Pertarungan Kedua

1269 Kata
Beberapa hari telah berlalu sejak Mada dan teman-temannya pertama kali menantang Mahaguru. Luka dan rasa sakit dari kekalahan sebelumnya masih terasa, namun mereka tidak menyerah. Setiap hari, mereka mengulang latihan lebih keras dari sebelumnya, berusaha memahami pola serangan Mahaguru dan mencari celah yang bisa dimanfaatkan. Di bawah sinar matahari yang mulai condong, Mada, Sura, Nara, dan Tanu berkumpul di lapangan pelatihan. Keringat mengalir di tubuh mereka, napas terengah-engah, tetapi tekad mereka tak tergoyahkan. "Kita sudah memahami gerakannya," ujar Mada, mengencangkan pegangan pada pedangnya. "Tapi itu belum cukup. Kita butuh strategi baru." "Aku pikir kita harus menggunakan kecepatan dan koordinasi lebih baik. Tidak ada yang bisa menang satu lawan satu dengan Mahaguru, tapi kalau kita bekerja sama dengan sempurna... mungkin ada kesempatan." Nara menyeka keringat dari dahinya. "Aku... aku akan melakukan yang terbaik. Kita tidak bisa kalah lagi." Tanu, yang meskipun masih menunjukkan keraguan, mengangguk. Mereka terus berlatih, mengasah kecepatan, kekuatan, dan teknik. Setiap gerakan disusun dengan lebih rapi, setiap serangan lebih tajam, setiap pertahanan lebih kokoh. *** Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba. Di lapangan utama, para murid berkumpul, ingin menyaksikan apakah kelompok Mada bisa mengalahkan Mahaguru kali ini. Ketua pelatihan berdiri di tengah lapangan dan mengangkat tangan, meminta perhatian semua orang. "Hari ini, sebelum pertarungan dimulai, aku akan memperkenalkan seseorang. Ia adalah salah satu instruktur pelatihan, dan meskipun belum menyelesaikan ujian akhirnya, ia telah menunjukkan bakat luar biasa." Sosok bertudung maju ke tengah arena. Mada memicingkan mata, merasa ada sesuatu yang familiar. Saat orang itu perlahan melepas penutup kepalanya, Mada terkejut. Itu Haya. Tanpa pikir panjang, Mada langsung melangkah maju dan memeluk Haya erat. "Haya! Aku tahu kau masih hidup!" Haya terkejut dan wajahnya memerah. Ia segera mendorong Mada dengan gerakan cepat, membuat pemuda itu terhuyung mundur. "Mada! Jangan peluk aku!" bentaknya, meskipun ada senyum samar di wajahnya. Sura tertawa, sementara Nara hanya menghela nafas. "Jadi ini alasan Mada selalu merasa ada yang kurang di sini," kata Nara dengan nada menggoda. Ketua pelatihan melanjutkan. "Sekarang, pertarungan melawan Mahaguru akan kembali digelar. Dengan tambahan Haya di tim kalian, apakah kali ini kalian bisa menang?" Mada dan teman-temannya menatap Mahaguru, yang masih berdiri dengan tenang. Senyum tipis terlihat di wajahnya. "Menyerang bersama tidak akan cukup. Jika kalian tidak bisa bekerja sebagai satu kesatuan, maka ini akan menjadi pengulangan dari pertarungan sebelumnya." Begitu tanda dimulai diberikan, Mada dan teman-temannya langsung menyerang. Haya bergerak dengan cepat, hampir tak terlihat. Kecepatan Mada dan Haya membuat mereka menjadi dua bayangan yang sulit ditangkap. Mahaguru melangkah mundur, menghindari setiap serangan dengan gerakan minimal. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Haya tidak hanya cepat, tetapi juga pintar. Ia membaca gerakan Mahaguru dan menyesuaikan strateginya dengan sempurna. Saat Mahaguru mengayunkan tongkatnya ke Mada, Haya sudah ada di belakangnya, menyerang dengan tendangan yang nyaris mengenai leher Mahaguru. "Hmph..." Mahaguru melompat mundur, sedikit terkejut. Sementara itu, Sura menutup jarak dengan kekuatan mentahnya, sementara Nara mendukung dengan sihir yang menghambat gerakan Mahaguru. Tanu, meskipun terlihat takut, berhasil memberikan gangguan cukup lama untuk membuat Mahaguru harus berhati-hati. Untuk pertama kalinya, Mahaguru tampak sedikit kerepotan. Namun, pengalaman dan kekuatan Mahaguru masih jauh diatas mereka. Dalam beberapa serangan balik, ia berhasil menjatuhkan Tanu, Sura dan Nara ke tanah, membuat mereka kehabisan tenaga. Kini hanya Mada dan Haya yang tersisa. Mereka tidak butuh kata-kata. Setiap gerakan mereka terasa selaras, seolah sudah dikomunikasikan tanpa bicara. Serangan Mada tajam, Haya menyesuaikan dengan pertahanan dan serangan balik. Setiap kali Mahaguru mencoba menyerang salah satu dari mereka, yang lain sudah siap dengan serangan lanjutan. Melihat ini, Sura, Nara, dan Tanu kembali semangat. Dengan tekad baru, mereka bangkit dan kembali bertarung. Kali ini, mereka bertarung sebagai satu kesatuan. Dalam serangan terakhir, Mada dan Haya melompat ke udara, menyerang Mahaguru dari dua arah berbeda. Saat Mahaguru berusaha menangkis mereka, Sura dan Tanu menghantamnya dari samping, sementara Nara menutup gerakan Mahaguru dengan sihir. Tongkat Mahaguru terlepas dari genggamannya. Dan dalam hitungan detik berikutnya, tongkat itu patah menjadi dua. Lapangan hening. Mahaguru menatap mereka, lalu tersenyum. "Menarik..." Mereka berhasil!. *** Sorak sorai memenuhi udara. Mada, Sura, Nara, Tanu, dan Haya berdiri di tengah kerumunan yang bersorak gembira. Mereka telah berhasil. Bukan hanya mengalahkan Mahaguru, tetapi juga mematahkan tongkat saktinya, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mahaguru sendiri tersenyum kecil, menganggukkan kepala tanda penghormatan. "Kalian memang bukan yang pertama yang berhasil merebut tongkat ini dariku," katanya dengan suara dalam dan tenang, "tetapi mematahkannya... itu adalah hal yang baru. Kalian telah membuktikan bahwa kalian bukan hanya petarung berbakat, tetapi juga mampu bekerja sama sebagai satu kesatuan." Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana. Semua murid di arena merayakan kemenangan tersebut dengan penuh semangat. Beberapa bahkan menepuk bahu mereka sebagai tanda kagum. Kemenangan ini bukan hanya kemenangan mereka berlima, tetapi juga kemenangan bagi semua murid di tempat pelatihan ini. Namun, kemeriahan itu tiba-tiba terhenti. Sebuah suara berat menggema di udara. Langkah kaki yang mantap mendekati arena. Semua orang membalikkan badan dan seketika berlutut dalam keheningan. Seorang pria dengan pakaian kebesaran khas raja Majapahit melangkah masuk ke dalam arena. Jubahnya megah, dihiasi sulaman emas dengan motif naga yang melambangkan kebesaran dan kekuasaan. Mahkotanya bertabur permata, mencerminkan kewibawaannya yang tak terbantahkan. Semua orang menundukkan kepala kecuali dua orang. Mada dan Haya. Haya, yang awalnya tetap berdiri, segera melihat sekeliling dan menyadari situasinya. Dengan cepat, ia menjatuhkan dirinya berlutut seperti yang lain. Namun, Mada tetap berdiri tegak, menatap pria itu dengan santai. Dengan suara penuh percaya diri, Mada berkata, "Paman, aku berhasil menjadi Pelindung Raja!" Keheningan semakin dalam. Beberapa murid yang mendengar ucapan Mada menahan napas, ngeri melihat betapa santainya Mada berbicara dengan pria yang berdiri di hadapan mereka. Sang Raja tersenyum tipis, tampak tidak terganggu oleh cara Mada berbicara. Dengan suara tenang, ia berkata, "Selamat, Mada. Kamu benar-benar menepati janjimu." Mada mengangguk, lalu bertanya dengan polosnya, "Kapan aku bisa bertemu Raja, Paman?" Seketika, Mahaguru bergerak cepat. Dengan satu pukulan telak, Mada tersungkur ke tanah, menciptakan suara keras yang menggema di arena. Wajah Mahaguru terlihat marah untuk pertama kalinya. "Kau bodoh!" bentaknya dengan suara menggelegar. "Beraninya kau berbicara seperti itu di hadapan Sang Raja!" Mada, yang kini tersungkur di tanah dengan wajah penuh debu, mengangkat kepalanya dengan tatapan bingung. "Apa? Maksudnya... orang ini... Raja...?" Sang Raja tertawa terbahak-bahak, seolah menikmati kebingungan Mada. "Ya, Mada. Aku adalah Raja Majapahit." Mata Mada membelalak. Namun, bukan karena ada Raja di depannya, melainkan karena kenyataan lain yang baru saja menyadarkannya. Ia menoleh ke Haya, yang kini tampak lebih gugup dari sebelumnya. Dengan suara terkejut, Mada bertanya, "Ayahmu itu... Raja Majapahit, Haya?" Keheningan kembali menyelimuti arena. Semua orang yang mendengar pertanyaan itu terdiam, termasuk Mahaguru. Sura, Nara, dan Tanu menatap Haya dengan ekspresi tercengang. Bagaimana mungkin? Haya, yang selama ini berlatih bersama mereka, yang mereka anggap sebagai rakyat biasa, ternyata adalah putra mahkota? Haya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Mada. Ia telah menyamar selama ini. Sang Raja akhirnya mengangkat tangannya, menenangkan kerumunan yang masih diliputi keterkejutan. Dengan suara penuh wibawa, ia berbicara, "Hari ini bukan hanya hari di mana lima pemuda berbakat membuktikan kemampuan mereka, tetapi juga hari di mana aku mengumumkan sesuatu yang penting." Semua mata tertuju pada Sang Raja. "Haya adalah putra mahkota kerajaan Majapahit." Gema keheningan menyelimuti arena. Para murid, para instruktur, bahkan Mahaguru sendiri tampak terkejut. Namun, pengumuman itu belum selesai. Sang Raja kembali berbicara, "Dan untuk Mada, Sura, Nara, dan Tanu... kalian bukan hanya lulus sebagai Pelindung Raja. Aku telah menentukan jalan yang berbeda untuk kalian." Mada dan yang lainnya menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Kalian berempat tidak akan menjadi pengawal raja seperti yang kalian bayangkan. Sebaliknya, kalian akan menjadi pelindung Putra Mahkota dalam perjalanannya untuk membuktikan dirinya sebagai pewaris tahta." Suasana kembali mencekam. Tidak ada yang menyangka bahwa kemenangan mereka hari ini akan mengubah takdir mereka sepenuhnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN