"Sip, gue tunggu ditempat biasa. Jangan kelamaan, Yan!" Febi mematikan ponselnya. Kemudian membuka aplikasi ojek online, dia sudah cukup lelah kalau harus berjalan lagi.
Febi tiba lebih dulu, dia sudah memesan capuccino untuknya dan americano kesukaan Bian. Dia juga memesan croissant sebagai cemilan.
"Sorry, udah lama nunggu ya?" Bian langsung duduk dikursi depan Febi.
"Nggak begitu lama, sih. Santai aja kalau sama gue," sahut Febi.
"Muka elo kucel amat! Kenapa?" tanya Bian.
"Lagi kesal! Pengen makan orang!" gerutu Febi.
"Lah, terus kenapa manggil gue? Elo pengen makan gue?" tanya Bian polos.
"CK! Ya nggaklah, daging elo pahit, kebanyakan dosa," jawab Febi.
"Iya, deh, ya . . . Jadi elo suntuk kenapa?" tanya Bian.
"Abang, dia nyebelin banget sekarang," dumel Febi.
"Tumben, biasanya elo muji dia setinggi langit," cibir Bian.
"Tahu, tuh! Pokoknya dia nyebelin banget!"
"Ya udah, nonton aja, yuk. Biar elo nggak suntuk. Gue yang bayarin, tapi elo yang bayarin jajanannya." Bian tersenyum miring.
"Yee . . .Berat di gue, dong! Bayar sendiri-sendiri aja. Elo kan, makannya banyak, rugi dong gue!" Febi berdiri dari duduknya, tangan kanannya memegang cup kopi, sedangkan tangan kirinya memegang wadah croissant yang belum sempat dia makan.
"Oke, bayar masing-masing. Jadi kita mau nonton apa nih?" Bian merangkul bahu Febi.
"Nggak tahu, gue nggak apal juga". Febi mengangkat bahunya.
"Ya udah, nanti liat yang langsung masuk aja apa, ya? Males gue kalau harus nunggu dulu." Febi mengangguk.
Tanpa banyak berpikir keduanya memilih untuk menonton film komedi yang beberapa menit lagi mulai diputar, mereka enggan menunggu terlalu lama.
Selesai memesan tingkat dan cemilan, sepasang muda mudi itu segera menuju pintu teater yang sudah dibuka.
Febi mengabaikan Bian yang terus bertanya kenapa dia tak menyapa sapa Saka yang juga berada disana.
Sementara itu, Saka melihat istrinya sedang berjalan menuju salah satu teater dengan tatapan sinis. Entah kenapa ada rasa kesal dihatinya, saat melihat Febi berduaan dengan Bian.
"Eh, itu Febi, kan? Kita bakal nonton film yang sama. Kenapa tadi kita nggak janjian aja? Double date bareng adik sendiri kayaknya seru, tuh", cetus Nada.
"Males banget! Udah, yuk, masuk." Saka menggandeng tangan Nada, kekasihnya itu menggelayut mesra dilengannya.
Tanpa disanngka, kursi Saka dan Nada hanya berjarajk dua tingkat diatas kursi Febi dan Bian.
Dari kursinya, Saka melihat jelas bagaimana interaksi keduanya. Febi tadi sama sekali tak menyapanya, meski Bian tadi sempat manyapanya juga Nada.
Saka kesal saat melihat Febi tertawa terbahak sampai memeluk Bian. Apalagi saat Bian mengusap bibir Febi, membersihkan remahan popcorn yang menempel disana.
Saka melupakan Nada yang sedari tadi memeluk erat lengannya. Dia terlalu sibuk memperhatikan Febi dan Bian. Mengawasi istrinya lebih menarik daripada tontonan film yang sedang diputar dihadapannya.
******
Saka memasukkan mobil ke dalam garasi rumah orang tuanya. Tak jauh dari sana, mamihnya berdiri dengan senyum terkembang.
"Assalamualaikum, Mih" Saka mencium punggung tangan Wanda.
"Wa'alaikumussalam, kalian udah pulang. Loh, mana menantu Mamih?" tanya Wanda sambil melongok ke arah mobil. Saka menggaruk tengkuknya, karena kesal dia lupa tak mengabari Febi agar pulang bersama.
"Em . . . anu . . ."
Wanda menatap wajah Saka dengan mata memincing.
"Kamu jalan sama siapa? Sama Nada? Kamu lupa kalau sekarang sudah punya istri!" omel Wanda.
"Anu, Mih" Saka terlihat salah tingkah.
"Sekarang dimana Febi? Kenapa kamu tinggalin?" cecar Wanda. Saka tak bisa menjawab, dia hanya bisa menunduk.
"Heran deh. Waktu belum jadi istri, kamu posesif banget sama dia. Kok, sekarang malah kayak gini? Kamu tinggalin Febi dimana, Saka!Jawab! Jangan sampai orang tuanya tahu kalau kelakuan kamu kayak gini. Bikin malu Mamih sama Papih".Wanda masih terus mengomel.
Kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumah Bram dan Ayu. Wanda bergegas menuju pagar, melihat siapa yang datang.
Febi turun dari boncengan Bian. Bian membantunya membuka helm.
"Febi, kamu baru datang?" sapa Wanda, membuat Febi kaget. Di belakang Wanda ada Saka berdiri dengan wajah datar.
"Iya, Mih" jawab Febi.
"Malam, Tante, Bang Saka," sapa Bian dengan sopan.
"Kok, pulangnya sama Bian?" tanya Wanda tanpa mempedulikan raut wajah Febi yang memucat.
"Iya, Tan. Tadi tiba-tiba aja Febi ngajakin nonton. Tadi kita juga ketemu Bang Saka sama ceweknya," sahut Bian tanpa dosa.
Mendengar perkataan Bian, Wanda menengok ke arah Saka, menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Aku masuk dulu, ya, Mih," pamit Febi, lebih baik menghindar dari amukan Wanda. Mamih Saka ini lebih rewel dan cerewet dibandingkan ibundanya.
"Eh, mau ke mana? Malam ini kan jatah kamu tidur di rumah Mamih. Bunda juga nyiapin pakaian buat kamu," ucap Wanda membuat langkah Febi menuju rumahnya terhenti.
"Loh, kok, Febi tidur di rumah Tante?" tanya Bian.
"Kamu belum dikasih kabar bahagia dari Febi ya?" pancing Wanda, Febi dan Saka seketika panik.
"Bian, mendingan kamu pulang, deh. Sana, cepetan!" usir Febi. Bian tak banyak protes, bergegas meninggalkan halaman rumah Febi, meski dihatinya ada tanda tanya besar.
Sedangkan Saka mencoba mengalihkan perhatian Mamihnya dengan tiba-tiba bertanya tentang menu makan malam.
Setelah Bian sudah tak terlihat lagi, Wanda bersidekap menatap tajam ke arah Saka dan Febi.
"Masuk!" titahnya. Saka dan Febi hanya bisa mengikuti dengan pasrah.
"Duduk!" titah Wanda sambil menunjuk sofa ruang tengah. Rumah dalam keadaan sepi, hanya ada Senja yang asik dengan laptopnya dipojok ruangan, sedangkan Frans tak terlihat.
"Jadi, ada yang bisa jelasin ke Mamih? Tadi Bunda bilang kalian pergi bareng, kenapa pulangnya sendiri-sendiri?" tanya Wanda dengan nada tinggi.
Saka melirik Febi, istrinya itu hanya mengangkat bahu.
"Kenapa diem? Saka, tadi kamu izin mau ketemu teman, itu Nada? Kamu belum putus sama dia?" cecar Wanda.
Saka menghembuskan napas perlahan. Jika membahas Nada dengan Mamihnya selalu saja diisi denga perdebatan. Dia tak mengerti, kenapa mamihnya itu tidak meyukai Nada. Padahal dengan pacar-pacar sebelumnya, Wanda terlihat baik dan ramah.
"Saka!Jawab!" bentak Wanda. Febi sampai berjengkit kaget.
"Mih, tadi aku kok yang minta pisah," ucap Febi, dia menggigit bibir bawahnya saat melihat tatapan Wanda yang menajam.
"Em, maksudnya, aku tadi yang turun di jalan. Bukan Abang yang ngusir aku, beneran, aku nggak bohong," cicit Febi.
"Terus kamu nggak larang, Saka?" tanya Wanda lagi.
"Dia turun pas lampu merah, Mih, mau aku kejar lampunya keburu hijau," jawab Saia.
"Jadi abis itu kamu biarin aja istri kamu di jalan, terus kamu asik pacaran, gitu?"
"Kan, Febi juga asik sama pacarnya. Mamih kenapa sih, marah-marah terus," sahut Saka. Febi mengerutkan dahi saat mendengar perkataan Saka.
"Aku nggak pacaran, kok, sama Bian. Kita cuma temenan doang!" protes Febi.
"Stop! Kenapa kalian jadi bertengkar, sih? Heran, deh!"
Saka dan Febi saling membuang muka. Keduanya sama-sama merasa kesal.
"Ya udah, sana kalian masuk kamar. Mandi, sholat Isya terus langsung tidur," titah Wanda. Pasangan suami istri itu mengangguk patuh.
Reflek Febi menggandeng tangan Saka, seperti kebiasaanya dulu yang selalu manja pada pemuda yang dianggap sebagai kakaknya itu.
"Nggak usah gandeng! Gue bisa jalan sendiri," hardiknya sambil melangkah pergi.