Bekerja dengan Aksa sebagai SPG nya membuat aku mendapat pengalaman baru di dunia kerja. Apalagi ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku yang sebelumnya tidak pernah bekerja di luar rumah. Untung saja Kak Mayang mau mengalah dengan memberikan pekerjaan yang sudah lama di gelutinya. Bekerja di swalayan yang ada di mall membuat aku jadi banyak teman. Terutama dari kaum Adam karena aku memang lebih senang berteman dengan mereka ketimbang dengan sesama cewek. Lagian pasti mereka juga ada maksud terselubung berteman denganku.
Mempunyai bos seperti Aksa adalah impian setiap karyawan yang berada di bawahnya langsung. Selain baik dan cakep ia juga selalu melindungi bawahannya. Apalagi aku yang selalu bersama dia jika ada event di acara tertentu. Perhatian yang ia berikan tidak pernah aku dapatkan dari cowok manapun. Sebenarnya ada yang lebih perhatian dari Aksa, hanya saja mungkin tidak pernah ku anggap atau aku tidak tersentuh hatinya sehingga aku hanya menganggap angina lalu.
Berbeda halnya dengan apa yang Aksa lakukan terhadapku. Banyak hal baik yang selalu ia lakukan untukku. Padahal yang lebih baik dan cakep dari aku juga masih banyak. Kadang aku merasa special jika berada di dekat Aksa. Teman teman yang lain kadang juga jealous melihat kedekatanku dengan Aksa. Mungkin karena aku masih terhitung baru menjadi karyawannya jadi dianggap kurang pantas bersama Aksa.
Meski statusku hanya karyawan kontrak tapi apa yang ku dapat bisa melebihi karyawan yang sudah menjadi karyawan tetap. Bonus yang ku dapat dari setiap event selalu lebih dari pada teman sesama SPG. Kadang aku merasa kurang nyaman juga dengan apa yang ku dapat. Di tambah lagi selalu ada bonus tambahan yang di berikan Aksa di setiap akhir event. Meski ia memberinya tidak pernah secara terang terangan di hadapan teman temanku.
Beberapa kenalan yang ku kenal di kerjaan ada yang mencoba untuk lebih dekat lagi denganku. Dalam artian ingin menjadikan aku pasangannya. Tapi hatiku masih belum bisa menerima tawaran tersebut. Malah dalam hati kecilku berharap seorang Aksa yang menawarkan hatinya untukku. Meski rasanya itu mustahil karena melihat sainganku yang begitu banyak yang juga suka pada Aksa.
Hingga akhirnya tanpa sengaja aku bertemu dengan seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya. Dia adalah Iqbal, cowok manja yang beberapa tahun lalu saat di sekolah menjadi kekasih bayangan. Cowok ini ku jadikan pacar karena mimpi aneh yang selalu menghantuiku hampir setiap hari. Untung saja cara itu berhasil menghilangkan mimpi tersebut.
Pertemuan kami tanpa sengaja di tempatku bekerja. Saat aku sedang menawari sample minuman yang ku bawa di atas baki. Dia pun terkejut ketika melihat siapa yang membawa baki tersebut. Sedangkan aku juga ikut shock karena melihat perubahan pada diri seorang Iqbal. Dia bukan lagi cowok cupu yang terlihat manja seperti dulu. Bentuk tubuhnya kali ini lebih berisi di bandingkan yang dulu kurus kerempeng. Tingkah lakunya pun berubah drastis dengan sedikit berwibawa.
Pakaian dinas berwarna coklat yang ia gunakan jadi mempertegas kalau ia sekarang jadi seorang aparatur Negara. Penampilannya saat itu benar benar manly ketimbang dulu. Aku jadi agak salah tingkah ketika melihat senyumnya.
“Hai Ris, apa kabar? Kamu kerja disini sekarang?”
“I-i-iya bal. Aku kerja di sini sekarang. Ini beneran kamu kan?” tanyaku sambil mencubit pipinya seperti yang biasa ku lakukan dulu padanya. Semua reflek ku lakukan tadi hingga buatku lupa jika sekarang status dia sudah berubah.
“Uh, sakit Ris. Kamu itu ga berubah ya, tetep aja usil.” Jawabnya sewot.
“Maaf Bal, spontan nah.” Jawabku nyengir.
