Kepergian sang bapak membuat kedua buah hatinya kehilangan figure seorang ayah. Tidak ada lagi tempat Mayang dan Riris berlindung yang tersisa hanyalah seorang ibu. Maut, jodoh dan rezeki tidak ada yang tau datangnya kapan. Begitu juga sisa usia kita, semua hak prerogative yang punya hidup, Allah SWT. Penyakit jantung yang selama ini di derita oleh Bapak akhirnya turut membantu memuluskan sang malaikat pencabut nyawa untuk mengambilnya dari kehidupan kami.
Semuanya terjadi begitu cepat tanpa adanya sebuah firasat.Cara ia di panggil di lalui dengan mudah tanpa Bapak harus merasakan sakit yang lama. Ibu menjadi orang pertama yang sangat terpukul dengan kehilangan orang yang sangat di cintainya.
Hubungan mereka dulu tanpa di sengaja. Semua berawal dari sebuah usaha yang ibu jalankan ketika masih menjadi pembantu jualan nenek, orang tua dari ibu. Usaha tersebut cukup terkenal di tahun 70 an. Secara fisik juga ibu adalah gadis yang manis pada zaman itu. Karenanya tidak heran jika beberapa pria mencoba mendekati ibu untuk menjadikannya seorang istri. Namun ada juga yang serius hanya untuk sekedar menjadikan ibu istri ke 2, ke 3 atau hanya simpanan.
Tentu saja ibuku menolak untuk menjadi yang ke dua dan seterusnya. Ia ingin menikah hanya sekali untuk seumur hidupnya. Karena kelak ia ingin mengajarkan hal yang sama untuk anak anaknya. Hingga akhirnya takdir jodoh juga yang mempertemukan ibu dengan almarhum bapak karena ketidak sengajaan. Bapak yang memiliki karakter yang ramah, supel dan sopan membuat ibu jatuh hati padanya. Begitu juga sebaliknya ibu yang aslinya kalem, manis dan sedikit malu malu telah berhasil meluluhkan hati bapak kala itu.
Menjalin hubungan yang sangat serius selama setahun lantas berpisah lagi kurang lebih setahun karena sebuah pekerjaan yang harus bapak lakukan membuat hubungan itu sempat merenggang. Tapi itu tidak bertahan lama, hingga setahun kemudian sekembalinya bapak dari dunia kerjaan langsung pergi menemui ibu dan orang tuanya. Bapak tidak ingin menunda lagi pernikahan yang telah lama ia rencanakan. Beruntung bagi bapak dan ibu karena kedua orang tuanya sangat menyetujui hubungan mereka menuju ke pelaminan.
Dalam waktu 3 bulan sang ibu kemudian hamil anak pertama yaitu Mayang. Kabar itu bapak terima seminggu setelah berlayar ke luar negeri. Mendengar kabar tersebut membuat kehidupan bapak dan ibu menjadi lebih hidup. Hingga lahirnya anak kedua si Riris beberapa tahun kemudian membuat kehidupan mereka semakin lengkap.
Kehidupan rumah tangga bapak dan ibu nyaris tanpa noda. Mereka berhasil menjaga hubungan tersebut dengan saling pengertian, setia dan memang sangat mencintai satu dengan yang lainnya. Begitu juga hubungan dengan keluarga yang lain serta kehidupan dalam bermasyarakat. Semua orang menganggap bapak adalah orang yang menyayangi keluarga dan menjadi panutan di lingkungan tempat ia tinggal.
Selain itu bapak juga memiliki sedikit ilmu non medis yang tak pernah aku ketahui dari mana asal usul ilmu tersebut yang ia dapat. Dengan kemampuannya yang mampu mengobati tersebut ia gunakan untuk menolong dengan sesama. Tentu saja dengan cara non medis. Meski bapak selalu berbuat baik tidak lantas membuat semua orang bisa senang dengan dirinya. Sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan selalu ada baik dan buruk. Begitu juga dengan kehidupan bapak, meski telah banyak berbuat baik pada orang tidak serta merta ia di senangi orang.
Dalam pengobatan terkadang tidak semuanya sembuh dengan sempurna, semua sudah pasti adalah hak Allah sang Maha Penyembuh. Bapak hanyalah seorang perantara yang memang diberi sedikit kelebihan untuk mengobati. Selalu ada saja orang yang juga tidak menyukai dengan kehidupan bapak. Padahal bapak sedikitpun tidak pernah berniat mengganggu atau melukai orang lain.
Saat anak anak sudah mulai tumbuh besar, bapak memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai pelaut yang mengharuskan ia bepergian keluar negeri dengan waktu yang cukup lama. Bapak lebih memilih dengan kehidupan bersama keluarga kecilnya dari pada selalu menjauh dari istri dan kedua buah hatinya. Bapak membuka usaha grosiran kecil kecilan di dekat pasar di kotaku. Dengan modal dari tabungan yang bapak dan ibu sisihkan selama bekerja dulu.
