Langkah Jesslyn terhenti di depan ruang rawat inap. Dari balik pintu yang hanya sedikit terbuka, ia mendengar suara tangis lirih namun memecah sunyi koridor rumah sakit. Suara itu milik Sofia. Jesslyn berdiri terpaku di sana, tak sanggup melangkah masuk. Ia tak ingin mengganggu. Dari suaranya, ia tahu Sofia sedang berbicara dengan kedua orang tuanya. Dan tanpa perlu bertanya, Jesslyn sudah bisa menebaknya, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. “Kenapa jadi seperti ini, Sofia? Kenapa kakimu seperti ini?” suara ibunda Sofia bergetar di antara isak tangis. “Mom... aku tidak tahu. Semuanya terjadi begitu cepat,” suara Sofia terdengar lemah, hampir tak berdaya. “Lalu bagaimana dengan keadaan kakimu sekarang?” tanya sang ibu lagi, penuh kecemasan. Mereka baru saja kembali dari luar kota,

