Andre yang Sesungguhnya

1605 Kata
Setibanya Andre di rumah aku merasa tidak kesepian lagi. Hatiku merasa tenang dan bawaannya ingin selalu berada di sisinya. Namun ada kekhawatiran suamiku akan merasa risih jika aku harus selalu ada di sampingnya. Apalagi jika menyangkut soal pekerjaan jelas nanti ia merasa kurang leluasa berinteraksi dengan rekanan atau dengan teman kerjanya. Keesokan harinya aku coba bawa Andre untuk berkunjung ke rumah Ibu ku. Dengan alasan aku sangat kangen beliau karena sudah semingguan lebih tidak ketemu dengan ibu. Aku pikir pasti ia sangat menyetujui keinginanku tapi … ternyata diluar dugaanku Andre malah melarangku untuk mendatangi ibuku. “Kenapa Mas?” tanyaku tak percaya. “Aku capek Yang, baru juga kemarin tiba dari kerjaan.” Terlihat wajahnya mulai kesal denganku. “Ok lah, nanti besok besok aja ya kita ke rumah ibu. Aku kangen banget mas dengan ibu dan adikku.” Pintaku memohon padanya. “Ntar lihat nantilah!” jawabnya acuh sambil ngeloyor pergi meninggalkanku yang hanya bisa terdiam melongo melihatnya. Terbersit dalam hati sebuah pertanyaan ada apa dengan suamiku. Mungkin saja karena ia masih kelelahan sepulang dari luar kota. Aku pun mencoba melupakan hal itu, mungkin lain kali ia mau ku ajak ke tempat ibu, pikirku dalam hati. Sehari dua hari aku masih setia menemani Andre berjalan keliling kota, dari café ke café favoritnya biasa nongkrong. Aku berusaha untuk mengimbangi kegemarannya dan mengesampingkan ego ku yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan keramaian yang sangat bising. Terkadang ia sampai lupa waktu untuk pulang karena saking larutnya dengan teman teman se geng nya. Aku melihat sedikitpun ia tidak memperdulikan ku. Bahkan sampai bermabuk mabukan ia menikmati sisa malam itu. Hari hari berikutnya apa yang Andre lakukan hampir sama dengan hari hari sebelumnya. Berkumpul dengan teman geng nya di café dan mabuk mabukan hingga menjelang pagi. Aku berusaha sabar menghadapi kenyataan ini. Selama ini yang ku tahu ia tidak pernah berbuat hal demikian. Tapi kenapa semenjak pulang dari luar kota Andre mengalami banyak perubahan. Selanjutnya saat ia membawa ku keluar rumah untuk jalan jalan, aku coba ajak ia ke tempat ibu. Andre langsung nge gas menjawabnya. Rasa jantung ini mau copot mendengarnya. Aku ga pernah bayangkan seorang Andre yang ku kenal 3 bulan lalu, yang begitu lemah lembutnya memperlakukanku, secara tiba tiba berani membentakku. Untung saja kejadian itu hanya kami berdua yang tau karena sedang berada di dalam mobil. “Aku kangen ibu mas, in sudah berapa minggu aku ga pernah ketemu dengan ibu dan adikku.” “Tapi kan kamu tahu aku sedang sibuk dan perlu refreshing dengan teman temanku.” “Sejak kita nikah aku sekalipun belum pernah ke rumah ibu, kebanyakan selama ini aku hanya bisa video call dan menlpon mereka mas. Apa itu saja menurut mas cukup?” “Iya lah, masa video call gitu juga kurang?” Perdebatan kami tiba tiba terhenti sementara karena Hp suami berdering. “Iya Mah, ini Andre lagi diluar jalan jalan.” Dari nada bicara dan gelagatnya ia sedang menerima telpon dari Mamanya. Hatiku semakin panas dan belum usai dengan perdebatan tadi. “Iya Mah nanti Andre datangi Mama di salon langganan yang di Mall itu kan?” Andre terlihat antusias begitu di ajak oleh suara di telpon itu. Hatiku semakin keki dibuat olehnya. Selepas menutup telpon