bc

Tetanggaku Jodohku

book_age18+
524
IKUTI
7.4K
BACA
HE
age gap
heir/heiress
drama
bxg
campus
city
like
intro-logo
Uraian

"Pih, Mih, ini tidak seperti yang kalian pikirkan". Saka mencoba untuk menjelaskan, dia menarik tubuhnya dari sofa, membuat tubuh bagian bawah Febi terlihat, paha mulusnya terpampang jelas. Itu semakin membuat prasangka buruk orang-orang.

chap-preview
Pratinjau gratis
Menikah
"Bang, pelan-pelan Ish......ahhh!!! teriak Febi. "Stt, jangan berisik. Nanti ada yang dengar bahaya. Nanti kita disangka lagi berbuat m***m". tegur Saka "Tapi ini beneran sa....kiiit, aahh," rintih Febi. Tiba-tiba saja listrik menyala, Saka akhirnya tersenyum bisa melihat dengan jelas, apa yang harus dia lakukan. "Astaghfirullah!!Saka!Febi!Apa yang kalian lakukan!!" Pekik Wanda, bunda Saka, yang tiba-tiba muncul karena ingin mengajak mereka makan bersama dirumahnya. Wanita paruh baya itu melotot tak percaya dengan yang dilihatnya, putranya sedang menindih putri tetangganya diatas sofa. Febi hanya menggunakan tanktop dan Saka bertelanjang d**a. Teriakan Wanda, terdengar oleh Frans, suaminya. Reaksi Frans tak berbeda jauh dengan Wanda, begitu pula orang-orang yang berdiri dibelakang mereka. Orang-orang tersebut adalah ketua RT dan beberapa tetangga yang sedang mencari pemadaman listrik yang hanya terjadi pada beberapa rumah di lingkungan mereka. "Pi, Mih, ini tidak seperti yang kalian pikirkan". Saka mencoba untuk menjelaskan, dia menarik tubuhnya dari sofa, membuat tubuh bagian bawah Febi terlihat, paha mulusnya terpampang jelas. Itu semakin membuat prasangka orang-orang semakin buruk. Febi hanya mengenakan tanktop dan hotpants. "Saka! Papih tidak pernah mengajar kamu untuk melakukan perbuatan asusila seperti ini!Bikin malu!". Bentak Frans tanpa mau mendengar penjelasan Saka. "Pih....kami......nggak cuma...." Perkataan Febi yang gagap dan terlihat syok semakin menyudutkan Saka. " jangan banyak alasan! Sekarang kalian juga harus menikah!" teriak Frans tanpa bisa dibantah. Saka dan Febi menggeleng cepat, mereka tak setuju. Namun Frans sudah melangkah pergi meninggalkan rumah diikuti yang lainnya, kecuali Manda. "Mih, kami nggak lakuin apa-apa, tadi aku cuma nemenin Febi, dia ketakutan sendirian dirumah. Ayah sama Bunda sedang pergi, terus listrik mati. Aku kegerahan makanya buka baju". Jelas Saka dengan suara bergetar. Dia tidak pernah berada disituasi seperti ini, dia benar-benar merasa terpojok. "Mamih, aku sama Abang tidak melakukan yang macam-macam". Ucap Febi lirih, dia tak berani menatap Wanda yang terlihat sedih dan kecewa. "Terus kenapa kalian saling tindih?" Tanya Wanda "Aku lagi bantu narik rambut Febi yang terjepit di jok sofa,". Jelas Saka lagi sambil menunjuk sofa yang sudah terlihat usang. "Sudah! Jangan banyak alasan. Kalian berdua malam ini juga harus menikah". Frans kembali, kali ini orang tua Febi pun ada, mereka telah datang. Wajah Bram dan Ayu sama-sama terlihat syok dan kecewa. Namun, mau bagaimana lagi, menikahkan Saka dan Febi adalah jalan yang terbaik. Kedekatan mereka sudah melewati batas, kadang mereka lupa bahwa tak ada hubungan darah diantara keduanya. "Tapi, pih ak---" Saka masih berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Febi hanya bisa diam dan menunduk. "Sudah!Ayo, pulang, siap-siap lalu balik lagi kesini. Pak RT sedang memanggil penghulu". Frans langsung menarik putra bungsunya. Febi hanya diam mematung, tak berani menatap wajah orangtuanya. Plak! Bram menampar wajah putri sulungnya dengan wajah galak. "Ayah!!" teriak Ayu, memeluk suaminya dari belakang. "Ini hukuman buat kamu yang sudah bikin malu keluarga!". Bentak Bram, Febi menangis sambil memegang pipinya yang panas. "Yah, tolong jangan emosi. Kita tidak tau apa yang terjadi, biar Febi jelasin dulu". ujar Ayu berusaha menenangkan suaminya. Kiki memeluk kakaknya. Remaja berusia 12 tahun itu ikut menangis melihat kakaknya ditampar oleh ayah mereka. " Tidak usah! Menikahkan mereka berdua adalah yang terbaik. Biar tidak ada lagi fitnah. Cepat bunda make upin Febi, sebentar lagi penghulu datang!". Titah Bram seraya meninggalkan anak dan istrinya. Bram pergi menuju kamarnya, disana dia menangis sambil menatap tangannya yang telah menampar pipi Febi. Ini pertama kalinya dia melayangkan tangannya pada Febi anak kesayangannya. "Ayo, kak, kita siap-siap". Ayu menuntun Febi melangkah menuju kamar. Febi seperti kehilangan jiwa, dia hanya melakukan apa yang disuruh oleh bundanya. Ayu memakaikan Febi kebaya pengantin miliknya dulu, benar-benar pas ditubuh Febi. Kemudian merias wajah putrinya dengan riasan natural. Mata Ayu berkaca-kaca, mencoba menahan tangis. Dia sedih karena putrinya menikah dengan cara seperti ini. Tak ada lamaran atau pesta meriah. Ibu dua anak itu hanya bisa berharap semoga pernikahan putrinya berjalan dengan baik dan bahagia. "Bun, tamunya sudah datang. Ayo bawa kakak keluar kamar". Teriak Bram dari luar kamar. Ayu menangkup wajah Febi dengan kedua tangannya, ditatapnya wajah putri sulungnya sekali lagi, sebelum melepasnya ke pelukan Saka. "Kak, Kakak harus belajar jadi istri yang baik, ya? Harus taat dan patuh sama suami. Karena setelah ini, ridhonya bang Saka adalah ridhonya Allah. Bakti kakak berpindah, bukan lagi pada Ayah dan Bunda, tapi pada bang Saka. Paham ya, Kak?". Nasehat Ayu pada Febi dan hanya dijawab anggukan oleh Febi. "Yuk, Kita keluar, tamunya udah pada datang". Ayu menuntun Febi keluar dari kamar. Diruang tamu hanya ada beberapa orang yang hadir. Ada ketua RT, ketua RW, penghulu, beberapa tetangga dan keluarga Saka yaitu Frans, Wanda, dan Senja, kakak perempuan Saka. Saka duduk diapit oleh papihnya dan ketua RW. Dihadapannya ada ayah Febi dan penghulu. "Baik, kita mulai aja acaranya, biar tidak terlalu malam" Ujar ketua RT yang disetujui oleh semua orang. Saka menjabat tangan Bram, dengan suara lantang dan tanpa diulang, dia menyebutkan ijab kabul. "Alhamdulillah, Sah!!" Febi yang sedari tadi duduk disudut ruangan, digiring untuk duduk disamping Saka. Untaian doa dipanjatkan untuk kebahagiaan kedua mempelai. Febi mencium punggung tangan Saka, sebagai bentuk bakti pertamanya, pada suami. Saka hanya menatap dengan wajah datar. "Dikecup, dong, dahi istrinya" ledek Senja. Saka melirik sinis kakaknya, yang masih berstatus single diusia yang hampir berkepala tiga itu. Saka merasa dijebak, dia tak ada rasa apapun pada Febi selain kasih sayang pada adeknya. Dia tidak mencintai Febi, Saka sudah memiliki kekasih. Dia juga belum siap menikah, Saka ingin Senja menikah lebih dulu. Saka membuang nafas perlahan-lahan, ini semua gara-gara Febi. Andai anak manja itu, tidak merengek untuk ditemani, pernikahan ini tak akan terjadi. "Karena nikahnya mendadak, jadi belum ada surat nikah. Ini masih pernikahan siri. Nanti bapak dan ibu bisa langsung mempersiapkan persyaratannya agar segera disahkan oleh negara. Ini ada surat pernyataan bahwa Mas Saka dan Mbak Febi sudah menikah secara agama". Pak penghulu memberikan selembar kertas pada Bram selaku ayah kandung mempelai wanita. "oh, ya, ini cincin nikahnya dipakai dulu, Mamih sampai lupa". Ujar Wanda seraya menyodorkan sebuah cincin berlian. Itu adalah cincin pemberian Frans untuk Wanda, salah satu cincin kesayangan Wanda. "Ayo Saka, pasang cincinnya ke jari Febi". Titah Wanda. Saka mengambil cincin itu lalu memasangkan dijari manis Febi. Sekali lagi punggung tangan Saka dicium oleh sang istri. Tak ada getar bahagia dan haru dihatinya, yang ada hanya rasa benci. "Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah menjadi suami. Perlakukan Febi dengan baik, ya, jaga dia". Wanda membuat suasana menjadi haru. Ayu bahkan tak bisa menahan air matanya. Ibunda Febi itu memeluk erat putri sulungnya, lalu mengecup keningnya berulang kali. "Berbahagialah kalian berdua, doa kami selalu terlimpahkan kepada kalian". Ucap Ayu, lalu mengecup kening Febi dan Saka bergantian. Begitu juga dengan Frans dan Bram, kedua ayah itupun bergantian memeluk dan menasehati Saka dan Febi. Acara diakhiri dengan makan bersama. Makanan yang disiapkan melalui pesan antar, Senja yang menyiapkan semuanya. Dia ikut berbahagia melihat adik laki lakinya menikah. Berharap suatu hari nanti, gilirannyalah yang akan menjadi pengantin. "Malam ini Bang Saka tidur dikamar Febi ya". Celetuk Wanda yang membuat Saka dan Febi tersedak. "Kenapa nggak tidur dikamar aku sendiri, Mih?. Tanya Saka. "Loh, kan, kalian sudah menikah, Masa tidurnya terpisah". Sahut Frans... "Tapi kan........" "Alah, nggak usah malu-malu! Biasanya juga kamu loncat masuk ke kamar Febi kan!". Potong Senja, bibirnya tersenyum mengejek. Tatapan Saka menghunus tajam, ada rasa menyesal tadi sempat mengkhawatirkan nasib kakaknya. Senja selalu saja usil dan buat dia kesal. "Apa? Nggak terima?". Tantang Senja. "Ish!Apa-apaan sih, kalian ini malah bertengkar!". Hardik Wanda. "Karena kalian menikahnya mendadak dan belum ada persiapan, kalian tidur bergantian aja. Malam ini dirumah Bunda, besok malam dirumah Mamih", ucap Ayu dengan lembut. "Setuju, sampai Saka selesai menyelesaikan renovasi rumahnya", timpal Frans. Saka menahan sebisa mungkin agar tidak mendengus kasar. "Rumah itu aku persiapkan untuk Nada, bukan Febi, pih!"Teriaknya dalam hati. Para tamu pamit undur diri, yang tersisa tinggal anggota keluarga. Pembicaraan tentang kehidupan rumah tangga Saka dan Febi kembali diulas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.7K
bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.2K
bc

Kali kedua

read
221.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
3.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook