Vila yang sepi kini menjadi saksi bisu sebuah pernikahan tanpa cinta. Jesslyn berdiri di balkon kamar, menatap langit malam yang mendung. Angin membawa aroma hujan yang masih tertinggal, dingin menusuk tulangnya. Gaun pengantin sederhana sudah ia lepaskan, kini berganti dengan gaun tidur tipis yang juga dipilihkan oleh para pelayan Levin. Pintu kamar diketuk pelan. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Levin melangkah masuk, mengenakan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka, memperlihatkan d**a bidangnya. Di tangannya, sebotol anggur merah dan dua gelas kristal berkilau. “Selamat malam, Nyonya Maxton,” sapanya rendah, seakan mengejek. Jesslyn menoleh, sorot matanya penuh kebencian. “Jangan panggil aku begitu.” Levin tersenyum tipis, menaruh botol dan gelas di meja. “Tapi itu kenyat

