Hari pertama kerja sudah banyak yang ku dapat ilmunya baik dari senior maupun pimpinan dari kantor. Tidak hanya itu aku juga jadi menambah ilmu filsafat hidup seperti yang di katakan pak Har dan penghuni gedung di kantorku. Sedikit banyak aku jadi menambah teman juga baik dari dunia nyata maupun dunia sebelah.
Yang paling menarik jelas teman dari dunia sebelah, karena mereka lebih jujur dalam berteman. Tidak banyak drama dan modus. Hanya fisik saja yang membedakan kami dengan ‘mereka’. Meski ada yang tidak suka dengan kehadiranku. Kata mereka cahaya yang dipancarkan dari tubuhku begitu menyilaukan mereka dan suasana di dekat mereka jadi tidak nyaman.
Aku bisa memahami keadaan itu tapi karena sudah menjadi tempat kerjaanku mau tidak mau mereka yang harus memahaminya. Semenjak kehadiranku di kantor itu gangguan yang biasanya teman teman kantor dapatkan tidak se intense seperti dulu. Mereka bisa bekerja dengan lebih tenang dan santai.
“Aku ga suka dengan hadirnya kamu disini!” sebuah suara serak dan berat tiba tiba terdengar di telingaku. Arahnya belum tapi jelas dan aku coba konsentrasi mencari tau siapa yang barusan bicara denganku. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan tempat ku berada. Teman temanku sekantor tidak ada yang mendengar selain aku.
“Hei siapa kamu? Kenapa ga suka dengan aku? Apa salahku?” tanyaku balik pada suara tersebut.
“Kehadiranmu mengganggu ketenangan kami disini!”
“Apa perlu ku hancurkan istana mereka tuan?” tiba tiba si o***g hadir di sampingku. Ia tidak sendiri melainkan dengan pasukannya yang sudah siap mengikuti perintahnya.
“Jangan Tong! Lu main sikat aja, mereka hanya belum kenal kita kok.”
“Pak Aksa baik baik saja? Dari tadi saya lihat asik ngobrol sendiri.” Suara seorang wanita tiba tiba mengganggu obrolan ku dengan si jin o***g.
“Oh maaf, iya mba saya baik kok.” Aduh malu jadinya ketahuan teman kantor.
Hari ini adalah hari terakhir dalam penutupan bulan untuk mengejar target bulanan yang sudah di tentukan oleh perusahaan. Semua jadi pada sibuk dengan kegiatannya masing masing. Sementara waktu juga sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat. Sebentar lagi akan tiba masanya untuk shalat isya. Aku yang masih baru hanya bisa melihat dan sesekali menanyakan hal yang memang tidak ku mengerti. Khawatir jika mengganggu kesibukan mereka, jadi aku sebisa mungkin untuk mengurangi banyaknya pertanyaan kepada senior yang ada di kantor.
Karyawan yang lain dari divisi yang sama denganku masih ada yang belum kembali ke kantor. Memang biasanya setiap karyaawan yang bagian lapangan pasti mengejar target hingga malam. Karena ini adalah hari terakhir mereka mengejar target untuk mendapatkan insentif bulanan. Namun ada juga yang orang sudah capai targetnya jadi masih aman posisinya.
“Pak saya izin ke mushola sebentar.” Aku mohon permisi sebentar dengan pimpinan untuk melaksanakan kewajibanku sebagai muslim. Alhamdulillah beliau mengizinkan.
Sampai di musholla sudah ada petugas cleaning servis kantor yang sedang merapikan isi dalam mushola.
“Assalammualaikum bang.” Ucapku pelan agar ia tidak terkejut dengan kehadiranku.
“Waalaikumsalam, eh ada Pak Aksa. Silahkan Pak kalau mau sholat.”
“Jangan panggil saya Bapak dong, saya lebih muda dari abang nih.”
“Iya mohon maaf Pak, karena sudah terbiasa dalam kerjaan.” Jawabnya dengan lemah lembut.
Selanjutnya kami berdua terlibat obrolan ringan sambil menanti datangnya adzan sholat isya. Bang Ipul kami biasa menyebutnya. Dia petugas cleaning servis dari perusahaan rekanan kantor kami dalam artian staff outsourching. Dalam bekerja ia sangat telaten dan bertanggung jawab. Ia juga ramah dengan semua orang yang pernah ia temui. Dan hal yang paling buat aku angkat topi adalah ketekunannya dalam beribadah meski dalam situasi sesibuk apapun pasti tak pernah ia lewatkan.
“Pak Aksa merasa nyaman kerja disini?”
“Iya nyaman bang, semua orangnya baik baik, apalagi dengan Bang Ipul.”
“Ah Pak Aksa bisa aja. Beberapa hari kerja disini ada yang ganggu tidak?”
Sepertinya aku tau arah obrolan ini kemana arahnya. Meskipun aku tau yang ia maksud aku enggan untuk berterus terang dengan situasinya. Aku malah coba mengorek lagi informasi yang lebih jauh mengenai apa yang Bang Ipul ketahui mengenai kantor ini.
“Ganggu seperti apa itu bang?” tanyaku dengan polosnya.
“Biasanya kalau ada yang baru, ada yang iseng mengganggu orang tersebut. Nah saya ga tau apa Pak Aksa termasuk orang yang di ganggu tersebut.”
“Ga ada sih pak aman aja beberapa hari ini. Karyawan lain juga kemarin ada yang beritahu saya untuk jaga ucapan dan semua tingkah laku saya.”
Tak berapa lama adzan isya telah berkumandang dari kejauhan. Kami pun mengakhiri obrolan saat itu dan bergegas mengambil air wudlu untuk melanjutkan sholat isya. Terlihat hanya kami berdua saja yang melakukan sholat isya malam itu. Sempat hatiku bertanya kala melihat teman teman di kantor yang selalu sibuk dengan kerjaannya tapi melalaikan akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Pantas saja jika selama ini mereka selalu di ganggu dan dibuat nyaman oleh makhluk sesat yang ada di kantor.
Setiap tiba masa solat tidak ada satupun yang beranjak untuk melakukannya, kecuali Bang Ipul yang memang orangnya taat beribadah. Wajar saja penghuni lain di kantor ini begitu senang dengan orang orang yang ada di dalamnya. Dengan kehadiranku malah jadi bertolak belakang dengan mereka.
“Jangan ikut campur urusan kami!” tak berapa lama selesai solat jamaah tadi kembali terdengar sebuah suara yang juga menegurku.
“Aku takkan ikut campur selama kalian tidak mengganggu umat Rasul ku, Muhammad SAW.” Jawabku mulai tegas.
Dari kejauhan langsung muncul sosok hitam besar dengan beberapa anak buahnya yang memiliki rupa tak kalah jeleknya dengan ia. Wajah mereka menunjukkan kemarahan dan jelas itu mengarah padaku. Untung saja saat itu Bang Ipul sudah berlalu duluan. Hanya tersisa aku dan si Jin o***g. Sahabatku satu ini sudah terlihat tak sabar ingin memusnahkan mereka yang ada di hadapan. Tapi aku berusaha menahannya.
“Sabar jin. Lu bawaannya perangggg mulu, heran gue.”
“Tuan sudah cukup sabar, biar kami yang selesaikan mereka.”
“Jangan kataku!” nadaku agak ku tinggikan, artinya kali ini aku menegaskan agar ia menurut keinginanku.
“Baik tuan!”
“Siapa kamu? Berani sekali mengganggu urusan kami disini.”
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan pimpinan mereka. Sepertinya mereka memang belum begitu mengenalku.
“Itu tidak penting wahai makhluk! Aku siapa atau apapun itu bukan urusanmu. Aku hanya minta jangan kalian ganggu lagi orang orang di kantor ini. Paham!!”
Tiba tiba dalam sekejab di sisi kiri dan kananku hadir beberapa sosok ulama terdahulu yang kharismatik. Satu persatu hadir seperti angin yang berhembus. Aroma yang mereka hembuskan begitu wangi dan aku sangat menyukai wanginya. Berpakaian serba putih dengan di hiasi bolang di setiap kepala mereka. Cahaya yang di pancarkan cukup menyilaukan bagiku.
Sementara si Jin o***g yang mengawalku tadi terlihat berada di posisi belakangku. Biasanya ia memang tak berani berada di sisiku jika sosok para ulama ini ketika hadir.
“Assalammualaikum Aksa.”
“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh para Eyang.”
“Apa kabarmu nak?”
“Alhamdulillah Eyang, saya terlihat baik seperti yang para Eyang lihat.”
“Kenapa hadir tiba tiba ini Eyang?” tanyaku lagi karena tidak biasanya mereka hadir tanpa memberi kabar.
“Kami merindukan kehadiranmu di dunia kami nak.”
“Oh nggih Eyang, Insya Allah dalam waktu dekat saya berkunjung ke dunia para Eyang ya.”
Di ujung sana terlihat sosok yang hitam besar tadi sudah bersujud.
“Ampun tuan, maafkan kami. Ampun tuan, jangan bakar kami tuan. Sungguh kami tidak tahu jika tuan adalah …”
“Aku tidak ingin mengusir kalian dari tempat ini. Yang ku minta hanya jangan ganggu orang orang yang bekerja disini. Karena ulah kalian mereka jadi lalai akan Tuhan-Nya. Cukup kalian saja yang tersesat jangan kau bawa Umat Rasul ku.”
Dalam sekejap merekapun menghilang dengan menyisakan asap hitam. Tidak Nampak lagi sosok yang angkuh tadi menantang.
“Baiklah nak kami berpamitan dulu, jangan lupa untuk berkunjung ya. Assalammualaikum.”
Para eyang pun turut pamit pergi. Aku hanya tersenyum kecil menyaksikan kejadian barusan. Si o***g juga sudah menghilang entah kemana. Segera ku kembali ke tempat kerjaanku khawatir nanti di cari pimpinan karena sudah terlalu lama meninggalkan tempat. Semenjak hari itu di kantor sudah tidak ada lagi yang berani mengganggu teman teman di kantor. Namun sayang masih ada teman yang tidak mau melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.