Menjadi Nyonya Andre

1223 Kata
Akad nikah sederhana yang kami adakan di masjid sekitar komplek perumahan tidak mengurangi khidmatnya acara tersebut. Semua keluarga besarku hadir dalama acara itu. Hanya keluarga jauh yang tak bisa hadir dengan mengirimkan doa yang terbaik buatku. Tidak banyak undangan yang di sebar, hanya buat keluarga dan kerabat terdekat serta beberapa teman dekat. Dari pihak Andre juga hanya papa dan mamanya yang hadir. Sepertinya keluarga besarnya tidak di bawa semua. Terlihat begitu wah penampilan mama mertua. Dengan perhiasan yang melingkar di leher, tangan hingga ke jarinya semua hampir sesak tak mendapat tempat. Seperti toko emas yang berjalan saja pikirku. Resiko memiliki mertua orang borju ya seperti itu, mak tak mau kudu terima. Sementara Papa Andre terlihat sederhana hanya dengan jas namun tidak menghilangkan gaya elegannya. Meski usianya sudah seumuran dengan almarhum bapakku tapi ia tidak terlihat tua. Pantas saja wajahnya menurun ke Andre anak satu satunya. Keesokan harinya di lanjut dengan acara resepsi di rumah Andre. Sebelumnya aku tidak pernah mengetahui rumahnya karena memang aku tidak pernah mau di ajak ke rumahnya karena ada rasa minder untuk datang kesana. Berkali kali Andre selalu membujuk untuk mengunjungi rumahnya, namun selalu saja ada alasan untuk menolaknya. Syukur saja cowokku begitu memahami keinginanku. Semua kelengkapan resepsi Andre dan keluarganya yang menyiapkan. Mulai dari pakaian untuk acara tersebut, catering, make up hingga akomodasi acara itupun tak luput dari campur tangan mereka. Aku, Ibu dan adikku hanya pasrah mengikuti keinginan mereka karena nyaris kami tidak mengeluarkan biaya untuk acara tersebut kecuali untuk selamatan kecil kecilan buat keluarga dan tetangga sekitar rumah. Suasana di pelaminan rasanya ada yang janggal. Orang tua Andre sedikitpun tak menghiraukan kehadiran ibu atau keluargaku yang lain. Secara tak langsung melihat wajah ibu aku jadi sedih, tapi berusaha aku tidak menunjukkannya. Entah ibu merasakan apa tidak sikap dari besannya atau memang ibu juga sengaja menyembunyikan sikapnya karena demi aku. Selesai acara resepsi itu aku langsung di boyong Andre ke rumahnya. Namun sebelum itu aku memohon doa sang ibu karena harus berpisah dengannya. Aku tak mampu membendung air mataku ketika hubungan ini harus benar benar mewajibkan aku untuk mengikuti keinginan suamiku. Memohon doa dan melihat kerutan di wajah sang ibu rasanya aku tak sanggup untuk berpisah meski ini hanya soal jarak. Begitu juga ibu tak mampu membendung air matanya melihat aku kini telah resmi menjadi nyonya Andre dan harus tinggal bersama suami. Tidak ada lagi yang menjadi tempat bertukar pikiran, curhat saat ada masalah ataupun sekedar mengobrol ringan. Setibanya di rumah Andre, aku merasa asing banget dengan situasinya. Meski rumah itu seperti istana yang begitu megah tidak lantas membuat aku jumawa. Di sambut oleh beberapa pembantu atau asisten rumah tangganya yang kesemuanya begitu ramah kepadaku. Aku hanya bisa membalas senyuman dan sedikit kata sapa. Keesokan harinya aku bingung harus berbuat apa karena semuanya sudah ada yang melakukan. Ingin apapun semua sudah tersedia dan aku hanya tinggal meminta pada para asisten rumah tangga. Dalam sekejap pasti akan datang dimanapun aku berada. Andre tidak pernah mengijinkanku untuk melakukan aktivitas apapun di rumah itu yang sekiranya bisa membuat aku kelelahan. Semuanya berbanding terbalik dengan kegiatanku sehari hari di rumah ibu. Setiap subuh sehabis solat langsung membersihkan rumah, di mulai dari kamar sendiri, dapur hingga sampai pelataran rumah. Selanjutnya memasak membantu ibu di dapur dan bersiap diri untuk bekerja di luar rumah. Beberapa hari di rumah Andre nyaris aku tak melakukan kegiatan apapun selain makan dan tidur. Mengobrol dengan mertua pun juga jarang karena kesibukan mereka pada aktivitas bisnisnya di luar rumah sehingga mereka jarang ada di rumah. Begitu juga dengan suamiku yang ternyata setelah beberapa hari menikah harus meninggalkanku untuk urusan bisnis di luar kota yang memakan waktu kurang lebih selama seminggu lamanya. Selama seminggu berada di rumah itu rasanya seperti berada di kuburan, apalagi dengan rumah yang begitu besar. Bila malam tidak ada sedikitpun aktivitas di rumah itu, semua asisten rumah tangga sudah pada istirahat atau pada ngumpul di kamar mereka masing masing. Aku pun tidak ada yang menemani, meski hanya teman mengobrolpun tak ada. Satu satunya yang bisa ku lakukan adalah menghubungi ibu ku melalui video call atau adikku yang tomboy. Lebih banyak menangisnya ketimbang tertawa saat ngobrol dengan ibu. Aku sangat kangen beliau bisa seperti dulu. Tapi ibu selalu menghiburku karena sekarang situasinya sudah berubah. Ingin rasanya aku pulang ke tempat ibu sekedar menginap beberapa hari untuk melepas kangen. Tapi ibu selalu melarang karena saat ini suamiku sedang tidak ada di tempat. Jikapun mau sebenarnya aku bisa menghubunginya untuk minta izin ke tempat ibuku. Namun urung ku lakukan karena khawatir mengganggu pekerjaannya. Seminggu telah berlalu, Andre suamiku belum juga kembali pulang ke rumah. Meski ia telah mengabari beberapa hari yang lalu tetap saja perasaan ku tidak enak. Apalagi aku baru menjadi pengantin baru, rasa rindu semakin memuncak rasanya. Belum puas aku menikmati masa menikah bersamanya. Padahal kemarin lusa ia sudah berjanji untuk minggu ini bisa pulang menemuiku. Tapi hari ini aku sudah mendapat kabar jika kepulangannya ditunda karena ada urusan yang belum kelar. Kepulangannya di tunda seminggu kemudian. Hatiku jadi sedih karena belum ada yang menemaniku di saat situasi seperti ini. Hampir tiap malam aku merasa keanehan yang belum pernah ku ceritakan pada siapapun termasuk ibuku juga. Aku kira sahabatku yang tak kasat mata yang sedang iseng menggangguku. Tapi sudah lama aku tak melihatnya lagi rasanya ga mungkin ia berlaku iseng begitu. Setahuku ia tak pernah berbuat nekad begitu dan herannya lagi aku tak mampu melihat sosok aneh seperti biasanya. Entah sejak kapan penglihatanku berubah, mungkin sejak kejadian di masjid waktu aku menjemput Riris di acara ruqiah massal tersebut. Setelah bapak ketua yang maju membacakan mantra buat orang orang yang hadir di acara tersebut aku sudah mulai merasa ada yang aneh. Seketika penglihatanku kabur sekejap dan menjadi gelap seketika. Namun beberapa detik kemudian berangsur angsur kembali normal. Keesokan harinya aku melakukan aktivitas seperti biasa, tapi tidak ada suara atau sosok tak kasat mata yang biasanya ku ajak ngobrol. Aku kira mereka sudah pergi menjauh atau lagi sedang tak ingin bertemu denganku. Aku pun merasa enjoy karena pasca acara tersebut kehidupanku mulai berubah khususnya dengan alam sebelah dan penghuninya. Saat itu aku masih belum menyadari jika sebenarnya kemampuanku melihat demit sudah di tutup oleh ketua perkumpulan ruqiah massal kemarin. Aku pikir memang sudah saatnya kehidupanku kembali normal seperti manusia biasa pada umumnya. Sebenarnya semingguan berada di rumah Andre yang megah, kehidupan ku tidak seindah di rumah sendiri meski fasilitas mewah sudah tersedia dan pembantu yang siap melayaniku selama 24 jam. Semua itu tak mampu merubah keadaan saat aku lagi sendiri kala malam hari. Bayangan bayangan hitam yang meski tak tampak tapi mampu membuat bulu kudukku terus meremang. Tidurpun terasa tidak nyaman karena merasa seperti ada yang sedang memperhatikan di pojok kamarku. Mendengar penundaan kepulangan suamiku membuat hatiku jadi kembali takut. Sudah pasti suasana horror akan terus menghantuiku selama Andre tidak bersamaku. Ingin bercerita pada ibu tapi rasanya ia takkan percaya dengan apa yang ku rasakan. Paling ia hanya meminta perlindungan pada Pencipta ku agar di jauhkan dari hal hal yang buruk. Begitu juga dengan adikku pasti ia akan mentertawakanku seolah aku hanya drama dalam sinetron ikan terbang. Tiga hari kemudian di pagi hari nan cerah, ternyata di luar dugaan ku Andre sudah berada di depanku dengan membawa sebuket bunga mawar kesukaanku. Hmmm … benar benar surprise yang istimewa, ia memang tahu cara memperlakukan wanita. Aku merasa seperti sedang berada di awan nan lembut ketika di perlakukan begitu olehnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN