Pagi datang terlalu cepat bagi dua jiwa yang tidak sempat tidur. Langit di luar jendela memerah lembut, tapi suasana di dalam rumah terasa kelabu. Jesslyn berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang tampak pucat. Bayangan hitam di bawah matanya tidak bisa ia tutupi, sekalipun dengan riasan tipis. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Mereka harus berbicara, apa pun yang terjadi. Ketika ia pergi ke ruang makan, aroma kopi hitam dan roti panggang sudah memenuhi udara. Meja sarapan tertata rapi, dua cangkir, dua piring tapi hanya satu kursi yang terisi. Levin sudah di sana. Duduk dengan jas kerja yang rapi, dasi yang terpasang sempurna, dan wajah tanpa ekspresi. Jesslyn berhenti di ambang pintu, menatapnya dalam diam. Tangannya berkeringat, dia takut. Dia lebih suka mer

