Hal yang terindah dalam hidup ini adalah ketika engkau bisa mengabdi kepada orang tuamu, terutama dengan seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Meski engkau takkan pernah bisa membalas semua kebaikan ibumu. Ibu adalah seorang wali Allah yang begitu nyata, yang bisa kita peluk cium dan patut kita sayangi. Ia rela mengorbankan dirinya demi anak dan orang orang yang ia cintai.
Masih terngiang jelas saat dulu ia berusaha menidurkan anaknya dengan suaranya yang sebenarnya tidak semerdu penyanyi atau artis yang sudah terkenal. Tapi di mata anaknya ibu adalah artis yang lebih top dari apapun di dunia ini. Jika orang hanya mampu menyanyikan berapa lagu, tapi ibu bisa satu album yang ia nyanyikan dalam satu malam saja.
Sejak kecil ibu dulu sudah di tinggalkan kedua orang tuanya. Jadi karena kehidupanlah yang menempanya untuk jadi manusia yang tangguh dalam mengarungi kehidupan. Bersama almarhum bapak ia tak pernah mengeluh dengan keadaan yang ia rasakan saat itu. Selalu setia bersama pasangannya selama menjalani biduk rumah tangga.
Meski bapak sedang dalam masa sulit tak pernah ia menjauh atau menyalahkan bapak sebagai kepala rumah tangga. Justru Ibu turut membantu suaminya dengan berjualan kue yang ia titipkan ke warung warung kecil. Alhamdulillah ada beberapa warung yang mau di titipkan jualan ibu. Tapi ada juga yang menolak di titipin ibu dan itu tak membuat ia tak patah arang dalam berusaha.
Ia tak pernah peduli dengan omongan orang yang condong merendahkannya. Baginya selama ia tidak mencuri atau memakan hak orang lain, ibu tak mau peduli dengan omongan itu. Perjuangannya demi menghidupi kedua buah hati dan membantu suaminya tidak pernah mengenal lelah.
Usahanya yang begitu keras perlahan tapi pasti mulai merangkak naik. Berkat kesabaran dan ketekunan ibu dalam berusaha, akhirnya usaha kue tersebut mulai mendapatkan tempat di hati para pelanggannya. Yang biasanya hanya memesan kue sekedar coba coba akhirnya bisa repeat order dalam jumlah yang lumayan. Apalagi ketika moment season telah tiba seperti waktu lebaran atau hari raya agama lain. Ibu selalu mendapat pesanan yang lumayan banyak dari hari biasanya.
Selain membuat kue ibu juga sangatlah jago dalam memasak. Hampir semua masakan ia bisa kuasai, mungkin karena sudah skill alami yang ia miliki sejak masa gadis dulu. Jadi tidak mengherankan jika kualitas masakan atau kuenya beda dengan yang beredar di pasaran. Sedikit banyak usaha ibu mampu membantu bapak dalam mengais rezeki buat kebutuhan sehari hari di rumah.
Namanya usaha tidak selamanya mulus, kadang selalu saja ada hal aneh yang di luar nalar terjadi pada jualan ibu. Begitu juga usaha milik bapak, tidak luput dari hal mistis yang menular. Kenapa ku katakana hal tersebut aneh? Karena jika di lihat secara utuh dengan mata telanjang rasanya mustahil bisa terjadi. Salah satu contoh adalah masakan ibu yang baru saja selesai di masak, belum ada sejam di diamkan, begitu kembali sudah banyak lalat yang merubunginya. Belum lagi rasa masakan tersebut yang sangat tidak layak untuk di konsumsi dalam artian sudah menjadi basi masakan itu.
Apa ibu sedih mendapati masakannya menjadi basi dan tidak bisa dijual? Ya Allah ia benar benar seorang wanita berhati malaikat yang di kirim Allah untuk kami. Ibu sama sekali tak pernah berpikiran buruk dengan apa yang sudah terjadi. Semua ia anggap sebagai ujian dalam hidupnya untuk lebih baik lagi. Semua ia kembalikan pada yang punya kehidupan, tak pernah ia berkecil hati.
“Allah pasti punya rencana lebih indah dari ini, jadi jangan pernah berburuk sangka dengan-Nya.” Hanya itu jawabannya ketika suatu hari ku tanyakan keadaannya. Dari wajahnya yang terbersit rasa lelah tak membuat ia berhenti untuk terus berusaha. Semua tentu demi keluarga yang ia cintai.
Ketekunan ibu dalam beribadah juga tak pernah ku ragukan. Meski sesibuk apapun selalu ia mengerjakan di awal waktu, ia enggan berleha leha atau sengaja mengulur waktu. Baginya kehidupan akhirat adalah utama dalam hatinya ketimbang kehidupan duniawi dan seisinya. Hal inilah yang selalu ia tanamkan pada aku dan Riris adikku. Lima waktu adalah wajib yang harus di kerjakan jangan sampai lalai. Apalagi jika bisa melakukan hal hal yang sunah, beliau sering melaksanakannya. Seperti puasa senin kamis, shalat dhuha, dan shalat tahajud hampir tak pernah ia tinggalkan, kecuali memang badannya tak bisa diajak kompromi lagi.
Untuk memberi dengan sesama ibu juga tak pernah absen. Tidak hanya pada moment lebaran mengeluarkan zakat. Hari biasapun ia tetap mengusahakan memberi meski sedang dalam keadaan sulit sekalipun tak pernah ia melupakan yang memang ada haknya di situ.
Apalagi saat Bapak pergi mendahului kami. Ibu satu satunya orang yang paling terpukul namun ia tak mau menunjukkannya di depan kami anak anaknya. Hatinya begitu tegar menghadapi takdir yang tak ada yang mampu menghalanginya. Tanpa sedikitpun air mata yang ia teteskan ketika jenazah orang yang selalu setia bersamanya di masukkan ke dalam liang lahat. Hanya mata yang tampak sembab dengan tatapan yang begitu dingin meratapi sang suami yang telah di kebumikan.
Betapa kuatnya hati dan raga seorang ibu menghadapi situasi demikian. Ia berusaha memberi contoh pada kami berdua agar kelak bila kehilangan seseorang yang di cintai tidak perlu sampai berlebihan berdukanya.
“Jika perlu simpan air matamu, karena Allah lebih senang jika air mata itu jatuh membasahi sajadahmu di sepertiga malam ketika menghadap-Nya.”
Masih jelas teringat pesan beliau waktu itu ketika aku dan adikku terus menerus menangisi kepergian bapak. Seperti enggan melepas kepergian orang yang menjadi panutanku, orang yang selalu melindungi kami. Saat itu gairah untuk melakukan apapun terasa sirna karena tidak adanya bapak. Padahal kala itu masih ada ibu yang siap menggantikan posisi bapak meski itu tidak akan pernah sama. Alhamdulillah berkat ibu juga kami akhirnya bisa mengerti kata ikhlas dengan perginya bapak.
Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan manis tentang ibu. Ia telah pergi menyusul bapak di tempat yang menurut kami pasti yang terbaik buat mereka. Dari ibu, aku dan Riris banyak belajar untuk tegar menghadapi kenyataan tersebut. Tidak ada warisan harta yang ibu tinggalkan selain warisan ilmu yang bermanfaat dari seorang ibu.
Semua berjalan dengan tanpa di rencanakan. Kepergian ibu tidak ada yang bisa menduga. Aku dan Riris sedang bekerja dan segera izin pulang karena mendengar terjadi sesuatu dengan ibu. Meski enggan di rawat di rumah sakit, ibu tetap rajin menjaga makannya. Maklum penyakit gula darah yang selama ini di deranya tak pernah ia merasa seperti orang sakit. Entah memang ibu orang yang pintar menyembunyikan rasa sakit itu.
Aku dan Riris kadang sampai gelengkan kepala jika melihat ia bekerja keras padahal kami berdua tahu karena kuatnya ibu menahan sakit itu. Sedikitpun ia tak pernah mengeluh tentang sakit yang ia derita. Meski dalam keadaan sakit ibu tetap semangat bekerja seolah olah ia tidak sedang dalam keadaan sakit.
Kini sakit itu sudah tidak lagi menyiksa ibu dan berganti kenikmatan yang abadi di tempat yang memang seharusnya dengan sang bapak. Ia telah selamanya pergi meninggalkan aku dan Riris. Allah memang Maha Penyayang kepada umat-Nya yang memang benar benar sungguh mencintai-Nya. Mungkin ibu adalah salah satu malaikat hidup yang di utus di muka bumi ini untuk kami berdua. Betapa beruntungnya aku bisa memiliki ibu dan bapak yang sangat penyayang.
Melalui mereka aku jadi tahu siapa Tuhan ku. Dengan mereka juga aku bisa tahu siapa Rasul ku. Apa agamaku, apa kitab suciku, siapa malaikatku dan apapun yang menyangkut agamaku. Mereka lah titik awal aku bisa mengerti akan islam. Karena mereka aku bisa menjadi orang yang paling beruntung dengan menjadi umat sang Messenger Rasullullah Sallallahu Alaihi Wassalam. Semoga ibu dan bapak hidup tenang di alam sana dan mendapatkan tempat yang terbaik serta berkumpul dengan orang orang soleh. Amin.