tadi Andre langsung kembali pada topic perdebatan kami. “Udah gini aja, nanti sampai di mall, kamu ta panggilkan taxi online buat nganter kamu ke tempat ibumu.” “Lho kok gitu mas? Kamu ga mau nemenin aku ke tempat ibu?Kamu ga pengen ketemu ibuku juga?” sejumlah pertanyaan langsung ku berondong ke dia. Hatiku semakin kesal mendengar anjuran yang begitu bodoh dari seorang suami. “Ini penting sayang, Mama meminta aku untuk menemani dia di salon katanya ada yang mau dia omongkan hal yang penting.” “WHAT!!! Kamu  anggap aku ga penting?! Mama kamu lebih penting dari segalanya, termasuk aku sebagai istrimu mas??” Andre langsung terdiam seribu bahasa, tak mampu lagi ia berkata kata. Rupanya ia keceplosan dengan ucapannya sendiri. Sampai di mall yang di maksud aku langsung menunggu reaksi darinya, apa dia serius akan memanggil taxi online atau akan mengantar aku ke rumah ibuku. Beberapa detik ia terlihat sibuk dengan gadgetnya sendiri. Dan tak berapa lama terdengar dentingan hpnya berbunyi menandakan ada chat yang masuk. Ternyata ia memang serius memesan taxi online untuk mengantar aku ke rumah ibuku. Sudahlah karena lelah dengan batin yang sedari tadi berdebat akupun enggan ribut lagi. Tak lagi ku hiraukan panggilannya, terus saja ku menuju taxi yang sudah menunggu diluar. Begitu tiba di rumah aku langsung berlari ke pelukan ibu. Rasa rindu yang sudah lama ku tahan karena keadaan yang memaksaku untuk tidak dapat bertemu dengan orang yang telah melahirkanku. “Kenapa kamu kok baru kesini nduk?” “Maafkan Mayang bu. Mayang kangen nah dengan ibu.” “Iya ibu juga. Kamu sudah makan belum? Itu ibu ada masak menu kesukaanmu.” “Nggih bu, Mayang juga dah lapar banget nih, sengaja dari rumah ga makan dulu Cuma untuk makan menu di rumah ibu.” “Lho suamimu  mana nduk?” “Ah ga usah di urus itu bu, ga jelas!” jawabku kesal sambil berlalu ke ruang dapur menuju meja makan. Semua sudah terhidangkan di meja makan, aku tinggal menikmati saja hidangan ibuku. Rasanya seperti bertahun tahun tidak makan masakan ibu. Selama menikmati makan ibu banyak menanyakan hal terutama soal suamiku dan kehidupan baru ku sebagai seorang istri. Ia juga sempat menanyakan kabar mertuaku. Aku coba jelaskan selama beberapa hari hidup di istana tersebut. Perlakuan suami dan orang orang di rumahnya, kecuali perlakuan sang mertua yang memang jarang ada di rumah. Kalaupun ada ia tak pernah menganggap aku ada atau menganggap aku menantunya. Belum lagi keangkeran rumah yang begitu besar tersebut. Seperti ada sesuatu yang tersimpan di balik kemegahan rumah itu. Entah apa hanya aku yang merasa begitu dan orang orang yang menghuni di dalamnya tidak merasakan apapun. Atau memang ada yang di sembunyikan dari itu semua. Hanya Andre dan keluarganya yang tahu itu semua. Aku sedikitpun tak berani bertanya mengenai hal itu. Tapi hanya hal ini tidak berani ku ungkapkan dengan ibu, khawatir ia jadi memikirkan aku nantinya. Dan itu bisa berbahaya buat kesehatan ibu. Selepas makan kembali aku mencari adikku yang sedari tadi tidak terlihat batang hidungnya. Aku coba tanyakan pada ibu kemana si tomboy itu. “Dia lagi bermain di kampung sebelah tempat temannya, sudah izin tadi dengan Ibu.” Aku utarakan keinginanku untuk menginap mala mini di rumah ibu. Tetapi ibu spontan menolaknya karena tau aku sudah memiliki suami yang menjadi kewajibanku untuk melayaninya. Ibu kemudian memberi banyak wejangan panjang kali lebar tentang kehidupan berumah tangga. Aku hanya bisa mengangguk anggukan kepala tanda mengerti. Tanpa terasa waktu sudah beranjak sore. Andre sudah mulai chat sedari tadi menanyakan keberadaanku. Rupanya ia ingin pulang ke rumah namun aku belum sampai di rumah. Aku juga malas membalas chat tersebut tapi ibu tahu dan melarang aku berbuat demikian. Mau tidak mau aku harus membalas dan segera pulang ke rumah. Dengan ogah ogahan akhirnya aku memesan taxi online untuk kembali ke rumah suamiku. Ibu tiada putus memberi dukungan padaku. Ia tidak ingin aku menjadi istri yang durhaka pada suami. Ibu memang orang yang paling mengerti aku sebelumnya, saat ini dan selamanya ia akan seperti itu. Walau berat tetap harus ku lakukan semua demi kehidupanku juga nantinya. Setibanya di rumah aku sudah di sambut oleh seseorang yang sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri. Dia adalah ibu mertuaku. Terlihat dari raut wajahnya tidak ada keramahan sedikitpun. Amarahnya seperti menuju ke arahku. Ada sedikit rasa takut melihat mertua menatap tajam ke arahku. “Dari mana kamu?!” suara kerasnya meyakinkan aku jika orang ini sangat tidak menyukaiku. “Maaf bu, saya tadi dari rumah ibu.” Jawabku pelan demi menghormati beliau. “Kamu tau ini jam berapa? Tau suami dimana? Sudah makan atau belum? Dia perlu apa?” tiada hentinya ia berucap memojokkanku. Aku hanya bisa pasrah dan bertahan untuk tidak menjawab semua omelan tersebut. Karena jika sampai aku mengeluarkan sepatah kata saja pasti akan jadi panjang dan itu jelas bukanlah hal yang menguntungkan buatku. Apalagi aku tinggal di istananya sudah pasti posisiku serba sulit. “Iya Ma, saya minta maaf.” Hanya ini kata terakhir yang bisa ku ucapkan dengan mama mertua. Semua ku lakukan demi menghormati suamiku. Selepas itu baru mama mertua berhenti mengomel. Aku pun melanjutkan langkahku menuju kamar. Inilah satu satunya tempat ku berlindung di rumah ini. Di kamar itu aku malah belum mendapati suamiku yang katanya sedari tadi akan tiba duluan dari pada aku. Padahal itu chat sudah sejam yang lalu ia mengabariku. Tengah malamnya baru Andre tiba di rumah. Sementara aku sudah terlelap sedari tadi. Mataku tak mampu menahan rasa kantuk yang ku tahan sedari tadi saat menanti kedatangan suamiku. Chat di wa ku sedari tadi tak direspon olehnya, makanya aku khawatir dengan dirinya. Apakah ia sudah makan, sudah solat, sudah mandi atau sudah yang lainnya. Semua jadi tanda tanya yang membuat diriku benar benar khawatir. Apalagi sore tadi diri ini sudah mendapat omelan dari mama mertua yang masih terngiang di telingaku yang tak mau hilang sejak sore tadi. Masuk ke dalam kamar tanpa mengucap salam dan terlihat sempoyongan membuat aku yang sedang tertidur langsung terbangun dengan d**a yang sakit karena terkejut dengan kehadirannya yang tiba tiba. Aroma alcohol langsung menyeruak dari tubuh suamiku. Bisa ku pastikan ia mabuk lagi bersama teman temannya. Andre lalu terkulai lemah tak sadarkan diri di atas ranjang kami. Perlahan lahan ku buka baju dan celana yang aroma sudah bercampur aduk dengan rokok dan minuman beralkohol. Mau tidak mau aku harus menggantinya agar ia tidur dengan nyaman dan selesa. Aku seka badannya dengan air hangat agar berkurang bau tak sedap dari aroma tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN