Dalam Keseriusan

1114 Kata
"Dari sajak yang di titip kepada Sang Rabb, berharap semua akan menemukan muara. Manusia memiliki harapan sedang Allah yang menjadikan semua dalam rangkuman keinginan. Apapun yang akan terjadi berjalan lah mengikuti aliran semoga persimpangan nantinya menemukan titik temu dalam segala ujung yang berujung meminta hanya kepada sang pencipta." -Hamid Hadar- ??? Cuaca kali ini memang cukup terik, panas yang membakar kulit seolah mewakili setiap perasaan yang sedang dirasa. Siara sedang mengadakan liputan sebuah kasus pembunuhan dimana seorang suami tega menghabisi nyawa istrinya dikarenakan cemburu. padahal saat itu sang istri sedang hamil tua, alhasil dia membela perut istrinya dengan pisau agar sang anak bisa selamat. Bersama Galang dan Bima yang menjadi cameramen, rasanya tidak ada henti-hentinya perempuan menjadi korban k*******n suaminya, hanya karena perasaan cemburu dan bujuk rayu setan semua amarah menjadi kebencian dan setan yang berkuasa. Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari) Tapi sayangnya manusia sekarang lebih suka menanam kebenciaan dan meleburkan api dalam nanah seolah semua masalah akan usai jika diluapkan dalam kepingan yang membara. Banyak sekali para rekan wartawan lain yang meliput kejadian itu, sedangkan pelaku sudah di bawa ke pihak yang berwajib untuk ditidaklanjuti. "Kasian ya, padahal Mbak Mala bukan orang yang seperti itu," ucap warga yang terdengar oleh Siara. "Iya, Mbak Mala selalu berbicara santun bahkan sangat sopan," balas Ibu-ibu satunya lagi. Banyak opini seolah berhembusan mencoba memasuki setiap ucapan agar banyak sekali praduga yang akan membingungkan. "Si, udah selesai, ayo balik ke kantor," ajak Bima yang sudah bersiap dengan camera di tangannya. "Iya Bim," balas Siara yang sudah bersiap untuk meninggalkan TKP. Tidak terbayang olehnya bagaimana saat kejadian, padahal permasalahan itu berawal dari sang istri yang tidak mau memberikan password HP-nya dan menimbulkan kecurigaan sang suami hingga akhirnya tuduhan yang belum tentu kebenarannya menjadi amarah. Sebenarnya amarah ini sangat berbahaya apabila tidak bisa dikendalikan maka imbasnya sangat dasyat bahkan banyak sekali yang terkena dampaknya. Oleh sebab itu jika kondisi emosi Siara sedang tidak baik maka dia lebih memilih diam dari pada harus mengeluarkan suara yang malah akan menyakiti hati orang lain nantinya. "Si, ayo," ajak Galang kali ini karena Siara masih berdiam diri di tempatnya. Akhirnya ketiganya pulang menuju ke kantor sebelum kembali Bima dan Galang bertanya bagaimana kejadian malam saat mereka mengantar Siara pulang. "Kan udah malam ya, tetangga aku malah berpandangan yang macam-macam, tapi aku diam aja lagian mau dijelasin juga percuma mereka pandai mengomentari padahal engga menjalankan," ungkap Siara bercerita dengan kedua rekannya. Semenjak pulang dari Curup memang Siara jadi sangat dekat dengan keduanya. "Wah, minta di sumpel satu-satu mulutt emak-emak di sana," omel Galang yang tidak suka jika sahabatnya dibicarakan hal seperti itu. "Mau kita panggilin Bu Tejo kayanya ni Lang," balas Bima semangat. "Udah ah, biarin nanti Allah yang balas semuanya, lagian jangan cari perkara sama yang lebih tua nanti dosa," peringat Siara kepada keduanya. Mereka memilih makan di sebuah cafe yang cukup ramai, Siara menyantap makanannya dengan lahap, tanpa sadar jika sejak tadi ada seorang laki-laki yang terus saja memperhatikannya. ??? "Ma, apakah ini yang dinamakan jodoh?" tanya Hamid ketika mereka sedang menyantap makanan. "Kamu ngomong apa sih Dek?" tanya balik Lia--mamanya Hamid dengan perawakan anggun, cantik dan ramah meski kadang cerewet. "Ma, itu perempuan yang aku ceritain sama mama," ucap Hamid yang tidak bisa berhenti memikirkan Siara. Sang Mama melihat arah pandang Hamid kepada meja ketiga orang yang sedang sibuk melahap santapan, memang gadis berhijab dengan tubuh mungil, manis dan cantik itu membuat hatinya ikut tersentuh. "Kalo kamu mau seriusin dia, secepatnya Dek, soalnya mama takutnya kamu ditikung apalagi tikungan sepertiga malam lebih s***s dari apapun," peringat Lia yang sangat mendukung langkah baik sang putra. "Tapi, aku takutnya dia engga bakal sanggup kalo aku tinggal terus Ma," balas Hamid sedikit tak tenang. "Kalo belum dicoba enggak bakal tahu Dek," peringat mamanya dengan tatapan menenangkan. Hamid pun memutuskan untuk berjalan ke arah Siara dan hal itu malah membuat Galang dan Bima yang tahu malah tersenyum penuh arti. Siara masih sibuk dengan makanannya sambil bercerita kepada Galang dan Bima. Dia tidak sadar jika Hamid sudah berdiri di belakangnya. "Wah, pangerannya Siara datang," ucap Galang dengan heboh, sementara Siara tidak menghiraukan dia terus saja bercerita karena memang Galang suka menjahilinya. "Pas aku lihat ternyata emang bener karung yang warnanya putih, padahal udah ketakutan setengah mati," curhat Siara yang sambil tertawa. Hingga akhirnya sebuah deheman besar menyadarkan Siara dan membuatnya refleks menghadap ke Belakang. "Maaf mengganggu waktunya, saya cuma mau gabung di sini, apakah boleh?" tanya Hamid sangat sopan. "Mas yang waktu itu kan, iya gapapa gabung aja," balas Siara tak kalah ramah. Hal itu malah membuat Galang dan Bima senyum-senyum sendiri, begini kalo Siara adalah tipe perempuan tidak peka dan Hamid yang terlalu kaku perlu ada orang ketiga sebagai pemersatu. "Saya ajak mama saya juga ya," ucap Hamid meminta persetujuan dan mendapatkan anggukan dari ketiganya. "Kok udah di bengkulu aja Mas?" tanya Bima heran dan penasaran apalagi baju seragam Hamid masih terpasang dengan rapi. "Iya, sore nanti saya juga harus kembali lagi ke Curup," balas Hamid lagi. Sebelum melanjutkan obrolan Hamid terlebih dahuli mengajak mamanya intuk bergabung dan ketiganya menyalimi tangan ibu Hamid. Sampai di tangan Siara ibunya menggenggam lama. "Kamu ya yang kerja di perusahaan jurnalis itu?" tanya Lia tampak penasaran sekali dengan sosok Siara yang berhasil menaklukkan hati putranya. "Iya tante, kami bertiga satu perusahaan," balas Siara ramah. "Siara udah punya pacar?" tanya Lia spontan, melihat name tag di baju Siara yang menyebabkan Lia tahu nama perempuan dihadapannya. Awalnya Siara agak kaget karena tiba-tiba saja dia ditanya begitu padahal itu merupakan suatu hal yang dia hindari. "Heheh, mana ada yang mau sama saya Tan," jawabnya singkat. "Kayanya bukan engga ada yang mau, kamunya yang engga mau," tebak Lia yang menyebabkan pipi Siara memerah. "Siara takut cowok Tan," balas Bima yang tertawa melihat wajah ketakutan Siara. "Tante jodohin sama Hamid mau engga? Dia orangnya rajin ibadah, ganteng, engga banyak ulah, tapi kamu harus siap kalo harus ditinggal untuk waktu yang lama," jelas Lia yang memang sangat semangat jika benar Siara yang akan menjadi jodoh Hamid. "Hehhe, tante jangan bercanda deh, mana mau Mas Hamid sama saya. Kami udah mau pamit Tan, soalnya udah dicariin Bos, maaf ya Tan harus di tinggal." Siara awalnya sudah berniat meninggalkan tempat duduknya. Sampai Hamid bersuara. "Saya benar-benar ingin serius sama kamu Siara, jika kamu mau tolong pikirkan sampai sore ini dan berikan nomor ponsel," pinta Hamid serius. Hal itu membuat pikiran Siara bercabang dan bingung. Ketika laki-laki datang dengan keseriusan bukan perihal janji tapi mahar bukan sekedar kata-kata tapi pembuktian. Mencintai dengan tulus adalah dengan cara mengjar ridho Allah dalam ikatan pernikahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN