Semuanya perlahan kembali seperti semula. Meski luka di hati belum benar-benar sembuh, Jesslyn tak punya waktu untuk meratap. Rasa kehilangan dan cinta yang tak terbalas masih sesekali mengetuk dadanya, namun kali ini, ia memilih untuk merarapinya lagi. Kompetisi besar akan segera dimulai, dan Jesslyn sudah tertinggal terlalu jauh. Ia tidak boleh membuang waktu lagi. Dia harus menjadi pemenang, jika tidak sekarang, dia takut tak dapat melakukannya lagi tahun depan. Sore itu, Levin sedang berada di ruang kerjanya ketika langkah ringan Jesslyn terdengar dari arah ruang tamu. Di tangannya, ada sebuah kotak putih berisi sepatu balet, hadiah dari Levin yang belum sempat ia lihat. Dengan hati-hati, Jesslyn duduk di kursi dekat jendela dan membuka kotak itu. Kilau satin dari sepatu balet