Obrolan kami berlanjut di sebuah tenant food court di lantai 3 mall tempatku bekerja. Iqbal mengajakku makan siang kebetulan sudah masuk waktunya istirahat. Setidaknya aku hari ini bisa dapat makan gratis dari seorang mantan. Meski ada beberapa teman yang memandang sinis ke arahku dan Iqbal, karena mereka tidak tahu siapa cowok yang sedang berjalan denganku saat itu.
Sambil makan kami asik mengobrol mengenai zaman sekolah dulu. Mengingat masa masa yang indah SMA dengan teman teman se genk. Belum lagi perubahan teman teman dulu yang sekarang sudah berpisah entah di mana. Hanya tersisa beberapa lagi yang masih satu kota denganku, termasuk Iqbal salah satunya. Selama mengobrol ada saja bahan yang kami diskusikan. Terlihat begitu banyak perubahan yang ada pada diri Iqbal. Obrolan kamipun terasa mengasyikkan karena selalu nyambung satu dengan lainnya.
Selesai makan siang kamipun bertukar nomor hp untuk tetap menjalin hubungan yang pernah terputus. Segera aku kembali pada pekerjaanku dan Iqbal juga kembali ke kantornya. Sampai di tempat pajangan display ku sudah ada beberapa orang yang berpakaian sangat rapi dan resmi. Setelah berkenalan aku baru tahu dua orang pria dan wanita itu adalah orang dari sebuah swasta yang sangat terkenal di Indonesia.
Aku mendapat tawaran yang tak pernah aku duga sebelumnya. Ga main main tawaran itu adalah menjadi teller di kantor mereka yang memang lagi membutuhkan staff pada posisi teller. Seketika kaki ini bergetar hebat mendengar tawaran tersebut.
“Beneran pak tawaran ini?”
“Iya beneran, ini kartu nama saya. Jika memang berminat nanti hubungi saya.”
Selepas mereka pergi aku langsung menghubungi kak Mayang. Ia pun terkejut dan mengucap syukur karena ada tawaran kerja yang lebih baik dari sekarang.
“Itu beneran de, kamu di tawari kerja di bank?”
“Iya kak, Riris juga ga percaya karena cuma lulusan SMA. Tapi memang syaratnya jadi teller di bank itu cukup SMA kok.”
Setelah itu obrolan kami terputus karena di sebrang telpon itu Kak Mayang seperti sedang melayani tamu. Aku pun berjanji akan melanjutkan obrolan itu sepulang kerja nanti. Biasanya kami memang sering bertukar pikiran dan sharing masalah atau sekedar bergosip ria saat berada di rumah. Apalagi kini kami hanya berdua tinggal di rumah tersebut.
Sepulang kerja aku langsung membereskan rumah. Hidup hanya berdua dengan kak Mayang benar benar membuat suasana rumah terasa sangat sepi sekali. Tidak ada yang biasanya terdengar ocehan mengomelnya atau perintah marah nyonya besar dari seorang ibu yang sangat ku sayangi. Belum lagi dalam rumah banyak peninggalan dari almarhum bapak yang terkadang membuat diri ini seperti sedang di awasi oleh seseorang. Padahal jelas jelas tidak ada siapapun di rumah itu tapi rasa horror itu selalu saja ada.
Guci guci atau keramik koleksi dari almarhum bapak masih rapi tersusun di ruang tamu. Lalu ada peralatan perang zaman dulu yang juga menjadi koleksi almarhum bapak seperti tombak, keris, pedang dan yang lainnya. Membersihkan barang barang tersebut menjadi ujian nyali yang sesungguhnya. Padahal dulu ketika masih ada ibu atau bapak tidak pernah aku setakut ini.
Setelah semua selesai mengerjakan pekerjaan rumah langsung ku lanjut dengan memainkan gadget ku. Ternyata ada beberapa chat yang belum ku balas. Salah satunya adalah cowok yang tadi siang makan bareng denganku. Ya dia adalah Iqbal sang mantan pacar bayangan.
“Ris besok malam ada acara ga?” bunyi chat tersebut.
“Kenapa nih nanya, mau ngapel aku ya?” ku balas dengan rada centil.
“Hehehe … tau aja lu. Kita jalan yuk!”