ngigau teriak teriak dari jam 2 sampai adzan shubuh. Akhirnya selepas bangun itu, akupun bergegas mandi tuk segera menunaikan solatku.
Selesai solatpun aku tak berani kembali tidur, padahal biasanya, sering lewat mah subuhannya…
Semenjak kejadian mimpi itu, pikiranku selalu terbayang-bayang wajah cowokku dan para demitnya.
Hari demi hari kulalui bersama calon bayiku. Hingga akhirnya tiba masanya calon debayku hadir ke dunia.
Akhirnya proses sebagai seorang ibu bisa ku lalui. Alhamdulillah. Seorang debay yang begitu menggemaskan telah hadir menemani kehidupanku.
Tiga tahun berlalu, si debay telah tumbuh menjadi anak yang patut ku banggakan. Tiba masanya aku memikirkan masa depanku dan buah hatiku.
Karena sekarang hanya tersisa aku, anakku dan beberapa adikku yang masih bujang.
Ibuku telah ‘pergi’ setahun yang lalu, sementara abang-abangku dan kakak-kakakku yang cewek semua sudah pada berumah tangga masing-masing.
Kami tinggal dirumah peninggalan orang tuaku.