Buat bapak meski hasilnya kecil di usaha kali ini tapi mampu membuat hatinya selalu tenang dan bahagia bisa berkumpul dengan keluarga. Begitu juga ibu turut membantu bapak dengan berusaha jualan kue kue rumahan yang ia titipkan di warung, toko atau mini market yang mau menerima dagangan sang ibu. Hasil dari jualan kue itu cukup membuat Riris dan Mayang bisa sekolah hingga saat ini. Ibu ku memang orang yang sangat pandai dalam memasak dan membuat kue.
Moment lebaran adalah kesempatan ibu dalam mengais rezeki yang lebih dari hari biasanya. Orderan kue yang di terima di tahun pertama usaha ibu di luar dugaannya. Ia sampai kewalahan menerima orderan hingga menjelang hari H lebaran. Begitu juga dengan bapak yang memang jago dalam berdagang karena memang sudah keturunan yang pandai dalam berdagang dari orang tuanya terdahulu.
Semua keberhasilan itu tak lepas dari ketekunan bapak dan ibu dalam menjalankan ibadah dan sunah dalam agamanya. Sedekah yang tak pernah lepas dari tangan mereka. Bahkan aku dan Riris selalu di ajak ke panti asuhan untuk bisa berbagi bersama mereka. Secara tidak langsung bapak dan ibu telah mengajarkan kami arti tentang berbagi dengan sesama makhluk ciptaan Allah. Tidak semua makhluk di bumi ini seberuntung kita.
Namun hidup itu tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan kehidupan bapak dan ibu dalam berusaha membesarkan kami. Ujian itu akhirnya datang juga. Tidak tanggung tanggung lagi, usaha grosiran bapak hangus tak bersisa di lalap si jago merah. Hanya dalam hitungan menit semuanya ludes terbakar. Akibatnya bisa di tebak, bapak kehilangan mata pencaharian. Di tambah lagi para langganan yang tutup mata dalam membayar hutang jualan pada bapak karena memanfaatkan hilangnya catatan piutang dagangan bapak. Beruntung sekali memiliki bapak yang memiliki hati yang bersih, bapak malah mengikhlaskan orang yang enggan membayar hutangnya pada bapak.
Setelah peristiwa kebakaran itu bapak sempat terkena serangan jantung ringan. Dalam sebulan bapak harus di rawat di rumah sakit terkenal di kota kami. Tentu saja imbas dari kejadian itu sedikit banyak mengikis modal ibu dan bapak. Usaha ibu juga jadi terikut dampaknya karena mulai jarang terima pesanan. Ibu lebih mengutamakan kesehatan bapak ketimbang usahanya. Begitu sayangnya mereka membuat aku sangat bersyukur memiliki keduanya.
Sebulan pasca sembuhnya bapak, usaha keluarga di mulai lagi dari nol. Bapak tidak lagi membuka usaha melainkan ikut kerja dengan teman yang kebetulan memerlukan tenaga dan pikiran bapak. Ia di percaya untuk di jadikan pimpinan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods. Meski hanya level local perusahaan ini cukup di kenal di kotaku.
Begitu juga dengan ibu kembali pada usahanya membuat kue. Tapi kali ini tidak hanya focus pada kue kering atau basah saja. Melainkan usaha catering mulai ia jalankan pelan pelan. Kemampuan memasak ibu tidak perlu lagi di ragukan. Hampir semua masakan ia kuasai selama ini. Keahlian itu ia dapat dari neneknya yang memang sudah turun temurun.
Di bawah kepemimpinan bapak, perusahaan mampu mencetak profit yang luar biasa di awal tahun ia menjabat. Hal ini membuat temannya yang memiliki usaha itu sangat senang dengan keberhasilannya. Ia merasa tidak salah dalam memilih orang yang ia percaya.
Namun sekali lagi dalam setiap keberhasilan tidak semuanya berjalan mulus seperti jalan tol Samarinda – Balikpapan. Pasti ada kerikil tajam yang menyertai dalam kehidupan tersebut. Usaha ibu mendapat gangguan dari hal yang berbau mistis. Hampir semua masakannya terjadi sesuatu yang aneh yaitu berbau saat baru selesai di masak. Dan ini berlangsung cukup lama ia rasakan. Tidak kehitung kerugian yang harus ibu alami. Kepercayaan dari pelanggan satu persatu mulai berkurang karena rasa dari masakan dan kualitasnya yang jauh dari standar ibu.
Tidak banyak yang bisa ibu perbuat karena memang ibu tidak mengetahui cara mengatasinya. Begitu juga bapak ketika mengetahui hal tersebut. Beruntung mereka selalu sabar dan tetap rajin beribadah dan memohon pada Sang Khaliq untuk di berikan jalan yang terbaik.
Kini semua hanya tinggal kenangan bapak buat kami yang masih hidup. Ajaran kebaikan yang selama ini ia tanam akan selalu terngiang di telingaku dan Riris adikku. Ibu, aku dan adikku sudah bisa menerima semua ketentuan yang sudah Allah tuliskan buat keluarga kami. Kebaikan sang Bapak akan selalu kami ingat, dan amanatnya akan kami jalankan.
Selamat jalan Bapak, semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.