bc

Sang Pria Terkuat : MADA

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
adventure
reincarnation/transmigration
HE
time-travel
kicking
medieval
mythology
high-tech world
superpower
ancient
like
intro-logo
Uraian

Dunia hancur dalam sekejap. Tapi ia… malah terlahir dua kali.

Dama terbangun di tengah reruntuhan Jakarta setelah perang nuklir meluluhlantakkan segalanya.

Namun saat matanya kembali terbuka—ia bukan lagi Dama.

Ia kini Mada, anak muda Majapahit yang memiliki kekuatan pedang dan sihir yang bahkan para dewa pun takutkan.

Di masa lalu yang bukan miliknya, Mada bertarung melawan Siluman dan para pengkhianat kerajaan, sementara di dalam dirinya, sisa kesadaran Dama terus berteriak—mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari kehancuran yang ia tinggalkan.

Dua masa. Dua kehidupan. Satu jiwa yang sama.

Ketika batas antara masa depan dan masa lalu mulai retak, Mada harus memilih:

menjadi penyelamat… atau menjadi s*****a yang menghancurkan segalanya.

Sebuah kisah aksi-fantasi tentang kekuatan, kehilangan, dan takdir yang menolak dilupakan.

Untuk mereka yang percaya bahwa masa depan bisa lahir dari abu masa lalu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Prolog Hening, hening sekali… Yang kuingat aku berdiri bersama temanku di tengah kota Jakarta yang ramai. Apa ini? Nafasku berat sekali! Setiap tarikan yang kuhirup seperti menelan bara api. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbaring di sini, di tengah puing-puing yang menghitam dan abu yang terus berjatuhan seperti abu kelabu. Ah… aku masih bisa merasakan kakiku… aku coba menggerakkannya walau terasa sangat menyakitkan. Tulangku terasa keluar dari tempatnya, dan kulitku sangat perih walau hanya tertiup angin. Aku perlahan mencoba bangkit. Telapak tangan kiriku menekan tanah yang tidak lagi terasa seperti tanah. Panas, kasar, penuh serpihan logam dan batu yang tajam. Seharusnya aku tidak bisa melihat gunung itu. Jakarta penuh dengan gedung pencakar langit. Tapi kini… semua hilang. Tidak ada satupun bangunan yang utuh, hanya reruntuhan yang menjulang seperti kerangka mayat raksasa. Dinding-dinding beton yang dulu kokoh kini retak, berlubang, dan menghitam oleh jelaga. Beberapa bagian masih mengeluarkan asap tipis, seolah api yang menghancurkannya belum sepenuhnya padam. Oh… Tangan kananku masih bisa merasakan genggaman tangan temanku! Aku ingat aku berjalan bersama Mikha sebelum… …pssst… “Wuuzzz” aku tiba-tiba teringat saat suara gemuruh itu membuat seisi kota panik. …pssst… Aku bisa melihat Mikha menoleh ke arah langit, matanya membelalak. “Lihat itu!” serunya sambil menarik tanganku. Aku mengikuti arah jarinya. Roket itu—meluncur melintasi langit Jakarta, mengeluarkan suara mengerikan yang memekakkan telinga. Kami berlari, tapi suara itu semakin mendekat, seperti ancaman yang tak terhindarkan. "MIKHA…!" Aku seketika menoleh dan berteriak ketika jemariku masih merasakan genggaman tangannya. “Jika aku selamat pasti Mikha juga.” pikir singkatku. Semua harapanku sirna ketika aku menyadari tangan yang kugenggam hanyalah sebuah tangan kiri dari gadis yang belum sempat aku jujur akan perasaanku kepadanya. Tangan mungil itu masih memegangku meski terpisah dari badannya, ujungnya hanya sampai siku namun tak ada darah yang menetes. Hanya hitam di ujung tangan itu, seperti batang kayu yang terbakar setengah. Aku kaget bukan main, mataku membelalak, nafasku tercekat. Tangan ini... kenapa hanya tangannya? Jari-jarinya masih hangat, seperti baru saja menggenggamku. Aku merasa seluruh tubuhku menggigil, rasa dingin menjalari punggungku hingga ke ujung kepala. Aku menatapnya, berharap itu hanya ilusi, berharap saat aku berkedip, semuanya akan kembali seperti semula. Tapi tidak. Itu nyata. Itu ada di tanganku. Aku terisak, ingin berteriak, tapi suaraku tertahan di tenggorokan. Aku mencoba mengatur nafas, tapi yang keluar hanyalah suara tercekat. Dunia seakan mengecil, hanya menyisakan aku dan tangan itu. Perlahan, jemariku yang gemetar mulai melepas genggamannya. Namun, di detik terakhir, aku sadar. Sadar bahwa tangan mungil ini bukan sekadar potongan tubuh tak bernyawa. Ini milik Mikha. Dan aku telah kehilangan dirinya selamanya. Sadar itu adalah tangan temanku yang aku kagumi, aku berusaha meraihnya kembali sambil mencari tubuhnya. Namun, hanya bayangan hitam yang terpatri di tanah membentuk lekukan tubuh wanita itu. Aku berteriak sekencang-kencangnya dan menolak mempercayai apa yang aku lihat. Aku mengangkat kepala dan menyeka pipiku dari air mata yang bercampur dengan jelaga. Entah berapa lama aku menangis, entah apa yang terjadi, entah apa yang aku ingin lakukan setelah ini. Aku menatap langit. Matahari tampak redup, seperti terbungkus kabut kelabu yang tebal. Tidak ada awan putih, tidak ada langit biru. Hanya gelap yang menekan d**a, menciptakan perasaan sesak yang tidak hanya berasal dari paru-paru yang kesulitan menghirup udara, tapi juga dari ketakutan yang perlahan menguasai pikiranku. Aku berdiri dengan susah payah, lututku gemetar. Kaki terasa berat, mungkin karena luka yang belum kusadari. Aku melangkah maju, melewati pecahan kaca dan besi yang berserakan. Setiap langkahku menimbulkan suara gemerisik, suara yang terasa begitu keras di tengah keheningan yang menyesakkan. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara angin yang bertiup. Tidak ada tanda kehidupan. Aku menoleh ke kiri, dan sesuatu membuat perutku mual. Mayat. Terbakar hingga sulit dikenali. Aku menelan ludah, mencoba mengendalikan rasa ingin muntah. Aku memalingkan wajah, tapi semakin aku berjalan, semakin banyak yang kulihat. Tubuh-tubuh yang tertimbun di bawah reruntuhan, sebagian hangus, sebagian diam dalam posisi yang membuat dadaku sesak. Aku melihat seorang pria tua duduk bersandar di tiang lampu yang sudah bengkok. Matanya terbuka, tapi kosong. Di tangannya, ada sesuatu yang seperti foto kusam—entah siapa yang ada di dalamnya. Aku merunduk, menyentuh bahunya dengan gemetar. Tidak ada reaksi. Dia sudah mati. Tanpa kusadari lututku terjatuh ke bumi, tubuhku lemas, kepalaku pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu kenapa hanya aku yang masih bisa bangkit dari sebuah neraka ini. “Kenapa aku tidak mati saja!” Aku frustasi dengan keadaanku saat ini, aku tak sedikitpun bersyukur dengan keadaan ini, yang kuinginkan hanyalah kematian. Semua pikiranku tentang kematian terhenti ketika suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Aku mendongak, mencoba mencari sumber suara itu. Tidak lama kemudian, helikopter muncul di langit kelabu yang mulai menghitam. Baling-balingnya berputar pelan di antara debu dan abu yang masih beterbangan, menciptakan badai kecil yang menerbangkan serpihan kertas dan debu ke segala arah. Aku menyipitkan mata, menutup wajahku dengan lengan agar tak terkena angin yang menusuk. Aku terpaku, menatapnya tanpa tahu harus merasa lega atau takut. Helikopter itu melayang rendah, dan dari dalamnya, empat sosok turun. Mereka mengenakan pakaian anti radiasi berwarna hitam pekat, helm mereka berkilat di bawah matahari senja yang suram. Wajah mereka tersembunyi di balik masker yang tampak kedap udara. Mereka berjalan mendekat, gerakan mereka tenang dan terlatih. Mata mereka tajam, mengamati setiap sudut dengan waspada. "Target ditemukan." Salah satu dari mereka berbicara, suaranya terdengar datar dan mekanis, seolah-olah dikeluarkan dari speaker kecil di helmnya. Target? Siapa targetnya? Aku? Aku ingin bertanya, ingin menuntut penjelasan, tapi tubuhku mendadak melemah. Pandanganku mulai berputar, suara baling-baling helikopter terdengar semakin jauh. Aku merasakan kakiku goyah, lututku menyerah, dan sebelum aku menyentuh tanah, dunia kembali gelap. Hanya suara samar yang terakhir kudengar. "Bawa dia." Hanya kata-kata itu yang terdengar sebelum aku kembali kehilangan kesadaran. mataku mulai tertutup, pandanganku memudar dan aku hanya berharap ini sebuah mimpi buruk. Walaupun ini kenyataan, aku ingin terbangun di masa lalu, memperbaiki semua kekacauan ini. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

JANUARI

read
49.1K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.2K
bc

Sang Pewaris

read
54.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook