19. Gegabah

1200 Kata
"Kamu sedang apa di luar malam hari begini?" Ternyata suara yang memanggilnya adalah Ahmed, di sebelahnya berdirilah Tuan Khalid. Mengapa Tuhan Khalid pulang disaat malam-malam seperti ini? Bukankah seharusnya beliau menunggui Madam Aisha? Ataukah Madam Aisha telah dibawa pulang tanpa sepengetahuan Siti? Terlebih lagi, mengapa Ahmed berada di sini? Siti hendak bertanya banyak hal kepada Ahmed dan Tuan Khalid. Namun, menyadari posisinya yang hanya sebagai pembantu, Siti mengurungkan niat. Jangan sampai terkesan dia menginterogasi majikannya. Oleh karena itu, Siti mencoba menganalisis sendiri mengapa Ahmed sekarang berada disini. Mungkin saja Tuan Khalid meminta Ahmed untuk menjemputnya di rumah sakit dan mengantarnya pulang. Daripada harus membangunkan Paman Raj untuk menjemputnya kembali ke rumah sakit. Benarkah begitu? Entahlah. Tetap saja janggal. Mengenai Madam Aisha, mungkin saja Tuan Khalid telah menyerahkan semuanya kepada pihak rumah sakit. Bukankah di rumah sakit ada banyak perawat dan dokter yang akan menjaga Madam Aisha dengan sangat baik? Lagipula, besok Tuan Khalid harus bekerja kembali. Jadi, tidak mungkin beliau terus-menerus menunggui istrinya di rumah sakit. "Mengapa kamu berada di luar dan teriak-teriak di saat dini hari seperti ini?" tanya Ahmed lagi kepada Siti. Dia sungguh takut bila Tuan Khalid marah dan meragukan identitas Siti. Sebagaimana kemarin, saat beliau marah dan meminta penjelasan rinci atas semua berkas tentang Siti. Pembelaan Ahmed untuk Siti kemarin bisa berakhir sia-sia hanya karena Siti bertindak aneh-aneh seperti ini. Ahmed tak tahu bahwa Tuan Khalid sebenarnya telah mengambil keputusan untuk mempercayai Siti, entah seperti apa pun masa lalunya. Bila dia tahu, tentunya akan sangat terkejut. Mengapa tuannya menaruh kepercayaan sebesar itu kepada seorang pelayan dari negeri asing? "Sudahlah, jangan ribut di saat semua orang sedang beristirahat," lerai Tuan Khalid mengira Ahmed memarahi Siti. "Siti, kembalilah ke kamarmu," perintah Tuan Khalid kepada Siti. Kemudian beliau beralih kepada Ahmed dan bertanya, "Ahmed, kamu mau pulang ke rumah, atau tidur di sini saja?" "Sepertinya di sini saja, Sir. Saya hendak meminjam kamar tamu bila diizinkan," jawab Ahmed karena dia udah sangat capek dan tidak ingin lebih capek lagi. Lagipula, Ahmed ingin menanyakan beberapa hal kepada Siti mengenai insiden yang terjadi kepada Madam Aisha. Dia sungguh khawatir, beberapa orang akan menyalahkan Siti atas insiden yang terjadi kepada sang Madam. "Baiklah kalau begitu. Aku akan meminta pelayan yang piket untuk menyiapkan kamarmu," ujar Tuan Khalid kepada Ahmed dan mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam rumah. Namun, Siti mencegah mereka berdua dengan berkata, "Biar saya saja yang menyiapkan kamar untuk Tuan Ahmed, Sir!" Siti masih memberi gelar tuan di depan nama Ahmed demi memberinya penghormatan di depan Tuan Khalid. Bagaimanapun juga, kedudukan Ahmed lebih tinggi daripada Siti. Tidak sopan bila Siti hanya memanggil nama Ahmed saja bila sedang berada di depan majikannya. "Kamu piket?" tanya Tuan Khalid menyelidik. "Seingatku bukan kamu yang piket," tambahnya, mengerutkan kening. Siti dan Ahmed berpandangan, merasa heran. Mengapa Tuan Khalid bisa tahu bahwa bukan Siti yang piket, tetapi tidak hafal siapa yang sedang piket. Apa memang hanya Siti yang namanya mudah dihafalkan? "Bukan. Saya hanya sekadar ingin menyiapkan kamar untuk Tuan Ahmed saja," jawab Siti mencari kata yang paling aman untuk diucapkan. Namun, terkadang kata yang aman menurut seseorang, justru dianggap kata yang berbahaya untuk orang lain. Itulah yang menyebabkan lima puluh persen kesalahpahaman terjadi di dunia manusia. Seperti saat ini, yang terjadi pada Siti dan tuannya. "Oh, lihat apa yang dia lakukan sekarang? Apa kau merasa menjadi orang yang sangat istimewa untuk Ahmed?" tanya Tuan Khalid sambil tertawa sinis, dan bertepuk tangan tanda mengejek. "Apa kamu mengincar untuk menjadi istri Ahmed di masa depan?" Mendengar pertanyaan sinis dari tuannya, Siti merasa sangat terkejut, hingga tidak berani mengatakan apa pun. Takut disalahpahami lagi. Padahal, seharusnya siapa pun juga mengerti bahwa Siti tak bermaksud segenit itu. Dia hanya menunduk, tak berani menengadahkan kepala sedikit pun. Entahlah ... apa yang terjadi dengan Tuhan Khalid saat ini? Bisa jadi suasana hati beliau terlalu kacau. Mungkin saja masalah hari ini terlalu besar dan terlalu menekan emosi beliau. Ahmed yang mengetahui hal ini, menghela nafas panjang dan mencoba memaklumi tuannya. Dia berusaha melakukan sesuatu untuk menjernihkan suasana. "Tidak, Sir," sela Ahmed menengahi yang dua orang yang sedang bersitegang dengan kekuatan yang tak seimbang. "Siti mungkin bermaksud untuk meringankan petugas yang sedang piket saja. Bukankah saat ini dia sedang bangun? Jadi, sebaiknya sekalian dia saja yang menyiapkan kamar. Agar tidak perlu membangunkan pelayan yang lain," terang Ahmed hati-hati agar tidak terlihat menggurui. Dia tidak ingin Tuan Khalid merasa dirinya lebih memihak kepada Siti daripada kepada tuan yang sudah dikenalnya sejak begitu lama. "Benarkah begitu, Siti?" tanya Tuan Khalid kepada Siti untuk mengkonfirmasi apa yang baru saja dikatakan oleh Ahmed. "Benar sekali, Tuan!" jawab Siti pendek, dengan tetap menunduk. Tidak ingin mendebat lebih lanjut. Sebenarnya, bukan hanya itu. Siti ingin membicarakan insiden malam ini dengan Ahmed dahulu sebelum melaporkan pada Tuan Khalid. Apakah benar, bayangan itu hanya halusinasinya saja? Sebagaimana yang dikatakan Miss Aziza tadi. Ataukah, memang ada yang mengincar kedamaian rumah ini? Atau, bisa jadi itu hanya maling biasa? Siti sebenarnya ingin melaporkan langsung, namun takut hal ini hanya akan menambah beban tuannya saja karena Tuan Khalid sudah menanggung banyak hal yang harus dipikirkannya. Pekerjaan beliau yang sangat banyak, Madam Aisha yang sedang sakit, dan urusan lain yang Siti mungkin tidak ketahui. Oleh karena itu, menurut Siti, membicarakan hal ini dengan Ahmed terlebih dahulu, diharapkan akan meringankan beban sang Tuan. "Baiklah, kamu bereskan dulu kamar untuk Ahmed. Ahmed akan menunggu di sini bersamaku," titah Tuan Khalid kepada Siti. "Aku tak ingin ada gosip beredar tentang kalian!" Siti pun melangkah menuju mansion dengan lesu. Ternyata tuannya tidak memberi kesempatan untuknya berbicara dengan Ahmed. Sungguh, Siti sangat merasa kecewa malam ini. Dia begitu meyakini dalam hati bahwa penyusup tadi sangatlah berbahaya dan bukan halusinasinya saja. Akhirnya, Siti pun terpaksa memberanikan diri untuk mengatakan terus terang apa yang terjadi. Dia pun berbalik kembali menuju tempat Tuan Khalid dan Ahmed berada. Tentu saja hal ini membuat Tuan Khalid dan Ahmed bertanya-tanya. "Ada apa lagi?" tanya Tuan Khalid, memutus percakapan dengan Ahmed tentang perizinan impor beras. "Sebenarnya, tadi saya melihat ada orang yang sedang mengendap-endap di sekitar sini," terang Siti penuh penekanan. Tidak ingin diabaikan untuk kedua kalinya. Dia melanjutkan cerita bagaimana dia berada di luar saat malam-malam begini. Namun, Siti sengaja menyembunyikan fakta tentang Ms. Aziza yang tidak mempercayainya, agar beliau tidak terkena komplain atau hukuman. "Terakhir, saya melihat dia masuk ke semak-semak. Namun, saya tidak berhasil melacak keberadaannya dengan berbekal senter ponsel saja." "Yang lebih buruk lagi adalah, karena kau menunda laporan!" bentak Tuan Khalid. Membuat Siti menyadari betapa besar kesalahan yang dia perbuat. "Gegabah sekali kau ini, Siti!" Tuan Khalid menjadi gusar ketika mendengar laporan ini. Mengetahui apa yang telah terjadi di rumahnya saat ketidakhadiran beliau, memang bukan hal yang enak untuk didengar. "Apa pengamanan di pintu gerbang kurang bagus? Apa yang dilakukan para penjaga di saat seperti ini? Bagaimana dengan CCTV?" Beliau murka seraya mengepalkan tangan, menahan diri agar tak menghancurkan benda di sekitar. Hal ini cukup membuat Ahmed terkesan, karena biasanya Tuan Khalid yang marah akan dengan mudah menghancurkan sesuatu yang ada di dekatnya. "Ahmed, perintahkan para penjaga untuk mencari penyusup itu! Kumpulkan semua yang tadi bertugas untuk melaporkan hal yang janggal! Suruh mereka mengecek semua perangkat keamanan yang telah dipasang di rumah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN