Hilangnya Sosok Panutan

1656 Kata
Kuliah tak mampu ku selesaikan dengan target yang telah ku desain selama ini. Kehilangan seorang ayah membuat hidupku terasa ada yang hilang. Tidak ada orang yang jadi tempat untuk aku bertukar pikiran, meminta pendapat, mencurahkan masalah dan memberi motivasi hidup. Semua kini harus ku jalani dengan kaki sendiri, tanpa ada lagi yang memberi warning kala di depan ada halangan atau rintangan yang membahayakan. Kini hanya ada seorang ibu dan adik yang saling mendukung satu sama lain. Tentu saja itu berbeda dengan seorang bapak. Setidaknya aku masih memiliki dua orang yang ku sayang dan juga menyayangiku tentunya. Segala focus dan perhatian kini mengarah pada mereka. Aku tidak bisa berpangku tangan melihat ibu seorang diri dalam mengais rezeki. Keputusan ku untuk berhenti kuliah sempat di tentang oleh ibu. Ia merasa masih sanggup untuk memenuhi keperluan kuliahku. Ah ibu memang pandai menutupi kebohongan demi anaknya. Padahal aku sangat mengerti kondisi keuangan keluarga kami. Hanya dengan mengandalkan usaha kue dan catering ibu rasanya takkan mungkin bisa memenuhi biaya kuliahku. Apalagi usaha ibu sedang menurun di banding tahun tahun sebelumnya. Tanpa sepengetahuan beliau aku mencoba ajukan lamaran di lowongan lowongan yang aku dapat di social media. Ada yang menolak karena masih minimnya pengalamanku, ada juga yang hanya sebatas wawancara tanpa kejelasan statusnya. Bahkan lebih parah lagi baru mau masukkan sudah di tolak oleh satpam perusahaan. Mungkin karena melihat penampilanku yang kurang meyakinkan untuk bekerja pada perusahaan itu. Sebulan … dua bulan … hingga mendekati setahun aku belum juga mendapatkan sebuah pekerjaan tetap. Hanya menjadi pengganti penjaga stand yang kadang ku lakukan kala ada temanku yang meminta menggantikan sementara pekerjaannya sebagai penjaga sebuah stand franchise makanan. Bagiku tak masalah tidak di gaji, selama masih dapat jatah makan bagiku sudah cukup. Seberat apapun usaha itu tetap akan ku lakukan selama tidak melanggar perintah agamaku. Hal ini yang selalu ku ingat saat dulu almarhum mengajariku arti dari tawakkal. Keberuntungan itu akhirnya datang juga. Meski hanya level pelayan tetap ku terima pekerjaan itu. Kebetulan teman yang punya café tersebut sedang membutuhkan tenaga pelayan. Dari awal ia tak yakin aku mau menerima pekerjaan itu. “Lu yakin May mau kerja beginian, gua ga tega beud nih May.” “Udeh lah gue butuh banget nih, ga masalah meski jadi babu sekalipun.” “Husss … ga boleh ngomong gitu ah, lu sobat gue,  mana mungkin gue setega itu.” “Iye beneran Sis, gue perlu banget kerja ini.” Akhirnya kami sepakat kalau aku jadi bawahannya meski sebenarnya ia sangat enggan menerimaku. Hanya ini caranya agar aku bisa membantu keluarga ku dalam hal perekonomian. Seminggu, dua minggu hingga sebulan lamanya aku masih menikmati pekerjaan ini. Meski jam kerja terbatas tetap ku paksa mengambil lembur untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Hingga tanpa sengaja hari itu aku bertemu dengan seseorang yang akhirnya nanti menjadi pasangan hidupku. Cowok itu bernama Andre. Cowok tajir yang memang sudah jadi langganan café tempatku bekerja. Setiap ngafe selalu menghamburkan duit yang tidak sedikit buatku. Tidak hanya sendiri jika ke café ini, melainkan dengan beberapa temannya. Entah ada angin apa secara tiba tiba ia mendekatiku. Rupanya sejak lama ia memperhatikanku, tapi aku cuek saja. “May entar malem ada acara ga? Kita nonton yuk.” “Entar ta lihat jadwal kerja dulu ye, ada kegiatan ga?” segera ku tanyakan pada teman di sampingku yang kebetulan tau jadwal kerjaan hari ini. Temanpun menjawab ada tapi masih bisa di handle oleh yang lain, jadi tidak masalah jika aku tak mengambil jadwal tersebut. Alhasil malam itu aku ada jadwal ngedate dengan Andre. Sudah lama memang aku tidak dekat lagi dengan cowok, meski ada beberapa yang mencoba mendekat tetap aku enggan meladeninya. Semenjak di tinggal Bapak pergi untuk selamanya, ada rasa enggan untuk membuka hati buat cowok lain. Aku jadi males berhubungan dengan yang namanya cowok, khawatir akan hatiku yang selalu di kecewakan oleh mereka. Bapak paling tahu sifat dan kebiasaanku yang mudah jatuh hati dan tersentuh. Dan terkadang sangat sulit untuk membedakan antara yang benar benar tulus dan hanya modus. Namun hari ini ada sedikit yang berubah di bandingkan dengan kondisi yang lalu. Sedikit banyak aku harus merubah mind set mengenai seorang cowok. Apalagi mengingat kondisi usiaku yang sudah semakin matang untuk berumah tangga. Malam itu memang terasa beda dengan hari biasanya. Seperti biasa aku yang mudah tersentuh hatinya jadi terbawa perasaan. Dag dig dug ser terus selepas pulang kerja langsung berdandan beda dengan biasanya. “Cmiwiwww …” terdengar suara ejekan khas si tomboy adikku Riris. Sudah pasti orang rumah menaruh curiga jika aku sudah berdandan lain dari pada yang biasanya. Adikku yang usil melihat ada yang beda dengan kakaknya langsung membully habis habisan. “Ya Allah semoga kali ini adalah jodoh terakhir kakakku yang paling cantik dan baik hatinya ini. Amin.” “Amin ya Rabbal Alamin.” Ku keraskan suaraku menegaskan jika aku sangat setuju dengan doa tersebut. Sang adik langsung tertawa lepas, aku juga ikut tertawa bahagia sambil memeluk adikku satu satunya. Ya Allah indahnya ya memiliki saudara seperti ini. Tiba tiba dari arah pintu keluar ada sebuah suara yang juga turut mengaminkan doa adikku tadi. “Amin juga ya dari ibu.” “Ibuuuu, terima kasih ibuku yang cantik dan baik hati sedunia.” “Hati hati ya nak, kalau bepergian ingat waktu dan jangan lupa berdoa.” “Siap komandan!!” Tak berapa lama terdengar dari luar sebuah klakson mobil. Pikiranku langsung tertuju pada Andre yang memang sudah berjanji ingin menjemputku. Setelah merasa semuanya sudah beres aku langsung berpamitan dengan ibu dan adikku. Segera ku bergegas menghampiri cowok yang sudah menungguku di luar. Dalam sekejap aku sudah berada di dalam mobil. Suasana yang awalnya terlihat kaku lama kelamaan jadi cair karena Andre pintar mencairkan suasana dengan joke joke yang ia buat. Aku jadi tidak canggung lagi dengan cowok itu. Setiap perkataan yang ia ucapkan terasa banget di hatiku. Meski itu bukan ungkapan yang jujur, tetap menggetarkan hati ini. Melihat wajahku yang memerah padam, Andre makin jadi mengobok obok hatiku. Sampai di tujuan kami langsung masuk ke dalam café yang memang sudah di pesan oleh Andre. Suasananya saat itu sangat terasa beda dibandingkan dengan meja yang lain. Sepertinya ini memang di desain khusus untuk kami berdua. Cahaya lampunya hanya sedikit yang bersinar menyinari meja kami. Di tengah meja sudah ada sebuah lilin dan setangkai bunga mawar yang masih segar. Sungguh suasana malam itu begitu romantic buatku. Entah apa maksud semua ini, semoga saja ada kejutan indah buatku malam ini. Aku tak menyangka jika Andre bisa seromantis begini orangnya. Aku pikir selama ini ia selalu cuek dengan gadis gadis yang selalu mengerubutinya. Sedikitpun tak pernah ada dalam pikiranku untuk menjadi kekasihnya. Malam itu juga Andre ternyata mengungkapkan perasaannya padaku. Rupanya selama ini ia sering ke café ku tempat bekerja adalah alasan agar bisa mendekatiku. Hati ini rasanya langsung