Riris Menjadi SPGnya Aksa

1435 Kata
Menjadi Sales Promotion Girl sebenarnya bukanlah cita citaku. Meski memiliki body yang sangat layak untuk menjadi model sekalipun aku enggan menerima tawaran kerja itu. Tapi karena keadaan yang harus memaksaku untuk mendapatkan penghasilan guna mengepulkan asap di dapur rumah. Mau tidak mau aku menerima job tersebut karena saat ini aku benar benar butuh pekerjaan untuk membantu ibuku yang kini sendirian membanting tulang untuk anak anaknya. Nasib itu akhirnya membawaku pada pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl sebuah produk minuman yang sudah memiliki branded international. Melalui seorang kenalan kakakku Mayang yang juga mantan SPG, aku bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Sebenarnya ini hanya warisan dari Kak Mayang yang harus pensiun dari dunia SPG sehingga memberikan pekerjaan itu padaku adiknya. Aksa, cowok yang menerimaku adalah kenalan kakakku atau mantan atasan kakakku dulu waktu masih jadi SPG. Dengan dia aku bekerja sama untuk memngenalkan produk yang ku tawarkan pada konsumen secara langsung. Dalam sekejap aku mampu menguasai pekerjaan itu meski hanya untuk moment tertentu pekerjaan itu ada. Melalui Aksa aku jadi lebih banyak mengenal dunia kerja. Meski pekerjaan ini bukan pekerjaan tetap ku bersyukur mendapatkannya. Apalagi dalam kondisi ekonomi seperti saat ini tidak semua orang bisa beruntung mempunyai pekerjaan. Dan aku adalah salah satu orang yang paling beruntung. Jika saja tidak ada Kak Mayang dan Aksa mungkin aku belum mendapatkan pekerjaan. Itupun aku tidak melalui seleksi seperti karyawan lainnya karena memanfaatkan kedekatan kak Mayang dengan Aksa pimpinan tempatku bekerja. Sementara aku bekerja sebagai SPG, kak Mayang malah lebih memilih kerja di café temannya. Ia lebih mengalah demi aku adiknya. Kak Mayang meski orangnya rada pemalu tapi ia sangat perhatian dan sayang pada keluarga. Ia orang yang selalu mengalah untuk adik dan keluarganya. Mayang telah banyak berkorban demi keluarganya. Seminggu menjalani masa training hingga akhirnya aku bisa menjalankan kerjaan itu sendiri. Awalnya memang sulit karena ini adalah dunia baru dalam hidupku yang sebelumnya tidak pernah bekerja. Paling banter hanya kerja membantu ibu membersihkan rumah. Menjadi SPG sebenarnya bukanlah cita citaku dulunya. Sebenarnya aku sangat ingin sekolah yang lebih tinggi lagi agar aku bisa memiliki titel. Yang nantinya dengan titel tersebut aku bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan titel tersebut. Perginya sang Bapak dan hanya mengandalkan jualan ibu rasanya aku tidak sanggup harus membiarkan ibu bekerja sendiri mencari rezeki. Untuk kehidupan hari hari saja rasanya sudah megap megap ibu dan kak Mayang kerjanya. Menjalani pekerjaan sebagai SPG membuat aku jadi selalu berhubungan dengan Aksa. Dia seorang pemimpin yang sangat mengayomi anak buah. Meski begitu wibawanya sebagai pimpinan sangat di segani para bawahannya. Belum lagi secara fisik ia memiliki wajah dan body di atas rata rata. Gadis mana yang melihatnya pasti akan klepak klepek di buatnya. Riris belum menyadari jika Aksa adalah cowok yang menjadi salah satu praktisi di acara ruqiah massal di kompleks rumahnya tempo hari. Aksa sekarang bekerja di sebuah principal consumer good khusus minuman dan makanan yang memiliki brand internasional. Selepas kerja dari bidang pembiayaan motor ia mencoba peruntungannya di perusahaan baru. Tentu saja usaha inipun tidak lepas dari campur tangan pamannya Aksa. Hanya dengan sebuah wawancara Aksa mendapat golden ticket untuk pekerjaan yang bergengsi tersebut. Tidak tanggung tangggung posisi yang ia dapat saat itu adalah sebagai Supervisor untuk area di kotanya sendiri. Sebuah kebanggaan bisa di terima di perusahaan yang sudah go public. Meski ada campur tangan pamannya tidak lantas Aksa berbesar hati. Sebagian karyawan di kantor yang baru juga awalnya sangat mendukung Aksa untuk bergabung. Terutama karyawan wanita yang berada di posisi administrasi, karena mereka yang melihat pertama kali waktu Aksa melakukan wawancara dengan pimpinan. Meski ada beberapa pelamar yang sebenarnya lebih qualified bila di lihat dari pengalaman dan titel yang mereka miliki. Aksa tetap menjadi salah satu yang terpilih di perusahaan itu. Padahal dilihat dari ilmu, pengalaman dan titel ia sangatlah tidak layak. Namun dewi keberuntungan dari sang paman dan wajahnya yang tampan memberi nilai tambah buat dirinya. Sewaktu awal masuk kerja di perusahaan itu, Aksa agak sedikit canggung karena tidak mengerti apa yang harus ia lakukan sebagai supervisor sales di perusahaannya. Berkenalan dengan teman teman baru dan memiliki bawahan adalah sesuatu yang benar benar baru ia rasakan saat itu. Beruntung ada senior yang mau mengiringi cara kerja di kantor tersebut. Semua orang di kantor bisa menerima kecuali ada beberapa yang masih pesimis dengan Aksa, termasuk beberapa bawahannya. Aksa masih bisa memaklumi hal tersebut, jika ada yang masih meragukan skillnya. Apalagi ia memang basic dari kredit bagian penagihan, untuk di marketing atau dunia sales ia masih nol skill atau pengalaman. Tapi Aksa bukan orang yang mudah putus asa. Justru dengan tantangan baru ia akan cepat adaptasi dan mampu menguasai dalam waktu yang singkat. Kemampuannya memang sangat cepat dalam menguasai sebuah pekerjaan karena memang naluri skillnya yang alami. Mendapat kepercayaan menduduki posisi tinggi di sebuah pekerjaan yang baru adalah pencapaian yang luar biasa. Aksa tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Ia berusaha menekuni pekerjaan dan posisinya. Mendekati para bawahannya dan coba menyelami kesulitan kesulitan mereka. Meski di pandang sinis Aksa tetap percaya diri, ia coba sisihkan pandangan sinis tersebut dengan kerja nyata meski hasilnya belum maksimal. Seiring waktu akhirnya waktu juga yang membuktikan kemampuan Aksa dalam menguasai pekerjaan tersebut. Ia tidak hanya berhasil merubah system kerja dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Perlahan tapi pasti ia mengubah ritme kerja, sop kerja hingga teknik kerja itu sendiri. Orang yang awalnya sinis jadi merasa senang dengan hasil kerja sekarang. Aksa juga mampu mengayomi bawahannya, setiap ada masalah ia selalu orang terdepan yang maju membela timnya. Di kantor ia juga jadi orang kepercayaan owner perusahaan. Meski sebenarnya ia merasa belum layak mendapatkan kepercayaan yang lebih besar lagi. Aksa jadi dilemma jika sudah berada di posisi demikian. Kekhawatirannya adalah dengan teman teman yang lebih senior dari pada dirinya. Dan mereka rasanya lebih layak untuk mendapatkan kepercayaan itu dari seorang owner. Pekerjaan Aksa tidak hanya sebatas memimpin tim salesnya, kali ini jobnya bertambah. Selain membawahi salesnya, ia juga di minta mengawasi pasar modern atau khusus mini market, swalayan dan modern trade skala nasional. Penjualan, display dan semua yang berhubung dengan produknya semua di percayakan kepada Aksa untuk meningkatkan lebih baik lagi. Tidak hanya menyangkut soal produk, pekerjaan tentang administrasi juga ia di beri tugas oleh pimpinan untuk di benahi. Untung saja Aksa tidak pernah menolak meski secara income ia tidak mendapatkan jumlah yang layak dengan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan. Mulai dari penginputan data penjualan, soal pajak karyawan dan perusahaan, IMB kantor hingga menyangkut soal kesejahteraan karyawan juga tak lepas dari campur tangan Aksa. Bahkan soal pemecatan seorang karyawan pun harus Aksa yang mengeksekusinya, meski hal tersebut sangatlah berat tapi karena keinginan pimpinan mau tidak mau harus ia lakukan. Apalagi memang ada kesalahan yang fatal di lakukan oleh keryawan tersebut. Adalagi deskjob yang di tambah dari kantor selain yang disebutkan diatas. Menangani dunia modern trade ia jadi rajin menambah relasi dengan pihak dari manajemen swalayan. Soal pajangan atau display yang disewa pihak perusahaan sampai soal tenaga untuk pajangan juga harus Aksa yang mengurusnya. Sales Promotion Girl, Merchandise display dan sales khusus ikut jadi bawahannya. Setiap ada event juga tak luput dari campur tangan seorang Aksa. Meski pekerjaannya yang begitu banyak ia tetap enjoy menjalaninya.  “Tuan suka ya dengan gadis ini?” tiba tiba si jin o***g mengolok di belakangku. “Apaan sih lu Tong!” sahutku spontan. “Kenapa ya pak?” tanya si Mayang yang merasa di ajak ngomong orang di depannya. “O maaf bukan itu maksud saya.” Jawab Aksa gelagapan khawatir jika ada yang mengira ia sedang mengobrol dengan sesuatu yang tidak tampak.  Dari sinilah awal Aksa jadi bertambah suka dengan Mayang. Meski ia tidak menunjukkannya secara terang terangan tapi perhatian dan kedekatannya dengan gadis itu jadi pertanda yang jelas jika Aksa sangat menyukai gadis itu. Sementara Mayang sendiri belum menyadari hal tersebut, ia malah lebih focus ke pekerjaan dan mencari duit untuk membantu orang tuanya. Apalagi sang Bapak telah pergi dan hanya tersisa ibunya. Cukup lama Mayang menjalani profesi kerja ini. Berkat keuletannya membuat Aksa jadi terus mempercayakan posisi leader MD buat dirinya. Meski status pekerjaannya hanyalah kontrak tidak membuat Mayang berkecil hati. Dari hasil kerja ini ia jadi bisa membantu sekolah adiknya Riris hingga selesai. Hingga tiba masanya si Riris pun ingin bekerja jadi membuat Mayang membantunya untuk mencarikan pekerjaan. Demi adik kesayangan, Mayang lalu mengajukan surat pengunduran diri kepada Aksa dari posisinya sekarang. Sempat Aksa tidak percaya akan keputusan tersebut, karena ia masih ingin berada dekat dengan Mayang meski hubungan kasih itu tidak pernah terjadi. Namun ada alasan yang begitu kuat untuk Aksa mau tidak mau bisa menerima keputusan tersebut. Dan satu hal amanat dari Mayang adalah ia menginginkan adiknya bisa di terima sebagai penggantinya, meski bukan posisi leader, paling tidak bisa memulai dari nol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN