“Jika sujudmu masih tak sempurna, maka jadikanlah sempurna meski sulit dalam belukar tak kanada akar, tapi segala hal datang karena berusaha, dalam sepertiga malam menyebutmu dalam doa berharap Allah ikut mengaamiinkan karena cinta terbaik adalah atas Ridho-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang mendekati al-isra 32”
-Hamid-
***
Siara disibukkan dengan berbagai macam laporan terkait artikel berita yang baru saja ia kerjakan, tidak ketinggalan 3L yang kaget dengan perubahan Siara yang secara drastis, tambah banyak yang tidak menyukai Siara, semua orang merasa iri dengan gadis itu karena bisa mendapatkan tugas besar yang kemungkinan bisa menjadikan gadis itu naik pangkat.
Kali ini Mbak Lara sibuk melihat ke arah meja kerja Siara dan menatap sinis, jika Siara seperti sekarang maka posisinya sebagai perempuan tercantik di kantor akan tergeser. Apalagi sekarang tatapan kaum adam begitu memuja orang yang paling ia benci.
Sementara Siara hanya berharap bisa segera pulang akibat tuga yang menumpuk dia sangat lelah, tidak ketinggalan Adam yang tersenyum melihat sahabatnya bisa berubah menjadi lebih baik dan membungkam semua bentuk hinaan para pembenci.
“Si, makan siang yuk,” ajak Adam yang sudah berdiri di depan meja kerja Siara.
“Adam yang traktir kan,” balas Siara tersenyum memohon sambil memperlihatkan wajah lelahnya, hal itu malah membuat Adam menjadi gemas.
“Aman kok.”
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju kantin kantor, mulai lah Mbak Lara datang dengan sindiriran tidak suka melihat perubahan Siara, ntah kenapa setiap kali melihat Siara maka banyak sekali hal yang ia benci dan ingin diluapkan tanpa memikirkan perasaan Siara.
“Lo kira cantik kaya gini, badan dikurusin, kulit diputihin, jadi kesukan banyak laki-laki di kantor dan sekarang malah ngincar Adam, emang otak jahat lo bekerja dengan baik,” ucap Mbak Lara tidak berperasaan.
“Eh Ra, Lo kalo ngomong dijaga ya, perasaan seorang perempuan yang sekarang lagi lo lukain,” balas Adam tak terima sahabatnya diucapkan kata-kata yang tidak enak di dengar.
“Haha..Oh jadi sekarang Adam udah terpikat sama peletnya anak magang?” tanya Lara semakin gencar menghina.
Antoni yang baru saja pulang dari perjalanan dinas melihat ada keramaian di kantin segera saja mengahmpiri.
“Ada apa ribut-ribut begini?” tanya Antoni dengan sangat tegas.
“Sayang,” panggil Lara senang karena sudah beberapa hari ini tidak melihat tunangannya itu, lain hanlnya Antoni yang sudah memberikan kode melalui tatapan mata untuk tidak memanggil sembarangan di tempat umun.
“Sudah-sudah bubar, ini bukan tontonan!” peringat Antoni dan membuat kerumunan itu langsung saja terpecahkan.
Lara sudah tidak menghiraukan perdebatannya dengan Siara dia malah fokus mengikuti Antoni yang mengajaknya untuk makan sianng berdua.
“Gue heran sama Lara, hobi banget nyakitin hati lo,” ucap Adam bingung sendiri.
Siara tidak mau menghiraukan itu, dia lebih memilih memesan makanan di kantin tanpa mau ribet mengurusi urusan orang-orang, mau sejauh apapun berlari dimata pembenci akan terus merasa salah tidak aka nada pembenaran yang mereka akui.
***
Malam ini ditemenai sajadah dan al-quran, Hamid memulai sholatnya dengan khusuk, banyak dialog yang ingin ia sampaikan kepada snag pencipta rasanya sedikit demi sedikit bebannya ikut meringan. Memng Allah adalah obat dalam setiap luka.
“Ya.. Allah jika memang dia nama yang kau tulis di lauhul mahfuz tolong dekatkan kami, seumpama bukan dia yang kau ridhoi tolong jauhilah kami, jika perasaan ini menimbulkan dosa maka tolong jadikan setiap harapan menjadi barisan panjang atas mimpi dan cita-cita.
Hanya hembusan angin yang menyapu bersih wajah Hamid harapannya semoga apapun yang ia impikan bisa menjadi keridhoan, lama dia berdialog dengan sang pencipta, memang masalah pernikahan adalah hal yang serius. Tidak bisa asal seperti pilih tebu jika salah maka kesalah itu seumur hidup dan dapat merugikan kedua belah pihak.
Saat semua orang tidur maka disanalah percepatan ridho Allah tak kalah cepatnya, Hamid harap apapun jawabanya mungkin itu adalah pilihan yang harus dia ambil mungkin jika terus saja tidak serius akan kehilangan banyak kesempatan.
***
Hamid selalu ingat alamat yang disampaikan Siara kala itu, semakin lama perasaan ini semakin yakin. Dia mencoba menelaah lagi dan ternyata memang benar semuanya sudah ada garis tangan Allah jika memang perasaan yang dilandaskan karena-Nya pasti tak pernah keliru.
Masih di daerah perkebunan bagaimana datang untuk melamar sementara pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, apakah perasaan ini tidak boleh? Memikirkan perempuan yang belum menjadi mahram tapi sangat sulit untuk menghindaridan mengendalikan perasaan. Hamid berusaha untuk mencoba melepaskan sejenak rasa ini, tapi sayangnya makin menjadi. Akhirnya hari ini dia mencoba menelepon kedua orang tuanya dan abangnya untuk meminta restu, jika boleh akhir bulan ini dia akan mencoba pulang sebentar.
“Halo, Assalamualaikum Ma,” sapa Hamid yang berada di Curup.
“Waalaikumsalam Dek,” balas sang mama yang sangat semangat.
“Mama apa kabar di sana?”
“Alhamdullilah baik Dek, Adek gimana kabarnya di sana Nak?”
“Alhamdullilah baik juga Ma, Ma, aku mau bicara serius. Aku belum bisa pulang langsung untuk membicarakan ini, tapi jika mama, papa, dan abang mengizinkan. Aku mau meminta izin setelah pulang dari sini untuk meminang seorang perempuan. Apakah boleh Ma?”
Hamid jarang sekali membicarakan perihal pasangan karena dunianya adalah tentang pekerjaan, mendengar permintaan yang secara tiba-tiba dan cukup membuat perasaan sang mama kaget. Untuk kali ini ada kelegaan di diri ibunya tapi ada rasa cemas juga karena tidak tahu perempuan mana yang menjadi pilihan sang anak.
“Sama siapa Dek?”
“Mama engga perlu khawatir, dia orang yang baik, meskipun aku baru bertemu dua kali, insya allah dia perempuan sholeha yang Allah kirim.”
“Keluarganya gimana? Dia sudah setuju? Memang asalnya darimana?”
Pertanyaan panik dan khawatir seorang ibu tidak bisa di hilangkan karena perasaan seorang ibu yang harus melepaskan anaknya kepada orang yang tepat tidak hanya kepada perempuan, laki-laki pun juga begitu karena nanti beban tanggung jawab yang dipikul akan berat jika saja salah pilih juga dapat menghancurkan hubungan rumah tangga yang dibina.
“Bulan depan aku pulang Ma, ntah nanti lamaran akan diterima atau ditolak yang terpenting mencoba dahulu, setelah salat sepertiga malam aku yakin dengan pilihanku Ma.”
“Iya, mama dan keluarga selalu mendukung hal baik Adek asalkan itu memang karena ridho Allah.”
Ada kelegaan sendiri setelah meminta izin kepada mamanya, semoga saja dia adalah jawaban dari setiap doa panjang yang Hamid hanturkan kepada sang pencipta.
“Ma, aku kerja dulu ya. Assalamualaikum, salam buat keluarga di rumah.”
“Waalaikumsalam Nak,”
Percakapan telepon itu terhenti terbesit kerinduan dalam diri Hamid untuk memeluk sang mama yang meskipun terbentang jarak beberapa jam serasa jauh, kerena memang dia tidak bisa pulang.
***
Galang dan Bima sedang mengotak-atik camera mereka dan melihat Siara yang sudah akan pulang, ternyata menyenangkan bisa bekerja sama dengan Siara malahan mereka merasa sangat cocok jika mendapat liputan bersama.
“Udah mau pulang Si?” tanya Galang sambil memakan mie ayamnya yang masih sangat hangat terlihat dari asap yang menggumpal.
“Iya Lang, terus gimana hubungan Lo sama Mas TNI waktu itu?” tanya Bima yang memang senang sekali menggoda Siara.
“Hah, Mas TNI yang mana?” tanya balik Siara yang bingung, padahal untuk saat ini dia memang tidak ada dekat dengan siapa-siapa.
“Curup,” timpal Galang yang ikut semangat.
“Astaga, itu mah godaan kalian berdua aja, lagian kalian sih bikin malu, nanti dikiranya aku ini mudah banget suka sama orang. Emang kalian rajanya kalo bikin orang malu,” omel Siara yang menggelengkan kepalanya akibat ulah dua orang manusia super nyebelin ini.
“Nanti gue siap jadi pagar ayu eh tapi jadi pengiring aja deh,” ucap Bima semangat.
“Udah ah, ngomong sama kalian berdua ujung-ujungnya pasti godain aku mulu,” ucap Siara mengerucutkan bibirnya.
“Nanti Mas TNI khitbah dengan bismillah dong,” tawa Galang tidak pernah berhenti ketika menggoda Siara, dari semua orang memang Siara adalah perempuan yang polos, pintar dan menggemaskan di kantor ini. Sisanya sibuk berdandan kadang sangat menor sekali.
“Pulang bareng kita aja Si, nanti dianterin sampe rumah, kebetulan rumah kita searah,” tawar Bima yang memang snagat baik.
Awalnya Siara ingin menolak karena takut merepotkan tapi mereka bilang tidak apa-apa lagian kasian jika melihat perempuan pulang sendiri sementara sekarang sudah pukul sepuluh malam, Bima dan Galang sudah mengaggap Siara seperti adik kandung mereka. Biasanya Adam yang akan mengatarnya pulang, nemun, kali ini Adam ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.
“Gimana liputan kemarin Ra?” tanya Bima yang masih mengedit vidio laporan yang akan dia kirim minggu ini.
“Udah selesai Bim,” jawab Siara tenang, memang segala pekerjaan dia lakukan dengan sepenuh hati jadinya tidak ada yang terasa sulit malah menyenangkan.
Mereka mengobrol banyak hal tentang maslah kehidupan dan hal-hal menarik lainnya. Kadang Siara tertawa mendengar lelucon yang Bima dan Galang sebutkan.
“Tapi lo keren deh bisa tahan ujian digangguin sama Mbak Lara, Jojon, 3L, emang ini orang-orang yang bentuk menjadi pribadi tahan baja, kalo berhasil negelewatin mereka berarti mental lo udah bisa diacungi jempol. Gue salut sama lo Si,” puji Galang sambil heboh sendiri.
“Aku kuat juga karena ada Allah,” jawab Siara tersenyum.
Percakapan mereka terus berlanjut, sampai akhirnya beberapa menit terlewatkan mereka membereskan semua pekerjaan dan bersiap untuk mengatar Siara pulang. Banyak hal yang sampai sekarang Siara syukuri mungkin kesakitan yang dia dapat adalah sebuah rasa syukur yang natinya harus dinikmati.
“Menyelami satu-persatu dermaga
Banyak lara yang menepis ombak
Ketika pulau menjadi saksi
Satu-persatu pertemuan berlalu
Hingga ada titik temu
Untuk bertemu yang baik
Dan menjadi terbaik.”