Di sebuah ruangan beraroma parfum mahal dan tembakau ringan, Maria Lenox duduk bersandar di kursi empuknya. Di tangan kanannya segelas wine berwarna merah darah berputar perlahan, sementara bibirnya melengkung membentuk senyum puas. “Jadi, mereka telah berhasil mematahkan kakinya?” Dia baru saja mendapatkan laporan dari penjahat yang dia bayar untuk menyerang Sofia. “Benar!” Jawab seorang laki-laki dari seberang, “Anak buahku berkata mereka telah berhasil memukul kakinya tapi mereka tak berhasil mematahkannya karena tiba-tiba saja ada yang menolong.” “Bagus. Meski tidak patah Tapi itu sudah cukup untuk membuatnya tidak bisa berjalan. Kau bekerja cukup baik aku akan transfer uangnya sebentar lagi.” “Aku meminta bayaran lebih,” ucap laki-laki itu. “Jangan serakah. Aku akan membayarmu

