Selama hidup di istana yang megah ini Rani merasa sangat kesepian. Meski semua fasilitas kemewahan yang ia dapatkan tidak mampu mengubah kesendiriannya dalam menanti suami dan si calon debay lahir. Apalagi sanak saudara di Indonesia juga ia tak ada karena orang tuanya memang sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga eropa.
Mendapat teman seperti para asisten rumah tangga tidak juga merubah keadaannya. Ia merasa mereka semua hanya berpura pura menghibur dirinya agar tetap tinggal di rumah itu. Setiap ada keinginan untuk pulang ke tempat asalku selalu saja ada alasan mereka untuk mengubah keputusanku. Mas Bagas juga kadang saat bisa menghubungiku selalu berusaha menahanku untuk tetap menunggu ia hingga tiba saatnya ia pulang tugas dari Negara.
Hidupku semakin tidak tenang karena suami yang tidak ada di sisiku. Apalagi saat ada interaksi si calon debay yang seperti menendang nendang perutku. Kadang kondisi tubuh yang tidak fit membuat keadaan Rani jadi tak berdaya di ranjang yangmewah tersebut. Ia tak perlu repot untuk keluar rumah memeriksakan keadaannya. Cukup by phone seorang dokter pribadi keluarga besar Mas Bagas selalu siap sedia 24 jam melayani keluarga ini. Sementara untuk kandunganpun ada dokter khusus yang memang sudah di siapkan oleh keluarga Mas Bagas.
Selain kondisi tubuh yang tak menentu karena ini adalah pengalaman pertama Rani mengandung, ia juga sering mendapat gangguan non logis. Sesuatu yang selalu hadir kala ia sedang drop kondisi tubuhnya. Terkadang dalam keadaan normal pun Rani sering mendengar tangisan tangisan nan pilu yang berasal dari lemari bajunya. Jadi jangan heran bila untuk mengambil bajunya saja ia harus minta di temani oleh asisten rumahnya.
Hingga suatu hari ia pernah di tampakkan sosok wanita yang begitu lusuh pakaian yang ia kenakan dengan rambut terurai ke depan. Menangis dan tertawa yang selalu silih berganti berhasil membuat Rani sangat ketakutan. Tapi ia tak mampu berbuat banyak karena semua orang yang ada di rumah ini tidak ada yang mempercayai omongan Rani. Ia hanya bisa diam, pasrah dan bersembunyi di balik selimutnya yang tebal, hingga tanpa sadar ia terlelap dalam keadaan ketakutan.
Tidak hanya satu sosok yang selalu ia lihat tapi ada beberapa lagi yang selalu menggodanya bila waktu malam tiba. Dan di antara beberapa sosok yang hadir hanya satu yang bertindak rada baik di banding yang lainnya. Sosok ini menyerupai seorang nenek, meski termasuk golongan demit ia tidak menunjukkan wajah asinya yang sangat menyeramkan.
Nenek ini yang selalu menjaga Rani dari gangguan teman teman sesama golongan demit. Namun nenek ini juga yang selalu memperhatikan perut Rani yang semakin membesar. Kadang sesekali ia juga mengelus perut Rani sambil menunjukkan giginya yang bertaring. Meski senyum itu menakutkan tidak lantas membuat ia takut dengan nenek tersebut.
“Wait… wait… nenek yang kamu maksud itu adalah nenek yang selalu gunakan kerudung merah dengan wajah yang menor riasannya?” Tanya Mayang memotong bicara Rani.
“Iya, kamu sudah pernah bertemua kan May?”
“Akhir akhir ini ia sering hadir, apalagi kalau sudah malam semakin larut dan di luar sedang hujan.” Mayang mulai tampak ketakutan setelah mendengar cerita Rani.
Samarinda, Sabtu malam minggu, tgl 20 Mei 2017.
Ba’da isya, keluarga besarku sudah berkumpul (kecuali adikku yang terakhir) dirumah saudaraku yang tertua. Sudah lewat 30 menit lebih, aku gelisah menunggu kehadiran si mba Neni. Kucoba telpon hanya nada dering saja terdengar tak ada jawaban, sekali lagi ku coba tetap tak ada jawaban. Mungkin mereka dalam perjalanan, dalam hatiku.
Tak lama ada suara motor yang berhenti tepat depan rumah, aku pikir si neni yang telah buat janji dengan ku, ternyata lain melainkan ipar saudaraku. Tak lama terdengar suara handphone, akupun bergegas meraih HP ku, benar si mba neni yang nelpon, nanya alamat karena baru pertama kali ke rumah saudaraku.
Ga menyangka perjuangan mba ini untuk sembuh sungguh luar biasa, dengan menggunakan motor berdua dengan kakaknya yang perempuan, yang buat aku geleng kepala lagi, ternyata mereka tidak hanya berdua, ada anak2 mereka sampai yang bayipun mereka bawa juga, ya Allah…terharu aku melihatnya. Selesai mengobati kakak ipar saudaraku tadi, tibalah giliran neni untuk di ruqiah. Kemudian neni pergi ke kamar mandi mengambil wudlu, setelah itu menggunakan mukena yang sudah kami siapkan.
Proses itu pun dimulai, baru duduk neni tadi sudah gemetaran. Terlihat dari wajahnya kecemasan yang mendalam. Mas Ari (nama saudaraku yang tertua) menyarankan agar neni membaca istighfar berkali kali. Setelah itu Mas Ari membacakan ayat2 suci ke dalam segelas air aqua yang baru dibuka segelnya, yang kemudian di minumkan ke neni.
Hanya hitungan detik, tiba tiba dengan mata terpejam ”hihihihihihihi…” si neni tertawa sendiri, dengan sigap mas Ari mencoba interaksi dengan makhluk yang ada di tubuh neni tadi, “siapa kamu, kenapa ganggu mba ini?”, “hihihihihihihihi…” kembali tertawa si neni tadi. Mba Ira (Kakak ipar ku) yang dari tadi diam tiba-tiba celetuk “astaghfirullah, kuntinya 7 dengan jin 1, bosnya jin itu yah”. “hahahahahaha” tertawa lagi si neni.
Kami sekeluarga coba dulu dengan ruqiah standar, atau yang biasanya dengan cara dimuntahkan. Sementara saudara-saudara ku yang lain mencoba menekan demit pada punggung neni dengan ‘kelebihan’ masing-masing, “aduh sakiiiiiittttt…hihihihihihih sakit…” jawab neni.
”Makanya kamu keluar, klo ga tambah sakit kamu” kata mas Ari sambil menekan ubun2 di kepala si neni “hahahahahaha sakit…”, teriak neni.
“Ah bohong aja nih, kamu ga mau keluar, saya bakar lho” kata mas ari lagi.
Sambil memegang punggung neni, mas ari perlahan coba membisiki neni agar melawan dari dalam dengan demit-demit yang ada di tubuh nya, “ayo nen, dilawan mereka, itu yang ganggu kamu, ayo nen dilawan…”, kata mas Ari memberi semangat.
“Hihihihihi sakitttttt”, berteriak terus si neni. Berkali kali dicoba dengan cara muntah tetap ga berhasil. Mungkin karena sudah lama bersemayam dalam tubuh si neni, makanya agak sulit dikeluarkan melalui muntah. Berkali kali si Neni teriak teriak kesakitan.
Sejurus kemudian Mba Ira mengambil Al Quran, kemudian membacakan surah Al Jinn ke neni, bertambahlah dia kesakitan “aduuuhhhhhhh sakkkiiiiitttt, hihihihihihi… ampunnnnn, sakiiittt…”, teriak dengan kerasnya si neni.
“Makanya kamu keluar klo ga tambah sakit” kata Mas Ari. Selesai membaca surah quran tadi hanya 1 kunti yang bisa keluar, sementara masih ada 6 lagi dan 1 jinnya. Agar tak berlarut-larut dan neni beserta keluarganya tidak pulang terlalu larut malam, maka kami sekeluarga sepakat melakukan ‘penarikan paksa atau pemindahan’. Demit-demit yang ada di tubuh neni akan ditarik/dipindah ke seorang mediator.
Namanya Karto. Mediator ini adalah salah satu keluargaku juga, dan memang dia spesialis sebagai mediator makhluk-makhluk gaib yang jelek, namun di tubuh mediator sebelumnya tidak kosongan, jadi tidak sembarang mediator.
“Udah yah, kita tarik aja” kata istri mas Ari,
“Gimana to (mediator), kita tarik aja ya…”,
“Siap pak” dengan sigap sang mediator bersiap-siap tuk menarik kunti2 yang ada di tubuh mba K. Ini adalah cara terakhir bila si demit mucil atau tidak mau keluar dari tubuh seseorang, maka media penarikan/pemindahan yang kami lakukan.
Menarik si kunti tidak seperti menarik makhluk yang umumnya kami tarik, mungkin ini pengaruh terlalu lamanya bersemayam ditubuh seseorang. Sampai 4 orang yang mengeluarkan energy tuk menarik ke 8 demit di mba neni. Satu persatu kami tarik/pindahkan ke mediator. Satu kunti berhasil ditarik, sekejap neni tersadar, sekejap kemudian tertawa lagi “hihihihihihihihi”,
“Nah mucil(bandel) banar ikam(kamu) lah, kada(tidak) mau keluar…”. Kunti yang sudah dipindahkan ke mediator tadi, hanya tertunduk tak berani menatap kami.
“Ayo duduk yang tenang, saya cuma mau kenalan, klo ga mau tenang saya musnahkan kamu” ancam mas Ari, si kunti yang ada di mediator akhirnya bisa tenang,
“Sudah lama kamu di badan mba ini”, si kunti mengangguk dan kemudian memberitahukan berapa lama sosok yang bersemayam di dalam tubuh si neni dengan jarinya,
“Lima apa, lima tahunan gitu …” mengangguk lagi si kunti. Ternyata makhluk-makhluk astral yang ada di mba neni, sudah lama sekali.
“Kamu tobat ya, jangan ganggu mba ini lagi …” kembali mengangguk.
“Kamu mau masuk islam, biar kumpul dengan teman-temanmu di masjid saya” kata saudaraku.
“Kamu klo masuk islam bisa merasakan seperti ini nah cahaya islam” sambil mengucapkan basmallah dan meniupkan ke tangan kanan saudaraku, dan bersalaman dg kunti yang ada di mediator, reaksi si kunti tenang sepertinya sedang menikmati cahaya islam tadi dari tangan mas ari, sambil mengangguk dan senyum kecil, si kunti pun bersedia tobat dan masuk islam.
Dengan bimbingan saudaraku, perlahan mengucapkan kalimah syahadat “Asyhadu al laa” si kunti mengikuti ucapan saudara saya, “ilaaha illa-I-Laah”, “Wa Asyhadu anna Muhammada-r-Rasulu-l-Laah …”
“Alhamdulillah… nah sekarang kamu lihat saya ayo tegakkan kepalanya, coba lihat saya”, si kunti tadi wujudnya pun dah berubah dan bisa perlahan lahan melihat ke saudara saya... (Alhamdulillah, kuasa Allah).
“Ga silau lagi kan”si kunti tadi mengangguk.
“Nah skrg kamu tarik semua teman2 mu yang ada di tubuh mba ini, semuanya ya…” kembali mengangguk dan menunjuk mas ari agar membantunya juga menarik,
“Iya saya bantu narik juga” … ketika mediator menyentuh tangan neni, kembali teriak lagi dia
“Hahahahaha sakitttttttt, lepaskannnnnn … hihihihihihihihi sakitttt.”
Sang mediator mulai menarik dari pundak kanan lalu menurun ke tangan dan sampai ke ujung jari, lalu… keluar satu lagi si kunti, sang mediator kembali kerasukan kunti yang kedua…, kunti kedua ini pun dilakukan hal yang sama dengan kunti pertama tadi, sampai kunti ke 6 begitu juga sama. Selesai kunti ke 6, selanjutnya yang keluar dari mba neni malah jin laki.
Neni tetap masih belum sadar dan tertawa juga, hihihihihihi… dari si jin ini akhirnya kita dapat jawaban dari asal muasal mereka bisa besemayam ditubuh neni, walau sebenarnya kami sudah tahu sebelum mereka hadir. Ternyata ini hasil kiriman seseorang yang tidak menyukai korban (neni). Kebayang kan dalam tubuh kita ada demit sampai 8, satu aja dah lelah apalagi 8, dan itu lima tahun lebih lamanya.
Para demit itu tidak hanya berdiam percuma di tubuh neni, ‘mereka’ juga menanam sesuatu benda pada diri neni. Jadi selain bersemayam, terdapat juga beberapa benda asing yang tak kasat mata. Singkat cerita semua demit dan barang barang jelek yang ada dalam tubuh mba neni, berhasil dibersihkan. Alhamdulillah mba neni tersadar tanpa tertawa cekikikan lagi.
Demikian cerita dari neni, banyak cerita yang saya cut karena waktu dan kondisi yang tidak memungkinkan. Tentu semua dengan seijin Allah SWT. Mba Neni bisa lebih baik lagi kehidupannya sekarang, lima tahun yang lalu adalah masa lalu, sekarang saatnya kita move on (hijrah). Perlahan tapi pasti neni mulai menata hidupnya kembali.