Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar mereka. Aroma kopi hangat tercium samar, bercampur dengan wangi roti panggang. Jesslyn membuka mata perlahan dan mendapati Levin sudah duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan senyum lembut yang asing baginya. “Morning, Honey,” ucap Levin sambil mengecup dahinya lembut, “Kau selalu terlihat cantik bahkan ketika baru bangun.” Jesslyn mengerjap, menegakkan tubuhnya dengan malas. “Jangan mulai dengan rayuan konyol itu. Aku tidak butuh kata-kata manis di pagi hari.” Levin tertawa kecil, tidak tersinggung sama sekali. “Aku akan selalu melakukannya, Sayang. Kau akan mendengarnya sampai kau bosan dan terbiasa,” Ia meraih tangannya, mengecup lembut punggung tangan Jesslyn. Jesslyn menepis pelan, meski hatinya sempat bergetar. “Hentikan, Levi

