Kembalinya Aksa

1366 Kata
Selama bekerja di pembiayaan motor, banyak pengalaman yang ku dapat. Selain ilmu dari pekerjaan itu, aku juga bisa mendapat banyak teman atau relasi. Lika liku dalam bekerja di bidang kredit cenderung rawan konflik dengan orang lain, terutama nasabah dari perusahaanku bekerja. Di satu sisi jelas aku tak ingin memiliki masalah dengan orang lain, sementara karena tuntutan pekerjaan terpaksa harus menemui banyak masalah. Belum lagi rasa iba ketika melihat kondisi dan situasi nasabah tertentu yang dalam kondisi benar benar sedang kesulitan ekonominya. Segala hal yang bertentangan dengan hati nurani akhirnya membuat diriku harus mengambil keputusan yang sangat berat dalam hidupku. Dengan sangat terpaksa aku mengajukan pengunduran diri, meski karirku di perusahaan itu sedang moncer tidak membuat diriku ragu untuk mundur. Meski ada beberapa teman kerja yang berusaha menahanku tetap tidak mampu mengubah keputusan itu. Apalagi aku juga telah memiliki hubungan buruk dengan seorang wanita yang ku cintai. Meski hubungan itu berjalan hanya dalam waktu setahun terakhir ini tidak mampu menahan berakhirnya hubungan tersebut. Namanya jodoh kita ga akan pernah tau, bertemu atau berakhirnya. Meski peluang untuk kembali dengannya itu masih sangat besar. Pertemuan Aksa dengan gadis itu berawal saat ia sedang mencairkan sebuah cek angsuran dari seorang nasabah dari kantor tempat Aksa bekerja. Tanpa sengaja ia bertemu dengan adik kelasnya yang kebetulan menjadi teller di bank tersebut. Sekaligus gadis itu juga yang melayani Aksa yang terlihat sedikit terkejut dengan perubahan orang di depannya. “Kak Aksa ya?” todong gadis yang ada di teller tersebut tanpa ada basa basi. “Eh kok mba nya tau nama saya?” “Aku Rasmi adik kelasmu dulu Kak.” “O ya? SMA satu juga dulunya?” “Iya Kak, yang kata teman teman kembarannya Kak Nina mantan kak Aksa kan?” terlihat senyum gadis itu seakan memperolok diriku. Yup memang benar dulu ada mantan pacarku yang bernama Nina. Berpisah karena harus menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Nina mengejar cita citanya hingga keluar daerah yang menurut ia lebih baik ketimbang pendidikan di kotanya. Menjalani hubungan jarak jauh membuat semuanya jadi ragu. Hingga akhirnya kata putus adalah jalan terakhir yang memang terbaik buat kami berdua. “Wah hebat kamu masih inget ya.” “Inget dong kak. Oya ada temenku cewek yang mau kenalan dengan kakak, boleh ga?” “Siapa?” “Nanti habis dari sini kakak ke Customer Service ya.” Aku pikir mungkin memang prosedur mencairkan cek seperti itu. Aku pun hanya mengikuti petunjuk mantan adik kelasku tersebut. Wajahnya memang mengingatkan aku akan kecantikan seseorang yang pernah mengisi hatiku dulu sewaktu di SMA. Sebelum mencairkan cek tersebut aku di minta untuk membuka tabungan di bank tersebut melalu petugas yang di tunjukkan oleh adik kelasku tadi. Aku yang baru pertama kali mencairkan sebuah cek terpaksa hanya mengikuti petunjuk tadi. Setibanya di depan customer service aku sudah di suguhkan sebuah formulir kosong. Petugas di depanku ini adalah seorang gadis semampai bermata empat. Senyumnya yang khas membuat aku merasa nyaman di sambut olehnya. Gaya bicara orang bank yang sangat ramah pada setiap nasabahnya membuat kita jadi betah dilayani mereka. Sambil ku duduk ia menyebutkan namanya, Dina. Hmm … nama yang cukup menarik menurutku. “Aksa saya mba.” “Iya saya sudah tau lama kok.” Jawab gadis itu sambil tersenyum. Dalam hati ku kok gadis disini pada tau denganku. Sementara aku sedikitpun sudah lupa dengan mereka. Contohnya tadi dengan Rasmi adik kelasku SMA dulu. Dan kali ini Dina yang entah siapa tapi mengenalku juga. “Maksudnya mba, kok sudah lama tau nama saya? Apa kita pernah satu sekolah atau satu kelas gitu?” tanyaku makin penasaran. “Kita seangkatan di SMA dulu. Kamu anak IPS dan aku anak IPA.” “Oh gitu ya, maaf aku sudah lama meninggalkan kota ini jadi tidak begitu hapal dengan semua kenangan disini. Apalagi teman teman sekolah sudah pasti banyak yang berubah juga. Contohnya aja kamu dulunya aku juga ga tau seperti apa. Lha sekarang malah lebih cakep .” godaku sejurus kemudian membuat gadis di depanku ini tersipu malu. Padahal sebenarnya aku tiada niat untuk menggodanya. Ucapanku terkadang keceplosan seperti itu jika berhadapan dengan seorang gadis, apalagi kalau tau ia seorang jomblo sudah pasti aku akan ceplas ceplos terus tiada henti. Tidak akan kendor sebelum ada pertanda di terima ataupun di tolak. Itulah prinsip hidup seorang Aksa dalam mengejar cinta. Setelah terlibat obrolan yang seru semasa SMA, akhirnya aku mendapatkan nomor HPnya. Kami pun bertukar tukaran nomor dan sepakat malam minggu untuk janjian. Kebetulan malam itu ada acara resepsi temannya Dina yang baru saja melangsungkan pernikahan.  Aku yang sedang kosong hatinya, dengan semangat 45 langsung menerima ajakan tersebut. Mumpung hati ini lagi kosong, siapa tau Dina bisa mengisi kekosongan tersebut. Aku pikir tidak ada salahnya mantan teman sekolah yang nantinya menjadi jodohku. Hingga akhirnya malam yang kun anti itu tiba juga. Dengan dandanan maksimal cakepnya aku jemput gadis bank itu di rumahnya. Setibanya disana ia sudah siap untuk bepergian denganku. Dengan menggunakan hijab yang membungkus kepalanya yang begitu terlihat sempurna membuat ia malam itu begitu cantik dari yang biasa ku lihat di bank kemarin. Dalam hati ini sempat tebersit pertanyaan, apa benar ini teman SMA ku dulu ya? Masa bisa secakep begini? Kok dulu aku ga pernah lihat yang beginian. Apa karena aku sudah di butakan dengan kecantikan si Nina jadi tak bisa lagi melihat yang lain. Mungkin saja begitu. Akhirnya aku dan Dina menjadi sepasang kekasih. Rutinitas orang pacaran seperti biasa adalah apel malam minggu, jalan jalan keliling kota atau keluar jalan sekedar mencari makan. Semua dilakukan berdua dengan gaya yang di anggap romantis. Hubungan ini ku jalani selama kurang lebih setahun. Tentu saja setiap hidup itu tidak selamanya indah. Sama halnya dengan perjalanan cintaku yang di bumbui banyak drama ikan terbang. Dina ternyata sebelum memiliki hubungan dengan seseorang yang juga ternyata dekat dengan orang tuanya. Melihat aku telah menjadi kekasih Dina, cowok itu tidak terima. Ia merasa lebih baik dari diriku. Cowok itu mengajak ketemuan secara empat mata denganku. Melalui Dina ia memintaku menemui dia sesuai tempat dan waktu yang telah ia tentukan. Aku pikir tiada salahnya jika mendatangi cowok tersebut agar urusannya bisa rampung terutama dengan Dina yang merasa terganggu dengan terror cowok tersebut. Setelah bertemu kami malah asik mengobrol ngalor ngidul. Hingga akhirnya cowok itu mempertanyakan keseriusanku dengan Dina. Aku berusaha menjawab apa adanya dan memang setiap menjalin hubungan aku selalu berusaha untuk serius. Dengan siapapun aku pasti melakukan yang terbaik untuk menjaga hubungan tersebut. Tetap saja cowok itu tidak puas akan jawaban ku. Ia cenderung meremehkanku. Melihat gelagat yang kurang enak, segera ku akhiri pertemuan tersebut dengan alasan harus kembali bekerja. Seperti biasa si o***g sudah tak sabar untuk mengerjai cowok tersebut, tapi aku tegas melarangnya karena ini masih ku tangani. Setahun lebih menjalani hubungan tersebut akhirnya aku tak mampu mempertahankannya. Hubunganku dengan Dina harus berakhir, tentu saja ada campur tangan dari pihak ketiga di antara kami. Apalagi dari pihak orang tua Dina yang cenderung memilih cowok itu. Di tambah dengan track record keluarga ku yang menjadi catatan kelam buat keluarga Dina. Aku bisa memahami keadaan ku sekarang yang hanya hidup sendirian, tidak memiliki siapapun lagi. Pekerjaan ku yang belum jelas dengan penghasilan yang juga jauh dari Dina yang sudah menjadi karyawan tetap di bank skala nasional. Berakhirnya hubungan itu sekaligus mengakhiri juga masa kerja ku di perusahaan leasing tempatku bekerja. Banyak yang terkejut dengan keputusanku dan seakan tak percaya jika itu memang aku. Ada juga yang menghubungkan pekerjaanku dengan putus cintanya diriku dengan Dina. Tentu saja tidak, bukan itu yang menjadi factor utama aku mengambil keputusan itu. Malam sebelum kepergianku menuju kampung halaman, Dina ingin menemui ku untuk terakhir kalinya. Tetapi ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan itu. Aku sendiri mengerti dengan keputusan itu. Karena ia juga sekarang telah mendapatkan pengganti aku. Seorang pria yang juga berasal dari kotaku tinggal Samarinda. Di sisi lain aku sangat bersyukur Dina telah menemukan tambatan hati yang benar benar lebih baik dari diriku atau cowok yang selalu menerornya. Setibanya di kota, aku langsung menemui pamanku. Banyak hal yang ku ceritakan pada beliau dengan pengalamanku selama bekerja di perantauan. Setelah mendengar keluh kesahku paman menawarkan pekerjaan lain dari temannya yang pernah menawari pekerjaan yang lowong. Aku belum tertarik untuk bekerja sementara waktu. Tapi aku malah ingin mencari tantangan baru dalam dunia kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN