BAB 1: HARGA SEORANG MANTAN
Nama gue Rayya. Usia 21 tahun. Mahasiswi Jurusan Sastra semester akhir yang hidupnya lagi di mode survival paling susah.
Kos nunggak tiga bulan. Skripsi belum di-print karena uangnya kepake buat beli makan. Dan barusan, gue ngeliat mantan gue, Dito, upload foto lamaran sama cewek berponi tebel yang tasnya aja harganya bisa buat bayar UKT gue setahun.
Gue lagi duduk di Warung Kopi Pojok, tempat paling murah yang masih kasih wifi gratis, sambil menatap struk kos yang sudah diremas-remas sampai lecek.
"Permisi. Rayya?"
Gue mendongak. Di depan gue berdiri seorang cowok. Tinggi. Kemeja putih bersih yang lengannya digulung sampai siku, jam tangan hitam yang kelihatan mahal, dan wajah yang... gue kenal.
Jantung gue kayak kepleset.
"Arga? Kak Arga?"
Arga. Kakaknya Dito. Satu-satunya anggota keluarga Dito yang dulu pernah belain gue waktu gue berantem sama Dito karena Dito minjem uang gue gak dibalikin.
Dia narik kursi di depan gue tanpa disuruh. Wangi parfumnya mahal, kontras banget sama wangi warung kopi yang kecampur gorengan.
"Gue denger kos lo mau disegel besok," katanya langsung to the point. Tanpa basa-basi. Tipikal Arga.
Gue langsung defensif, melipat struk kos gue. "Sok tau banget. Mau nagih utang adik lo juga? Bilang aja Dito masih utang 500 ribu."
Dia malah ngeluarin amplop coklat dari tas kerjanya dan mendorongnya ke arah gue.
Gue bengong.
"15 juta," kata Arga pelan, tapi cukup keras buat bikin ibu warung yang lagi goreng pisang noleh.
"Apa?"
"Gue butuh pacar sewaan. 7 hari. Lo."
Gue ngakak. Ngakak kenceng sampai es teh gue hampir tumpah. "Kak, gue lagi butuh duit, bukan lagi ikut audisi lawak. Kakak sekelas Arga Wijaya, pemilik tiga cabang coffee shop, butuh pacar sewaan? Cewek-cewek di kampus pasti ngantri."
"Gue gak butuh pacar beneran. Gue butuh pacar yang bisa bikin lamaran Dito batal."
Suasana langsung berubah.
Gue berhenti ketawa.
Arga melanjutkan, suaranya tetap datar, "Dito mau nikah sama anak rekan bisnis bokap gue. Cewek itu matre, keluarganya punya utang banyak, dan dia cuma ngincer harta keluarga gue. Bokap nyokap gue udah kena pelet, mereka setuju. Satu-satunya cara buat batalin adalah bikin keluarga cewek itu ilfeel dan mundur sendiri."
"Terus hubungannya sama gue apa?"
"Lo satu-satunya cewek yang pernah bikin Dito nangis di depan umum karena lo lempar helm ke dia. Lo satu-satunya cewek yang berani bilang 'muka lo kayak gorengan gosong' ke nyokap gue dan nyokap gue malah ketawa. Lo... menyebalkan. Dan gue butuh pacar yang menyebalkan untuk acara keluarga."
Gue diem. Antara tersinggung dan... agak bangga?
"15 juta untuk 7 hari. Tugas lo cuma: datang ke acara keluarga, jadi pacar gue yang super nyebelin, jorok, berisik, bikin keluarga calon besan Dito gak tahan dan cabut. Setelah itu lo bebas. Uangnya langsung cair 50% di awal."
15 juta.
Otak gue langsung ngitung. Kos lunas. Skripsi ke-print. Bisa beli laptop baru yang gak nge-lag kayak sekarang. Bisa makan ayam, bukan cuma indomie pakai telur setengah.
"Tapi ada syarat," gue cepet-cepet ngomong, takut dia berubah pikiran.
Arga mengangkat alis.
"Pertama, gue gak mau pakai dress. Gue alergi dress, gatal-gatal. Kedua, gue gak mau pakai heels. Ketiga, jangan atur-atur gue makan. Kalau gue laper, gue makan."
Arga menatap gue lama, lalu... senyum tipis. Senyum pertama yang gue liat dari dia hari itu.
"Deal. Tapi gue juga ada aturan. Satu, selama 7 hari, lo gak boleh bilang ke siapa pun ini settingan. Dua, lo harus selalu di samping gue. Tiga..."
Dia jeda.
"Jangan baper."
Gue mendengus. "Ih, pede banget. Siapa juga yang mau baper sama cowok kaku kayak kulkas dua pintu kayak Kakak."
"Bagus."
Dia berdiri, merapikan kemejanya. "Besok jam 9 pagi, gue jemput. Pakai baju paling jelek yang lo punya. Kita mau ketemu nyokap gue dulu. Oh ya, mulai sekarang panggil gue 'Sayang'."
"OGAH!"
"Kontrak, Rayya. Profesional."
Dia pergi begitu aja, ninggalin amplop coklat di meja. Gue buka pelan-pelan. Di dalamnya ada 7 lembar uang satu jutaan dan selembar kertas kontrak yang sudah ditandatangani.
Di bawah tanda tangannya, ada tulisan tangan: _Terima kasih sudah mau jadi penyelamat keluarga gue, Rayya yang berisik.
Gue meremas amplop itu. Sial. Kenapa jantung gue malah deg-degan gak jelas begini?
Ini cuma bisnis. 7 hari. 15 juta. Jangan baper.
Gampang, kan?
[Bersambung]
---