Setahun menjalani hidup berumah tangga dengan Andre, hidupku benar benar berubah. Bayangan kebahagiaan yang selama ini selalu ku harapkan ternyata tidak sesuai ekspektasiku. Namun aku tetap berusaha untuk sabar. Hingga tanpa ku sadari Allah menitipkan amanah untukku. Aku di nyatakan positif hamil.
Menjadi dilemma ketika mendengar kabar tersebut dari dokter spesialis andalan keluarga Andre. Di satu sisi aku merasa sangat bahagia namun di sisi lain ada rasa khawatir dengan keluarga suamiku. Terutama dengan Mama mertua yang sekalipun tak pernah peduli denganku. Masih mending Papa mertua meski jarang di rumah ia selalu baik saat bertemu denganku.
Kabar mengenai kehamilanku akhirnya membuat seisi rumah Andre jadi sedikit rame. Aku merasa heran dengan reaksi mereka, termasuk para pembantunya. Mungkin ini adalah pengalaman pertama keluarga Andre mendapat calon penerus keluarga mereka. Tapi ada yang aneh dengan reaksi dari Mama mertua. Jika yang lain turut bahagia dengan kabar kehamilanku, ia malah sebaliknya. Mama Mertua memandang kebahagiaanku dengan sangat sinis dan tatapan yang sangat tidak nyaman buatku.
Entah salahku dimana dengan Mama mertua. Semua yang ku lakukan sepertinya tidak pernah benar di matanya. Pernah ku tanyakan pada Andre mengapa Mama bersikap begitu padaku. Ia hanya menjawab memang begitu sifat Mama, tidak hanya pada menantunya, tapi hampir dengan semua orang ia juga begitu. Bahkan terkadang dengan suami sendiri juga sikapnya begitu dingin. Untung saja Papa mertua orangnya sangat baik dan penyayang keluarga.
Andre yang mendengar tentang kehamilanku langsung melompat kegirangan. Tidak ku sangka ia begitu antusias ketika mendengarnya. Padahal selama ini ia selalu berlaku tak adil terhadapku. Bahkan sampai melakukan kekerasan fisik. Aku hanya bisa pasrah ketika ia melakukan hal tersebut. Karena sekarang aku sudah tidak memiliki siapapun untuk tempat mengadu dan berlindung selain adik kandungku si Riris.
Banyak yang mengira selama ini aku orang yang paling bahagia setelah menjadi istri dari Andre. Penerus usaha bokapnya yang tajir melintir hingga seluruh Indonesia. Aku baru mengetahuinya setelah menikah dengan Andre. Jika saja sedari awal aku tahu suamiku adalah orang borju, mungkin aku takkan berani menerima lamarannya dulu.
Setelah tahu kehamilanku, Andre jadi orang yang sangat posesif lagi. Sedikitpun ia tak ingin aku bekerja hal yang kecil. Memasak menu favorit di dapur saja ia sangat keras melarangku. Bahkan ketika hendak buang air atau mandi, aku selalu di jaga oleh para asistennya. Aduh rasanya aku benar benar di anggap seperti tuan putri raja yang selalu mendapat servis yang nomor satu.
Berlaku posesif itu perlu namun tidak harus berlebihan. Bertemu dengan adikku saja aku turut di persulit dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Untung saja adikku mau memahami keadaanku yang sekarang sudah menjadi istri orang. Mau tidak mau melalui hand phone kami lebih intens berhubungan. Tentu saja lewat video call adalah andalanku dan Riris.
Untung saja ada sepupuku yang mau tinggal dan menemani Riris di rumah sepeninggal ibuku. Rumahku kini semakin sepi sejak perginya ibu. Saudara dan tetangga jadi jarang lagi kumpul di rumah sekedar bermain dan mengobrol dengan almarhumah ibu. Memang biasanya ibu adalah tempat curhat para sahabat dan tetangganya. Ibu tidak pernah memilih milih dalam berteman. Dengan siapapun ia gampang kenal dan cepat akrab.
Menjalani kehidupan sebagai orang hamil adalah pengalaman hidup yang sangat luar biasa nikmatnya. Aku jadi bisa mengerti bagaimana ketika dulunya ibuku mengandung aku dan adikku. Belum lagi harus bekerja extra karena adanya tuntutan hidup. Betapa beratnya perjuangan hidup seorang ibu. Apalagi jika ibu yang memiliki anak banyak, sungguh luar biasa itu perjuangannya.
Selama hamil, Andre lebih sering di rumah. Mengontrol dan mengawasi keadaanku ketimbang mengurusi pekerjaannya. Sebenarnya meski Andre tak bekerja, ia sudah memiliki anak buah yang menghandle semua pekerjaannya. Ia hanyalah formalitas dalam perusahaan papanya. Apalagi semua karyawan juga tahu Andre adalah penerus tunggal usaha papanya.
Semakin lama kondisi perutku semakin membesar. Usia kandunganpun semakin bertambah. Timbanganku juga ikut bertambah berat. Aku dan Andre juga rajin memeriksakan si calon debay. Enaknya jadi orang kaya, aku tidak perlu susah payah mengantri di dokter kandungan. Malah dokter tersebut yang di minta suamiku untuk datang memeriksakan keadaan istrinya.
Perlakuan Andre sangat luar biasa baiknya saat aku hamil. Sangat jauh berbeda ketika baru menikah. Ia selalu khawatir dengan calon debay dalam perutku. Malah sebenarnya ia mengkhawatirkan calon anak ini ketimbang diriku istrinya. Mungkin bisa jadi ini adalah bawaan orang hamil yang selalu merasa ada yang tidak wajar. Perasaanku lebih sensitive dari biasanya. Setiap ada sesuatu buruk yang akan terjadi pasti hati ku selalu tidak merasa nyaman, selalu resah dan gelisah menghadapinya.
Menginjak bulan ketujuh, sesuai dengan adat Jawa, kami mengadakan acara tujuh bulanan seperti yang biasa orang terdahulu lakukan. Aku yang belum begitu mengerti dengan adat istiadat dalam keluarga Andre hanya bisa pasrah mengikuti tradisi mereka. Menolaknya sama saja aku mencari hal yang bisa membahayakan diriku dan sang calon bayi.
Hampir semua keluarga besar Andre hadir dalam acara tersebut. Begitu juga dengan para relasi dan teman teman Andre turut hadir dalam acara itu. Yang membuatku heran adalah malah tetangga sekitar rumah yang tidak terlihat batang hidungnya. Setelah ku tanyakan dengan salah satu asisten rumah tangga, ternyata memang sengaja tidak di undang oleh keluarga Andre. Mendengar hal tersebut aku jadi mengernyitkan dahi. Mungkin ada benarnya desas desus di sekitar rumah jika keluarga ini memang orangnya acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar.
Selama menjalani proses ritual tujuh bulanan, aku selalu merasa was was. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang membuat hatiku untuk menolak acara ini. Tapi rasa sungkan dan tidak enak dengan keluarga ini membuat aku jadi terpaksa menolak untuk ikuti kata hati. Kekhawatiranku akan terjadi sesuatu yang buruk pada diriku.
Saat acara dimulai terdengar dentingan lagu jawa yang mengalun dengan lemah gemulai. Aku yang mendengarnya terasa terbawa suasana yang begitu dalam. Ingin rasanya air mataku menetes ketika pikiranku melayang entah kemana.
Tiba tiba alam bawah sadarku merubah semua pandanganku. Seketika yang ku lihat di sekelilingku bukan keluarga atau tamu para undangan. Melainkan orang orang yang berpakaian adat khas jawa dengan sanggul besar yang ada di kepalanya. Semua tampak menghayati dengan tarian yang lemah gemulai di tengah tengah sebuah bangunan yang memiliki ciri khas bentuk bangunan ala jawa dulunya.
Semua terlihat bahagia, sambil menari tertawa menebar senyuman yang manis ala permaisuri zaman dulu. Mereka seperti larut dalam kebahagiaan acara itu. Aku masih belum mengerti apa yang ku lihat ini. Tidak ada Andre, tidak ada Mama mertua atau tidak ada sama sekali orang yang ku kenal di acara ini. Aku sedang berada dimana? Aneh.
Hingga akhirnya sebuah tepukan di pundakku yang cukup keras telah menyadarkan dari apa yang ku lihat tadi. Mama mertua ternyata yang telah melakukannya.
“Kamu focus pada acaranya jangan melamun May.” Bisik sang mertua dengan ekspresi marah yang coba ia sembunyikan. Tetep saja aku tahu jika ia memang sentiment terhadapku. Mertua ini tak berubah meski telah tahu aku hamil.
Menghadapi sikap mama mertua ini aku sangat dilemma. Di satu sisi aku ingin mengabdi dengan ia sebagai pengganti ibuku. Tapi di sisi lain tindakan ia terhadapku sangatlah jauh dari kata keluarga yang seharusnya melindungi, menyayangi dan perhatian dengan sesama. Kadang omongan beliau sangat menyakitkan meski itu pelan atau secara tidak sengaja bukan tertuju padaku. Setidaknya ia telha berhasil menyinggung perasaanku.