melayang ketika tahu Andre yang selalu jadi rebutan di geng nya menyatakan cinta padaku. Tanpa ragu dan langsung ku katakana yes. Andre seketika langsung melompat kegirangan. Malam itu jadi malam yang paling berkesan sepanjang hidupku. Semoga saja aku tidak salah memilih orang yang akan menjadi pacarku. Syukur syukur kelak ia bisa menjadi imamku. Siapapun pasti tidak akan menolak dengan Andre yang memang turunan borjuis. Sungguh ini memang anugrah yang luar biasa buatku bisa menjadi kekasih seorang Andre. Alhasil malam ini aku telah resmi menjadi kekasih Andre. Hari demi hari ku lalui dengan indahnya romansa cinta. Aku benar benar sedang kasmaran dengan cowok ini. Apalagi semenjak almarhum bapak tiada, perhatian seorang pria sangatlah ku rindukan sebagai pengganti Bapakku. Andre benar benar cowok yang sangat mengerti bagaimana memperlakukan seorang wanita. Selalu ia berusaha lakukan yang terbaik buatku, melindungi dari hal sekecil apapun yang membahayakan aku. Ia juga selalu perhatian dengan keluargaku. Setiap menjemput ke rumah selalu saja ada yang di bawanya untuk ibu ku. Akupun telah berhenti dari rutinitas kerjaku di café teman. Dengan sangat terpaksa aku memenuhi keinginan Andre untuk tidak lagi bekerja di café tersebut. Sudah ku jelaskan alasanku bekerja disitu, tetap ia enggan menerima alasan itu. Menutupi rezeki yang ku dapat dari kerja di café itu, Andre menggantinya dua kali lipat dari gaji yang ku terima selama ini. Aku jadi tak nyaman menerima kebaikannya, apalagi aku hanyalah seorang pacar biasa. Di satu sisi aku juga kagum dengan kemurahan hatinya mau membantu aku yang masih seumur jagung ia kenal. Hatiku semakin yakin dengan hubungan ini. Waktu berjalan hari demi hari hingga tiga bulan lamanya dan kejutan yang luar biasa itu akhirnya datang juga. Tanpa ku duga Andre datang bersama keluarganya untuk melamarku. Ibu dan adikku juga ikut surprise dengan kehadiran mereka karena semua tanpa di kabari sebelumnya. Keluarga besarku tidak ada yang tau selain Ibu dan adikku. Semua persiapan jadi ala kadarnya, makanan yang tersajipun hanya kue sisa jualan ibuku. Meski terlihat seperti melecehkan, mama Andre tetap ku hormati sebagai calon mertua dan orang tua nantinya. Ia seperti tidak senang dengan keadaan keluargaku yang sangat sederhana. Beda halnya dengan Papa Andre yang terkesan tidak ambil pusing dengan kondisi keluargaku. Tanpa banyak basa basi pihak keluarga Andre langsung mengungkapkan keinginannya untuk menikahkan anaknya dengan diriku. Aku pikir selama ini Andre hanya bercanda, memang sempat ia utarakan keinginan untuk menikahiku saat beberapa minggu lalu. Obrolan hanya ku anggap angin lalu karena ku pikir rasanya ga mungkin keluarga Andre bisa menerima menantu seperti aku yang dari golongan biasa. Berkali kali Andre meyakinkan aku untuk tidak memandang dari segi kasta yang ia miliki. Ia tak pernah mencintai seseorang dari harta, jabatan ataupun status di masyarakat. Tetap saja masih ada keraguan dalam diriku meski ku yakin ia mencintai ku dengan tulus. Tetapi ternyata Andre membuktikan omongannya dengan membawa semua keluarganya untuk meminang aku. Sempat ada keraguan di hati ibu ku karena melihat perlakuan calon besannya yang tidak menghargai ibu dan keluargaku. Namun ibu paling tahu dengan isi hati anak gadisnya, ia tidak ingin membuat hati anak gadisnya terluka hanya karena egonya. Semua prosesi dan acara ibu serahkan pada pihak keluarga Andre. Ibu enggan berdebat lebih jauh lagi, baginya bisa menikahkan secara resmi sudah sangat cukup buat ibu melihat mimpinya terwujud.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN